Dazed and Confused (1993)

Poster film. (gambar: IMDb)

USIA antara 13 dan 18 tahun adalah periode pertumbuhan atau masa peralihan yang paling menyiksa dan paling menyenangkan dalam garis waktu kehidupan, namun kita — saya dan kamu — bakal mengingatnya dengan semangat nostalgia yang mampu menghalangi (atau bahkan menghilangkan) sebagian besar rasa sakit yang pernah kita dapatkan pada rentang usia itu. Hal ini adalah semacam kebenaran yang dipahami dengan sangat baik oleh Dazed and Confused, film garapan Richard Linklater tentang hari terakhir sekolah dan malam panjang yang mengikutinya sebelum liburan musim panas. Film ini adalah seni sinematik yang disilangkan dengan antropologi, yang bisa dibilang menceritakan bagian bawah (yang mungkin menyakitkan, namun tulus dan jujur apa adanya) dari American Graffiti (1973) atau film sejenisnya. Di daerah pinggiran Kota Austin, Texas, musim sekolah memasuki senjanya untuk menyambut liburan musim panas, dan beberapa siswa senior SMA memburu murid-murid lelaki lulusan SMP di sana dengan tujuan untuk memukul pantat bocah-bocah beranjak remaja itu menggunakan balok kayu, sementara beberapa siswi senior SMA-nya mengumpulkan dan “menyiksa/mempermalukan” murid-murid perempuan lulusan SMP di tempat parkir sekolah — dan ini merupakan perploncoan tidak resmi bagi siswa-siswi junior yang akan masuk SMA tahun depan, dan dianggap sebagai sebuah ritual budaya yang wajar di sana.

Film ini menayangkan dan mengikuti sejumlah remaja — populer dan culun, perempuan dan lelaki, “bermasalah” dan “baik-baik” — di mana mereka menikmati malam panjang sebelum liburan musim panas dengan berkendara kesana-kemari mengelilingi kota tanpa tujuan yang jelas, menenggak bir, mengisap ganja, nongkrong, saling curhat tentang kehidupan masing-masing, bereksperimen tentang seks, berkelahi, dan secara umum, mencoba menginvestasikan periode pertumbuhan atau masa peralihan mereka ke kehidupan orang dewasa dengan signifikansi yang sepertinya tidak ada sama sekali. Sebagian besar karakter di film ini terkesan tidak pernah bisa serius, selalu main-main, dan menganggap semua hal sebagai lelucon yang layak untuk ditertawakan sepuas-puasnya.

Dengar, yang ingin kukatakan adalah jika aku mulai menyebut saat ini sebagai tahun-tahun terbaik dalam hidupku,” ujar Randall “Pink” Floyd (Jason London) kepada kawan-kawannya di tengah lapangan sekolah, “maka ingatkan aku untuk segera bunuh diri.” Don Dawson (Sasha Jenson) menanggapi perkataan Pink tersebut: “Aku hanya ingin mengenang ke masa lalu dan sanggup berkata bahwa aku telah melakukan yang tebaik sebisaku saat aku terjebak di tempat ini, bersenang-senang semampuku ketika aku terjebak di tempat ini, bermain sekeras yang kubisa selagi aku terjebak di tempat ini, dan meniduri gadis-gadis sebanyak-banyaknya semampuku pada saat aku terjebak di tempat ini.

Linklater tidak memaksakan adanya plot cerita dalam materinya kali ini. Film ini (yang dinamai dari lagu berjudul sama dari Led Zeppelin) bukanlah kisah tentang tokoh protagonis yang berhasil mendapatkan gadis pujaan di akhir cerita, atau seorang kutu buku yang akhirnya berhasil berhubungan seks dengan remaja paling populer, atau ketua geng SMA yang dihajar habis-habisan di bagian klimaks filmnya. Film ini tidak ditutup dengan adegan kecelakaan mobil yang tragis, melainkan berakhir dengan menampilkan momen syahdu penuh ketenangan dan kelegaan tertentu serta kegembiraan yang jujur sejujur-jujurnya: seorang remaja masuk ke kamar tidurnya setelah bercumbu dengan salah satu kakak seniornya di SMA, memakai peranti dengar, mulai mendengarkan lagu Slow Ride-nya Foghat, dan dengan santai serta ekspresi wajah puas mulai merebahkan diri di atas kasur empuknya, sementara Pink dan tiga kawannya melakukan perjalanan menyusuri jalan raya sepi berlatar senja pagihari untuk membeli tiket konser Aerosmith yang menjadi prioritas utamanya untuk menikmati liburan musim panas.

Inspirasi nyata film ini, saya kira, adalah nostalgia untuk menggambarkan beberapa remaja SMA circa 1970an yang menikmati pahit-manisnya (serta banalitas) kehidupan remaja pada satu malam yang panjang setelah dihajar sedemikian rupa oleh kebosanan jam-jam sekolah, menggunakan sentuhan dan perhatian yang tulus dan jujur sehingga kita bakal menyadari betapa kebanyakan film drama remaja selalu meromantisir kehidupan masa remaja. Seorang kawan pernah bertanya selepas menonton salah satu film drama remaja SMA yang saya lupa judulnya: “Apakah semua yang ada di film itu beneran ada dan terjadi seperti itu?

