Contact (1997)

Poster film. (gambar: “Pinterest”)

CONTACT adalah sebuah film yang berlangsung di persimpangan sains, politik, dan agama — tiga hal yang (sepertinya) tidak bakal bisa rukun satu sama lainnya. Dalam film ini, sebuah sistem kecerdasan alien berhasil mentransmisikan tiga halaman gambar yang berisikan simbol-simbol terenkripsi. Sudut masing-masing halaman sudah dapat diketahui, dan ketiga sudut itu sudah jelas dimaksudkan untuk bersatu dalam beberapa cara agar bisa memproyeksikan satu gambar tunggal yang lebih jelas dan bermakna. Namun para ilmuwan di film ini masih tampak kebingungan dan kesulitan dalam upaya mereka untuk menggabungkan tiga halaman gambar tersebut. Solusi dari itu semua mampu memberikan efek momen eureka kepada saya. Hal ini sebenarnya adalah persoalan yang sangat sederhana, namun begitu sulit untuk dipahami, yang dimaksudkan sebagai semacam tes kecerdasan.

Saya pertama kali menonton film ini saat masih kelas dua SMA dulu (dan masih terlihat imut-menggemaskan), dan dibikin jengkel setengah-mati serta langsung mengayuh sepeda ke rental VCD tempat saya menyewa filmnya untuk minta ganti-rugi. Apa lacur? Saya pikir ini adalah film tentang luar angkasa dan alien — namun setelah 149 menit durasi filmnya di mana karakter protagonisnya telaten berupaya mencari dan membuktikan kemungkinan adanya kehidupan lain di alam semesta yang mahaluas, lalu melewati terowongan warna-warni menggunakan pesawat luar angkasa dan mendapatkan pemandangan lanskap semesta yang begitu indah, lhakok ujung-ujungnya malah ketemu bapak kandungnya (yang sudah mati puluhan tahun lalu) ketika singgah di sebuah planet entah-berantah di galaksi lain, untuk kemudian berdebat di ruang pengadilan. “JANCUK! ALIENNYA MANA WOI?!?” saya mengumpat macam itu keras-keras sampai dijitak oleh ibu saya yang merasa tidur siangnya terganggu. Betul-betul asu, asu-asu betul!

Namun ketika saya memutuskan untuk mengunduh dan menonton kembali film ini kemarin, saya terkejut dengan keberanian film ini — saya sangat menikmati dan menyukainya. Karakter protagonisnya adalah ilmuwan-astronom radio yang ateis bernama Dr. Eleanor “Ellie” Ann Arroway (Jodie Foster). Di film ini, Ellie menjalin hubungan asmara singkat dengan Palmer Joss (Matthew McConaughey), seorang mantan pendeta yang 100% percaya adanya tuhan dan kini menjadi penulis buku tentang sains. Peran kunci dimainkan oleh tim penasihat presiden yang melihat tuhan, pesan dari luar angkasa, dan alien menggunakan sinisme sudut pandang politis, dan mereka membenarkan sikap politik mereka itu dengan generalisasi motif “keamanan nasional”.

Hal-hal semacam itu tidak sepenuhnya saya sadari saat pertama kali menonton film Contact ini. Tiga belas tahun yang lalu, saya masih memiliki keyakinan teguh tentang keberadaan tuhan dan sedikit-banyak percaya dengan kemungkinan adanya kehidupan di tempat lain di alam semesta, serta tidak tertarik dengan ingar-bingar politik. Setelah mengalami kegelisahan eksistensialisme dalam proses pendewasaan menyakitkan di garis waktu kehidupan yang menuntun saya pada kemuakan terhadap politik taik kucing dan memantapkan diri sebagai ateis-jahanam serta percaya dengan kemungkinan teori multiversum atau semesta paralel, film ini terasa menggemakan kegelisahan eksistensialisme saya dengan syahdu dan cukup berani — mengingat pada tahun 1997 ketika film ini dirilis, Hollywood memperlakukan film layaknya pesta makan malam yang sopan: jangan ada pembicaraan tentang politik atau agama secara gamblang.

