Vagabond (1985)

Poster film versi “The Criterion Collection”. (gambar: IMDb)

GERAK kamera di adegan pembuka Vagabond berjalan lambat melintasi ladang pertanian yang muram dari lanskap musim dingin Prancis. Dua pohon besar berdiri tegak di atas bukit di kejauhan. Tidak ada sukacita di sini. Secara perlahan, kamera bergerak mendekat dan kemudian menampilkan gambar dari tubuh seorang perempuan muda yang sudah mati beku-membiru tragis tergeletak di bagian bawah parit. Salah satu pekerja di ladang pertanian itu menemukan mayat perempuan muda tersebut dan dengan segera memberi tahu mandornya. Lalu datanglah dua petugas kepolisian dengan papan klip mereka, mencatat berbagai macam informasi atau hal-hal yang bisa diketahui tentang mayat perempuan muda itu — seperti tinggi dan berat badan serta warna matanya — dan bertanya-tanya tentang semua hal yang masih belum bisa diketahui — macam namanya dan bagaimana bisa dia tergeletak mati mengenaskan di parit — kepada siapa pun yang ada di sana.

Kemudian terdengar narasi voice-over dari Agnès Varda (sutradara film ini) yang mengatakan bahwa dia terpikat dan penasaran oleh misteri jati diri perempuan muda asing yang mati membeku itu, dan kemudian mencoba mencari kesaksian dari orang-orang yang merasa mengenal (atau pernah bertemu) perempuan muda itu semasa hidupnya. Walau bagaimanapun, film ini adalah kisah misterius tentang seorang perempuan muda asing yang tidak bisa dikenali oleh siapa pun. “But people she had met recently remembered her,” ujar Varda dalam narasi voice-overnya. “Those witnesses helped me tell about the last weeks of her last winter. She left her mark on them. They spoke of her, not knowing she had died. I didn’t tell them. Nor that her name was Mona Bergeron.” Meski ada banyak orang yang memberikan kesaksian bahwa mereka pernah berbincang dengan perempuan muda tersebut, bahwa salah satu di antara mereka pernah memberinya makan dan menyediakan tempat berlindung untuk tidur, bahwa ada juga yang pernah berbagi rokok dan bahkan berhubungan seks dengannya, tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa mereka benar-benar mengenalnya. Film ini mencoba untuk memberikan kesan seperti sebuah karya sinematik dokumenter, serangkaian kilas-balik ke hari dan momen tertentu dalam pekan-pekan terakhir dari kehidupan perempuan muda itu — atau mulai sekarang, seperti yang sudah disebutkan oleh Varda, saya bakal menuliskan namanya: Mona Bergeron (Sandrine Bonnaire).

Sebenarnya, semua yang ada di sini adalah cerita fiksi. Dan, sama seperti halnya semua fiksi yang bagus, film ini bisa menyiratkan lebih banyak hal ketimbang apa-apa yang tampak di permukaan dan apa-apa yang telah diketahui oleh banyak orang sebelumnya. Dari potongan-potongan informasi yang telah diberikan (dan tersebar) di antara orang-orang yang pernah bertemu dengannya, saya mengetahui bahwa Mona lahir dari pasangan orangtua kelas menengah ngehek, bahwa dia sempat mengambil kelas diklat sekretaris, bahwa dia pernah bekerja di sebuah kantor namun membenci pekerjaan itu, bahwa dia akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah dengan membawa barang-barang miliknya dan sebuah tenda di ranselnya untuk mulai menghidupi hidupnya secara bebas di jalanan, mengemis makanan dan tempat berlindung, terkadang mau melakukan sedikit pekerjaan demi mendapat sedikit uang untuk bertahan hidup.

Mona terlihat seperti kebanyakan perempuan muda pada umumnya (mungkin sedikit lebih sederhana), dengan wajahnya yang lebar dan menyenangkan, serta senyumnya yang tenang. Orang-orang bercerita tentang betapa busuknya bau badan Mona, namun saya tidak bisa mengetahui hal itu dengan pasti. Mona melinting rokoknya sendiri dan terkadang lebih menyukai (dan memilih) rokok atau hal lain ketimbang makanan. Di sebuah kafe, setelah mendapatkan beberapa receh franc Prancis, Mona malah menghabiskannya untuk menyetel lagu di kotak musik, alih-alih digunakan untuk membeli roti.

Seiring berjalannya plot cerita, sedikit demi sedikit saya mulai menyadari bahwa Mona memiliki keengganan untuk ambil-bagian dalam struktur sosial masyarakat, bahwa dia ingin menghidupi hidupnya sebebas mungkin, melepaskan diri dari tanggung jawab apa pun sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya hidup masyarakat “normal” yang dia benci.

