Cléo from 5 to 7 (1962)

Poster film. (gambar: IMDb)

DI Prancis, jam lima sore sampai jam tujuh malam dikenal sebagai momen atau saat-saat di mana sepasang kekasih sering berjumpa. Pada momen itu, tidak ada yang bisa lebih jauh dari pikiran Cléo (Corinne Marchand) ketimbang seks. Cléo resah, menghitung setiap menit yang dia lewati dari jam lima sore sampai jam temu dengan dokter (pada jam setengah tujuh malam) yang bakal mengabarkan hasil tes medisnya yang dia percaya berisikan informasi bahwa dia sedang menderita kanker. Cléo from 5 to 7 garapan Agnès Varda memiliki durasi selama 90 menit, namun rasanya durasi itu berjalan beriringan dengan detak jam milik Cléo. Sekarang ini, Varda sering disebut sebagai ibu baptis dari gerakan new wave dalam dunia perfilman Prancis. Varda merupakan sineas yang punya keunikan jiwa, dan hanya karena fakta bahwa dia adalah seorang perempuan-lah yang membikin namanya jarang disebut dan disejajarkan dengan sineas-sineas new wave Prancis seperti François Truffaut, Éric Rohmer, Jacques Rivette, Alain Resnais, Jean-Luc Godard, Jacques Demy, dan Claude Chabrol. Perjalanan garis waktu kehidupan memberi tanggapan dan hasil yang lebih manis untuk film-film bikinan Varda ketimbang film-film garapan beberapa sineas new wave Prancis yang saya sebutkan barusan, dan Cléo from 5 to 7 kini berhasil memosisikan diri sebagai kejutan modern. Dirilis pertama kali pada 1962 silam, Cléo from 5 to 7 tampak inovatif dan memiliki pengaruh yang sama besarnya dengan film-film new wave Prancis lainnya.

Cléo adalah penyanyi pop muda berwajah segar dan cantik yang belum pernah merasakan ketenaran meski beberapa lagunya sering diputar di radio dan kotak musik di kafe-kafe yang ada di Kota Paris, Prancis. Dalam satu adegan, Cléo pergi ke sebuah kafe dan memutar salah satu lagunya di kotak musik kafe tersebut dan seorang pengunjung perempuan di kafe itu mengeluh kepada kawannya tentang “kebisingan” dari kotak musik itu. Saya tidak tahu apakah Cléo mendengar keluhan itu. Salah satu perangkat yang cukup berguna dalam film ini adalah untuk memerhatikan dan mencatat percakapan santai dari orang-orang yang berlangsung di dekat Cléo ketika dia sedang menikmati waktunya di kafe. Ada sesuatu yang akurat secara psikologis mengenai hal ini. Ketika kamu takut kematian bakal mendatangimu dalam waktu dekat, kamu menyadari eksistensi orang lain di sekitarmu dengan cara yang baru. Kamu memikirkan yang lain, kamu berpikir sedang menjalani hidup yang bahagia, namun pikirkanlah — kamu tetap harus mati suatu saat nanti. Kecemasan Cléo tentang hal itu semakin memperdalam suasana filmnya yang sebagian besar menampilkan kejadian dan aktivitas yang sepele dan banal.

Film ini dibuka dengan Cléo mengunjungi seorang pembaca Kartu Tarot pada jam lima sore. Kartu-kartu itu ditampilkan berwarna sementara semua gambar selain itu ditampilkan dalam format hitam-putih. Saya tidak tahu apa-apa tentang Kartu Tarot, namun gambar dari kartu-kartu yang dipilih Cléo terkesan mengkhawatirkan dan menggelisahkan. “XII – The Hanged Man” dan “XIII – Death” muncul di atas meja dan si pembaca Kartu Tarot — sama seperti yang dilakukan oleh peramal-peramal lainnya — mencoba meyakinkan dan menenangkan Cléo bahwa kemunculan dua kartu itu “bisa memiliki banyak arti”. Beberapa saat kemudian, Cléo meminta diramal melalui pembacaan garis telapak tangannya dan si pembaca Kartu Tarot melihat telapak tangannya cukup lama dan berkata: “I can’t read hands. I don’t know.” Itu bukanlah pertanda baik. Cléo tampaknya adalah seorang perempuan yang percaya dengan ramalan dan isyarat/pertanda dari Kartu Tarot itu membikinnya tertekan.