Enkripsi gambar yang ditransmisikan oleh suatu sistem kecerdasan alien, ketika berhasil dipecahkan oleh para ilmuwan di film ini, berisi cetak-biru pembangunan mesin transportasi antargalaksi yang bisa membawa satu manusia ke sebuah planet entah-berantah yang mengelilingi Vega, bintang paling terang di Konstelasi Lyra, yang berjarak sekitar 25 tahun cahaya dari Bumi.

Elemen kunci dari film ini melibatkan sidang dengar pendapat panel internasional untuk menentukan siapa yang pantas dan layak menjadi satu-satunya astronot untuk berada di dalam mesin transportasi antargalaksi tersebut. Meskipun kelompok kandidat internasional telah dipilih, sebagian besar biaya pembuatan mesin transportasi antargalaksi itu berasal dari Amerika Serikat, dan karena alasan politis, maka satu astronot yang terpilih haruslah orang Amerika Serikat. Ellie, di mana dia memimpin tim riset yang pertama kali menerima pesan dari luar angkasa tersebut, adalah salah satu kandidatnya. Pada proses terakhir seleksi dalam sidang dengar pendapat panel internasional, Ellie mendapat serangan telak dari Palmer dengan pertanyaan apakah dia percaya adanya tuhan atau tidak. “Saya menganggap diri saya sebagai pribadi yang bermoral,” Ellie menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur apa adanya. “Sebagai ilmuwan, saya bergantung pada bukti nyata, dan dalam masalah ini, saya tidak percaya kalau ada bukti data yang nyata tentang eksistensi tuhan.” Ellie gugur dan harus merelakan kesempatan bepergian ke galaksi lain itu jatuh kepada atasannya, David Drumlin (Tom Skerritt), seorang lelaki paruh-baya oportunis yang telah menerima pujian atas kerja keras Ellie di SETI (search for extraterrestrial intelligence) dan memberikan jawaban pretensius yang ingin didengar oleh panel internasional. (Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak saya: “Apakah manusia pertama yang bakal bertemu dengan alien harus 100% yakin dengan keberadaan tuhan?”) Simulasi percobaan proyek ambisius tersebut berujung tragis, meledakkan mesin transportasi antargalaksi supermahal itu dan membunuh David. Namun pada akhirnya Ellie masih mendapatkan kesempatan langka tersebut berkat bantuan dari miliuner nyentrik, S.R. Hadden (John Hurt), yang ternyata membangun mesin transportasi antargalaksi secara rahasia di Jepang.

Contact merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Carl Sagan, yang memberi tahu kita dengan sukacita tertentu bahwa ada “miliaran, dan bisa saja lebih banyak, bintang di atas sana”. Sebagai seorang anak yang terpesona oleh kerlip cahaya bintang-bintang, Ellie kecil (Jena Malone) bertanya kepada ayahnya, Theodore Arroway (David Morse), apakah ada peradaban manusia yang hidup di planet lain. Dan dengan penuh kasih sayang, Theodore menjawab: “Ayah tidak tahu, Sparks. Tapi ayah beranggapan jika hanya kita yang hidup di alam semesta, maka luar angkasa pasti terlihat seperti ruang kosong mahaluas yang sia-sia.” Baris dialog itu merupakan pengembangan dari kutipan yang sering dikaitkan dengan Sagan. (Saat ini saya juga sedang membaca novel Dunia Maya: Misteri Dunia dan Cinta karangan Jostein Gaarder dan mendapati salah satu karakternya, Frank Andersen, mengatakan hal serupa: “Di alam semesta ini mungkin ada seratus miliar galaksi, dan setiap galaksi memiliki seratus miliar bintang. Sungguh sia-sia ruang teramat luas itu jika kita memang sendirian.”) Meskipun tidak percaya adanya tuhan dan konsep kehidupan setelah mati, Ellie selalu rindu dan sangat ingin bertemu dengan ibunya yang mati saat melahirkannya, dan mungkin itulah yang membikinnya tertarik dengan bintang-bintang di langit ketika masih kecil. Kemudian, setelah lulus dengan gelar magna cum laude dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Ellie menolak pekerjaan sebagai staf pengajar di Universitas Harvard dan lebih memilih untuk bergabung dalam pengerjaan proyek SETI di Puerto Riko. Sumber pendanaan untuk proyek SETI tiba-tiba dihentikan oleh David yang munafik, yang tidak menyetujui metode penelitian murni tanpa “hasil yang pasti” dan lebih percaya bahwa sains harus menyediakan “hasil praktis” untuk meningkatkan taraf hidup warga yang telah membayar pajak sekaligus memberikan profit keuangan yang menguntungkan bagi investornya, baik itu negara maupun korporasi.

