#TheMilkyWay: ambivalensi dari keinginan untuk memahami dan kerinduan terhadap misteri

SEJAK merilis film pendek paling keren berjudul Un Chien Andalou (1929), mengenalkan sinema avant-garde dengan potongan gambar seorang lelaki mengiris bola mata perempuan, sudah jelas bahwa Luis Buñuel senang mengejutkan penontonnya. Namun pembawaan psikologi penonton film telah sama sekali berubah ketika The Milky Way dirilis empat dekade kemudian. Agresivitas Un Chien Andalou dan L’Age d’Or (1930) telah berasimilasi dengan para penikmat film (meski L’Age d’Or masih belum bisa ditonton secara legal di Prancis sampai saat ini), dan yang tampaknya paling mengejutkan perihal The Milky Way saat ini — dalam konteks kebebasan berpikir dan bercinta Paris pasca aksi pemberontakan Mei 1968, dengan grafiti surealisnya, selebaran provokasi anarkisnya dari kolektif Situationist International, dan trinitas dalam diri Lacan-Barthes-Althusser — adalah bahwa Buñuel tampaknya mengambil topik yang tidak relevan seperti kekristenan.

Dan bukan hanya kekristenan saja, namun juga salah satu ritual yang paling disayangi dan dilestarikan dalam budaya Katolik Eropa: ziarah ke Kota Santiago de Compostela di barat laut Spanyol. Selama lebih dari satu milenium, Camino de Santiago telah menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya ke Katedral Santiago de Compostela yang menyimpan jasad Santo James. (Nama lain dari jalur ziarah Camino de Santiago adalah Way of St. James atau Milky Way.) Meski banyak pelancong yang melakukan perjalanan ini sebagai wisatawan dan bukan sebagai peziarah, tidak ada keraguan bahwa aroma dupa menyelimuti jalanan Kota Santiago de Compostela. Apa yang dipikirkan (dan ingin disampaikan) oleh Buñuel ketika membikin film tentang hal itu?

Luis Buñuel dalam proses produksi “The Milky Way”. (gambar: “@ArisMovsesijan”)

Namun, tentu saja, Buñuel melakukan sesuatu yang telah dilakukannya dengan brilian berulang kali sejak mendapatkan kebebasan yang cukup: menindak-lanjuti kesuksesan popularitas Belle de Jour (1967) dengan karya sinematik yang lebih personal — seperti yang dia lakukan ketika membikin Simon of the Desert (1965) setelah popularitas Diary of a Chambermaid (1964), dan melakukannya kembali saat merilis film surealis The Phantom of Liberty (1974) yang enigmatik setelah meraih kesuksesan dan pujian kritikal dalam film The Discreet Charm of the Bourgeoisie (1972). Seolah-olah Buñuel menganggap kumpulan mahakarya ini, yang mempertegas warisannya di dunia sinematik, sebagai tebusan untuk film-film surealis, misterius penuh teka-teki, dan aneh yang benar-benar ingin dibuatnya untuk merefleksikan karakter pribadinya sendiri.

Referensi religius adalah hal yang biasa dalam film-film bikinan Buñuel, dari para uskup yang mengasingkan diri di L’Age d’Or dan seterusnya: pendeta yang malang dalam film Nazarín (1959), atau calon biarawati yang mengalami depresi di Viridiana (1961), atau pengikut sekte keagamaan yang keras kepala dalam film Simon of the Desert. Namun The Milky Way adalah satu-satunya karya Buñuel yang sepenuhnya dikhususkan untuk (menyindir, sekaligus menghormati) dogma agama, dalam hal ini Katolik, itu sendiri. Atau, lebih tepatnya, film ini secara khusus membicarakan tentang enam misteri utama dalam keimanan dan bantahannya (atau kesesatan ajaran bidah, tergantung pada pandangan masing-masing penontonnya) yang menjadi sumber inspirasi utama filmnya. Keenam hal itu adalah: (1) sifat ganda dari Yesus Kristus [kemanusiaan atau keilahian?]; (2) doktrin Tritunggal Kudus; (3) konsep Dikandung Tanpa Noda dari Maria Sang Perawan Suci; (4) transubstansiasi [apakah hosti dalam Perjamuan Kudus adalah benar-benar tubuh Yesus Kristus secara harfiah, atau hanya sebuah metafora?]; (5) konsep kehendak bebas; dan (6) eksistensi kejahatan [jika tuhan memang Yang Maha Kuasa, mengapa dia membiarkan terjadinya godaan yang menyebabkan dosa?]. Dengan masing-masing rangkaian adegannya berfungsi sebagai semacam dialog antara pandangan ortodoks dan bidah, film ini membentuk jalan tengah antara fitur hiburan dan esai sinematik. Dalam satu kesempatan, Buñuel bercerita bahwa dia dan Jean-Claude Carrière meneliti banyak buku tentang gereja dan apostasinya untuk menulis naskah film ini, dan kredit akhir filmnya juga menyatakan bahwa semua kutipan yang ada di dalamnya benar-benar autentik.