Cléo kemudian jalan-jalan sore ditemani oleh asistennya, Angèle (Dominique Davray), dan dia mengunjungi toko topi dan mencoba banyak topi, sementara cermin yang tidak terhitung jumlahnya yang ada di toko itu memantulkan kembali bayangannya dengan berbagai macam topi yang dicobanya secara bergantian. Tampilan bayangan yang manakah yang bakal dipilih Cléo? Ini adalah sore di awal musim panas, namun Cléo memilih topi bulu berwarna hitam yang terlihat seperti penangkal petir di atas kepalanya.

Setelah membeli topi, Cléo dan asistennya pulang ke apartemennya yang berisi tempat tidur, piano, dua anak kucing yang sedang bergumul, dan sisanya adalah ruang kosong yang sangat luas. Cléo bersandar di tempat tidurnya dengan sikap anggun seolah-olah sedang duduk di takhta kerajaan, dan menerima kekasihnya, José (José Luis de Vilallonga), dalam sebuah adegan yang memberi kesan bahwa perjumpaan mereka berdua hanyalah sebuah rutinitas wajib, bukannya temu kangen yang hangat dan penuh gairah cinta. Bukankah berjumpa kekasih antara jam lima sore sampai jam tujuh malam adalah semacam “budaya” di Prancis? Baiklah kalau begitu, José dan Cléo bakal berperilaku seperti yang diharapkan oleh “budaya” dan masyarakat Prancis. Yang juga datang ke apartemen Cléo pada sore itu adalah Bob, seorang pianis yang menjadi mentor menyanyinya, dan diperankan oleh Michel Legrand yang juga merangkap sebagai penata latar belakang musik untuk Cléo from 5 to 7.

Sangat jelas terlihat dalam perilakunya dengan José dan Bob bahwa Cléo memproyeksikan seorang tokoh pop yang superfisial, seorang perempuan muda yang dangkal (“Wait, pretty butterfly. Ugliness is a kind of death. As long as I’m beautiful, I’m even more alive than the others,” Cléo membatin di depan cermin dengan senyum yang arogan), dalam semua pose dan gaya. Dua anak kucing — yang entah bagaimana caranya selalu berhasil dimasukkan ke dalam satu bingkai oleh Varda — memiliki fungsi yang mirip dengan alat peraga dalam film musikal konyol. Dan kecemasan Cléo mengenai mortalitasnya terus bergetar dan menggema layaknya suara bas drum yang cukup lembut di dalam sebuah komposisi lagu pop. Sebagai penyanyi, konsumen di toko topi, dan kekasih, Cléo selalu tampil sebagai seorang perempuan yang berharap diberi tahu bahwa dia sedang menderita kanker.

Memerankan karakter macam Cléo di film ini bukanlah pekerjaan yang mudah, dan Marchand mampu melakukannya dengan lebih baik ketimbang apresiasi yang selama ini dikreditkan untuknya. Dengan caranya sendiri, kinerja yang ditampilkan Marchand di film ini sama-sama menawannya dengan penampilan yang luar biasa keren dari, untuk menyebut beberapa, Mélanie Laurent sebagai Shosanna Dreyfus / Emmanuelle Mimieux di film Inglourious Basterds (2009), Monica Vitti sebagai Claudia dalam L’Avventura (1960), Liv Ullmann sebagai Marianne dalam Scenes from a Marriage (1973), Isabelle Huppert sebagai Michèle Leblanc di film Elle (2016), Audrey Hepburn sebagai Princess Ann (Anya “Smitty” Smith) di film Roman Holiday (1953), Charlotte Gainsbourg sebagai “She” dalam Antichrist (2009), Jodie Foster sebagai Clarice Starling dalam The Silence of the Lambs (1991), Catherine Deneuve sebagai Séverine Serizy di film Belle de Jour (1967), dan Ladya Cheryl sebagai Alisha di film Fiksi. (2008). Saya pikir cukup sulit untuk memerankan karakter secantik bidadari yang mampu mengomunikasikan kecemasan terhadap mortalitas yang sedang mengokupasi segala emosi di dalam hati.

