#FiftyShades: gambaran sinematik arus utama tentang BDSM

BULAN Februari 2017, Fifty Shades Darker — adaptasi terbaru dari trilogi novel erotis karangan E. L. James — dirilis dan berhasil masuk dalam jajaran film box office tahun 2017. Ketika tulisan ini saya ketik, film Fifty Shades Darker telah menghasilkan pendapatan lebih dari $370 juta di seluruh dunia, sementara prekuelnya, Fifty Shades of Grey (2015), sukses menghasilkan pendapatan $571 juta di seluruh dunia. Serial yang begitu populer ini menceritakan kisah Christian Grey dan Anastasia “Ana” Steele (yang diperankan oleh Jamie Dornan dan Dakota Johnson di versi filmnya), dua orang heteroseksual dari kelas menengah/atas Amerika Serikat yang saling jatuh cinta dan terlibat dalam berbagai tingkatan kinky sex, dan seiring berjalannya waktu, Christian berupaya ekstrakeras mengakali hasrat liarnya untuk akhirnya menyadari bahwa yang dia butuhkan adalah perkawinan dan anak-anak. Satu hal yang bisa diapresiasi adalah bagaimana seri ini mampu mengenalkan BDSM ke arus utama (mainstream), menjadikannya topik yang tidak tabu untuk dibicarakan secara gamblang di ruang publik.

BDSM adalah singkatan dari bondage, discipline, dominance and submission, sadomasochism. Istilah BDSM mencakup berbagai macam aktivitas seksual liar yang telah dinegosiasikan terlebih dahulu dengan melibatkan persetujuan dari dua atau lebih orang dewasa. Emma Green dalam artikelnya berjudul Consent Isn’t Enough: The Troubling Sex of Fifty Shades yang tayang di The Atlantic menuliskan bahwa Fifty Shades bukanlah penggambaran BDSM yang pertama di media-media Barat, namun jelas merupakan yang paling populer. Fakta bahwa seri novel karya James ini laris-manis di pasaran (terjual lebih dari 100 juta buku), dan adaptasi filmnya selalu masuk jajaran box office, menunjukkan bahwa relasi seksual antara Christian dan Ana merupakan fantasi budaya dari publik Amerika Serikat saat ini.

Salah satu hasil positif dari fenomena Fifty Shades adalah keberhasilannya menciptakan diskusi terbuka perihal seksualitas di dalam gaya hidup arus utama. Orang-orang yang sebelumnya tidak tahu apa-apa tentang BDSM menjadi penasaran dengan hal itu sekarang, dan meski Fifty Shades bukanlah sumber observasi yang paling edukatif mengenai BDSM, seri novel/filmya bisa menjadi titik awal yang lumayan berguna. Dalam artikelnya, Green mencatat bahwa target pasar seri ini adalah perempuan dalam rentang usia 30-50an — kelompok perempuan yang mungkin tidak pernah mendapatkan kesempatan, atau tidak berani, untuk berbicara jujur mengenai kenikmatan seks. Berkat Fifty Shades, penonton dan pembaca yang pada awalnya sungkan dan malu untuk membicarakan seks kini punya alasan untuk memulai percakapan tentang hasrat seks yang selama ini mereka pendam dalam-dalam dan bisa merasa terbebaskan.

Green juga menulis bahwa adaptasi film Fifty Shades bisa menjadi populer karena adegan seks yang sebelumnya cuma bisa dibaca telah berubah menjadi penggambaran yang eksplisit — orang-orang tidak perlu menggunakan imajinasi mereka untuk membayangkannya sebab semuanya telah ditampilkan di layar. Film adalah media visual, dan karena itulah menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan saat kita — saya dan kamu — membahas penggambaran BDSM di layar sinema arus utama. Linda Williams, seorang kritikus film asal Amerika Serikat, dalam bukunya berjudul Hard Core: Power, Pleasure and the Frenzy of the Visible menulis: “…when BDSM is depicted onscreen, the images appear to be of violence, of women suffering and being forced into various sexual acts.” Sangat penting untuk dicatat bahwa Williams menyebut hal ini sebagai “tampilan dari pemaksaan”, bukannya pemaksaan itu sendiri. Dalam bukunya itu Williams berbicara tentang BDSM dalam pornografi, namun itu juga berlaku untuk BDSM dalam karya sinematik arus utama. BDSM merupakan aktivitas seks yang harus dinegosiasikan dan disetujui terlebih dahulu tanpa paksaan, meskipun dalam praktiknya menampilkan submissive dipaksa tunduk dan menuruti apa-apa di luar kehendak bebas dan keinginannya. Submissive setuju untuk melakukan hal-hal yang dianggap menyenangkan dan membebaskan, bahkan jika perspektif luar melihat itu semua sebagai bentuk dari kekerasan dan eksploitasi yang berlebihan.

