The Edge of Seventeen (2016)

Poster film. (gambar: IMDb)

JIKA kamu adalah seseorang yang menjalani kehidupan masa remaja di akhir ‘90an dan awal 2000an seperti saya, film-film drama lokal garapan Rudy Soedjarwo atau Upi Avianto atau Joko Anwar atau Hanung Bramantyo adalah salah satu kekuatan utama dalam menentukan perkembangan masa mudamu. Kamu mungkin tidak dapat mengingat kembali apa yang kamu makan atau kamu lakukan kemarin, namun kamu masih bisa melafalkan baris dialog dan memutar-ulang rangkaian adegan Ada Apa dengan Cinta? (2002), sebuah film drama-romantis remaja yang nyaris sempurna dalam menggambarkan kehidupan SMA, atau Janji Joni (2005), atau Catatan Akhir Sekolah (2005), atau Realita, Cinta dan Rock‘n Roll (2006) tiga dekade kemudian. Otak di batok kepala kita — saya dan kamu — memang bekerja dengan cara yang misterius.

Film-film drama yang memberikan kisah tentang lika-liku kehidupan remaja juga menjadi salah satu materi pokok yang dijual oleh industri film dunia. Semua penggemar film setidaknya memiliki satu-dua film drama remaja favorit yang mengiringi dan membantu masa-masa pertumbuhan mereka. Selama 50 tahun terakhir, film-film seperti La Collectionneuse (1967), Fast Times at Ridgemont High (1982), Pauline at the Beach (1983), The Breakfast Club (1985), Ferris Bueller’s Day Off (1986), Heathers (1988), Dead Poets Society (1989), Totally Fucked Up (1993), Dazed and Confused (1993), The Doom Generation (1995), Clueless (1995), Nowhere (1997), Can’t Hardly Wait (1998), American Pie (1999), 10 Things I Hate About You (1999) Mean Girls (2004), Superbad (2007), Rocket Science (2007), Juno (2007), Nick & Norah’s Infinite Playlist (2008), Fired Up! (2009), An Education (2009), dan Boyhood (2014) memiliki dampak besar yang tumbuh bersama remaja.

The Edge of Seventeen, drama-komedi remaja garapan Kelly Fremon Craig, bisa dikatakan sebagai penerus warisan dari film-film drama remaja di atas yang kuat dengan campuran humor dan pahit-manisnya kehidupan remaja. Craig berhasil menyentuh banyak catatan yang masih terasa relevan dengan pendekatan tulus dan jujur yang jarang terlihat, serta momen-momen penuh kecemasan yang menjadi inti dari genre drama remaja: sensasi narsistik dan hasrat egoisme yang memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupmu lebih penting ketimbang apa-apa yang terjadi di hidup orang lain, sekaligus juga kecanggungan dalam perjuangan mencari identitas di tengah-tengah tekanan kehidupan remaja. Hasilnya adalah film yang lucu, cerdas, dan terkadang menyebalkan yang menggambarkan potret kehidupan remaja modern. Film ini lebih gelap dan terasa lebih jujur daripada film garapan Rudy, serta memperbarui karakterisasinya dengan cara esensial untuk bisa dinikmati oleh penonton masa kini, agar bisa memiliki hubungan yang erat dengan remaja-remaja kekinian.

Faktor utama yang membikin film ini menjadi tontonan keren dan menyenangkan adalah kinerja luar biasa dari Hailee Steinfeld dalam memerankan karakter utamanya, seorang remaja sensitif dan cerdas, namun pandir secara sosial dan cerewet, bernama Nadine Franklin. Nadine tidak punya banyak teman. Satu-satunya sahabat yang dimiliki Nadine sejak kecil adalah Krista (Haley Lu Richardson) yang ceria dan sedikit lebih baik. Kakak lelaki Nadine, Darian Franklin (Blake Jenner), adalah anak kebanggaan keluarga yang sepertinya tidak pernah berbuat salah dan cukup terkenal di pergaulan remaja SMA-nya. Ibunya Nadine, Mona Franklin (Kyra Sedgwick), sudah lama menjanda dan bekerja-keras untuk membiayai hidup mereka.

