#TheEdgeOfSeventeen: melihat perbedaan antara depresi remaja dan kecemasan remaja

NADINE Franklin, karakter utama yang diperankan oleh Hailee Steinfeld dalam film The Edge of Seventeen, merupakan seorang remaja yang sedang berperang melawan dirinya sendiri. Dalam satu adegan film ini menampilkan Nadine bersandar di atas dudukan toilet sehabis muntah-muntah akibat terlalu banyak minum alkohol dan bergumam: “Lalu, aku berpikiran buruk. Harus menghabiskan sisa hidupku bersama diriku sendiri.” BIasanya, dalam film-film drama remaja, orang-orang seumuran Nadine minum-minum di sebuah pesta rumah atau bar kota bersama gerombolan gengnya. Namun di film ini, Kelly Fremon Craig (sutradara merangkap penulis naskahnya) menggambarkan Nadine dan sahabatnya, Krista (Haley Lu Richardson), mabuk-mabukan berdua saja di rumah Nadine dan merasa saling melengkapi satu sama lain: mereka berdua tidak membutuhkan orang lain untuk bisa berbahagia. Kemudian Nadine mulai berperang melawan dirinya sendiri dan bermusuhan dengan Krista. Setelah momen mabuk-mabukan itu, Krista berhubungan seks dengan kakak lelaki Nadine, Darian Franklin (Blake Jenner), dan mereka berdua memutuskan untuk berpacaran. Merespons hal itu, Nadine tergoda untuk melakukan penghancuran diri. Film ini memiliki jenis plot cerita yang bisa mendorongnya menjadi salah satu dari dua kategori ini:  (1) omong kosong klise, atau (2) potret bernuansa remaja yang apik. Film ini masuk dalam kategori yang kedua, dan menemukan perasaan serta logikanya dalam diri Nadine.

Film ini berhasil menarik garis yang memisahkan depresi remaja dengan kecemasan remaja. Ini merupakan perhatian praktis sekaligus naratif. Histeria teatrikal dan gaya rambut yang memicu suasana hati adalah dua hal yang sama dalam menggambarkan kecemasan remaja. Rasa cemas yang kerap dialami remaja dipisahkan dari depresi dengan intensitas, durasi, serta domain perilaku dan emosinya. Perasaan Nadine sangat intens. Dalam rangkaian adegan pembukanya, film ini mengenalkan Nadine untuk pertama kalinya dalam kondisinya yang paling teatrikal. Nadine nyelonong masuk ke kelas untuk menemui guru sejarahnya, Mr. Bruner (Woody Harrelson), saat jam istirahat makan siang dan berkata: “Aku tidak mau membuang waktumu. Tapi, aku mau bunuh diri. Aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya … Tidak perlu kuceritakan lebih rinci, aku hanya ingin orang dewasa tahu.” Nadine ingin tahu apakah pernyataannya itu menimbulkan respons seperti yang dia harapkan. Mr. Bruner menanggapi Nadine dengan membacakan catatan bunuh diri palsunya yang berisikan sindiran kepada Nadine karena telah mengganggu jam istirahatnya dengan sebuah pengakuan untuk melakukan bunuh diri. Nadine tampak jengkel. Film ini kemudian menindak-lanjuti adegan pembuka itu dengan konstruksi plot cerita yang tulus, jujur, dan menggugah hati.

Beberapa kritikus film telah mengkritik rangkaian adegan pembuka itu karena dianggap terlalu menyepelekan hasrat untuk melakukan bunuh diri dan depresi yang dirasakan oleh remaja. Namun, bagi saya, kritik dan anggapan itu adalah pandangan picik secara inheren. Dalam sudut pandang saya, reaksi yang diberikan Mr. Bruner tidak dimaksudkan sebagai egoisme untuk menyepelekan atau mengabaikan ancaman Nadine. Itu adalah sebuah pernyataan yang sama-sama menggelikannya dengan ancaman bunuh diri Nadine, yang dimaksudkan untuk melawan depresi menggunakan depresi yang lain. Respons Nadine terhadap catatan bunuh diri palsu itu adalah rasa jengkel yang dibarengi senyum kecut. Mr. Bruner tahu bahwa ketika mengalami kesedihan yang paling menyedihkan, satu-satunya cara untuk merasakan penghiburan adalah dengan menjatuhkan diri ke dalam histeria. Saat terjebak dalam kondisi yang sudah terlampau ruwet untuk diluruskan, selalu ada keinginan untuk membakar habis semuanya. Bagi beberapa orang, itu adalah tindakan yang tidak sehat dan tidak produktif, namun bisa jadi itu merupakan satu-satunya hal yang harus dilakukan untuk membereskan segala keruwetan. Mengekspresikan kemarahan lebih baik ketimbang terjebak dalam kesedihan yang membosankan. Film ini menyajikan fakta bahwa depresi bukanlah ketiadaan emosi, melainkan dominasi satu emosi yang melumpuhkan kendali emosi-emosi lainnya. Ancaman bunuh diri Nadine dalam rangkaian adegan awal film ini bukanlah hasil dari sebuah kontemplasi nyata. Itu adalah kekonyolan atau rencana komikal Nadine untuk memastikan bahwa dia masih hidup. Dan Mr. Bruner meresponsnya dengan kekonyolan lain untuk memvalidasi bahwa Nadine memang masih hidup.