Teknik, metode, dan gaya Linklater di Dazed and Confused adalah mengenalkan beberapa karakter, tinggal sebentar bersama mereka, kemudian beralih ke beberapa karakter yang lainnya, serta nantinya berputar kembali untuk menyambung benang-benang merah sebelumnya sehingga semua “plot cerita” bisa ditampilkan dan dikisahkan secara bersamaan dan asyik. Film bikinan Linklater sebelum ini, Slacker (1991), malah menerapkan teknik, metode, dan gaya yang lebih ekstrem (dengan meminjam teknik dan metode briliannya Luis Buñuel di film The Phantom of Liberty [1974]) ketimbang apa-apa yang diterapkannya di Dazed and Confused ini dalam menyajikan kisah dari kumpulan karakter yang lebih banyak jumlahnya di Kota Austin, Texas: mengikuti satu karakter, lalu mengubah arah untuk mengikuti karakter lainnya, terus-menerus seperti itu, sehingga saya — sebagai penonton — seolah bisa mengintip sekilas ke dalam banyaknya cerita kehidupan di sana dan mendapati kesan menyenangkan yang aneh; metode ini memungkinkan Linklater untuk bergerak bebas mengikuti komunitas orang-orang di Kota Austin, Texas, layaknya sebuah bola yang dilengkapi dengan kamera yang sengaja digelindingkan begitu saja untuk merekam segala hal yang terjadi di sana.

Yang berbeda di film ini, selain membatasi kuantitas karakternya dan mengikuti cerita mereka masing-masing, Linklater dengan tenang mengenalkan sebuah pengamatan yang jujur apa adanya. Selalu terjadi pada lingkar persahabatan lelaki mana pun — sekumpulan pelajar, geng motor, kesatuan militer, persaudaraan, ikatan para pengusaha, perkawanan karena hobi dan kecemasan yang sama, kolektif — bahwa mereka yang paling bersemangat tentang ritual ikatan persahabatan antarlelaki, terutama yang melibatkan “inisiasi” mabuk-mabukan dan kuasiseksual, adalah para remaja nakal yang paling bermasalah. Mereka — para remaja nakal yang paling bermasalah itu — diam-diam merasa seperti orang luar atau alien sok keren di lingkar persahabatannya. Sementara yang sering dijadikan target sasaran dari tindakan bullying (atau semacam pelampiasan demi sebuah pengakuan sebagai “yang terkeren”, “yang ternakal”, atau “yang ter-…” lainnya) mereka — para remaja nakal yang paling bermasalah dan sok keren itu — adalah satu-dua atau lebih remaja yang dianggap terlalu tolol atau terlampau pintar, pokoknya yang dianggap “berbeda” dan tidak mencerminkan identitas perkumpulannya.

Para remaja yang menerapkan sistem seperti itu biasanya berubah menjadi pecundang, dan bagian dari keputus-asaan mereka — yang menjadi alasan mengapa mereka berpegang teguh dan bergantung sepenuhnya pada status sosial di kehidupan remaja — adalah bahwa mereka mengalami krisis identitas dan merasa telah kehilangan diri mereka sendiri. Karakter yang paling menyedihkan, yang gagal move on, semacam itu di film ini adalah David Wooderson (Matthew McConaughey): remaja dewasa yang telah lulus beberapa tahun sebelumnya dan sekarang, di usia 20an, masih nimbrung nongkrong dan bergaul dengan sekumpulan remaja SMA karena dia merasa bahwa status sosialnya pada usia 17an beberapa tahun sebelumnya merupakan titik tertinggi dari persona yang berhasil dia raih dalam hidupnya. Kinerja McConaughey dalam debut peran yang ikonik dan klasik di film ini mampu menjadikan David sebagai karakter menyedihkan yang meninggalkan kesan tidak terhapuskan bagi saya, dan tentu saja membuka jalan bagi McConaughey sendiri untuk bisa menemukan dirinya berada di antara deretan aktor Hollywood termasyhur saat ini.

Dari semua film drama-komedi remaja SMA yang pernah saya tonton sampai detik ini, Dazed and Confused merupakan salah satu karya sinematik tentang kehidupan remaja SMA yang paling jujur dan seimbang dalam penggambarannya. Film ini menyajikan pahit-manis masa SMA dengan apa adanya: bukan surga atau neraka. Nyaris mirip seperti Slacker, Ada Apa dengan Cinta? (2002), The Edge of Seventeen (2016), Before I Fall (2017), Linklater cuma ingin kasih lihat momen sederhana dan jujur dari kehidupan remaja di kampung halamannya — sebuah momen di mana banyak orang telah mencoba untuk melakukan yang terbaik semampu mereka untuk bisa menikmati dan memaknai hidup sewaktu mereka terjebak di sana. Nada melankolia memang masih disisipkan di beberapa bagian filmnya oleh Linklater, namun Dazed and Confused, bagi saya, tetaplah film keren yang berhasil merangsang sensasi nostalgia menyenangkan dan perasaan familier dengan pendekatan yang seimbang: tidak hanya terfokus pada rasa sakit dan juga tidak sepenuhnya menyajikan hal-hal manis yang bisa bikin gigi ngilu tidak keruan.

Sebab bukankah pada dasarnya kita sewaktu muda dulu adalah remaja-remaja impulsif yang naif cum bego dan kerap melakukan hal-hal bodoh yang terkadang menyenangkan namun tidak jarang pula menyakitkan? Tidak ada salahnya mengenang kembali kenaifan dan hal-hal bodoh yang pernah dilakukan di masa muda dulu, untuk sesekali menertawakan diri sendiri dengan tulus dan ikhlas, agar supaya ~

~ sebats dulu lah, tuan dan puan… []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s