Logan (2017)

Poster film. (gambar: IMDb)

APAKAH Logan termasuk film yang manis karena mengekor pada kesuksesan yang berhasil diraih oleh genre superhero dalam satu dekade terakhir? Apakah Logan terkesan klasik karena tidak tampak seperti film superhero modern, terutama film-film yang diadaptasi dari komik rilisan Marvel Comics? Di sini saya tidak bakal membedah kecacatan dari merek dagang Marvel Comics dan DC Comics, namun tidak bisa dipungkiri bahwa film superhero modern terlalu mengandalkan CGI (computer-generated imagery), terutama dalam rangkaian adegan klimaks di babak ketiganya yang nyaris seluruhnya terdiri dari ledakan apokaliptik. Dan sebagian besar dari film superhero modern telah berperan sebagai jembatan penghubung dengan film-film lain dalam waralaba yang sama sehingga saya selalu merasa sedang menonton preview untuk film berikutnya ketimbang mendapatkan pengalaman menonton yang asyik. Logan memiliki sesuatu yang terasa nyata dan dekat, serta koreografi adegan perkelahian yang mengalir dan indah untuk ditonton, bukan sekadar efek yang dihasilkan oleh animasi komputer. Yang paling penting, Logan menyajikan karakter yang bisa saya identifikasi dengan diri sendiri dan tentang orang-orang yang saya sayangi. Logan bukan cuma sekadar “film superhero yang bagus”: ini adalah film manis dan keren untuk genre apa pun.

Logan terinspirasi langsung oleh Shane (1953) garapan George Stevens, termasuk rangkaian adegan di mana Laura / X-23 (Dafne Keen yang, puji semesta, sungguh imut dan begitu menggemaskan) — mutan muda misterius yang sangat mirip dengan Wolverine — dan Charles Xavier / Professor X (Patrick Stewart) ditampilkan sedang menonton Shane di kamar hotel, namun Logan memiliki lebih banyak gema dari film-film terakhir untuk karakter ikonik macam The Shootist (1976) karya Don Siegel dan Unforgiven (1992) karya Clint Eastwood dalam cara mendekonstruksi garis pemisah antara pahlawan dan legenda. James Howlett / Logan / Wolverine (Hugh Jackman) adalah arketipe dari film bergenre Barat (Western), seorang penembak jitu yang dipaksa untuk menyingkirkan senapannya dan mencoba menjalani hidup “normal” semaksimal mungkin. Komik Uncanny X-Men dimunculkan dalam dunia rekaan Logan, yang berarti bahwa Logan / Wolverine mirip dengan selebritis atau atlet yang sudah pensiun dan menua, bahwa orang-orang masih mengenalinya namun tidak lagi menganggapnya sebagai tokoh penting. Setting waktu Logan adalah tahun 2029 dan kelompok mutan sudah dilenyapkan dari kehidupan manusia di Bumi, yang berarti bahwa Logan / Wolverine yang tampak ringkih dan si tua bangka Charles Xavier / Professor X merupakan remah-remah dari era kejayaan mutan.

Dalam rangkaian adegan pembuka film ini, Logan / Wolverine yang sekarang bekerja sebagai sopir limusin sewaan ditampilkan sedang tidur di dalam mobilnya sementara sekelompok lelaki (sok) tangguh dan (sok) sangar sedang berusaha mencuri pelek ban mobilnya. Ketika mencoba untuk menghentikan aksi pencurian tersebut, Logan / Wolverine tertembak, namun kita — saya dan kamu — sudah tahu dan paham bahwa peluru senjata tidak bakal memberikan efek mematikan baginya, sebelum akhirnya cakar adamantiumnya mulai menusuk, mengiris, dan menghabisi tulang dan tengkorak kelompok pencuri itu dengan cara yang belum pernah saya tonton di film-film sebelumnya. (Itu adalah rangkaian adegan pembuka film yang penuh kekerasan, berdarah-darah, dan indah yang pernah saya tonton.) Ini merupakan film pertama dari karakter Wolverine yang diklasifikasi dalam R Rated, dan pendekatan yang dilakukan James Mangold (sebagai sutradara) tergolong unik untuk ukuran film di bawah merek dagang Marvel Comics. Tidak ada teknik editing hiperaktif atau sinematografi wide shot untuk menyamarkan aksi pemeran pengganti dan efek CGI. Adegan laga (action) dalam film ini terasa nyata dan dekat, serta penuh darah, yang seringkali pengambilan gambarnya dilakukan dari bawah, dan lebih terfokus pada koreografi perkelahiannya ketimbang teknik editing a la komputer. Kinerja Jackman dalam adegan-adegan perkelahian di film ini terasa lembut dan halus, namun masih bisa mencerminkan kekejaman dan keganasan yang identik dengan karakter Wolverine. Film ini juga menampilkan beberapa adegan kejar-kejaran yang fantastis, dan sama sekali tidak terasa sedang mengambil jeda sejenak seperti dalam kebanyakan film superhero modern: adegan laganya terkesan organik terhadap plot cerita dan karakter-karakter yang ada di dalamnya, sama seperti yang dilakukan oleh Mad Max: Fury Road (2015) garapan George Miller.

