Black Butterfly (2017)

Poster film. (gambar: IMDb)

KARAKTER utama Black Butterfly, seorang penulis alkoholik yang kesepian bernama Paul Lopez (Antonio Banderas) menderita “sindrom Bartleby”: sejenis penyakit yang membikin seorang penulis merasa enggan atau tidak mau/tidak bisa menulis lagi. (Istilah “sindrom Bartleby” muncul pertama kali dalam novel berjudul Bartleby y compañía karangan Enrique Vila-Matas pada tahun 2000.) Bagaimana cara film ini mengomunikasikan “sindrom Bartleby” yang dialami oleh karakter utamanya? Adegan pembuka film ini menampilkan Paul yang setengah mabuk sedang mengetik kalimat “I am stuck” berulang-ulang kali menggunakan mesin tik di ruang kerjanya. Gambar yang ditampilkan dalam adegan pembuka itu bakal menjadi isyarat misterius yang menggairahkan di film lain, namun di Black Butterfly, hal itu berubah menjadi momen membosankan sebagai pertanda untuk mengedipkan mata atau mengalihkan pandangan sejenak dari layar. Sutradara (Brian Goodman) dan dua penulis naskah film ini (Justin Stanley dan Marc Frydman) telah berhasil menciptakan sebuah film thriller yang paling tolol dan paling tidak menarik dan paling tidak masuk akal yang pernah saya tonton, yang dipenuhi dengan taik kucing dan sampah busuk yang tidak bakal menarik perhatian orang paling miskin dan menderita sekali pun untuk memakannya meski dia sedang mengalami kelaparan selama 27 bulan! Black Butterfly menyampaikan gagasan omong kosongnya dengan cara yang paling tolol.

Ketololan plot cerita film ini melibatkan Paul yang mengundang pemuda asing yang tampang dan gaya bicaranya menyebalkan bernama Jack (Jonathan Rhys Meyers) untuk tinggal di rumahnya karena alasan paling tolol yang tidak layak dijelaskan di sini. (Saya bisa muntah darah jika harus menuliskan alasan tolol tersebut!) Sembari membantu memperbaiki rumah Paul dan memasak makanan harian, Jack mengetahui bahwa Paul adalah seorang penulis yang sedang mencoba untuk menulis naskah film agar bisa membayar tagihan bulanan dan membiayai hidup harian. Jadi, Jack akhirnya memberikan sebuah ide untuk naskah film Paul: kisah tentang pertemuan mereka! (Duh gusti kanjeng ratu, anggap saja itu gagasan brilian yang bakal menghasilkan film box office dengan profit triliunan rupiah!) Setelah beberapa hari, Jack menjadi akrab dengan Paul dan naskah film yang sedang dikerjakannya, lantas tiba-tiba Jack berubah menjadi seorang psikopat impulsif tidak masuk akal yang menenteng senjata kemana-mana, serta menjadikan Paul dan seorang makelar perempuan bernama Laura Johnson (Piper Perabo) sebagai sandera. Oh iya, ada subplot tentang kasus pembunuhan berantai yang menelan empat korban perempuan di lingkungan rumah Paul, yang ~

~ ah, bangsat … kopihitam saya kecemplungan dua cicak!

Dengan mengesampingkan setiap kekhawatiran masuk akal yang bisa saya bayangkan, film ini tetap saja tampak sombong dan sok serius dalam memamerkan ketololannya sendiri, khususnya keinginannya untuk menyampaikan semacam tips menulis cerita yang bagus dan nasihat agar bisa menjalani kehidupan dengan bahagia di bawah kedok film bergenre home-invasion thriller. Jack menjadi semacam motivator dan dokter yang memotivasi Paul untuk terus menulis dan memerintahkan Paul untuk berhenti mengonsumsi alkohol. Bangsatnya, nasihat dan motivasi Jack itu terdengar seperti tips dan saran yang disampaikan oleh seorang pemabuk tua-bangka yang sedang melantur setelah menenggak tiga botol arak sekaligus.

