Before I Fall (2017)

Poster film. (gambar: “Facebook”)

BAYANGKAN sebuah film yang menggabungkan premis Groundhog Day (1993) tentang seorang manusia yang harus menjalani hidup dalam siklus perulangan waktu terus-menerus dan plot cerita Mean Girls (2004) yang mengisahkan geng perempuan populer, sombong, dan jahat dalam kehidupan SMA. Lalu bayangkan film itu memiliki kadar humor yang lebih sedikit ketimbang dua film komedi di atas, namun menampilkan adegan melodrama menyayat jantung yang lebih banyak yang mampu membikin air mata membasahi pipi. Itu adalah bayangan singkat atau ringkasan dari Before I Fall. Setelah ini saya mungkin sudah siap untuk menonton film apa pun, tanpa pilih-pilih, yang didasarkan pada novel laris bergenre fiksi remaja yang menceritakan betapa rumit, ngehek, dan banalnya kehidupan remaja namun tidak melibatkan semesta distopia. (Saya selalu punya rasa enggan untuk menonton film adaptasi dari novel bergenre fiksi remaja gara-gara kesan menyebalkan dari seri film The Twilight Saga [2008-2012], The Hunger Games [2012-2015], Maze Runner [2014-2018], dan The Divergent Series [2014-…]. Saya tidak mengatakan bahwa film-film itu adalah karya sinematik yang jelek — namun film-film itu MEMANG BENAR-BENAR SANGAT JELEK DAN SANGAT BURUK DAN SUPER-RECEH yang pantas masuk keranjang sampah lantas dibakar.) Bahwa Before I Fall yang mengadaptasi novel laris berjudul sama karangan Lauren Oliver ini naskahnya ditulis oleh seorang perempuan (Maria Maggenti) dan disutradarai oleh seorang perempuan juga (Ry Russo-Young) merupakan fakta yang menyegarkan. Film ini berhasil memastikan adanya inti emosional yang jujur dalam sebuah cerita yang ditujukan pada remaja perempuan, serta mampu menghindari penghukuman berlebihan terhadap karakter protagonisnya dan tidak mengumbar berahi secara serampangan dan tidak membual yang bukan-bukan, meski ada satu-dua klise yang terselip di baliknya.

Film melodrama supernatural ini dipenuhi dengan atmosfer suram dan cukup serius, seperti skema warna biru dan abu-abu yang memberikan kesan dingin dan terasa pas untuk lingkungan Pacific Northwest yang lembab dan berangin di mana rumah-rumah mewah kontemporer berjejer di pinggir jalanannya dan panoramanya spektakuler. Film ini dibuka dengan narasi voice-over yang memberi tahu bahwa “mungkin bagimu masih ada hari esok … namun bagi sebagian dari kita, hanya ada hari ini” sebelum menampilkan seorang remaja perempuan bernama Samantha Kingston (Zoey Deutch) terbangun jam setengah tujuh pagi pada tanggal 12 Februari karena mendengar lagu balada pop yang disetel sebagai nada alarm ponsel-cerdasnya. Samantha bersiap-siap berangkat ke sekolah, mengabaikan orangtua-nya (Julie Kingston [Jennifer Beals] dan Dan Kingston [Nicholas Lea]), dan membentak adik perempuannya yang lucu-menggemaskan (Izzy Kingston [Erica Tremblay]) sebelum keluar rumah untuk bertemu sahabat yang menjemputnya (Lindsay Edgecombe [Halston Sage]) dan mereka berdua kemudian menjemput dua sahabat lainnya (Elody [Medalion Rahimi] dan Ally Harris [Cynthy Wu]) untuk pergi bareng ke sekolah.