Dan di sinilah seri film Fifty Shades (dan novelnya) terasa gagap dan bimbang. Ada banyak rangkaian adegan dalam Fifty Shades of Grey yang menampilkan Christian menjelaskan proses negosiasi relasi seksual BDSM kepada Ana. Christian menuliskan sebuah kontrak yang sangat detail yang menguraikan segala macam tindakan yang bisa disetujui atau tidak oleh Ana, dan Christian hanya akan melakukan tindakan yang telah disetujui oleh Ana. Namun pada praktiknya Christian seringkali mengabaikan keinginan Ana, dan Christian bahkan memanipulasi Ana agar mau melakukan apa-apa yang dinginkannya — baik itu di dalam maupun di luar kamar tidur. Christian marah ketika Ana menenggak minuman beralkohol, dia menunjukkan perilaku posesif dan kerap cemburu buta tanpa alasan saat Ana pergi keluar tanpa dirinya, dan yang paling buruk, dia memaksa Ana terlibat dalam permainan BDSM (seperti pukulan erotis di bokong) — Ana takut untuk menolak sebab dia tahu bahwa itu bakal membikin Christian marah besar dan mungkin bakal meninggalkannya. Ini bukanlah relasi seksual BDSM yang sehat karena Ana jelas-jelas tidak sepenuhnya mengerti dan paham bagaimana cara kerjanya serta memendam keraguan untuk melakukannya: Ana kerap mengatakan bahwa dia bukanlah seorang submissive dan tidak mau mematuhi perintah Christian, namun toh pada akhirnya dia tetap melakukannya karena dia yakin bahwa dia mencintai Christian.

Dakota Johnson (sebagai Anastasia “Ana” Steele) dalam “Fifty Shades Darker”. [gambar: IMDb]
Pada tahun 2015 The Guardian menayangkan sebuah artikel dengan judul Fifty Shades of Grey: what BDSM enthusiasts think yang menampilkan wawancara dengan tiga penikmat BDSM di kehidupan nyata dan menggaris-bawahi bahwa ada banyak kesalahan dalam Fifty Shades, namun ada juga beberapa hal yang menggambarkan BDSM dengan betul — misalnya: Christian selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks dengan Ana, dan kemudian Ana juga ditampilkan rutin mengonsumsi pil KB. Fifty Shades sangat tegas tentang pentingnya melakukan seks dengan aman. Tiga orang yang diwawancarai dalam artikel itu mencatat bahwa Christian dan Ana tidak benar-benar terlibat dalam permainan BDSM. Christian punya “kamar merah” yang dipenuhi dengan peralatan BDSM yang mewah dan indah, yang kebanyakan tidak pernah digunakan. Christian mengikat Ana beberapa kali, namun sebagian besar rangkaian adegannya cuma menggambarkan mereka berdua sedang berhubungan seks konvensional. Fifty Shades memang mengenalkan BDSM ke arus utama, namun hal itu dilakukan dengan cara yang paling ringan dan membosankan.

Salah satu penikmat BDSM yang diwawancara dalam artikel The Guardian itu mengatakan: “…sexuality’s more complex. Maybe this will break a taboo. Maybe it will stimulate someone to make a decent film about sexuality.Fifty Shades, tentu saja, bukanlah karya sinematik pertama yang ingin menggambarkan BDSM. Belle de Jour (1967), film drama erotis yang sangat indah garapan Luis Buñuel dan dibintangi oleh Catherine Deneuve, menceritakan kisah tentang seorang perempuan kelas menengah/atas Prancis mencari sesuatu di luar ikatan perkawinannya untuk memenuhi imajinasi dan fantasi seksualnya yang melibatkan aktivitas dominance and submission dan bondage. Belle de Jour tidak membahas BDSM secara eksplisit, namun mampu memproyeksikan bentuk permainan seksual yang subversif dan menyenangkan bagi seorang perempuan yang tidak bahagia dalam hubungan perkawinannya, dan pencarian untuk memenuhi imajinasi dan fantasi seksualnya itu mampu menghidupkan kembali gairah hubungan perkawinannya yang nyaris hampa. Alih-alih tampil dengan kekerasan menakutkan, visual Belle de Jour dibangun, disusun, dan disajikan dengan teliti dan cerdas dan penuh dengan sentuhan surealis yang khas Buñuel.

