The Milky Way (1969)

Poster film versi “The Criterion Collection”. (gambar: “Torrent Butler”)

PERTENGAHAN tahun ‘60an, Luis Buñuel terpesona oleh pemberontakan pemuda yang memuncak pada aksi protes Mei 1968 di Paris, Prancis, dan memanifestasikan gerakan tersebut dalam musik serta fashion sebagai oposisi terhadap otoritas institusi negara, keluarga, dan agama. Buñuel merasa bahwa hasrat pemberontakan masa mudanya telah bangkit kembali. Ketika masih remaja, Buñuel menolak dan memberontak terhadap nilai tradisional kampung halamannya (Spanyol) — patriotisme dan agama — dan memilih minggat ke Paris, bergabung dengan para surealis di sana dalam sebuah pencarian untuk “sebuah titik di mana semua kontradiksi telah diselesaikan” — untuk menghargai dan menghidupi mimpi, imajinasi, dan semangat revolusioner. Apa yang dibawa Buñuel ke surealisme adalah tradisi anarkisme Spanyol dalam masyarakat otoritarian, dicampur dengan semangat pemberontakan yang kreatif, kegilaan yang epik, dan ketidak-pedulian komedian: kombinasi unik dari “Francisco Goya dengan hak istimewa dari mimpi indah dan mimpi buruk” dan “Don Quixote dengan kebingungan tentang mimpi dan kebenaran” yang menentang congkaknya kekuasaan dan kekolotan adat istiadat.

Buñuel memiliki perbedaan dengan teman-teman surealis Prancisnya. Para surealis Prancis menerjemahkan pemberontakan menjadi/ke dalam suatu ide, sementara Buñuel memilih rangkaian gambar sebagai insentif paling kuat untuk pemberontakan. Namun rangkaian gambar itu sendiri bisa menjadi konvensional, menghibur, ortodoks. Karya sinematik bikinan Buñuel menjadi kritik sekaligus afirmasi dari kekuatan tontonan. Salah satu rangkaian gambar dari film pertama Buñuel, Un Chien Andalou (1929), menampilkan segumpal awan melintasi bulan purnama yang langsung dipadu-padankan dengan gambar dirinya sendiri sedang mengiris mata seorang perempuan. Dalam film garapan Buñuel lainnya: orang buta diejek, dihukum, dihajar, atau disucikan. Namun di The Milky Way, Buñuel menutup filmnya dengan adegan di mana dua orang buta dipulihkan secara ajaib oleh Yesus Kristus (Bernard Verley) dan kemudian, ketika berjalan mengikuti rombongan Yesus, dua orang buta itu tidak bisa melewati selokan tanpa bantuan tongkat penunjuk jalan mereka. Keajaiban, mencomot kata-kata Don Quixote kepada Sancho Panza, adalah “suatu hal yang sangat jarang terjadi di dunia ini”.

Yang artinya, terkadang keajaiban itu memang pernah terjadi satu-dua kali. Buñuel memiliki keyakinan dan ketakutan yang menyeramkan terhadap kekuatan film. Gagasan Buñuel tentang film yang sempurna adalah memproyeksikan bayangan gambar yang mampu menembus pikiran seseorang. Buñuel merasa bahwa inti kebebasan visual ini telah terhambat oleh konvensi tirani dari tatanan sosial masyarakat hipokrit yang mendasari segalanya pada uang dan keuntungan pribadi. Buñuel kemudian mulai menjadikan gambaran realitas sebagai ide pokoknya, melampaui ekspresi verbal dan filosofisnya namun selalu berada dalam ketegangan dengan semua hal yang menentang citra dan pesan atau niatnya. Buñuel setia pada estetika ini saat dia memvisualisasi kesepian (Robinson Crusoe [1954]), obsesi seksual (L’Age d’Or [1930], Él [1953], Belle de Jour [1967], Tristana [1970], That Obscure Object of Desire [1977]), kekerasan (Land Without Bread [1933], Los Olvidados [1950]), keimanan (Nazarín [1959], Viridiana [1961], Simon of the Desert [1965]), fetisisme (The Criminal Life of Archibaldo de la Cruz [1955], Diary of a Chambermaid [1964]), kebiasaan adat istiadat (The Exterminating Angel [1962], The Discreet Charm of the Bourgeoisie [1972]), dan, dalam semua karya sinematiknya, misteri hubungan perempuan dan lelaki dengan diri mereka sendiri, dengan satu sama lain, dan dengan dunia.

