Kong: Skull Island (2017)

Poster film. (gambar: “Alternative Movie Poster”)

SEMUA film tentang monster bisa dibagi dalam dua kategori: (1) jenis film yang membutuhkan waktu lumayan panjang dan bertele-tele untuk menampilkan monsternya; dan (2) jenis film yang langsung, tanpa basa-basi, menampilkan monsternya dan tidak pernah meninggalkannya untuk waktu yang cukup lama. (Bandingkan Jaws [1975] yang sudah menyajikan sirip hiu dan musik menakutkan di 60 menit pertamanya, atau The Shallows [2016], dengan film macam Deep Blue Sea [1999] atau Sharknado [2013].) Sebagian besar film dari waralaba King Kong masuk dalam kategori yang pertama: film orisinalnya yang rilis pada 1933 silam, remake-nya yang dirilis pada tahun 1976, serta garapan Peter Jackson berdurasi 187 menit yang menampilkan sosok monster gorila raksasa secara bertahap dan rilis pada 2005. Kong: Skull Island, di sisi lain, langsung menampilkan Kong (Terry Notary dan Toby Kebbell) di menit ke-3 dalam rangkaian adegan pembukanya, lalu tetap menjaga dan memperkenalkan karakternya (bersama dengan makhluk raksasa dan menakutkan, namun eksotis, lainnya) di sepanjang durasi 118 menit filmnya. Bahkan ada momen adegan di mana salah satu karakter manusia di film ini menceritakan sebuah kisah tentang Kong yang sedang bertarung melawan makhluk raksasa menakutkan lainnya dan film ini memvisualisasikan kisah tersebut agar penontonnya tidak perlu bersusah-payah mengimajinasikan potongan gambar dan bisa ikut merasakan atmosfer kekacauan yang melibatkan pertarungan antara monster raksasa vs. monster raksasa lainnya.

Saya menyebutkan perbedaan cara pendekatan di atas bukan bermaksud untuk merutuk dan mengutuk versi terbaru dari cerita King Kong ini, namun justru sebaliknya: saya menikmatinya dan sebisa mungkin ingin mengapresiasinya — sumpah demi apa pun, tuan dan puan sekalian. Film ini — tentang sekelompok tentara dan ilmuwan yang pergi ke Pulau Tengkorak (Skull Island) dalam sebuah misi untuk memetakan interior geologi pulau tersebut dengan menggunakan muatan peledak seismik, suatu hal atau aktivitas yang seharusnya tidak dilakukan ketika kamu berkunjung ke sebuah tempat asing bernama Pulau Tengkorak! — merupakan salah satu contoh yang mengombinasikan setengah kemegahan dan setengah kesalahan dari jenis film “petualangan yang menuntun ke pertemuan dengan monster raksasa yang menakutkan”. Film ini mengingatkan saya pada The Land That Time Forgot (1975) dan Journey 2: The Mysterious Island (2012): dua film yang kurang-lebih berisikan kumpulan adegan aksi kejar-kejaran dengan monster raksasa yang dipasang pada plot cerita a la kadarnya tentang sekelompok penjelajah yang berkeliaran di hutan, melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan, dan akhirnya beberapa karakternya mati dimakan oleh monster raksasa.