Ketika pasangan suami-istri peternak dan penggembala kambing bersedia menampungnya, memberi makanan dan meminjami karavan kecil untuk tempat berlindung di musim dingin, Mona tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk setidaknya membalas kebaikan hati dengan membantu meringankan pekerjaan mereka. Mona cuma ongkang-ongkang saja di dalam karavan kecilnya: merokok, makan, tidur, dan sesekali menggoda anak kecil-imut-lucu dari pasangan suami-istri itu. Mona sama sekali tidak punya ambisi apa pun. Mona menjalani kehidupan di jalanan sebagai manifesto kebebasan hidup seperti yang dilakukan oleh Chris McCandless (Emile Hirsch) dalam film Into the Wild (2007), untuk mempraktikkan teori dalam esai The Right to be Lazy-nya Paul Lafargue, bisa dibilang juga untuk merayakan konsep nihilisme-nya Friedrich Nietzsche atau eksistensialisme-nya Jean-Paul Sartre: dia hanya ingin meninggalkan semua usaha yang muluk-muluk dan aturan konvensional dalam struktur hierarki masyarakat modern.

Sangat sulit untuk membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh Mona. Terkadang Mona tampak senang, membuka penutup tenda kemahnya dan menatap ke luar, setengah silau, pada cahaya matahari pagi yang baru saja terbit dengan kepuasan tertentu di wajahnya. Mona sempat bermalam dan tinggal sehari di sebuah rumah mewah dan tertawa ngakak dengan pemilik rumah itu (seorang bangsawan tua yang sudah kehilangan sebagian besar kemampuan melihatnya bernama Tante Lydie [Marthe Jarnias]) saat mereka berdua sedang mabuk menikmati brendi bangsawan perempuan yang sudah tua itu pada sianghari.

Secara singkat Mona tampaknya merespons dengan ramah terhadap seorang profesor perempuan, ahli agronomi bernama Mme Landier (Macha Meril), yang memberikan tumpangan mobil untuknya dalam perjalanan Landier ke sebuah konferensi tanaman sembari memeriksa dan menerangkan kepadanya tentang wabah penyakit di pepohonan. Namun apakah Mona benar-benar merespons dengan keramahan dan memberikan kehangatan kepada orang-orang yang ditemuinya, atau dia sebenarnya cuma memberi orang-orang itu sebuah cermin yang merefleksikan kebutuhan mereka sendiri untuk peduli terhadap sesama? Salah satu kehalusan yang paling menyakitkan dari Vagabond adalah saya melihat pertahanan Mona pada akhirnya runtuh. Nyaris tanpa terasa, hari demi hari, Mona semakin tenggelam dalam kerasnya kehidupan jalanan. Kehidupan sang pengembara berubah menjadi kehidupan si orang buangan, dan kemudian berubah menjadi kehidupan terbengkalai dari orang yang hampir terlupakan sepenuhnya.

Setelahnya, Mona terlihat seperti hewan yang tidak terawat, berlumpur dan acak-acakan, terjebak dalam kebingunan di momen paling rendah dalam hidupnya, tidak lagi mampu menjaga tampilannya secara fisik dan mental bahkan untuk ukuran seorang gelandangan paling jorok sekalipun.

Pada akhirnya, Mona tampak ketakutan, linglung, limbung, keheranan betapa dia telah jatuh ke titik terendah. Mona kemudian semakin pasrah dan menangis, dan saya menyadari adanya sosok perempuan yang masih muda dan tidak berdaya bersembunyi di balik keteguhan dan kekuatan yang ditampilkannya selama ini di permukaan. Saya merasa ngilu menonton itu semua, untuk kemudian sepenuhnya bersimpati dan berempati kepada Mona.

Alangkah menakjubkannya film ini. Sama seperti film-film manis dan keren lainnya, Vagabond menceritakan sebuah kisah yang sangat spesifik, lugu, kuat, dan tanpa hiasan yang muluk-muluk, tentang momen-momen terakhir dari kehidupan seseorang yang sangat spesial. Sebab ini adalah murni cerita tentang proses hidup harian (yang membebaskan) dan sepertinya tidak melambangkan apa pun — karena Varda tidak memiliki dan tidak mencoba memberikan perumpamaan tertentu, hanya sepenggal demi sepenggal informasi — saya merasakan kedekatan personal dengan film ini dan berasumsi bahwa kisah ini juga bisa menjadi kisah hidup siapa saja, saya dan kamu: kita telah berbagi waktu kehidupan dengan banyak orang, berinteraksi dan membikin relasi dengan makhluk hidup lain, namun dari sekian banyak orang yang kita temui sehari-hari dan katanya mengetahui hal-hal tentang kita itu, seberapa banyak yang sebetulnya benar-benar peduli dan mengenal (serta mencintai) diri kita?

Di atas segalanya, film ini juga ingin memberi kesan bahwa kebebasan merupakan hal berbahaya yang terkadang kita rindukan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s