Smurfs: The Lost Village (2017)

Poster film. (gambar: “Smurfs Production Blog”)

BEBERAPA tahun yang lalu, ketika Sony Pictures Animation memutuskan bahwa The Smurfs — seri komik kartun dari artis Belgia yang dikenal dengan nama Peyo — layak difilmkan ke layar lebar, mereka membikin keputusan yang tidak dapat dijelaskan untuk menyajikan The Smurfs (2011) dan The Smurfs 2 (2013) sebagai film hibirida live-action/animasi. Karakter-karakter Smurf dalam dua film itu dianggap sebagai kreasi computer-generated imagery (CGI) yang lumayan apik dengan pengisi suara macam Anton Yelchin, Jonathan Winters, Katy Perry, Alan Cumming, serta Fred Armisen, dan berinteraksi dengan karakter manusia sungguhan yang diperankan oleh Sofía Vergara, Neil Patrick Harris, dan Hank Azaria. Meski menghasilkan pendapatan yang cukup besar, dua film itu tidak benar-benar menciptakan rasa cinta dan kenikmatan yang menggairahkan bagi penontonnya, bahkan bagi kalangan penonton anak-anak, untuk menceritakan kisahnya sehingga penonton tetap bisa berfantasi dengan dua film itu pada beberapa tahun mendatang. Karena alasan itulah Sony Pictures Animation memutuskan untuk membikin reboot dengan pendekatan full animasi sebagai gantinya. Hasilnya? Smurfs: The Lost Village mungkin bukanlah film yang lebih menghibur atau lebih bagus, namun pendekatan full animasi yang mengisyaratkan bahwa ini ditujukan untuk penonton anak-anak setidaknya mampu membikin film ini sedikit lebih enak ditonton ketimbang (meski masih menyajikan recehan yang sama dengan) dua pendahulunya itu.

Sama seperti yang tampaknya terjadi pada nyaris semua proyek The Smurfs, film ini berfokus pada penderitaan eksistensial Smurfette (Demi Lovato): satu-satunya Smurf perempuan dalam komunitas Smurf dan juga satu-satunya Smurf yang namanya tidak berfungsi sebagai deskriptor praktis untuk tujuan utama kehidupannya. Hal ini, tentu saja, karena Smurfette bukanlah Smurf asli melainkan seonggok tanah liat yang dihidupkan oleh penyihir jahat bernama Gargamel (Rainn Wilson) untuk menyusup ke dalam komunitas Smurf agar bisa menghancurkan dan merampas kekuatan magis mereka. Dengan senang hati, Papa Smurf (Mandy Patinkin) — pemimpin komunitas Smurf yang bijaksana — menyambut dan mengisi Smurfette dengan sihir Smurf yang berhasil mengubah Smurfette dari “jahat” menjadi “baik” (dan sekaligus mengubah tampilan Smurfette dari yang awalnya berambut gelap menjadi pirang — ini semacam metafora dari tradisi dan analogi politik rasis menyebalkan dan memuakkan yang mendarah-daging di Hollywood untuk menggambarkan bahw—–“Sudahlah troy, tonton saja dulu sampai kelar! Baru adegan pembuka kamu udah rewel dan kejauhan mikirnya,” protes kekasih saya, Si Nyonya Tua V, sembari mencubit lengan saya. Ya sudahlah, asu!) Orang-orang mungkin berpikir bahwa ketika nama mereka tidak memetakan gambaran takdir hidup yang pasti maka itu merupakan salah satu berkah semesta yang patut untuk disyukuri dan dirayakan, namun hal ini malah membawa Smurfette yang malang terpuruk ke dalam lembah keputus-asaan — dan tentu saja, sebagai Smurf, kedalaman lembah keputus-asaan itu tidaklah terlalu dalam.

Smurfette mengalami momen penting ketika dia mengembara sedikit terlalu dekat dengan dinding batu yang memisahkan Desa Smurf dari Hutan Terlarang. Smurfette melihat sesuatu yang tampak seperti Smurf lain yang kemudian lenyap menghilang ke balik dinding batu pemisah dengan hanya menyisakan pertanyaan dan topi aneh warna-warni. Karena dia dan teman-temannya dianggap sebagai satu-satunya komunitas Smurf yang eksis, Smurfette penasaran dan diam-diam menyelinap keluar dari Desa Smurf — bersama dengan ketiga temannya: Hefty Smurf (Joe Manganiello), Clumsy Smurf (Jack McBrayer), dan Brainy Smurf (Danny Pudi) — untuk melakukan perjalanan ke dalam Hutan Terlarang demi mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya, sementara Papa Smurf dan Gargamel juga ikut mengejar mereka berempat ke dalam Hutan Terlarang. Setelah perjalanan yang “biasa-biasa saja”, Smurfette dan ketiga temannya menemukan “desa yang hilang” bernama Smurfy Grove di mana semua Smurf yang tinggal di sana adalah perempuan (yang dialih-suarakan oleh aktris-aktris macam Ariel Winter, Meghan Trainor, Michelle Rodriguez, dan Ellie Kemper) di bawah pimpinan Smurf Willow (Julia Roberts). Meski merasa canggung pada awalnya, kedua kelompok itu akhirnya belajar bekerja-sama sebagai satu tim untuk melawan Gargamel dan menyelamatkan desa beserta komunitas masing-masing.

