#Elle: balas dendam pascafeminis

ADA banyak hal yang harus dibongkar di Elle (2016): sebuah film yang sangat menegangkan, sangat lucu, dan sangat menggugah sepanjang 130 menit durasinya. Film pertama berbahasa Prancis dari Paul Verhoeven ini menjadi salah satu karya sinematik yang paling banyak dibicarakan tahun lalu dalam festival-festival film, dan setelah menontonnya untuk pertama kali pada delapan hari yang lalu, saya masih belum bisa move on — film superkeren ini bakal terus bersemayam di batok kepala saya dalam waktu yang cukup lama.

Tidak usah diragukan lagi bahwa Isabelle Huppert kembali berhasil menampilkan keterampilan, kekuatan, dan kecerdikannya yang memukau sebagai Michèle Leblanc, karakter utama film ini, seorang janda yang meraih kesuksesan dalam kariernya dan menolak dianggap sebagai korban setelah mengalami serangan pemerkosaan brutal di rumahnya sendiri. Meskipun disajikan sebagai narasi rape and revenge, film ini malah terkesan nyaris melampaui setiap batasan dari genre film yang pernah ada, sebab bisa digolongkan sebagai komedi-hitam, drama, dan thriller. Huppert sendiri sempat menyinggung hal ini dalam konferensi pers pascapemutaran film ini di New York Film Festival, mengatakan bahwa film ini mencerminkan “perlawanan terhadap genre”, di mana saya bisa mengalami berbagai macam emosi dan kejadian dalam satu hari.

Film ini dibuka dengan suara teriakan sementara layar masih menampilkan warna hitam; jeritan yang mengerikan, perjuangan keras, dan tamparan brutal yang memaksa saya untuk tidak hanya menggambarkan sebuah serangan pemerkosaan brutal yang dialami Michèle namun juga merasakan emosi mengerikan yang ditimbulkannya. Dan ini adalah salah satu sentuhan brilian yang diberikan Verhoeven di sepanjang film ini, sebuah kemampuan untuk mengajak (atau memaksa) saya merasakan teror, kengerian, dan kegelisahan yang terus-menerus meningkat tidak ada henti-hentinya — emosi yang dirasakan oleh Michèle selama, terutama selepas, serangan pemerkosaan. Selain menjadi rangkaian panjang terbaru dari narasi rape and revenge, film ini begitu menonjol karena kemampuannya untuk benar-benar menyampaikan berbagai macam emosi pascatrauma — yang di antaranya saling bertentangan dan membingungkan — tanpa menundukkan karakternya pada perasaan aneh dari sifat voyeurisme film ini. Sebaliknya, film ini berhasil menggelamkan saya, mengaduk-aduk emosi saya, dan membiarkan saya mengalami itu semua bersama Michèle.

(gambar: IMDb)

Pada awalnya, Elle hanya menampilkan adegan setelah kejadian pemerkosaan brutal ketika si pemerkosa berdiri, membersihkan sisa darah dari vagina Michèle yang menempel di pahanya, dan melangkah keluar melalui pintu belakang, meninggalkan Michèle yang babak-belur membersihkan pecahan keramik yang berserakan di lantai. Beberapa saat kemudian, ketika Michèle berendam di bak mandi, air sabunnya berubah warna menjadi merah jambu karena bercampur dengan darah yang masih merembes dari vaginanya dan dia menyapunya begitu saja, menyiratkan bahwa dia memilih untuk melupakan serangan pemerkosaan yang baru saja terjadi dan bersiap untuk melanjutkan hidupnya. Hal itu, tentu saja, sangat sulit — jika bukan mustahil — untuk dilakoni dan ekspresi wajah kucingnya memicu remah-remah kenangan buruk yang kemudian kian mengental di ingatan Michèle. Kali ini, dalam penggambaran ingatan Michèle, film ini menampilkan rangkaian adegan pemerkosaan itu dari awal: Michèle membuka pintu belakang agar kucingnya bisa masuk ke dalam rumah, disusul dengan si pemerkosa yang muncul secara mendadak menyerangnya pada satu senja sore yang melodius dan keduanya bergumul di lantai, memecahkan satu set perabotan keramik, sampai pada akhirnya si pemerkosa berhasil mengalahkan dan memerkosanya dengan brutal.

Seiring dengan berjalannya plot cerita, rasa penolakan Michèle untuk dianggap sebagai korban terasa masuk akal. Michèle adalah putri dari seorang pembunuh berantai yang sempat menghebohkan publik Prancis, yang memberikan ketidak-nyamanan sebagai sorotan dan hinaan publik dan mempersulit hubungan dengan ibu kandungnya sendiri. Michèle telah berjuang sekeras-kerasnya upaya untuk menata kembali serpihan hidupnya yang telah hancur, mendirikan perusahaan video game yang mendulang kesuksesan (film ini memusatkan fokusnya pada permintaan Michèle untuk menampilkan klimaks orgasme yang menggairahkan dari adegan seks dalam salah satu produk game-nya), dan tinggal di sebuah rumah mewah di pinggiran Kota Paris, sementara mantan suaminya (seorang penulis yang gagal) dan anak lelakinya (remaja pemalas yang berpacaran dengan seorang perempuan kejam yang sedang hamil) menggelepar sebagai perbandingan dan cobaan hidup.