Salah satu adegan dalam “The Milky Way”. (gambar: “MUBI”)

Film ini mengikuti dua gelandangan kontemporer Prancis, Pierre (Paul Frankeur) dan Jean (Laurent Terzieff), yang melakukan perjalanan secara hitchhike ke Kota Santiago de Compostela. Pierre dan Jean — dua orang yang tidak terlalu religius dan nama mereka berfungsi sebagai indikator status masing-masing — melakukan perjalanan ini dengan motif oportunistik yang gamblang: untuk mengemis sedekah dari para peziarah di Katedral Santiago de Compostela. Rangkaian adegan dalam film ini terus berlanjut antara masa lalu dan masa kini, terkadang mencampur-adukkan keduanya dengan sedikit kebebasan. Jadi begitulah, di sepanjang perjalanan, Pierre dan Jean berpapasan, atau secara misterius berdampingan, dengan tokoh-tokoh yang mewakili aspek utama dalam sejarah dan mitologi Kristen/Katolik, termasuk Yesus Kristus (diperankan oleh Bernard Verley dengan dosis yang tepat dari kesombongan anak mama), peramal priscilian Abad Pertengahan (sekte keagamaan Kristen pertama yang dieksekusi mati karena dianggap sesat dan bidah, yang diperankan dengan penuh percaya diri oleh Carrière), Pelacur Babilon (Delphine Seyrig), Maria Sang Perawan Suci (Edith Scob), dan inquisitor Spanyol (Michel Etcheverry).

Maria Sang Perawan Suci (Edith Scob) dan Yesus Kristus (Bernard Verley). [gambar: “Brandon’s movie memory”]
Dalam hal struktur naratif, film ini menggunakan serangkaian metode yang sering disebut dengan “kontinuitas terputus-putus”, di mana rangkaian adegan-adegannya tidak berkumpul ke dalam keseluruhan kohesif dan terus-menerus terpecah menjadi garis singgung yang baru. Untuk beberapa hal, film ini sesuai dengan tradisi yang merangkul teknik penulisan novel picaresque Spanyol dan mitranya di abad ke-20 (road movie), dari It Happened One Night (1934) karya Frank Capra sampai Easy Rider (1969) garapan Dennis Hopper. Namun film ini juga menunjukkan pendekatan naratif yang unik-surealis khas Buñuel di film-film terakhirnya, yang didorongnya ke level yang lebih ekstrem dalam The Phantom of Liberty dan sejak saat itu telah menjadi inspirasi bagi para sineas, salah satunya Richard Linklater dalam film Slacker (1990). Di film-film terakhir bikinannya, saya selalu menganggap bahwa Buñuel sengaja meninggalkan teknik bercerita yang telah dia gunakan selama bertahun-tahun saat membikin karya picisan (beberapa di antaranya adalah mahakarya yang tidak terbantahkan) di Meksiko. Buñuel kembali ke akarnya dan berhasil menemukan kembali fluiditas naratif klasik surealisnya. Ada transisi yang indah di adegan pembuka film ini ketika Pierre — sebagai respons terhadap komentar pujian tentang jenggotnya — merenung bahwa pujian itu mengingatkannya pada hal yang biasa dikatakan oleh ibunya, dan gambar di layar langsung melompat ke adegan di mana Yesus dibujuk Maria agar tidak mencukur jenggotnya.