The Milky Way adalah film yang unik dalam katalog Buñuel dan menggemakan semua obsesi yang baru saja saya sebutkan di atas. Dua peziarah kontemporer, Pierre (Paul Frankeur) dan Jean (Laurent Terzieff), melakukan perjalanan ziarahnya — seperti yang dilakukan oleh peziarah sejak Abad Pertengahan — dari Rue Saint-Jacques di Paris, Prancis, ke Kota Santiago de Compostela di Provinsi Galicia, Spanyol. Ini adalah format picaresque tradisional tentang gelandangan yang bertahan hidup di jalanan. Ini juga merupakan kisah yang lebih tradisional tentang perjalanan kesatria dan pengawalnya untuk mencari kehormatan dan kebenaran. Buñuel memadukan tradisi tersebut ke semacam kontinum waktu sinematik: Pierre dan Jean adalah dua lelaki kontemporer, namun waktu dan ruang menemani mereka berdua dalam jalinan masa lalu dan masa kini serta geografi simultan. Karakter-karakter ortodoks dan bidah di film ini menunjukkan kepercayaan mereka masing-masing di masa Palestina kuno, di awal Abad Pertengahan Eropa, di Zaman Rasionalisme, di motel penginapan serta restoran mewah masa kini, dan jalan tol Prancis.

Virgin Mary (Maria Sang Perawan Suci [Edith Scob]) dan anaknya (Yesus beserta saudara lelaki Yesus); para uskup yang terlalu banyak bicara dan French Priest (François Maistre) gila yang buron; The Prostitute (Whore of Babylon [Delphine Seyrig]) yang menertawakan — dan kemudian merayu — Pierre dan Jean; seorang paus yang menghadapi eksekusi mati dengan regu tembak; Marquis de Sade (Michel Piccoli); Maitre d’Hotel-merangkap-teologis (Julien Bertheau) yang tidak berperikemanusiaan dan para pelayannya; The Jesuit (Georges Marchal) yang beradu pedang melawan The Jansenist (Jean Piat); seorang guru sekolah (Agnès Capri) yang sangat kaku dan sekelompok murid perempuan didikannya yang sedang membacakan anatema di depan para orangtua; The Devil (Pierre Clémenti) — atau Dewa Kematian? — yang berpakaian seperti bintang musik rock; seorang anak kecil yang terluka dan berdarah di pinggir jalan; dll. Kumpulan karakter yang fantastis di film ini — yang merupakan parodi dari “ribuan karakter” di film-film Hollywood — terlihat jelas secara visual di layar laptop di depan mata saya, sebuah abstraksi gersang dari ajaran sesat Kristen.

Apakah doktrin Tritunggal Kudus itu memang pernah ada? Apakah Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah tiga sosok yang berbeda, atau apakah itu semua sosok Tuhan Kristus yang menyamar sebagai makhluk fana agar bisa dikenali oleh manusia? Apakah Yesus hanyalah bentuk tubuh fana dari Roh Ilahi? Apakah penderitaan rasa sakit Yesus hanya sekadar tampilan fana belaka? Jika Yesus menderita kesakitan, pantaskah dia disembah sebagai tuhan? Jika Yesus adalah tuhan, bagaimana bisa dia menderita kesakitan? Apakah Kristus cuma sekadar sebuah partikel pikiran tuhan? Apakah kita diperbolehkan untuk membedakan antara tindakan Yesus sebagai manusia dan kata-kata Kristus sebagai tuhan? Apakah Yesus Kristus benar-benar dua orang: yang satu lahir dari Allah Bapa, dan yang satunya lahir dari rahim Maria Sang Perawan Suci? Apakah Maria benar-benar mengandung dan melahirkan Yesus dari rahimnya secara ajaib, atau itu semua hanya khayalan belaka? Apakah Yesus punya saudara lelaki?