Setiap hari merupakan momen yang menyedihkan bagi Nadine, seperti yang bisa kamu bayangkan saat hormon kekanak-kanakan tidak memungkinkanmu untuk menikmati bagaimana rasanya menjadi orang paling cerdas, atau sosok terkenal punya banyak teman dan fans, di lingkungan pergaulan remajamu. Nadine menemukan lawan bicara yang bisa ditumpahi segala unek-uneknya di dalam sosok Mr. Bruner (Woody Harrelson), guru sejarahnya yang santai dan selalu bisa memberikan respons jujur dan tampaknya tidak terganggu dengan sifat pembangkangannya. Mr. Bruner benar-benar menikmati momen-momennya bersama Nadine yang terus-terusan mengeluh tentang betapa ngehek dan kejamnya kehidupan remaja. Kepiawaian Steinfeld dan Harrelson mampu membikin rangkaian adegan yang menampilkan dinamika Nadine dan Mr. Bruner dalam satu layar sebagai momen terbaik di film ini.

Sekutu Nadine lainnya adalah Erwin Kim (Hayden Szeto), teman sekelasnya yang pintar dan selalu berusaha tampil manis di depannya dan tidak sungkan untuk menunjukkan rasa suka kepadanya. Selain Mr. Bruner, Erwin adalah karakter yang menyenangkan di film ini: lucu dan karismatik, dia sangat diuntungkan oleh kesediaan Craig untuk menentang harapan tentang tipe remaja SMA. Dan dalam hal menciptakan karakter Asia yang tampil sebagai seorang pahlawan sekaligus kekasih di akhir film, Craig seolah-olah ingin meluruskan anggapan miring tentang karikatur etnis yang luas. Setelah ini cobalah untuk menonton karakter Long Duk Dong dari film Sixteen Candles (1984), atau karakter pandir lain yang sering diasosiasikan berasal dari etnis Asia di film lain, tanpa merasa jijik.

Seluruh dunia Nadine, yang dianggapnya tidak terlalu istimewa, semakin hancur berantakan ketika sahabatnya berhubungan seks dengan kakak lelakinya setelah melewati malam dengan mabuk-mabukan — dan kemudian Krista dan Darian mulai menjalin hubungan asmara yang lebih serius. Pada awalnya, Nadine mencoba untuk menerima kenyataan (yang dianggapnya) pahit itu dengan lapang dada, ikut datang bersama Krista dan Darian ke sebuah pesta yang khas dengan film-film remaja. Setelah berupaya untuk berlapang-dada, Nadine ternyata tidak bisa menepis kekecewaan karena merasa telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Nadine mengultimatum Krista: pilih dia atau Darian; dan Krista lebih memilih Darian. Nadine menganggap kehidupannya semakin kacau, dan hal ini mengarah pada pembangkangannya terhadap apa pun dan kecerobohan (semacam pelampiasan tolol tanpa pikir panjang) yang khas remaja: mengirim pesan memalukan secara tidak sengaja. Karena ini tahun 2016, Nadine mengirim pesan memalukan itu melalui Facebook kepada remaja nakal tampan bernama Nick Mossman (Alexander Calvert) yang sudah lama ditaksirnya. (“Ya ampun! Dia begitu keren,” komentar Nadine dengan penuh gairah ketika melihat Nick melintas di halaman SMA-nya di rangkaian adegan awal film ini.)

