Power Rangers (2017)

Poster film. (gambar: IMDb)

BERISIK, sampah, dan ambigu — Power Rangers bukan cuma film ideal untuk bocah-bocah menyebalkan berusia 10 tahun, film ini juga benar-benar melihat dunia melalui mata mereka. Secara teori, lima pahlawan film ini adalah remaja SMA. Namun lima remaja ini sebenarnya adalah produk fantasi dari Disney Channel untuk menenangkan tangis bocah-bocah menyebalkan sampai mereka akhirnya tumbuh menjadi remaja dan bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan. Lima pahlawan di sini ditampilkan sebagai orang buangan yang punya masalah atau rahasia masing-masing: tiga di antaranya bertemu saat menjalani detensi di SMA mereka, sebuah plot cerita yang berpotensi mengubah judul film ini menjadi “The Mighty Morphin Breakfast Club Rangers” — saya bersyukur hal ini tidak sampai terjadi. Dan inilah yang saya dapatkan dari Power Rangers: campuran absurd dan tidak pas dari percakapan hati ke hati, aksi tipu-tipu, dan pertempuran melawan monster.

Tim Power Rangers terdiri dari Zack / Ranger Hitam (Ludi Lin), seorang remaja keturunan Afrika-Amerika di serial televisinya namun diubah menjadi keturunan Asia di film ini; Trini / Ranger Kuning (Becky G), seorang remaja (sok) misterius sampai akhirnya menceritakan latar belakang pribadinya di paruh kedua film ini; Kimberly Hart / Ranger Merah Muda (Naomi Scott), seorang remaja depresif yang menjalani detensi karena menyebar foto pribadi yang (sepertinya) memalukan dari teman sekelasnya; Jason Scott / Ranger Merah (Dacre Montgomery), seorang remaja badung dengan kebaikan hati yang samar-samar; dan Billy Cranston / Ranger Biru (RJ Cyler), seorang remaja yang ditampilkan memiliki kelainan spektrum (entah apa pun itu) di film ini. Kelima remaja ini dilatih oleh Zordon (Bryan Cranston), mantan Ranger Merah dan satu-satunya Ranger yang selamat dari pertempuran prasejarah yang berakhir dengan meteor menabrak Bumi dan melenyapkan dinosaurus. Zordon ingin Jason dkk. mempertahankan Bumi dari ancaman musuh bebuyutannya, Rita Repulsa (Elizabeth Banks), menggunakan ilmu karate dan memanfaatkan kekuatan dari Power Coins untuk menghajar pasukan monster batu bikinan Rita, dan kemudian bergabung menjadi satu robot superbesar untuk mengalahkan monster emas raksasa bernama Goldar (Fred Tatasciore).

Ada semacam plot (jika bisa dikatakan demikian) tentang Jason dkk. mencoba melindungi Kristal Zeo yang tersembunyi di bawah toko donat Krispy Kreme, dan detail mitologi (jika bisa disebut demikian) tentang kekuatan tersembunyi yang menyokong kehidupan di planet-planet yang ada di alam semesta, namun sementara puritan serial Mighty Morphin Power Rangers bakal membela dan menjelaskan “poin bagus”-nya, film ini toh tidak terlalu terpaku dan bergantung pada mereka. Zordon menjelaskan bahwa cara terbaik untuk menyelamatkan peradaban manusia adalah dengan membunuh Rita. Untuk semakin menegaskan poin tersebut, film ini mengulangi frasa “membunuh Rita” berkali-kali — dan dengan semangat tertentu, hal itu diharapkan menjadi semacam lelucon bersama antara film dan penontonnya. “Ayo pergi lakukan tugas kita dan membunuh Rita!” Jason mengajak teman-temannya. “Tim Jason gagal. Aku harus membunuh Rita sendirian!” Zordon mengeluh geram ketika pelatihan Jason dkk. untuk menjadi Power Rangers tidak berjalan dengan baik seperti yang dia harapkan.