Sinopsis yang terlalu detail tentang The Milky Way hanya akan mengurangi kenikmatan pengalaman menontonnya. (Pada titik ini saya sarankan agar kamu segera mencari, mengunduh, dan menonton sendiri film superkeren ini.) Yang perlu ditekankan adalah alangkah lucunya (dan surealisnya) Buñuel menyajikan semua hal di film ini. Terlepas dari subjeknya yang berat (dan, mungkin, tabu bagi beberapa orang), film ini merupakan salah satu karya paling komikal dari Buñuel yang semakin menegaskan dirinya sebagai penulis kronik tragedi manusia yang paling menyenangkan. Seperti kebanyakan film bikinannya, kejeniusan Buñuel berada di garis plot ketimbang di detail filmnya, naluri aneh yang selalu mampu mengejutkan saya, seperti ketika fantasi Jean tentang eksekusi mati paus di moncong senapan regu tembak yang bisa “didengar” oleh lelaki disampingnya, atau ketika seorang petani mendekati Pierre serta Jean dan tiba-tiba berbicara dalam bahasa Latin. Dan bahkan ketika menampilkan topik yang lebih berat — kecurangan pendeta priscilian dalam pesta seks di antara para pengikutnya — Buñuel masih bisa mempertahankan rasa penasaran saya terhadap perjalanan Pierre dan Jean.

#OnePerfectShot, sinematografi oleh Christian Matras. (gambar: “@PerfectFame101”)

Efek humoris ini disebabkan oleh sikap dan ekspresi datar dari Pierre dan Jean: tidak peduli siapa atau apa yang dihadapi, dari waktu atau ruang mana pun, mereka menerimanya dengan ketidak-pedulian dan ketenangan orang-orang yang telah belajar untuk mengikuti arus kehidupan. Meski begitu, kurangnya faktor kejutan ini bukan sekadar keangkuhan komikal. Di balik setting latar tempat dan pakaian masa lalu, apa-apa yang ditunjukkan oleh Buñuel kepada dua karakter protagonisnya (dan kepada saya sebagai penonton) adalah suatu hal yang kekal tanpa batas waktu: panorama dari intoleransi manusia, dari kapasitas manusia untuk melakukan kekerasan terhadap satu sama lain, dari betapa cerewetnya manusia. Dalam adegan demi adegan, karakter-karakter yang ada di sini menjelaskan sudut pandang mereka, memberi ceramah tanpa henti kepada para pendengarnya — atau kepada penonton film ini — mirip guru atau dosen yang terus-menerus berbicara kepada murid-murid di kelasnya. Yang membikin semua ini tidak berubah menjadi sesuatu yang sepenuhnya menggelikan adalah pengetahuan bahwa konsekuensi dari ketidak-setujuan dengan posisi ini telah terbukti berulang-ulang kali.

Terlepas dari ornamen gerejawi, intoleransi di film ini tidak berhenti pada keragaman agama. Dalam bukunya yang berjudul Deeper into Movies, Pauline Kael memusatkan perhatian pada aspek permukaan The Milky Way dan menulis bahwa “this movie stage Spanish schoolboy’s view of life joined to an adult atheist’s disbelief in redemption”. Namun dalam suasana doktrin kebebasan Prancis tahun 1968, ketika film ini dproduksi, gairah melit dan pernyataan pembenaran dari karakter-karakternya pasti terdengar menyerupai retorika absolutis yang kemudian dimuntahkan dari pengeras suara para demonstran — sesuatu yang tidak diragukan lagi ada dalam pikiran Buñuel saat dia menulis tentang film ini di buku autobiografinya, My Last Sigh: “The Milky Way is neither for nor against anything at all … The film is above all a journey through fanaticism, where each person obstinately clings to his own particle of truth, ready, if need be, to kill or to die for it. The road traveled by the two pilgrims can represent, finally, any political or even aesthetic ideology.

Jean (Laurent Terzieff), Pelacur Babilon (Delphine Seyrig), dan Pierre (Paul Frankeur).