Film ini dipenuhi dengan puluhan karakter manusia yang pada dasarnya berfungsi sebagai santapan monster-monster raksasa dan oleh karena itu hanya sebagian kecil dari karakter-karakter tersebut yang bakal saya ketik di sini: seorang Letnan Kolonel Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat bernama Preston Packard (Samuel L. Jackson) dengan tingkah laku dan kepribadian yang mengingatkan saya pada karakter Captain Ahab dari novel Moby-Dick karangan Herman Melville, yang mengembangkan obsesi balas dendam untuk membunuh Kong; seorang wartawan foto dan aktivis perdamaian — atau mencomot pernyataannya sendiri: “anti-war photographer” — bernama Mason Weaver (Brie Larson) yang altruistis dan selalu bersemangat, namun tidak memiliki fungsi penting dalam plot cerita kecuali sebagai semacam upaya untuk meneruskan tradisi rasialisme Hollywood yang terlalu memfokuskan pandangan hanya kepada perempuan rambut pirang berkulit putih; seorang perwira Special Air Service (SAS) Inggris bernama James Conrad (Tom Hiddleston) yang terlihat tangguh, punya rambut keren, dan selalu tampil tenang; seorang pilot pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat di Perang Dunia II bernama Hank Marlow (John C. Reilly dengan jenggot lebatnya yang berhasil mencuri momen-momen menyenangkan [selain yang melibatkan monster dan makhluk eksotis] di film ini setiap kali dia ditampilkan di layar) yang telah terjebak di Pulau Tengkorak selama 28 tahun; seorang kapten berpengalaman bernama Earl Cole (Shea Whigham) dengan selera humor aneh dan lebih memilih menenteng AK-47 ketimbang senapan M16; dan seorang peneliti-visioner bermata liar bernama William “Bill” Randa (John Goodman) yang meyakini bahwa Bumi memiliki ruang hampa atau celah kosong yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk kuno raksasa dan eksotis yang eksistensinya mendahului keberadaan dinosaurus dan mampu bertahan hidup sampai saat ini.

Teori yang diungkapkan Bill itu juga sempat disinggung dalam film Godzilla (2014) garapan Gareth Edwards, sebuah film tentang monster yang masuk dalam jenis film pertama dari dua kategori film monster yang saya sebutkan di awal ulasan ini. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Kong: Skull Island berbagi dan mendiami semesta yang sama dengan Godzilla, serta merupakan film kedua dalam skema MonsterVerse (waralaba dan semesta fiksi lain bikinan para cartolas Hollywood yang merilis serangkaian film monster yang saling berhubungan satu sama lainnya sampai pada satu titik di mana nantinya King Kong bakalan diadu-pukul dengan Godzilla dalam satu layar) yang diproduksi oleh Legendary Entertainment dan didistribusikan oleh Warner Bros. untuk menyaingi Marvel Cinematic Universe (MCU) dan DC Extended Universe (DCEU). Jujur, saya merasa sebal dan jengkel terhadap perangai studio film Hollywood yang sepertinya semakin terobsesi dengan gaya penceritaan yang melibatkan “perluasan semesta” (atau apalah itu sebutannya) sehingga film-film yang dihasilkannya lebih terasa seperti preview untuk seri film berikutnya. Kong: Skull Island juga meninggalkan kesan yang kurang-lebih sama seperti itu, dan MonsterVerse sepertinya dirancang khusus untuk film yang berisikan gorila dan kadal berukuran gedung pencakar langit superbesar. Dan manusia hanyalah kerikil yang langsung hancur dalam sekali libas!

Monster-monster yang ada di film ini didesain dengan keterampilan animasi yang cemerlang (kecuali beberapa potongan gambar di mana Kong terlihat seperti kartun), dan sekumpulan seniman efek visual serta suaranya berhasil meyakinkan saya bahwa titan CGI (computer-generated imagery) ini benar-benar nyata, hidup, bernafas, dan memiliki berat ratusan ton. Kong menghajar musuh-musuhnya dengan keganasan dan kecekatan seorang petarung seni bela diri campuran (mixed martial arts [MMA]), bahkan dia juga memanfaatkan apa-apa yang ada disekitarnya sebagai senjata ketika tinju, tendangan, dan gigitannya tidak cukup melukai musuhnya. Musuh-musuh Kong dalam film ini adalah gurita raksasa, armada helikopter tempur jenis Bell UH-1 Iroquois, dan monster yang tampak seperti Pterodactyl tanpa sayap dengan kepala paruh-tengkorak. Dalam setiap rangkaian adegan aksinya, film ini memasukkan lebih banyak makhluk aneh ke dalam perjalanan karakter-karakter manusianya yang berliku di Pulau Tengkorak, termasuk serangga raksasa, Pterodactyl biasa, laba-laba superbesar berkaki bambu, dan kerbau berukuran sebesar kapal perang, di mana seluruh pendekatan dan desainnya terinspirasi dari Princess Mononoke (1997) garapan Hayao Miyazaki. Sayangnya, semut raksasa yang digambarkan oleh Hank tidak pernah ditampilkan di layar.