Pesan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” dari serial televisinya dipermak dengan dandanan pascakepemimpinan Barrack Obama dan Power Rangers terkadang menyajikannya dengan cukup meyakinkan pada satu momen, sementara pada momen lainnya ditampilkan dengan penuh kejanggalan. Bagian promosinya memasarkan film ini dengan menjual fakta yang menyebut bahwa karakter Trini telah direkonstruksi menjadi superhero lesbian pertama dalam sejarah dunia perfilman, dan hal ini merupakan langkah besar dan cukup berani yang berhasil membikin penasaran semua orang; namun jika kamu melewatkan adegan api unggun saat Trini menceritakan poin ini secara samar-samar, maka saya pastikan kamu tidak bakal tahu bahwa dia adalah seorang lesbian — kecuali kamu bisa mendeteksi tendensi sapphic dalam adegan ketika Trini diancam dan diserang oleh Rita di kamar tidurnya. Selain itu tidak ada lagi rangkaian adegan atau baris dialog yang menyiratkan bahwa Trini adalah seorang lesbian.

Billy, di sisi lain, menjadi karakter yang paling berkesan di film ini, terutama berkat kinerja Cyler yang cukup bagus dan memuaskan (yang mampu menutupi ketidak-jelasan tentang kondisi karakternya). Naskah filmnya, yang ditulis oleh John Gatins, menjadikan Billy yang ceria sebagai jiwa dan hati — dan terkadang kesegaran komikal — tim Power Rangers tanpa melemahkan martabatnya. Karakter Zack juga diberikan kepribadian yang menarik: dia terang-terangan mencitrakan dirinya sebagai orang yang nekat, liar, dan “gila”, namun pada momen-momen yang lebih personal, dia adalah “anak manis” yang merawat ibunya yang sakit-sakitan. Adegan percakapan Zack dan ibunya menggunakan bahasa Mandarin dengan teks terjemahan bahasa Inggrisnya juga ditampilkan di layar merupakan salah satu sentuhan manis di film ini, selain menjadikan The Ecstatics-nya Explosions in the Sky sebagai latar belakang musik di salah satu rangkaian adegan ketika Jason dkk. berenang di ngarai sebelum menemukan pesawat ruang angkasa Zordon.

(Sementara itu, momen paling mengerikan dalam film ini adalah ketika Kimberly mencabut gunting yang menancap di tembok toilet SMA-nya dan, entah bagaimana caranya, bisa berhasil mengubah rambut hitam panjangnya menjadi semacam potongan rambut pendek imut-menggemaskan a la perikecil di negeri dongeng. Dari semua kiasan menyesatkan di dalam sejarah perfilman, memangkas rambut sendiri tanpa bantuan siapa pun (atau apa pun, kecuali hanya gunting) serta hasilnya begitu rapi, manis, dan enak dilihat adalah momen paling mengerikan dan selalu membikin saya jengkel setengah mati. [Dan ini juga berlaku untuk kalian berdua: Beatrice “Tris” Prior dalam film The Divergent Series: Insurgent (2015) dan Amy Elliott Dunne dalam film Gone Girl (2014)!] Oke, saya tahu dan paham bahwa hal itu merupakan sebuah metafora untuk perubahan, awal yang baru, keingingan untuk menyederhanakan kecantikan, atau apalah itu namanya, namun aksi D.I.Y. penuh kebohongan dan menyesatkan seperti itu sudah seharusnya mulai ditinggalkan dan dihilangkan dalam media apa pun!)

Dean Israelite (sutradara) dan Gatins mencoba memastikan untuk membawa emosi karakter-karakter yang ada di sini secara serius, bahkan ketika merayakan kekonyolan dari segala sesuatu yang mereka alami. Mengatur tone dalam film seperti ini merupakan hal yang sangat penting sehingga jika berhasil mengelolanya, maka penonton bakal memaafkan semua kesalahan dan hal receh yang ada di dalamnya. Namun ada begitu banyak hal buruk yang tidak bisa dimaafkan begitu saja di sini: termasuk plot yang serampangan, kegagalan menghubungkan titik-titik pentingnya, dan teknik editing film yang tampak ngawur, gelisah, dan gagap dalam beberapa adegan laganya yang garing.