Film ini disutradarai oleh Robert Zemeckis yang sering menggunakan metode teknis yang cukup berani. Tonton saja bagaimana cara Zemeckis melebur live-action dan animasi dengan begitu asyiknya sebelum era CGI (computer-generated imagery) dalam film Who Framed Roger Rabbit (1988); atau cara dia menanamkan Forrest Gump (1994) di tengah-tengah manusia sungguhan; atau cara dia menggunakan motion capture di film The Polar Express (2004), Beowulf (2007), dan A Christmas Carol (2009). Di sini, Zemeckis berhasil mengejutkan saya dengan menggunakan wartawan/reporter asli CNN untuk meliput berita, dan menyisipkan potongan gambar Bill Clinton — yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat — di tengah-tengah rangkaian adegan film ini. Clinton tidak benar-benar ikut berakting di film ini (potongan gambar yang disisipkan terasa sesuai dengan konteks, namun sebenarnya bisa tentang apa saja). Tapi reporter berita yang digunakan di film ini benar-benar reporter asli CNN. Apakah pantas bagi wartawan untuk ikut bermain dalam film fiksi? Presiden CNN saat itu, Tom Johnson, mengatakan bahwa hal itu merupakan ide yang buruk, dan tidak bakal terulang lagi; perkataan Johnson itu sepertinya tidak digubris. Apa-apa yang berfungsi sebagai lelucon di Forrest Gump malah membikin catatan palsu dalam realisme yang lebih besar di Contact.

Ketika menonton film ini kemarin, saya sangat terpikat dengan baris dialog dalam percakapan antara Palmer dan Ellie, antara agamis dan ateis. Palmer dan Ellie saling menyukai satu sama lain; mereka berdua bahkan sempat melakukan seks sekali, namun hasrat cinta yang tulus dan melenakan itu mau tidak mau harus diakhiri karena Ellie telah melakukan perhitungan dan menyadari bahwa jika dia melakukan perjalanan menggunakan mesin transportasi antargalaksi berkecepatan cahaya, maka itu berarti dia tidak bakal bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang dia kenal — termasuk Palmer dan anak-anak hasil hubungan mereka berdua, kalau ada — saat berhasil pulang ke Bumi. Dalam sidang dengar pendapat panel internasional untuk menyeleksi kandidat tunggal astronot itu Palmer sebenarnya tidak memilih Ellie bukan karena faktor bahwa Ellie adalah seorang ateis, namun karena alasan yang sangat manusiawi: Palmer tidak ingin kehilangan Ellie lagi.

Saya tidak akan menjelaskan secara detail apa-apa yang terjadi pada Ellie ketika (dan setelah) dia melakukan perjalanan lintas-galaksi. Ada banyak perdebatan tentang apakah Ellie memang benar-benar pernah meninggalkan Bumi, dan baris dialog perihal rekaman statis selama 18 jam tampaknya menjadi poin penting. Semakin saya memikirkan logika yang terlibat di dalamnya, film ini menjadi kian rumit dan menarik. Pesan asli yang diterima dari sistem kecerdasan alien di luar angkasa itu adalah sinyal televisi pertama yang pernah disiarkan di Bumi, dan karena saya tahu kapan waktu tepatnya sinyal televisi itu disiarkan, maka saya tahu berapa tahun yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan pulang-pergi dari Bumi ke sumber sistem kecerdasan alien tersebut.

