Get Out (2017)

Poster film. (gambar: “Alternative Movie Poster”)

DENGAN debut film yang keren dan ambisius seperti Get Out, Jordan Peele membuktikan bahwa dia memiliki kemampuan untuk mengembangkan bakatnya sebagai sutradara, produser, penulis naskah, komedian, dan aktor di dunia perfilman. Peele menunjukkan kepiawaiannya melawak dalam seri sketsa komedi Key & Peele (2012-2015) dan fitur komedi lainnya, namun yang lebih menarik adalah film pertamanya sebagai sutradara, produser, dan penulis naskah merupakan hibrida genre yang kompleks dan cerdas yang semakin melambungkan namanya. Get Out terasa segar dan jeli dengan cara yang nyaris tidak pernah dilakukan oleh sineas dan rumah produksi film horor belakangan ini (terutama di Indonesia). Film ini adalah karya sinematik yang seram, meresahkan, dan histeris — seringkali pada saat bersamaan — dan sama sekali tidak takut untuk mengkritik perilaku dan ocehan rasialisme modern. Saat pemutaran perdana Get Out di Sundance Film Festival, Peele menjelaskan bahwa film ini dimulai dengan upaya untuk “menulis naskah film yang belum pernah dia tonton sebelumnya”. Dunia perfilman membutuhkan lebih banyak sutradara dan penulis naskah yang mau dan berani mengambil risiko dengan membikin film macam Get Out ini.

Peele berhasil menggabungkan elemen dari beberapa film horor klasik (Rosemary’s Baby [1968], Night of the Living Dead [1968], dan The Stepford Wives [1975]) dengan twist dan muatan rasialisme. Get Out pada dasarnya adalah tentang perasaan meresahkan yang muncul saat kita — saya dan kamu — tahu bahwa kita berada di waktu dan tempat yang salah, atau kecanggungan yang menyebalkan ketika kita tahu bahwa kita tidak diinginkan oleh orang-orang di sekitar kita, atau rasa tidak nyaman saat kita tahu bahwa mereka cuma sedang berpura-pura bersikap ramah kepada kita. Peele menyisipkan satire rasialisme ke dalam fondasi horor klasik. Bagaimana jika momen liburan akhir pekan di rumah orangtua kekasihmu yang berasal dari ras kulit putih berubah menjadi momen yang bukan hanya tidak menyenangkan dan tidak nyaman, melainkan juga mengancam hidupmu? Apa yang bakal kamu lakukan?

Film ini dibuka dengan pengaturan tone dan adegan yang fantastis. Seorang pemuda kulit hitam — Andre Hayworth / Logan King (LaKeith Stanfield) — berjalan menyusuri kawasan perumahan elite di daerah pinggiran kota, bercanda dengan kawannya di telepon bahwa dia selalu tersesat karena semua nama jalan terdengar sama di kupingnya; sebuah mobil melewatinya, kemudian berbalik arah, dan perlahan mulai mengikutinya. Suasana di kawasan perumahan elite itu sangat sepi, dan Andre / Logan merasa ada sesuatu yang salah. Tiba-tiba, dengan pengaturan yang sempurna dan penyajian yang menyeramkan, intensitas situasi seramnya diperkuat dan saya didorong ke sebuah dunia di mana keamanan hanyalah sebuah ilusi belaka. (Adegan pembuka ini dipermanis dengan potongan lagu Run Rabbit Run-nya Flanagan and Allen, disambung dengan score gubahan Michael Abels, yang disetel sebagai latar belakang musiknya.) Film ini kemudian menampilkan karakter protagonisnya, Chris Washington (Daniel Kaluuya), dan kekasihnya, Rose Armitage (Allison Williams), sedang bersiap-siap untuk pergi mengunjungi orangtua Rose, Missy Armitage (Catherine Keener) dan Dean Armitage (Bradley Whitford). Rose belum menceritakan kepada orangtua-nya bahwa Chris berasal dari ras kulit hitam, dan Rose menenangkan Chris bahwa itu bukanlah masalah besar bagi keluarganya, namun Chris tetap saja merasa khawatir dan gugup. Salah satu teman Chris yang bekerja di Transportation Security Administration (TSA), Rod Williams (Lil Rel Howery), menasihatinya untuk tidak pergi ke rumah orangtua Rose, namun Chris sangat mencintai Rose dan dia merasa berkewajiban untuk bertemu dengan orangtua Rose. Dan Rose mengatakan bahwa ayahnya, jika memungkinkan, bakal memilih Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat untuk yang ketiga kalinya.

Sejak menit-menit awal Rose dan Chris tiba di rumah orangtua-nya, ada sesuatu yang meresahkan di sana. Missy dan Dean memang tampak sangat ramah, namun keramahan mereka terasa seperti sebuah sandiwara untuk mengesankan Chris. Yang lebih meresahkan dan mengerikan lagi adalah sikap tukang kebun Keluarga Armitage bernama Walter (Marcus Henderson) dan asisten rumah tangga mereka bernama Georgina (Betty Gabriel) yang kelihatan aneh, nyaris mirip dengan orang-orang dari Body Snatchers (1993). Ada yang salah, sesuatu yang menggelisahkan, dari kehidupan orang-orang di kediaman Armitage. Namun, seperti yang sering kita lakukan dalam situasi sosial atau rasial, Chris berusaha memahami tingkah laku orang-orang di sekitarnya: mungkin Missy dan Dean memang benar-benar orang yang ramah, mungkin Walter hanya cemburu dengan Chris, dan mungkin Georgina cuma tidak suka terhadap status Chris yang berpacaran dengan perempuan kulit putih. Namun kehadiran kakak lelaki Rose, Jeremy Armitage (Caleb Landry Jones), yang menginterogasi Chris (atau lebih terasa seperti sebuah proses audisi pemeran untuk remake film A Clockwork Orange [1971]) saat adegan makan malam membikin suasana semakin meresahkan. Pada tengah malamnya, Chris pergi ke kebun untuk merokok, dan hal-hal aneh yang semakin meresahkan dan kian menggelisahkan mulai terjadi secara bergantian.