Ketika berada di dalam mobil Lindsey, terungkap bahwa Samantha memiliki janji untuk berhubungan seks malam ini dengan kekasihnya (Rob Cokran [Kian Lawley]) dan Elody memberinya sebuah kondom sembari menggoda: “No glove, no love. (Tanpa pengaman, tidak ada cinta.)” Ritus melepas keperawanan itu bakal menjadi semacam hiburan yang menyenangkan untuk “Cupid’s Day”, momen perayaan Hari Kasih Sayang di film ini yang telah menjadi seremonial tahunan yang agak kejam (membikin kelompok minoritas merasa seperti orang-orang gagal yang menyedihkan) yang melibatkan siswa-siswi mengirimkan setangkai mawar dengan pesan cinta untuk satu sama lain. Saya setuju dengan Anna Cartullo (Liv Hewson), seorang remaja lesbian di kelas Samantha, yang menganggap seremonial banal itu sebagai “neraka heteronormativitas”.

Samantha, tentu saja, menerima banyak mawar. Namun, meski hari itu adalah perayaan Hari Kasih Sayang di mana cinta menyatu dalam udara yang dihirup, Samantha dan ketiga sahabatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengolok-olok objek penindasan favorit mereka, seorang siswi eksentrik dan tidak populer bernama Juliet Sykes (Elena Kampouris) yang selalu menyembunyikan tampilan wajah di balik selubung rambut acak-acakannya. Sementara itu, Samantha memberikan respons dingin kepada Kent McFuller (Logan Miller) yang mengirim salah satu mawar untuknya, dan di paruh kedua film ini memberi tahu bahwa Kent adalah teman masa kecil yang sekarang tergila-gila kepada Samantha.

Plot cerita itu menuntun dan berujung pada rangkaian adegan yang menampilkan pesta remaja di rumah orangtua Kent, di mana keadaan mulai memburuk (Rob, yang ternyata pecundang-doyan-mabuk, sibuk muntah-muntah di tempat cuci piring), menjadi semakin buruk (Lindsay mengejek dan melempar segelas bir kepada Juliet setelah dipanggil dengan sebutan “jalang”), sebelum akhirnya menjadi momen yang benar-benar tragis (Samantha dan tiga sahabatnya mati dalam kecelakaan setelah mobil mereka menabrak sebuah objek yang tidak terlihat).

Kemudian layar kembali menampilkan Samantha terbangun pada jam dan hari yang sama di tempat tidur yang sama dengan baju tidur yang sama dan karena mendengar nada alarm dari lagu balada pop yang sama di ponsel-cerdas yang sama. Dan hal itu terjadi terus-menerus, secara berulang, lagi … dan lagi … dan lagi. Pada awalnya, Samantha menyangkal keanehan itu seolah dia sedang bermimpi. Kemudian Samantha mengajak tiga sahabatnya untuk tidak datang ke pesta di rumah Kent agar bisa menghindari kecelakaan tragis itu. Namun Samantha ternyata masih harus mengulanginya: dia terjebak dalam siklus perulangan waktu yang tidak memiliki ujung. Lalu, pada momen perulangan berikutnya, Samantha meresponsnya dengan kejengkelan dan impulsif dan amarah, memakai baju yang sangat seksi untuk ke sekolah serta berperilaku seenak udelnya dan mengatakan hal-hal buruk kepada siapa saja, tidak peduli seberapa tidak pantas perilakunya dan seberapa menyakitkan kata-katanya bagi orang lain, sebab sepertinya tidak bakal ada konsekuensi yang kekal setelahnya. (“Aku sudah melakukan semuanya dengan benar, dan tidak ada yang berubah. Hari ini dimulai dan berakhir dengan cara yang sama, apa pun yang telah kuperbuat atau kukatakan. Jika begitu cara kerjanya, aku bakal berbuat dan berkata semauku,” pikir Samantha.) Namun Samantha ternyata merasakan konsekuensi emosional yang lebih serius dan menggelisahkan, dan pada akhirnya mendapatkan pencerahan bahwa dia perlu melihat ke luar dirinya dan membikin beberapa perubahan dalam interaksinya dengan orang lain pada hari itu — termasuk interaksi dengan tiga sahabatnya, dengan orangtua-nya, dengan adik perempuannya, dan dengan siapa saja yang pernah diperlakukannya secara kejam.