Demikian pula dengan film apik garapan Steven Shainberg berjudul Secretary (2002) yang berhasil menggambarkan BDSM tanpa diskusi eksplisit mengenai subjek tersebut. Lee Holloway (Maggie Gyllenhaal) adalah seorang sekretaris yang menjalin hubungan dominance and submission dengan bosnya, E. Edward Grey (James Spader). Secretary menyajikan aspek positif dan pemberdayaan dari hubungan dominance and submission — Lee menjadi lebih puas dan lebih bahagia ketika berhubungan dengan Edward. Meski tidak menampilkan kontrak atau diskusi eksplisit tentang persetujuan untuk melakukan BDSM seperti yang dilakukan oleh Fifty Shades, Secretary dengan apik mampu menggambarkan betapa memuaskan dan menyenangkannya permainan hubungan dominance and submission bagi Lee dan Edward. Pengetahuan diri dan kematangan emosional merupakan hal yang sangat penting dalam relasi seksual BDSM, dan kedua aspek ini hadir di Secretary yang membikin hubungan dua protagonisnya berjalan dengan baik. Lee dan Edward saling memerhatikan hasrat masing-masing serta dengan senang hati dan ikhlas tanpa paksaan untuk memuaskannya.

Fifty Shades of Grey dan Fifty Shades Darker memiliki cukup banyak adegan seks yang melibatkan tindakan semacam pengendalian atau pengekangan atau penghukuman terhadap pasangan seksnya. Rangkaian adegan seksnya tidak terlalu grafis, dan selalu diakhiri dengan aktivitas dalam posisi heteroseksual misionaris. Fifty Shades mungkin berhasil mengenalkan kinky sex ke penonton arus utama, namun tidak terlalu informatif dalam menyajikan materi perihal BDSM. Seksualitas memang masih menjadi hal yang tabu, bahkan dalam kehidupan sosial masyarakat Barat, dan ketika ada media arus utama yang berani membicarakan seks dan hasratnya, maka itu merupakan hal positif yang layak mendapatkan apresiasi. Namun, tetap saja, Fifty Shades tampak sedikit menyimpang dan berbahaya karena menggambarkan sebuah relasi yang bersifat kejam dan kasar: Christian adalah seorang bangsat yang terlampau posesif dan — dalam urusan seks — manipulatif demi memuaskan hasratnya sendiri.

Johnson (sebagai Ana) dan Jamie Dornan (sebagai Christian Grey) dalam “Fifty Shades Darker”. [gambar: IMDb]
Keberhasilan Fifty Shades menjangkau publik secara luas adalah faktor yang membikinnya berbahaya karena, mengutip Green dalam artikelnya, “if anything has the power to shape sexual norms, this does”. Seri novel dan film Fifty Shades digemari oleh jutaan orang, dan sementara seri ini menyoroti betapa pentingnya persetujuan dalam melakukan hubungan seks, ada banyak aspek yang tidak sehat dalam hubungan asmara Christian dan Ana. Fifty Shades merupakan bentuk heteronormativitas, dengan Christian yang menekan hasrat kinky sex-nya untuk kemudian mengawini Ana, jadi tidak usah mengharapkan film terakhir dari waralaba ini bakal memotret BDSM dengan semangat yang lebih positif, emosi yang lebih dalam, dan cahaya yang lebih terang. Masih ada banyak film — macam Belle de Jour, That Obscure Object of Desire (1977), The Piano Teacher (2001), Secretary, Nymphomaniac (2013), atau Elle (2016) — untuk memberikan pandangan seksualitas yang lebih bernuansa dan lebih nikmat ketimbang film-film macam Fifty Shades of Grey atau Fifty Shades Darker.

(Bahkan, dua film dari waralaba Fifty Shades gagal menjadi materi yang cukup menggairahkan untuk sekadar membangkitkan hasrat melakukan onani di malam-malam sepi dan dingin yang begitu jahanam. Taik, dalam sebutan apa pun, tetap saja baunya tidak enak, ‘kan?)

Sejak peradaban pertama di dunia ini, manusia berupaya keras untuk mendefinisikan makna seks dan cinta: penyair menuliskannya melalui deret kalimat tentang hasrat yang bersinar layaknya kejora dan bibir yang ranum merekah layaknya kuntum bunga; sineas menggambarkannya melalui sajian visual tentang hasrat erotis yang melenakan; dan musisi menjelaskannya melalui alunan melodi dan potongan lirik tentang puncak kerinduan para pecinta kepada kekasihnya. Namun, pada akhirnya, masing-masing orang punya imajinasi, fantasi, dan definisi sendiri perihal makna seks dan cinta. Dan pada saat yang bersamaan, tidak ada yang benar-benar mampu mengartikan apa itu seks dan cinta yang sebenarnya.

Wax play on back. (gambar: “Wikipedia”)

Pada kenyataannya: seks dan cinta tidaklah cukup untuk menjalani banalitas hidup harian—–

—-kamu juga butuh tidur, makan, minum, ngopi, ngudud, dan itu sudah. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s