#OnePerfectShot, sinematografi oleh Doug Emmett. (gambar: OPS)

Durasi spiral emosi Nadine dibangun di dalam narasi cerita. Pada umumnya, depresi adalah hal yang berbeda dengan kecemasan remaja dari segi durasi waktunya. Depresi bisa bertahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan atau bertahun-tahun atau bahkan bisa bertahan seumur hidup, sementara kecemasan adalah perasaan singkat yang bisa menguap hilang dengan cukup cepat. Kecemasan Nadine ditampilkan di awal film ketika dia yang masih berumur tujuh tahun enggan turun dari mobil untuk masuk ke sekolah karena tidak punya satu kawan pun di sana. Lalu Nadine bertemu dengan Krista, dan keduanya menjalin persahabatan simbiotik yang cerdas dan menyenangkan sampai remaja. Nadine dan Krista berbagi lelucon pribadi, dan kecemasan Nadine menguap hilang sampai pada akhirnya Krista berpacaran dengan Darian. Depresi mengambil-alih. Narasi berikutnya menampilkan Nadine yang bersedih, selalu cemberut, impulsif, dan agresif. Nadine menderita depresi selama berminggu-minggu yang mulai menumbuhkan sikap pembangkangannya terhadap apa pun.

Dalam novelnya berjudul Hyperion, Henry Wadsworth Longfellow menulis: “Believe me, every heart has its secret sorrows, which the world knows not, and oftentimes we call a man cold, when he is only sad.” Orang-orang di sekitar Nadine menganggapnya sebagai pribadi dingin yang sedang mengalami kecemasan remaja. Namun perilaku Nadine di sebagian besar momen film ini menunjukkan bahwa dia sebenarnya sedang mengalami kesedihan akut yang menyeretnya ke kubangan depresi, dan sebagai pelampiasan, Nadine merespons apa pun dengan pembangkangan dan melakukan kecerobohan yang khas remaja. Nadine mengancam untuk mengumbar kebiasaan ibunya, Mona Franklin (Kyra Sedgwick), menarik puting payudara di Facebook sebagai tanggapan atas saran ibunya agar dia tetap pergi ke sekolah berdua dengan Krista. Nadine memaksa Krista untuk memilih antara dirinya atau Darian di lorong sekolah. Nadine terang-terangan mengejek model rambut dan gaji bulanan Mr. Bruner. Nadine mengatakan hal-hal yang mengerikan kepada siapa pun. Depresi mengubah Nadine menjadi pribadi yang menyebalkan, serta dia selalu tampak tegang dan muram pada saat yang bersamaan.

#OnePerfectShot, sinematografi oleh Doug Emmett. (gambar: OPS)

Proses penyembuhan Nadine dalam narasi terdiri dari satu anti-depresan (yang disajikan melalui adegan yang kocak dan cerdas) dan percakapan tengah malam yang tulus dengan Darian. Dalam adegan percakapan dengan Darian, Nadine melalui proses yang paling efektif untuk menyembuhkan depresinya: dia membicarakannya. Nadine mengeluarkan semua unek-uneknya kepada Darian. Pada momen itu, Nadine dan Darian berhasil membangun sebuah ikatan. Fakta yang selama ini tersembunyi pun terungkap: Darian ternyata juga sama-sama menderita seperti Nadine. Ibu mereka, Mona, belum berhasil sepenuhnya berdiri di atas kakinya sendiri sejak ditinggal mati oleh ayah mereka, Tom Franklin (Eric Keenleyside), beberapa tahun sebelumnya. Mona juga punya masalah sendiri yang harus dihadapinya setiap hari. Mona bergantung pada kedua anaknya (khususnya pada Darian) untuk menjadi sistem pendukung dan hal ini menyebabkan ketegangan yang dirasakan oleh Nadine. Mona mengandalkan Darian untuk menjadi figur ayah bagi Nadine. Hal ini menciptakan dinamika di mana Nadine merasa dianak-tirikan, merasa tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup, merasa diasingkan oleh ibunya, dan semua itu memupuk kebencian yang semakin besar di dalam dirinya. Konflik tersebut kemudian diatasi dengan eksplorasi tulus dan jujur tentang dinamika keluarga yang pada akhirnya menyadarkan Nadine bahwa dia tidak sendirian dalam kekacauan batinnya: semua orang di dalam Keluarga Franklin memiliki masalah masing-masing yang merintangi jalan hidup mereka.

The Edge of Seventeen berhasil memvalidasi perasaan penontonnya. Film ini mengakui suara kecil di batok kepala semua remaja bahwa mereka tidak layak untuk mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan. Bagi beberapa remaja, suara kecil itu tidak terdengar; sebagian lainnya merasa suara kecil itu sangat berisik di dalam pikiran. Apa yang dilalui Nadine di film ini menunjukkan bahwa jatuh ke dalam jurang depresi adalah perasaan dan pengalaman valid yang mesti dibicarakan secara tulus, jujur, dan terbuka. Pada akhirnya, dengan cara itulah Nadine berhasil mengatasi depresinya. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s