Ketika menyajikan abstraksi teologis ini dalam bentuk realitas visual, Buñuel melakukannya dengan kecerdasan akal dan humor-gelap yang luas dan brilian. French Priest gila yang buron itu percaya dengan analogi “the body of Christ in the host is just like the rabbit in this pâté”. Kematian paus di moncong senapan regu tembak adalah sesuatu yang tidak akan pernah kita — saya dan kamu — tonton secara gamblang dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi teologi oleh Maitre d’Hotel dan para pelayannya ada dalam tradisi komedi atau dagelan slapstick. Adu pedang antara The Jesuit yang mewakili kaum ortodoks dan The Jansenist yang merepresentasikan kelompok (yang dianggap) bidah adalah versi komikal dari duel pertarungan Robin Hood vs. Sir Guy of Gisbourne dalam film The Adventures of Robin Hood (1938) yang direduksi menjadi penalaran absurd. Dan Maria meminta agar Yesus tidak mencukur jenggotnya karena “beard inspire confidence … you look much better with your beard”.

Seiring dengan atmosfer komedi-hitamnya, di film ini Buñuel juga bergulat dengan kontradiksi antara keimanan dan kesesatan. Pemuda bidah yang memakai baju pemburu dan menembak rosario, secara ajaib mendapatkan rosario yang sama dari tangan Maria Sang Perawan Suci dan momen keajaiban itu membikin air matanya menetes. Mungkin benar adanya apa yang dikatakan Pierre kepada Jean bahwa tuhan adalah sang maha mengetahui segalanya, namun kita sebagai manusia tidak tahu dan tidak paham apa-apa yang diketahui oleh tuhan. Hanya seorang seniman keren sekaliber Buñuel yang bisa menyajikan semua makna itu ke dalam sebuah kontinum visual tanpa henti yang menghormati kaum ortodoks dan kelompok bidah, sekaligus juga menyindir dan mencela ketaatan dogmatis dua golongan tersebut.

My hatred of science and my loathing of technology will one day lead me to this absurd belief in God,” ujar salah satu karakter episodik di film ini yang sepertinya berbicara atas-nama Buñuel secara personal, sebagai salah satu seniman surealis terbesar yang pernah ada, saat Buñuel sedang terbaring sekarat tidak berdaya di sebuah rumah sakit di Mexico City pada tahun 1983 membahas teologi selama sepekan penuh dengan kawan dekatnya, seorang Yesuit bernama Julian Pablo. “I’m still an atheist, thank God,” jawaban Buñuel ketika ditanya tentang sikapnya terhadap agama dalam sebuah wawancara circa 1960 dan telah menjadi salah satu kutipan yang paling dirayakan sampai saat ini. Buñuel sudah mati, sindirannya terhadap moral masyarakat borjuis dan agama tetap abadi. Mungkin sekarang ini Buñuel sedang berada di sebuah dunia entah-berantah yang penuh dengan para surealis, kumpulan ateis, kamerad anarkis, dan sejumlah penganut ajaran gnostisisme macam para priscilian, kumpulan patripassian, komunitas nestorian, kelompok monarchian, kaum manikheis, golongan jansenis, dan orang-orang docetis.

Buñuel menyebut The Milky Way sebagai film pertama dari sebuah trilogi (bersama dengan The Discreet Charm of the Bourgeoisie dan The Phantom of Liberty [1974]) tentang “upaya pencarian kebenaran”. The Milky Way dengan berani mendekonstruksi pandangan tradisional dan kontemporer tentang Katolik menggunakan sinisme dan kecabulan surealis. Pierre dan Jean, dua peziarah-gelandangan asal Prancis di film ini, berfungsi sebagai narator Buñuel untuk sejarah anti-klerus, yang disajikan dengan absurd dan penuh dengan gambar surealis khas Luis Buñuel yang mengesankan (seorang biarawati yang disalib, sekelompok murid perempuan yang stigmatis) dan kocak (Yesus diminta untuk tidak mencukur jenggotnya). Sebuah pandangan yang menghibur secara psikologis terhadap misteri fanatisme, The Milky Way adalah es susu buah yang nikmat dan menyegarkan sebelum tidur siang. Sebab apalah artinya semua ini jika kita tidak bisa menikmati tidur siang yang nyenyak, puan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s