Hal itu setidaknya menunjukkan sebuah program alien supercanggih untuk mencari sinyal semacam itu dan mentransmisikan kembali bersamaan dengan serangkaian kode bilangan prima, sebuah indikasi universal tentang kecerdasan. Apa lagi yang ingin ditunjukkan oleh hal itu? Bahwa alien memang benar-benar ada, atau hanya program mereka saja yang eksis? Apa maksud dan tujuan dari mesin transportasi antargalaksi itu? Perjalanan luar angkasa yang aktual, atau pengalaman seperti yang dirasakan oleh karakter protagonis 2001: A Space Odyssey (1968) yang menemukan dirinya berada di lingkungan yang ternyata telah diciptakan oleh informasi yang ada di dalam pikirannya sendiri? Apa yang dipelajari Ellie dari alien? Apa yang diajarkan oleh alien kepada Ellie (dan kepada kita: saya dan kamu)? Ap ~

~ bangke keong, lupa beli rokok!

Foster, yang juga seorang ateis, adalah aktris ideal untuk memerankan karakter Ellie. Foster mampu menyajikan Ellie yang secara cerdas, dan tanpa bertele-tele, menjelaskan bahwa tujuan Sains adalah untuk mencari dan menemukan Kebenaran, di mana pun itu. Di situlah letak persimpangan antara sains dan kreasionisme, di mana para ilmuwan (selalu) menyangsikan kelompok kreasionis yang percaya bahwa mereka sudah mengetahui secara pasti tentang Kebenaran Absolut dan tugas sains sebenarnya hanyalah untuk menemukan serta membuktikan kebenaran yang telah mereka percayai. Dan hal itu dapat menimbulkan ketidak-nyamanan tentang metode penelitian murni — bahayanya, yang selalu dikhawatirkan oleh kelompok kreasionis, adalah hal itu bisa membuka dan menyajikan suatu fakta yang tidak ingin diketahui sebelumnya.

Karakter Palmer yang diperankan oleh McConaughey adalah seorang lelaki yang baik dan tulus, namun saya penasaran dan bingung dengan “kemampuan misterius”-nya untuk bisa muncul di mana saja, dalam momen apa pun, di film ini. Hanya karena Palmer menulis buku tentang sains dan agama, mengapa dia diundang ke setiap pertemuan tingkat tinggi dan diberi tanggung jawab serta pengaruh yang begitu besar? Karakter bermasalah yang membingungkan lainnya adalah Joseph (Jake Busey) yang — seorang evangelis terkenal yang memiliki jumlah pengikut mencapai jutaan orang — bisa lolos dari prosedur “keamanan nasional” level tinggi. Sementara itu, saya kagum dengan kepekaan indra pendengaran dari karakter Kent Clark (William Fichtner).

Kekuatan Contact terletak pada caranya melibatkan isu-isu yang masih terasa relevan sampai saat ini, dan masih jarang dibahas di dalam sebuah karya sinematik. (Untuk menyebut beberapa film dengan kemiripan tema yang sebagus ini: Interstellar [2014] karya Christopher Nolan dan Arrival [2016] garapan Denis Villeneuve. Bahkan Contact, Interstellar, dan Arrival bisa kita anggap sebagai sebuah trilogi.) Pertimbangkan oposisi terhadap penelitian sel punca dalam artian “penelitian murni”. Perhatikan politisi yang meremehkan pemisahan politik dan agama. Saat Ellie ditanya oleh Palmer apakah dia percaya dengan eksistensi tuhan, jawaban yang mungkin tepat adalah “itu bukan urusanmu, sayang”. Itu adalah jawaban yang terasa pas dari manusia mana pun, tidak peduli apakah mereka percaya tuhan itu ada atau hanya sekadar konsep/ilusi untuk menenangkan massa. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s