Verhoeven berhasil memelihara atmosfer ketegangan yang menyelimuti film ini, bahkan beberapa di antaranya di lakukan melalui momen-momen komedi-hitamnya, dan sama seperti Michèle, saya tidak pernah merasa aman. Ketika menikmati kopi pada sorehari bersama ibu kandungnya di sebuah kafe, Michèle kembali mengingat serangan pemerkosaan brutal yang dialaminya, hanya saja kali ini dia merekonstruksi kejadian mengerikan itu dengan gambaran bahwa dia berhasil mengalahkan si pemerkosa, memukul kepala si pemerkosa secara brutal menggunakan asbak sampai darah muncrat ke mana-mana. Michèle, sama seperti orang-orang yang berhasil selamat dari sebuah kejadian yang mengerikan, mesti menjalani hidup dengan kenangan buruk tersebut, mencoba mencari pemahaman untuk menanamkan kekuatan, atau setidaknya untuk menemukan semacam penghiburan dalam penciptaan keadilan versinya sendiri.

Aspek yang paling membingungkan dari Elle mungkin datang dengan “permainan-aneh-tikus-dan-kucing” yang diterapkan oleh Michèle saat mengonfrontasi si pemerkosanya. Bakal mudah untuk menyimpulkan hal ini sebagai fantasi pemerkosaan aneh yang dimiliki oleh Michèle; setelah mengetahui identitas si pemerkosa, Michèle mengendurkan pertahannya untuk memancing si pemerkosa agar menyerangnya sekali lagi. Namun kali ini situasinya berubah. Tidak seperti karakter utama dalam film-film bergenre rape and revenge sebelum ini, Michèle menggunakan seksualitasnya untuk melucuti kekuatan dan kekuasaan si pemerkosa karena menyadari bahwa dia tidak bakal bisa mengalahkan si pemerkosa secara fisik. Ketika si pemerkosa mengangkat tangan untuk menamparnya, Michèle tidak memberikan perlawanan apa pun dan malah memohon agar segera disakiti, dan penyerahan diri itu berhasil meredam gairah, melucuti keberanian, serta membingungkan si pemerkosa. “Cara kerjanya bukan seperti itu,” si pemerkosa memprotes, namun Michèle sudah tidak peduli lagi. Michèle menggunakan serangan itu untuk pemberdayaan dan kepuasan seksualnya sendiri, dengan nafas terengah-engah di lantai ruang bawah tanah yang dingin saat dia orgasme. Si pemerkosa — dan saya, pada titik tertentu — merasa ngeri, namun itulah intinya: Michèle telah merontokkan kekuatan yang didapat si pemerkosa melalui aksi kekerasan dengan persetujuan dan kerelaan Michèle sendiri.

Sama halnya dengan filmnya yang melampaui genre, Michèle merupakan karakter yang menentang dan melampaui label konvensional yang sering dianggap sebagai perilaku yang sesuai gender setelah mengalami kekerasan seksual. Huppert menjelaskan hal ini di New York Film Festival, saya kutip dari IndieWire: “This woman (Michèle), you certainly don’t meet her walking in the subway. She’s a new type of a woman, and I thought that was exciting to bring life to her. (…)She’s what I would call almost like a post-feminist character, building her own behavior and space. She doesn’t want to be a victim, that’s for sure, but she doesn’t even fall into the caricature of the revenge avenger. She’s somewhere else.

(gambar: IMDb)

Label yang dicari untuk mendefinisikan karakter macam Michèle menjelaskan lebih banyak hal tentang kita sebagai tatanan masyarakat ketimbang tentang dirinya sebagai perempuan. Penolakan Michèle untuk dianggap sebagai korban bukanlah sebuah penolakan terhadap solidaritas, simpati, rasa kasihan, atau empati. Keputusan untuk menolak dianggap dan diperlakukan sebagai korban itu memberikan kekuatan tersendiri kepada Michèle: dia berusaha mengambil kembali kontrol yang telah direbut secara paksa dari dirinya; dia meredefinisi diri dengan persyaratannya sendiri, bukan dengan pilihan dasar yang diberikan oleh masyarakat.

Elle telah berhasil mempersembahkan karakter perempuan kuat pascafeminis yang baru, yang penuh dengan kompleksitas dan kontradiksi namun sepenuhnya sadar dengan kekuatan dan hak untuk memperjuangkan dan menghidupi hidupnya sendiri. Sebab hidup adalah perihal bagaimana kita ~

~ “Woi, kamar mandi banjir!” teriakan dari kamar sebelah.

(Ada orang tolol yang buang kondom ke saluran air dan bajingan satunya lupa matiin keran air—-

bangsat!) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s