Masalahnya adalah film ini tampaknya tidak nyaman dengan kesenangan masa kanak-kanak yang murni. Dan tema dasar yang diartikulasikan dalam film ini dan Godzilla (Bumi bukanlah milik manusia, dan bisa ngamuk jika manusia terlalu sombong dan memperlakukannya semena-mena) terasa tipis dan tidak dieksplorasi dengan baik. Disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts dari naskah film yang ditulis oleh Dan Gilroy, Derek Connolly, dan Max Borenstein, film ini mengambil setting waktu pada tahun 1973 setelah penarikan pasukan tentara Amerika Serikat dari Vietnam. Pada awalnya, ini sepertinya menjadi cara praktis untuk menjelaskan mengapa publik dunia belum mengetahui tentang keberadaan Pulau Tengkorak (satelit pengawas global adalah teknologi yang baru diciptakan pada tahun ‘73) sambil memfokuskan diri pada teknologi analog abad pertengahan a la Wes Anderson (ada beberapa gambar close-up yang indah dari kamera video 35mm dan kamera analog, serta pemutar rekaman piringan hitam, telepon putar, dan Komputer Bingkai Utama dengan kumparan kaset magnetis).

Namun tidak lama kemudian, saya mulai menyadari bahwa Kong: Skull Island seolah-olah ingin mengungkapkan pernyataan lain, meskipun saya tidak tahu dengan pasti tentang apa. Film ini bertatahkan dengan lapisan ode untuk bidaya pop dan alegori politik yang secara konstan ingin menambahkan sesuatu, namun tidak pernah berhasil dilakukan. Vogt-Roberts sepertinya ingin membikin sebuah film dengan perumpamaan tentang militer Amerika Serikat yang tertelan oleh hutan-hutan di Vietnam. Ada beberapa homage atau penghormatan khusus untuk film-film klasik tentang Perang Vietnam, terutama Apocalypse Now (1979) karya Francis Coppola dan Platoon (1986) garapan Oliver Stone. (Bahkan poster IMAX 3D Kong: Skull Island sengaja dirancang khusus dengan meniru poster Apocalypse Now.) Ketika tidak secara terang-terangan merampok dan dengan malu-malu menyetel soundtrack dari film-film tentang Perang Vietnam yang paling terkenal (White Rabbit-nya Jefferson Airplane dari film Platoon, Time Has Come Today-nya The Chambers Brothers dari film Coming Home [1978], Run Through the Jungle-nya Creedence Clearwater Revival dari film Tropic Thunder [2008]) sebagai latar belakang musik film ini, Vogt-Roberts mengaduk-aduk novel Heart of Darkness karangan Joseph Conrad (yang menjadi inspirasi Coppola untuk membikin Apocalypse Now) dengan mencomot nama Marlow (narator dalam novel Heart of Darkness tersebut) dan, ehem, Conrad untuk menamai salah dua dari karakter-karakter manusianya di Kong: Skull Island.

Hal-hal semacam itu bakal menjadi salah satu faktor pemanis, bukan kekonyolan yang membosankan, jika filmnya lebih lucu dan lebih aneh — meski harus saya akui bahwa film ini kadang terasa lucu dan aneh terutama ketika menampilkan potongan gambar pelepasan yang jelas, seperti gambar boneka Richard Nixon dengan kepala memantul-mantul di dasbor helikopter atau seorang tentara yang sedang menguatkan tripod senapan mesin M60-nya di sela-sela tengkorak Triceratops. Vogt-Roberts bisa dimasukkan dalam daftar langka para sineas Amerika Serikat yang mampu menceritakan sebuah lelucon melalui teknik pengambilan gambarnya. Lelucon yang acak cenderung memberikan sesuatu yang benar-benar lucu.

