Song to Song (2017)

Poster film. (gambar: “Facebook”)

YANG selalu terlintas dalam pikiran saya setiap kali mendengar atau membaca nama Terrence Malick adalah bahwa sineas asal Austin itu tidak pernah membikin film yang buruk, hanya film yang teramat misterius, terlalu intuitif, dan kelewat terfragmentasi bagi khalayak umum. Saya sangat menikmati Knight of Cups (2015) dan berpikir bahwa film garapan Malick itu merupakan fitur paling berani yang dirilis sepanjang tahun 2015, namun ternyata saya menyadari bahwa ini adalah pendapat minoritas. Coba sebutkan nama Terrence Malick kepada orang-orang yang kamu anggap sebagai movie-snob dan kamu bakal cenderung mendapatkan lelucon tentang voice-over dan iklan parfum dan rangkaian adegan/plot cerita yang memusingkan, ditambah keluhan bahwa Malick adalah sutradara yang terlalu berlebihan dalam satu hal dan tidak cukup bagus dalam satu hal lainnya, dan dia sudah tidak seperti dulu lagi.

Jujur, saya tidak peduli. Saya menyukai fakta bahwa setelah 48 tahun berkarier di dunia perfilman, teknik penyutradaraan dan gaya bercerita Malick masih menjadi perdebatan. Film-film bikinan Malick — bahkan yang paling dungu sekalipun — tidak pernah mengikuti aturan main sinema komersial arus utama, melainkan selalu tampil dalam karakterisasi dan cerita dari sudut pandang yang aneh saat sedang tidak mengejar suatu hal yang tidak terbayangkan, seperti gerak kameranya yang mengejar seekor kupu-kupu di salah satu rangkaian adegan The Tree of Life (2011). Sineas dan aktor Tim Blake Nelson, yang pernah mendapatkan peran minor dalam film-puitis perang epik The Thin Red Line (1998) garapan Malick, mengatakan bahwa perbedaan antara Malick dan sineas lainnya adalah “the difference between (Georges) Seurat painting with dots and (Paul) Cezanne, who’s a more painterly painter”.

Namun, di sinilah kita — saya dan kamu — sekarang berada: Song to Song, sebuah drama romantis eksperimental dengan setting skena musik Austin, adalah film bikinan Malick yang gagal menghubungkan titik-titiknya secara syahdu agar bisa membentuk gambar yang bisa saya nikmati.

Rooney Mara berperan sebagai seorang perempuan yang mencintai dua lelaki, seorang musisi yang diperankan oleh Ryan Gosling dan seorang produser musik yang diperankan oleh Michael Fassbender. Natalie Portman bermain sebagai seorang pelayan yang berselingkuh dengan Fassbender. Saya masih bingung dengan fungsi dan jati diri dari karakter yang diperankan oleh Cate Blanchett, namun dia terlibat dengan Gosling pada satu titik. Semua karakter yang ada di sini (tampaknya) memiliki masalah dengan orangtua mereka masing-masing: ibu kandung Portman (diperankan oleh Holly Hunter) telah mengorbankan segalanya demi kelangsungan hidup Portman setelah ayah kandung Portman pergi menghilang entah ke mana atau mati, saya tidak yakin yang mana yang betul; Gosling merawat ayahnya (diperankan oleh Neely Bingham) yang sedang tergeletak tidak berdaya karena sakit parah dan memiliki hubungan agak genit dengan ibunya (diperankan oleh Linda Emond) yang menatapnya seperti fans yang sedang berpapasan dengan Gosling di jalan raya.

Saya sengaja mengacu pada nama asli para aktris/aktornya di ulasan kali ini sebab baris dialognya nyaris tidak pernah menyebutkan nama karakter-karakter yang ada di film ini. (Hanya nama “Faye” [karakter yang diperankan oleh Mara] dan “BV” [karakter yang dimainkan oleh Gosling], itu pun masing-masing cuma disebutkan sekali sepanjang 129 menit durasi film ini, dan saya mengetahuinya dari kredit akhir film dan memastikan kembali melalui halaman Wikipedia untuk film ini.) Sama seperti To the Wonder (2012) dan Knight of Cups, dua film lain yang digarap Malick di era saat ini, Song to Song terlihat seperti improvisasi yang membikin saya merasa seolah-olah sedang menonton film dokumenter tentang Terrence Malick yang mencoba merancang sebuah film dengan cepat.