Get Out berjalan dengan pace lambat di babak pertamanya saat Peele menumpuk berbagai macam petunjuk dan isyarat bahwa ada sesuatu yang salah, aneh, dan meresahkan tentang Keluarga Armitage, yang sekaligus memberikan kesan bahwa bisa jadi itu hanya reaksi berlebihan Chris terhadap ketegangan rasial sehari-hari. Peele mampu menjaga filmnya untuk tetap berjalan di atas garis tipis dengan sangat baik, melakukan pertukaran antara situasi yang meresahkan, keramahan yang terasa berlebihan, dan prasangka bahwa ada sesuatu (atau ancaman) yang lebih mengerikan yang siap menyerang kapan saja. Dalam adegan pesta orang-orang kulit putih di kediaman Armitage di mana sebagian besar para tamu undangan yang ditemui Chris tampak tertarik dan memuji tampilan fisiknya, saya semakin penasaran dengan tujuan dan maksud tersembunyi yang ada di balik momen kunjungan Chris ke rumah orangtua Rose. Chris adalah minoritas di tengah-tengah sekian banyak orang kulit putih yang sepertinya berhasrat untuk memilikinya, dan ini adalah sebuah tafsiran tajam yang menggambarkan bagaimana kita sering terpesona dan berupaya untuk memiliki aspek budaya selain milik kita sendiri.

Lalu Peele merangkum dan menyudahi semuanya dengan hentakan hebat. Rangkaian adegan klimaks film ini adalah kejutan menyenangkan dari sebuah perjalanan sensasi yang tidak terduga. Dalam kapasitasnya sebagai penulis naskah, Peele mungkin terkesan tidak mampu membawa semua elemen yang ada ke dalam klimaks seperti yang saya inginkan, namun dalam ukuran sebagai sutradara, dia berhasil membuktikan diri bahwa dia adalah seorang seniman visual yang kuat, menemukan cara unik untuk menceritakan sebuah kisah yang ambisius dan mencekam. Kegilaan di babak terakhir film ini memungkinkan beberapa masalah rasialisme dan elemen satire yang ada di dua babak sebelumnya terasa seperti sengaja disingkirkan, dan itu sedikit mengecewakan. Namun hal itu masih bisa dimaafkan karena Peele mampu menggantinya dengan intensitas murni dan keterampilan brilian dalam menyajikan visual horor yang mengerikan sekaligus memuaskan.

Yang paling penting adalah Peele tahu bagaimana caranya mempertahankan konsep dan gagasan filmnya tetap berada di jalur yang tepat. Get Out bukanlah jenis film horor yang terlalu sering mengambil jeda untuk menyisipkan beberapa komedi receh (Rod merupakan karakter yang memberikan sedikit kelegaan dengan tingkah laku komikal dan baris dialog humornya, namun hal ini selalu terjadi dalam konteks bagaimana dia meyakinkan Chris bahwa semua orang kulit putih menginginkan budak seks kulit hitam), melainkan karya sinematik yang konstan mengaduk-aduk emosi saya dengan rasa simpati, penasaran, prasangka, keresahan, kengerian, dan empati dari rangkaian adegan pembukanya sampai klimaksnya yang memuaskan. Film ini adalah campuran dengan takaran yang pas antara humor-gelap yang menghibur dan kebenaran yang menakutkan. Komedi dan horor adalah dua hal yang saling berkaitan untuk merangsang reaksi fisik: yang pertama dengan tawa, sementara yang kedua memanfaatkan rasa takut.

Peele sepertinya tahu dan sangat paham bahwa selalu ada ketidak-pastian dan kegelisahan setiap kali seorang kulit hitam pergi mengunjungi dan bertemu dengan orangtua kekasihnya yang berasal dari ras kulit putih. Peele menggunakan ketegangan rasial harian yang mudah dikenali untuk menulis dan membikin film horor. Para sineas horor terbaik juga telah melakukan hal semacam itu: menguatkan ketakutan yang sudah tertanam secara alamiah di dalam kondisi psikologis manusia dengan tujuan untuk membikin film horor yang sangat mengerikan. Saya jarang menonton sesuatu yang sangat ambisius dari seorang sutradara yang baru pertama kali membikin film horor. Peele layak mendapatkan apresiasi karena berani mencoba sesuatu yang menantang, dan hampir bisa dipastikan bakal banyak produser yang tertarik bekerja-sama dengannya untuk membikin film-film yang belum pernah dia tonton sebelumnya.

Pada akhirnya, inti dari semua ini adalah siapkan mental dan fisikmu dengan baik saat diajak kekasihmu untuk bertemu orangtua-nya di rumah mereka, dan waspadalah dengan orang yang membawa cangkir dan mengaduk teh di depanmu — bisa jadi dia tukang gendam yang ingin menghipnotismu dengan metode hipnoterapi yang baru, sehingga ~

~ kampret, lupa matiin kompor! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s