Setelah merasa puyeng dan mual tidak keruan secara bersamaan, dan khawatir otak saya terancam kerusakan permanen, saya mencoba untuk membikin semacam pembenaran tentang gagasan menarik yang melandasi film ini: seorang mentor yang menggunakan metode kekerasan untuk memotivasi jiwa muridnya yang sedang terjebak dalam kegelapan agar bisa menghirup udara kebebasan yang melenakan. Namun ternyata Stanley, Goodman, dan Frydman gagal (atau bahkan tidak pernah berusaha) menciptakan ketegangan yang dramatis untuk mengembangkan gagasan awal tersebut. Dengan rangkaian adegan yang hambar dan kinerja akting medioker (okelah: Banderas mampu tampil baik di sini, namun tetap saja membosankan dan tolol), yang tersisa dari film ini hanyalah maksim kesadaran diri tentang “narasi” yang berasal dari penyampaian “metakomentar tanpa dasar yang terdengar cukup cerdik”. (“You know, in most movies I see, the characters are just what they are: characters in a movie. Nothing seems real. Nothing is like how life really is,” ujar Jack kepada Paul di babak awal film ini, sebuah baris dialog keangkuhan yang menyiratkan sebuah pengakuan tentang ketololan dan ketidak-tulusan dan kebohongan film, yang entah bagaimana menjadikannya substantif, sebuah sentimen yang membentang di sepanjang film ini.)

Dan kemudian ada dua twist plot yang dijejalkan secara serampangan di klimaks babak ketiga film ini. Iya, ada dua twist plot di sini — dan duh gusti kanjeng ratu, demi apa pun yang masuk akal dan tidak masuk akal di alam semesta ini, twist plot yang kedua lebih menghina dan lebih busuk ketimbang yang pertama. Ah persetan, saya bakal menuliskan dua twist plot jahanam itu di sini: (1) Paul ternyata adalah seorang pembunuh berantai yang telah menghabisi empat nyawa (salah satunya adalah istrinya sendiri), serta Laura dan Jack ternyata adalah anggota FBI yang telah memburu Paul selama tiga tahun; dan (2) semua itu hanyalah mimpi Paul di siang bolong, dan ketika terbangun, dia mencoba untuk mengetik-ulang mimpinya itu sebagai naskah film dengan judul “Black Butterfly”. Ting-a-ling haram jadah!

Stanley, Goodman, dan Frydman berhasil membuang Black Butterfly dengan cara yang memaksa saya mempertanyakan mengapa saya mengunduh dan menonton film taik ini sampai menit terakhirnya. (Nama “black butterfly” mengacu pada “delias kristianiae”, spesies kupu-kupu langka yang hanya bisa ditemukan di Papua.) Selain itu, dua twist plot kampret itu mencoba memberikan penutup asal-asalan untuk semua kritik substantif, serupa orang asing yang tiba-tiba menghajar saya di tengah jalanan sebelum akhirnya melemparkan saya ke selokan yang penuh dengan taik kucing dan sampah busuk, dan kemudian berteriak sambil tertawa ngakak: “Sabar bro, saya cuma bercanda!” Sangat jelas bahwa dua twist plot itu menyinggung dan menghina kecerdasan siapa saja, bahkan mengolok-olok orang-orang yang tidak peduli dengan koherensi plot cerita dalam sebuah film.

Pada awalnya, saya mengira rasa pusing di kepala dan mual di perut yang semakin menjadi-jadi dalam durasi 88 menit itu muncul gara-gara efek mabuk. Namun setelah saya menyadari bahwa dua botol arak yang saya punya telah habis tanpa sisa kemarin malam dan kondisi tubuh mendadak baikan ketika kredit akhir film ini mulai tampil di layar, saya akhirnya tahu penyebab utama mengapa fisik dan batin saya begitu tersiksa di malam yang dinginnya sungguh keterlaluan ini.

Jujur saja, satu-satunya hal menarik dari Black Butterfly adalah TIDAK ADA! (Dan kenapa pula saya menulis ulasan film taik ini di sini? Asu!) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s