Judul film ini secara tidak langsung mengacu pada Song of Songs (Song of Solomon, Canticles, atau Canticle of Canticles), bab terakhir dari Tanakh atau Alkitab Ibrani dan juga buku kelima dari Kitab-kitab Hikmat dalam Perjanjian Lama. Song of Songs sering digambarkan sebagai perayaan cinta fisik antara perempuan dan lelaki. Film ini mengundang asosiasi dari anggapan itu dengan banyak gambar indah dari dua orang (atau lebih) sedang berciuman, membelai, menyentuh pinggul dan perut masing-masing, bermesraan di dekat jendela yang diterangi sinar matahari, serta bersantai di tempat tidur dan di taman. Dan berputar-putar. Arsitektur peradaban manusia dan lanskap alam menyelubungi para karakter film ini ketika mereka meluncur dan tampil dalam bingkai-bingkai kamera Malick. Ada beberapa gambar close-up dari kaki yang melintasi lantai kayu keras dan tepi batu yang lembab dari sebuah kolam renang. Film ini bisa dibilang sebagai sepupu hangat dari La Notte (1961), drama borjuis kosmis bikinan Michelangelo Antonioni.

Saya mendapatkan kesan, seperti dalam kebanyakan film garapan Malick, tentang peradaban manusia yang sedang menguasai alam, atau kesalah-pahaman bahwa itulah yang sedang dilakukannya. Daun berguguran, gelombang bunga, serbuk sari berputar melayang-layang di udara, matahari mengintip melalui sela-sela pepohonan, namun saya juga mendengar mesin jet dan klakson mobil, musik dan feedback yang sangat kencang. Gerak swarm dari kawanan kelelawar di dekat sebuah jembatan di tengah Kota Austin. Anjing meringkuk di kaki pemiliknya. Rusa menjelajahi halaman rumah di kawasan pinggiran kota. Gosling beristirahat sejenak setelah merawat ayahnya, pergi ke luar rumah untuk menghirup udara segar, dan memberi makan seekor kuda dengan sepotong apel sementara hiruk-pikuk lalu lintas padat antarkota bergemuruh di belakangnya. Salah satu rumah bergaya modern di film ini berada di sekitar pohon tua yang cukup tinggi dan besar. Seluruh film ini bisa menjadi firasat Pocahontas (karakter protagonis dalam film The New World [2005]) setelah pindah ke Inggris.

Tontonan dan sensasi adalah apa-apa yang ingin disajikan oleh Malick dalam Song to Song. Beberapa lagu versi rekaman konser disetel sebagai latar belakang musik dalam beberapa adegan dan berakhir setengah menit kemudian. Score musik klasik, narasi voice-over, dan baris dialog bersaing secara bergantian (terkadang malah saling tumpang-tindih) dengan lagu-lagu versi rekaman konser itu, menciptakan kebisingan yang terkadang menyenangkan, kadang tidak mengenakkan, di kuping saya. Malick dan sinematografer regulernya, Emmanuel Lubezki, merekam rangkaian gambar adegan konser musik di ruang terbuka yang dipenuhi oleh ribuan orang, dan rangkaian adegan intim di rumah/bangunan yang didekorasi dengan cantik di mana karakter-karakternya ditampilkan sedang menyanyikan sebuah lagu, atau menari bebas, atau bermain piano dan gitar. Para aktris dan aktor yang ada di sini difilmkan seolah-olah mereka adalah penari gaya bebas yang tampil di sebuah pertunjukan jalanan tanpa bantuan koreografer. Para aktrisnya berputar-putar layaknya seorang gadis kecil yang sedang bersenang-senang di taman. Para aktornya bercanda sampai guling-guling di atas rumput ibarat bocah lelaki kecil sedang main gulat-gulatan. Fassbender menirukan seekor kera yang sedang marah dan membikin Mara serta Gosling tertawa ngakak. Adegan semacam itu bisa menjadi sebuah pernyataan tentang jiwa anak kecil menyenangkan yang bersembunyi di dalam setiap orang dewasa atau hal itu mungkin merupakan contoh dari apa-apa yang dilakukan oleh para bintang film saat mereka tidak yakin dan tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Ini bukanlah perbedaan yang sangat berarti dalam film bikinan Malick sebelumnya, bahkan yang paling busuk sekalipun, namun menjadi penting di sini karena Song to Song merupakan film yang begitu entropi.

Malick juga menampilkan banyak musisi terkenal sebagai cameo di film ini, di antaranya: Red Hot Chili Peppers yang sedang bercanda sampai guling-guling dengan Fassbender; Patti Smith yang bercerita tentang kematian suaminya, Fred “Sonic” Smith, pada tahun 1994 silam karena serangan jantung dengan wawasan dan keintiman sedemikian rupa sehingga saya merasa sedang menonton film dokumenter tentang dirinya; Iggy Pop yang dada dan abdomennya menjadi pusat kekaguman dari kamera Lubezki. Val Kilmer muncul dalam salah satu rangkaian adegan konser musik, membawa gergaji mesin ke atas panggung, menghancurkan salah satu pengeras suara, dan meneriakkan “I got some uranium! I bought it off my mom!” kepada kerumunan penonton konser. Di pertengahan babak kedua filmnya, Fassbender mulai berubah menjadi karakter yang dia perankan di film Shame (2011) bikinan Steve McQueen. Sementara Mara dan Gosling tidak pernah berubah menjadi apa pun. Bayangan kekacauan masa lalu yang mengguncang kehidupan Blanchett berhasil memberi karakternya kesan kepedihan yang lebih mendalam ketimbang yang lainnya di film ini, kecuali sebuah adegan yang menampilkan Mara berdebat dengan ayahnya di SPBU dan pengambilan gambar close-up dari Gosling yang sedang merenungkan mortalitas ayahnya.