Saat saya masih mencoba untuk memulihkan suasana hati setelah dihajar oleh sedemikian buruk teknik editing dan ketidak-jelasan arah filmnya, Power Rangers terus-terusan melemparkan momen-momen (sok) sentimental yang memuakkan atau gambar-gambar yang tidak nyaman di mata. Film ini beberapa kali berubah menjadi melodrama menye-menye dan menimbulkan kesengsaraan atau kerusakan fisik pada karakter-karakternya yang tidak mampu membikin saya bersimpati kepada mereka. Adegan laganya garing, humornya tidak lucu sama sekali, dramanya receh dan ambigu, serta film ini membutuhkan waktu yang terlalu lama sebelum Jason dkk. akhirnya bisa berubah menjadi Power Rangers hanya untuk terlihat sok keren dalam potongan gambar sok dramatis saat mereka berlima jalan berdampingan keluar dari pesawat ruang angkasa.

Yang menonjol dari film ini — dan mungkin bisa dianggap sebagai faktor yang setidaknya mampu menyelamatkan setengah bagian film ini untuk tidak masuk sepenuhnya ke dalam tempat sampah — adalah ketulusannya. Film ini benar-benar percaya pada peribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, berupaya dengan tulus untuk menyuntikkan keyakinan itu ke dalam adegan laganya. Hal ini juga mendorong karakter figurannya untuk membebaskan diri dan bersenang-senang: Alpha 5 (Bill Hader), robot — atau mencomot penjelasan Alpha 5 sendiri: “an alphormic lorcaid persona android” — asisten Zordon, terlihat cukup menyenangkan. “Jadi inilah lubang latihannya,” ujar Alpha 5, menunjukkan kepada Jason dkk. sebuah tempat kotor dan berbatu, lalu menambahkan: “Bagus sekali, bukan?” Performa Banks di film ini terlihat seperti ingin meniru Sigourney Weaver saat memerankan Dana Barrett yang kesurupan setan di film Ghostbusters (1984). Banks berjalan dengan kepercayaan diri yang agak goyah, mirip seperti seorang perempuan yang terlalu tua dan mabuk untuk memakai sepatu hak tinggi. Oh iya, ini adalah film di mana ayah dari salah satu karakter protagonisnya mengemudikan truk pikap ke tengah-tengah kekacauan medan pertempuran supervillain vs. superhero untuk mencari anaknya dan memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.

Saya menonton film ini dengan harapan yang tidak muluk-muluk, tanpa keinginan untuk bernostalgia dengan karakter pahlawan super yang sewaktu masa kanak-kanak dulu selalu saya tonton sembari ngemil astor di hari Minggu yang cerah. Saya sudah cukup paham bahwa Power Rangers adalah jenis film yang diproduksi dengan tujuan utama untuk mendongkrak penjualan berbagai macam merchandise-nya agar bisa meraup profit yang lebih banyak. Sama seperti Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows (2016), jenis film macam ini tidak membutuhkan integritas artistik yang menakjubkan untuk mencapai tujuannya. Namun tetap saja saya kaget dan agak kecewa dengan hasil super-receh dan superburuk dan ambiguitas yang ada di sini. Karakter Power Rangers tidak semenyenangkan seperti dulu lagi, atau bisa jadi ini adalah bukti yang kesekian kalinya bahwa saya sudah mulai menua, serta isyarat bahwa gagasan “saya sudah terlalu lelah untuk menikmati apa-apa yang menyenangkan” semakin mewujud nyata dan menjadi isu personal yang kian membikin frustasi. Entahlah…

…namun yang pasti: Power Rangers adalah film yang receh dan jelek. Titik! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s