Di awal tulisan ini, saya menyebut The Milky Way sebagai salah satu film Buñuel yang lebih personal. Dikotomi antara ortodoks dan bidah tidak hanya berlaku untuk pertumbuhan Buñuel sebagai anak pemberontak Katolik Spanyol, namun juga untuk pengalaman hidupnya di Paris, Los Angeles, dan Mexico City, sebagai pembangkang dalam kelompok surealis pimpinan André Breton yang kaku, sebagai seorang petualang anarkis, sebagai seorang pemalas di mesin Hollywood, dan sebagai sineas menjemukan di Meksiko. Sebagian besar ulasan The Mily Way sering menyebutkan bahwa Pierre dan Jean melakukan perjalanan lintas waktu dan ruang, namun dalam banyak bagian di film ini, sejarah menyimpan batasannya sendiri, membuka-tutup gulungan di belakang mereka seperti komik setrip. Ketika Pierre dan Jean telah sampai di dekat perbatasan Spanyol (kampung halaman Buñuel), masa lalu dan masa kini benar-benar mulai berinteraksi, sebuah detail yang memiliki signifikansi autobiografi Buñuel sendiri — jalur yang ditempuh para peziarah, dalam arah yang berlawanan, merupakan jalan yang ditempuh Buñuel sewaktu masih muda yang ingin mempertaruhkan segalanya di kiblat sinema Eropa.

Mungkin yang paling personal adalah ambivalensi film ini yang menjadi saksi — dari sisi Katolik, dari sisi karakter-karakter di dalam filmnya, dan dari sisi Buñuel sendiri — antara dua kekuatan yang ampuh dan saling bermusuhan satu sama lainnya: keinginan untuk memahami dan kerinduan terhadap misteri. Pembelaan utama dari gereja (atau institusi agama lainnya) tentang dogma atau ajaran yang paling tidak masuk akal sekalipun adalah bahwa keimanan bukanlah sesuatu yang harus dijelaskan, bahwa hal itu merupakan suatu keistimewaan yang hanya boleh diyakini tanpa keraguan sedikit pun dan tanpa keinginan untuk mempertanyakannya — sementara skeptisisme, sains, dan bidah telah merespons keimanan dengan berbagai macam pertanyaan dan keraguan, mencoba untuk membuka tabir gelap yang selama ini menyelubunginya, mencoba untuk menyajikan penjelasan yang lebih sederhana, seperti anak kecil yang mempertanyakan kesewenang-wenangan tidak masuk akal orangtua-nya yang berhasil membikin orangtua marah dan kesal sehingga menghukum dan memukul anaknya. Buñuel, yang seumur hidupnya mengagumi risalah entomologinya Jean-Henri Fabre dan pecinta misteri yang penuh gairah dalam segala bentuknya, sangat menyadari teka-teki ini: Bagaimana seseorang bisa mempertahankan keimanannya tanpa menyetujui/melakukan penindasan? Bagaimana seseorang bisa mengungkap hal yang tidak bisa dimengerti sebelumnya tanpa mengorbankan misteri? Dan haruskah seseorang dipaksa untuk memilih di antara kedua hal itu? (Ambivalensi ini rupanya meluas ke respons terhadap film ini: jurnal atau koran yang lebih konservatif mencoba melarang peredaran film ini, sementara Julio Cortázar [novelis Argentina, salah satu sahabat Buñuel] menuduh proses produksi film ini dibiayai oleh Vatikan. Pihak Vatikan sendiri menerima film ini dengan hangat yang menimbulkan sedikit kekecewaan bagi Buñuel.)

I’m still an atheist, thank God,” ujar Buñuel dalam satu wawancara. Buñuel mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan adanya kekuatan yang lebih tinggi (atau sosok tuhan yang mengatur takdir kehidupan), namun dia tertarik untuk membahas (atau menyindir) ritual dan dogma kekristenan tertentu. Perlu dicatat bahwa The Milky Way tidak pernah menyerang atau menertawakan dogma agama ortodoks, melainkan mengajukan pertanyaan dan menantang mereka dengan sindiran ketidak-sepahaman yang masuk akal, memberikan kutukan bagi kecenderungan manusia merepresi sudut pandang lain yang berlawanan dengan keyakinan mereka. Baris dialog yang diucapkan pastor Prancis kepada seorang sersan polisi di sebuah kedai makanan menyuarakan hal yang mungkin menjadi pernyataan penting film ini: “A religion without mystery is no religion at all.” Fakta bahwa pastor Prancis itu ternyata adalah seorang pasien gila yang berhasil melarikan dari rumah sakit jiwa berfungsi sebagai peringatan untuk tidak meletakkan keyakinan terhadap satu hal saja, untuk tidak percaya bahwa hanya ada satu kebenaran absolut, untuk tetap berpikiran terbuka terhadap segala macam kemungkinan (dan ketidak-mungkinan) dalam kehidupan, dan untuk terus mempertanyakan segalanya. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s