Detail spesifik untuk memutus siklus perulangan waktu dalam film ini tidak disajikan dengan jelas dan hal ini bisa membikin frustasi beberapa orang yang menontonnya. (Salah satu orang yang frustasi adalah kekasih saya, ehem, si Kanjeng Ratu F, yang terus-terusan mengumpat saat kami menyantap nasi uduk di warung langganan selepas menonton film ini sebelum akhirnya lelah dan meminta diantar pulang ke rumah orangtua-nya.) Namun dengan tekstur wajah lembut kepucat-pucatan, rambut panjang cokelat kemerah-merahan, dan akting yang manis, Deutch berhasil membikin saya (dan Mbak F) bersimpati dan peduli dengan nasib sial Samantha yang terjebak dalam perulangan waktu dan momen kejadian yang mirip seperti hukuman yang diterima oleh Sisifos dalam kisah mitologi Yunani. (Kita harus membayangkan Sisifos yang berbahagia, Mbak F!) Deutch dan Miller juga berhasil menciptakan percikan api dan ikatan tulus yang mampu memberikan momen paling menyentuh di film ini. Namun romantisme relasi asmara bukanlah kunci jawaban dari teka-teki film ini, melainkan persahabatan perempuan. Dan, sedikit demi sedikit, naskah tulisan Maggenti menyajikan cukup banyak riwayat motivasional, bahkan yang paling menjijikkan sekali pun, sehingga saya tidak bisa mengabaikan karakter-karakternya dan memahami bahwa mereka juga sedang berupaya menyembuhkan luka masing-masing.

Saya juga mengapresiasi kinerja Beals yang berperan sebagai Julie (ibunya Samantha), satu-satunya orang dewasa yang memiliki dampak nyata di film ini. Saya tidak tahu apakah ini disengaja atau tidak, namun saya tersenyum ketika menyadari bahwa Samantha memakai baju tidur yang lehernya robek, sebab baju tidur itu mengingatkan saya dengan kaus yang dipakai Beals saat memerankan Alexandra “Alex” Owens dalam sebuah adegan penting di film Flashdance (1983). Sentuhan manis Russo-Young lainnya adalah bahwa satu-satunya guru yang ditampilkan di layar dalam sebuah film drama remaja SMA membahas pelajaran tentang mitologi Sisifos yang menjalani hukuman paling menyedihkan dan membosankan dengan terus-menerus mendorong batu ke atas bukit dan kemudian batu itu menggelinding ke bawah, lalu didorongnya kembali batu itu ke atas hanya untuk menggelinding lagi ke bawah, lagi dan lagi, terus-menerus seperti itu sampai entah. Dan, iya, sangat mencerahkan dan lucu ketika guru tersebut mengatakan kepada murid-muridnya bahwa Sisifos tidak mengacu pada penyakit kelamin.

Apa yang saya temukan dalam Before I Fall adalah film yang cukup mengejutkan dan cerdik dengan kinerja akting dan gambar-gambar indah, sekaligus juga muram dan menyayat jantung, yang digarap oleh seorang sineas dengan cukup bagus. Ini bukan sekadar film tentang sekelompok remaja perempuan jahat yang akhirnya tobat dan sadar bahwa mereka seharusnya menjadi manusia yang lebih baik dan lebih berguna bagi orang lain. Ini adalah tentang merusak kehidupan sempurna dari seorang manusia dan memaksanya untuk menggali ke dalam kemanusiaannya sendiri agar bisa menemukan semacam jawaban. Film ini merenungkan kapasitas kemanusiaan dan kecenderungan kita — saya dan kamu sebagai manusia — untuk mengabaikan detail-detail kecil sehingga kita gagal memaknai dan menghidupi, serta semakin menjauh dari esensi, kehidupan yang sedang kita jalani. Russo-Young juga menemukan cara unik untuk menceritakan kisah yang repetitif tanpa terjebak dalam lingkaran kebosanan.

Dan Mbak F, saya masih menunggu jawabanmu dari pertanyaan klise yang menjadi tagline film ini: “What if today was the only day of the rest of your life? But you’re not death, just caught in a time loop — what would you do?” Dan sama seperti Sisifos, kita harus membayangkan Samantha yang berbahagia, Mbak F: menjadi tragis tanpa kesedihan! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s