Salah satu hal yang bisa dijadikan sebagai acuan keberhasilan untuk film-film animasi macam ini adalah mampu membikin sekelompok balita dan anak-anak kecil tetap anteng dan tidak bosan di depan layar selama 90 menit, dan Smurfs: The Lost Village berhasil mencapai tujuan itu (Rayna yang berumur delapan tahun anteng-anteng saja di depan layar laptop sampai film ini kelar) namun tidak benar-benar mencoba melakukan hal menyenangkan lainnya. Alur plot cerita film ini konyol — terasa sangat familier bagi siapa saja yang punya kenangan masa kanak-kanak, sekecil apa pun itu, dengan waralaba The Smurfs serta membentangkan “momen-momen sulit dan kesedihan konvensional” sebelum mencapai klimaks dengan “akhiran bahagia selama-lamanya” yang tidak terelakkan bagi tokoh protagonisnya. Saya juga sedikit kecewa dengan kurangnya imajinasi yang dipamerkan untuk menggambarkan komunitas Smurf baru yang hidup di dalam Hutan Terlarang — selain jenis kelamin (yang lebih dari sekadar “konsep” di Dunia Smurf ketimbang dunia-dunia yang lain) dan warna topi mereka, nyaris tidak ada perbedaan yang signifikan dan kentara di antara kedua komunitas Smurf itu. Hal ini mungkin menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pembuat merchandise waralaba The Smurfs, yang mungkin bisa merekonstruksi model lama menjadi “karakter baru” dengan melakukan sedikit usaha dan mengeluarkan sedikit uang, namun tetap bisa menghasilkan profit sebanyak-banyaknya, dalam waktu yang cukup singkat.

Di sisi lain, saya harus mengakui bahwa meskipun secara keseluruhan film ini membikin saya bosan dan menggaruk kepala yang tidak gatal, ada beberapa momen pengalihan yang cukup menghibur. Perjalanan Smurfette dan ketiga temannya di dalam Hutan Terlarang menawarkan sejumlah visual surreal yang menyenangkan, dan si Ray itu menontonnya dengan ketakjuban, gairah, dan antusiasme tertentu yang tidak terlupakan: adegan yang menampilkan sekumpulan kelinci berkilau terang di dalam gua yang gelap dan tanaman berbentuk bola mata dengan pola warna liar yang disajikan di tengah-tengah lanskap alam liar sehingga nyaris membangkitkan hasrat dan kegilaan legenda animasi gaya lama macam Max Fleischer dan Tex Avery. Dan juga, kami bertiga (V, saya, dan Rayna) terkekeh menjelang akhir film ketika Gargamel dan dua hewan peliharaannya (Monty [Dee Bradley Baker] dan Azrael [Frank Welker]) dikejar oleh sekumpulan ikan piranha dan mulai berteriak “Smurfintine!”.

Tentu saja, setiap ulasan tentang Smurfs: The Lost Village adalah semacam latihan menulis ulasan film di waktu luang dalam kesia-siaan murni — jika kamu merasa cukup tua untuk tertarik membaca ulasannya, maka kamu bisa dikatakan terlalu tua untuk film ini dan para orangtua hanya ingin diyakinkan bahwa film ini tidak bakal menimbulkan trauma buruk bagi anak-anak mereka. Pada akhirnya, saya tidak merekomendasikan film ini sebagai tontonan melepas lelah, namun saya bisa meyakinkan kepada para orangtua bahwa film ini adalah salah satu media hiburan yang pas untuk menenangkan balita dan anak-anak kecil selama kurang-lebih 90 menit. Setelahnya ajaklah anak-anak kecil untuk bermain hujan atau apa pun di luar rumah dan membiasakan diri mereka untuk mulai gemar membaca buku atau bahan bacaan lainnya, sebab hal itu lebih asyik dan menyenangkan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s