Ah iya, hampir lupa. Pada satu momen, Malick menyelipkan cuplikan 30 detik dari kontes twerking (tarian yang provokatif secara berahi seksual, melibatkan gerakan pinggul yang begitu menggoda dengan iringan musik populer).

Momen-momen yang paling mengharukan dalam Song to Song adalah beberapa gambar close-up dari orang-orang yang menangis saat mereka mengingat kembali kesalahan di masa lalu dan berkubang dalam rasa penyesalan yang begitu besar. Momen-momen semacam ini bakal sangat memedihkan jika, mungkin, ada konteks personal yang lebih jelas dan sedikit jaringan retoris yang bisa menghubungkannya dengan tema utama film ini (kesedihan dan kehilangan, kompromi dan kecurangan, rayuan dan pengkhianatan, kedangkalan anestesi dari eksistensi kehidupan modern).

Film ini terputus-putus, bahkan dengan standar film garapan Malick yang judulnya mengumumkan bahwa “ini adalah koleksi dari beberapa potongan gambar”. Perkembangan besar dalam kehidupan karakter-karakternya mendadak muncul entah dari mana (seringkali setelah digembar-gemborkan oleh penggalan baris dialog voice-over yang canggung) dan kemudian tidak pernah disebutkan atau disinggung kembali. Ada adegan konfrontasi yang kasar di mana Gosling menuduh Fassbender telah menipunya, namun beberapa adegan setelahnya menampilkan mereka berdua tampaknya sudah berbaikan dan sedang bersenang-senang. Salah satu karakter utama film ini mati, menyebabkan anggota keluarganya jatuh terpuruk ke lembah kesedihan yang teramat dalam, namun momen tersebut disajikan dengan cukup halus sehingga perlu beberapa menit bagi saya untuk memastikan bahwa karakter utama itu memang sudah mati.

Efek film ini, secara keseluruhan, juga terkesan timbul-tenggelam dalam drama kontemporer Malick lainnya, namun saya selalu merasa seolah-olah ada metode untuk melakukan suatu kegilaan. Malick bertindak seolah-olah dia adalah tuhan yang telah menyulap film ini melalui kenakalan dan doa. Ada ketulusan yang cukup serius pada presentasi film ini tentang rasa bersalah, nostalgia, kerinduan, dan krisis spiritual, serta kepercayaan diri yang tersenyum manja terhadap cara kamera Lubezki mengelilingi karakter-karakter film ini saat mereka merayu, merenung, dan bersenda-gurau. Namun ada kalanya juga gaya penceritaan film ini mengingatkan saya bahwa kebencian Gosling dan saudara kandungnya terhadap ayah mereka, kisah cinta segitiga, dan beberapa elemen lainnya merupakan pengulangan dari film-film garapan Malick belakangan ini.

Tidak gampang untuk menjelaskan alasan di balik kegagalan seorang penyair melakukan tugasnya, sebab kegagalan tercipta melalui proses interior yang sama-sama sulit dipahaminya dengan keberhasilan. Saya tidak bakal bisa menebak dengan tepat apa yang salah dengan film ini; saya tidak akan bisa menduga dengan benar faktor apa yang membikin film ini terasa tidak sepenuhnya manis. Malick menggunakan kosakata audiovisual yang sama seperti yang dia lakukan pada tiga film sebelumnya (dengan beberapa penyempurnaan, termasuk penggunaan kamera GoPro yang tidak terlalu banyak), dan dia berurusan dengan banyak tema tried-and-true dan situasi fix-and-error di sini. Namun tidak peduli sebesar apa kekaguman saya terhadap Malick, film ini tidak mampu memberikan sesuatu yang sepenuhnya manis dan kenikmatan menonton yang menggugah bagi saya. Film ini semacam rekaman album musik dengan konsep ide yang cerdas dari seorang musisi hebat, namun lagu-lagu yang ada di dalamnya dieksekusi dengan cukup rumit sehingga terasa kurang matang (atau, mungkin, malah terlalu matang). Meski tidak semanis dan tidak sekeren yang saya harapkan, Song to Song tetaplah film apik yang okelah untuk ditonton sampai kelar bersama sang kekasih atau sendirian di kamar kos yang pengap. Mencomot baris dialog Mara di pembuka film ini: “Any experience is better than no experience.” []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s