Sayangnya, setiap kali film ini berhasil memberikan senyuman nakalnya, ada semacam ide atau garis yang mendadak menghapusnya. Karakter-karakter manusia di film ini terus-terusan membikin pernyataan “bermakna” yang samar-samar seperti “…kami tidak kalah dalam perang, kami meninggalkannya” dan “Kadang, musuh itu tidak ada … sampai kau mencarinya”, namun hal ini tidak pernah benar-benar diselaraskan dengan gambar Kong sedang bertahan dari serangan bom napalm atau sekelompok gerutuan yang menyelinap melewati ladang pembantaian prasejarah.

Sementara itu, pendekatan etnosentrisme film ini yang merepresentasikan orang-orang Amerika Serikat sebagai, well, orang-orang Amerika Serikat dan budaya “lainnya” sebagai gorila raksasa, kerbau superbesar, serangga aneh, dan monster bergigi tajam yang selalu muncul dengan teriakan yang memekakkan kuping. Ada juga masyarakat adat yang bisu dari suku lokal di Pulau Tengkorak yang menyembah Kong sebagai tuhan sang pelindung kehidupan mereka. Dan siapa yang tahu: mungkin ada alegori yang lebih luas tentang Perang Dingin yang ditanamkan dalam debat karakter-karakter manusia di film ini menyoal apakah Kong merupakan makhluk baik hati atau monster kejam lainnya. Apakah Vogt-Roberts mencoba menjadikan Kong sebagai lambang mitos-politik Amerika Serikat, mirip dengan Godzilla bagi politik Jepang? Entahlah. Mungkin Kong, makhluk terakhir dari jenisnya, diumpamakan sebagai lone superpower, sosok tangguh dan baik hati yang cuma ingin hidup tenang namun terus-menerus terjebak dalam perseteruan makhluk lain, macam John Wayne, sosok pahlawan yang diidolakan James sewaktu masih kanak-kanak. Mungkin monster-monster karnivora raksasa berpola pisau cukur itu adalah poros komunis Rusia dan Cina, sementara hewan-hewan herbivora dan masyarakat adat suku lokal adalah negara-negara miskin dari Dunia Ketiga. Namun mungkin juga tidak seperti itu, sebab saya kali ini sedang meracau—–

—-sebats dulu lah, tuan dan puan.

Saya suka menonton film tentang monster yang memiliki sentuhan puitis, dan kecuali adegan yang menampilkan lanskap Aurora Borealis yang megah dan sangat indah yang kemudian diikuti gambar matahari terbit yang syahdu, Kong: Skull Island kekurangan sentuhan puitisnya. Film ini juga terasa kehilangan kepribadiannya. Hanya kelakar Hank dan Earl yang menjadi semacam kenikmatan dan masih membekas di dalam batok kepala saya, sementara saya tidak terlalu peduli dengan nasib karakter manusia lainnya. Oh iya, dan adegan ketika Kong menyeruput tentakel gurita raksasa seperti sedang menyantap semangkuk pangsit mie dan juga ketika Kong menggasak helikopter seolah-olah sedang bermain bola voli merupakan rangkaian gambar yang mengagumkan dan mampu memberikan pengalaman tontonan yang asyik. Kong: Skull Island adalah film biasa-biasa saja (dengan sebagian besar karakter manusianya terasa hambar) yang berubah menjadi tontonan apik karena visualisasi monster raksasa dan makhluk-makhluk eksotisnya yang cemerlang, semacam imajinasi ajaib atau gagasan aneh yang melompat keluar dari dongeng pikiran Joker dan menjadi hidup di dunia nyata. Bakal lebih nikmat lagi jika kamu menontonnya sembari bebaring di pangkuan sang kekasih. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s