Tidak seperti kebanyakan sineas new wave Prancis lainnya, Varda dilatih bukan untuk menjadi sutradara atau kritikus film, melainkan menjadi fotografer yang serius. Ketika menonton film ini cobalah untuk menekan tombol pause saat rangkaian adegan di apartemen Cléo dan kamu bakal menemukan komposisi sempurna yang seringkali luput dari perhatian. Di setiap karya sinematiknya, Varda memiliki kemampuan untuk memberikan sentuhan manis yang berhasil menangkap esensi karakter-karakternya dalam penempatan mereka di antara ruang dan cahaya, bukan hanya melalui plot cerita dan baris dialognya saja.

Sementara kebanyakan film di era awal new wave Prancis memiliki keberanian untuk menggunakan teknik dan gaya baru yang riang-gembira, Varda dalam Cléo from 5 to 7 menunjukkan kepekaan untuk mengembangkan emosi secara halus. Dalam rangkaian adegan menjelang akhir film, Cléo berjalan-jalan ke area yang lebih tenang dan sepi di sebuah taman Kota Paris dan bertemu dengan seorang tentara, Antoine (Antoine Bourseiller): mereka berdua mengobrol, berjalan mengitari taman, naik bus, dan berjalan lagi menuju rumah sakit. Antoine menunjukkan ketulusan, kelembutan, dan kebijaksanaan ketika berbicara kepada Cléo. Ketika pertama kali bertemu, Antoine tidak mengetahui kecemasan yang dirasakan Cléo, dan dia memiliki kecemasannya sendiri, dan baris dialog dalam naskah yang ditulis Varda memungkinkan adanya jembatan emosional di antara Antoine dan Cléo. (Potongan gambar dalam adegan sebelum turun dari bus, di mana Cléo dan Antoine hanya berdiam dan saling memandang satu sama lain dengan tatapan syahdu, adalah sebuah momen indah paling romantis dan bentuk ikatan emosional paling khidmat yang bisa menenangkan kegelisahan apa pun. Dan saya merasakan kehangatan yang nyaman dan akrab di sekujur tubuh.) Kemudian, dalam adegan terakhir di taman rumah sakit, Cléo diberi tahu hasil tes medisnya dengan cara yang cukup kejam oleh Doctor Valineau (Robert Postec). Lantas kamera menyorot Cléo dan Antoine untuk kemudian bergerak menjauh sebelum akhirnya memfokuskan pandangan kembali pada mereka berdua yang lanjut berjalan sambil sedikit mengobrol, lalu berhenti dan saling tatap dan layar menghitam sepenuhnya. Jika kamu ingin menarik garis perbedaan antara perempuan dan lelaki, maka pertimbangkan hal ini: semua baris dialog yang diucapkan Antoine di film ini ditulis oleh seorang perempuan, dan banyak lelaki bakal menganggapnya di luar jangkauan.

Varda memfilmkan orang-orang ini ketika mereka semua masih muda, dan lebih dari setengah abad kemudian, Cléo from 5 to 7 tetap bertahan serta masih terasa relevan dan manis. Tema eksistensialisme — termasuk di dalamnya pembahasan tentang mortalitas, gagasan keputus-asaan, dan bagaimana caranya membikin hidup menjadi lebih bermakna untuk dijalani — dalam film ini dibangun dan dipelihara oleh Varda dengan cara yang tulus, lembut, dan cermat. Varda juga menyisipkan sudut pandang feminisme yang mampu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana memersepsikan kaum perempuan dalam tatanan masyarakat yang masih menjunjung patriarki, terutama di Prancis. Saya merasakan kehidupan dan simpati dan empati yang sama dalam film ini, di mana Varda melihat permukaannya dengan sangat jelas, dan apa-apa yang ada di bawahnya terlihat lebih jelas lagi.

Cléo from 5 to 7 merupakan karya sinematik yang puitis dan indah, sebuah memento mori yang berhasil menyentuh jantung saya di bagian yang tepat, sekaligus menempatkan saya pada waktu dan ruang tertentu: toko, taman, jalanan, dan kafe di Paris pada awal tahun ‘60an.

Unik. Menyegarkan. Emosional. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s