Dan seperti halnya Mad Max: Fury Road, Logan berubah menjadi film bergenre road movie ketika Logan / Wolverine, Laura / X-23, dan Charles Xavier / Professor X melakukan perjalanan untuk mencoba menemukan Eden, sebuah tempat — yang mungkin saja benar-benar eksis atau bisa jadi cuma khayalan yang didapat dari cerita di dalam komik — di mana para mutan yang berhasil meloloskan diri sedang berusaha membangun dan menata hidup mereka mulai dari awal. Secara diam-diam dan dengan keengganan tertentu, Logan / Wolverine menyadari bahwa dia harus melakoni satu petualangan heroik lagi, dan bahwa dia harus melindungi Laura / X-23 dari kejaran pasukan tentara bayaran yang dipimpin oleh Donald Pierce (Boyd Holbrook).

Penjahat sebenarnya dalam film ini adalah sang waktu. Charles Xavier / Professor X telah sampai pada satu titik di akhir hidupnya di mana dia kerap mengalami kejang-kejang, dan film ini memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan tentang apa yang bakal terjadi ketika seseorang dengan kemampuan telepati tingkat tinggi dan kekuatan otaknya telah diklasifikasikan sebagai senjata pemusnah massal mengalami kejang-kejang. Charles Xavier / Professor X membutuhkan pil untuk mencegahnya mengalami kejang-kejang dan suntikan obat penenang untuk menghentikan kejang-kejangnya. Charles Xavier / Professor X sepenuhnya paham bahwa dia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk hidup di Bumi. Dan begitu pula Logan / Wolverine, yang berhasil ditampilkan Jackman sebagai “manusia biasa” yang sudah ringkih dan lelah — alih-alih sebagai pahlawan super — dalam salah satu kinerja akting terbaiknya di sepanjang kariernya di dunia perfilman. Di film ini, Jackman menafsirkan Logan / Wolverine sebagai orang yang telah kehilangan sebagian besar sahabat dan tujuan hidupnya, seseorang yang sudah mengaku kalah setelah dihajar sedemikian rupa oleh kenyataan dan enggan untuk bertarung lagi. Di sini, Logan / Wolverine merupakan karakter ikonik yang dipaksa beraksi untuk terakhir kalinya, dan Jackman berhasil menampilkan sisi yang lebih manusiawi dari Logan / Wolverine, bukan kemampuan mutannya. Itu adalah kinerja akting yang fantastis.

Dan untuk debut Keen sebagai Laura / X-23? Duh gusti kanjeng ratu, percayalah, Keen adalah calon bintang besar di masa mendatang! Keen berhasil mencuri perhatian saya setiap kali dia ditampilkan di layar: dia begitu luar biasa brilian dalam memerankan bocah berusia 11 tahun yang dilengkapi dengan segala keriangan, ketidak-stabilan, perubahan suasana hati, serta bayangan dan potensi kekerasan dari karakter Logan / Wolverine. Tatapan tajam dan karisma dari karakter Laura / X-23 mudah diingat dan membekas di batok kepala saya bukan hanya karena rangkaian adegan perkelahian ketika cakar adamantiumnya mengiris dan memotong musuh-musuhnya saja, melainkan juga karena kepiawaian Keen untuk menyajikan karakter heroik muda yang masih liar sekaligus polos dan imut dan menggemaskan. (Bayangkan bocah perempuan memakai kaus merah muda bergambar unikorn dan pelangi serta kacamata hitam bermotif bunga-bunga, sementara di tangan dan kakinya mencuat cakar adamantium yang tajam dan mematikan.) Terkutuklah kamu yang tidak mengapresiasi dan tidak tersentuh dengan apa-apa yang ditampilkan oleh Keen di film ini — terutama dalam adegan ketika berdebat dengan Jackman di mobil pada awal babak ketiga film ini, dan dalam empat menit sebelum kredit akhir film muncul di layar. Dan Keen melakukan itu semua tanpa mengucapkan lebih dari 27 baris kata di sepanjang film ini. Tidak usah diragukan lagi bahwa Keen kini sedang berada di awal kesuksesan jenjang karier yang panjang seperti yang pernah dialami oleh mantan aktris cilik lainnya seperti Natalie Portman dan Jodie Foster.

Penting untuk dicatat bahwa Logan adalah film yang mampu memberikan pengalaman menonton yang menarik, asyik, dan manis. Ini adalah film action superhero yang sangat bagus. Rangkaian adegan laganya memiliki tujuan dan lebih terhubung ketimbang kebanyakan film superhero lainnya yang selalu congkak memamerkan bujet produksi. Ketika Logan memasuki rangkaian adegan laganya, hal itu terasa organik terhadap plot ceritanya, mampu menggerakkan tema dan karakter-karakternya ke depan, serta berhasil mencerminkan struktur road movie-nya dan karakter utama yang berperan sebagai pelindung bagi generasi berikutnya.

Logan merupakan film blockbuster langka yang bisa mengubah cara pendekatan saya dalam menonton film bergenre superhero lainnya dan penilaian terhadap keseluruhan film yang ada di bawah naungan Marvel Cinematic Universe (MCU) atau DC Extended Universe (DCEU). Logan berhasil membuktikan bahwa film superhero juga bisa memiliki kedalaman emosi yang terasa nyata, manusiawi, dan dekat untuk memberikan kesan yang sentimental jika para sineas mau dan mampu memberikan pendekatan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Dalam hal ini, Logan telah berhasil mendekonstruksi film superhero modern. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s