Nadine menganggap dirinya sebagai satu-satunya ikan yang berenang melawan arus. Saya — dan mungkin kamu; kita semua — merasa terhubung dengan apa-apa yang dirasakan Nadine: sebuah perasaan terasing, menempatkan diri sebagai orang luar, menganggap diri sebagai alien paling aneh di antara yang lain, terutama ketika menjalani masa-masa remaja di SMA. (Nyaris sama seperti Nadine, saya di masa remaja selalu menganggap bahwa orang-orang di sekitar saya menjalani kehidupan yang lebih mudah dan indah, bahwa mereka semua telah mengetahui apa-apa yang harus dilakukan dalam hidup, sementara saya merasa selalu terjebak dalam kesendirian dan selalu merasa mendapat berbagai macam kesulitan yang menyebalkan dalam hidup yang saya jalani. Yang selalu luput dari perhatian saya adalah bahwa mereka sebenarnya juga merasakan hal yang hampir sama dengan apa yang saya rasakan, bahwa mereka juga terjebak dalam kehampaan dan kecemasan yang nyaris sama dengan saya, bahwa mereka juga sedang berjuang esktrakeras untuk memaknai hidup — mereka cuma lebih pintar berpura-pura.) Nadine begitu cepat melakukan serangan karena dia tidak dapat — atau tidak mau — menghadapi rasa sakit; ini adalah mekanisme pertahanan dirinya.

Salah satu dari banyak sentuhan cerdas Craig di film ini: dalam adegan di mana Nadine berusaha keras untuk berbicara dengan Nick, lagu True dari Spandau Ballet mengalun syahdu sebagai latar belakang musiknya yang tampaknya menjadi semacam ode untuk Sixteen Candles. Bahkan montase dari adegan Nadine memilih-milih baju yang cocok untuk malam kencannya bersama Nick terjadi melalui prisma yang berbeda dari yang saya duga sebelumnya. Dan tone melankolia Craig yang pada akhirnya menentukan bagian dari nasib sial yang menimpa Nadine merupakan contoh bagus dari konsekuensi yang harus siap dihadapi Nadine dalam keadaan apa pun. The Edge of Seventeen sebagian besar dipenuhi dengan semangat remaja, namun Craig juga merasa nyaman untuk membawa ceritanya ke arah yang lebih sedih, lebih serius, dan lebih jujur. Craig tidak merasa berkewajiban untuk membungkus semuanya dengan cara yang rapi dan menyenangkan.

Dengan cara yang sama, kejujuran itu mampu membikin saya bersimpati kepada Nadine. Alasan mengapa Nadine bisa begitu memikat adalah fakta bahwa dia tidak selalu tampil sebagai pribadi yang sok ramah, sok baik, dan sok suci tanpa dosa. Nadine mampu dan mau menertawakan dirinya sendiri karena terlalu sering melakukan hal-hal bodoh, namun mode kepribadian ­default-nya adalah misantropi, dan dia tidak menderita sindrom keluguan (atau ketololan) akut. Nadine bisa menjadi pribadi yang jahat dan impulsif, dan dia seringkali menjadi korban dari perilakunya sendiri. Steinfeld berhasil membikin rangkaian kontradiksi itu terasa nyata dan dekat. Steinfeld sepertinya tidak tertarik untuk membikin saya menyukai sosok perempuan yang selalu tampak depresi dan cemas di masa remaja, sebuah masa peralihan dalam garis waktu kehidupan dari kanak-kanak ke dewasa. Steinfeld hanya mencoba untuk menampilkan Nadine dengan tulus, jujur, benar, dan apa adanya — dan itulah yang membikin saya menyukainya.

The Edge of Seventeen tidak mendorong genre drama remaja ke arah yang baru seperti yang pernah dilakukan oleh Heathers dan Ferris Bueller’s Day Off. Sebagai gantinya, film ini berjalan dalam alur yang familier dan terasa dekat. Craig menciptakan dunia rekaan yang realistis, mengisinya dengan orang-orang biasa dan permasalahan biasa yang mereka hadapi sehari-hari. Banalitas hidup harian Nadine memberikan tekstur tambahan pada karakter yang sudah bernuansa.

Jika kamu pernah merasa seperti seekor bebek jelek di dunia yang penuh dengan angsa menawan, maka film yang jujur dan cerdas ini bakal menjadi hiburan yang pas untukmu. Atau jika kamu sekadar ingin mengingat-ingat kembali kecerobohan-kecerobohan yang pernah kamu lakukan semasa remaja di SMA, maka kamu bisa bernostalgia dengan menonton film ini. Atau jika kamu … ah, sudahlah, tonton saja: ini adalah film yang, sekali lagi, jujur dan cerdas. Serta relevan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s