Mrs Dalloway (1997)

Poster film. (gambar: IMDb)

DALAM kehidupan selalu ada persimpangan jalan. Kita — saya dan kamu — diharuskan memilih, dan menjalani pilihan yang telah kita ambil itu dengan segala konsekuensi yang mengekor di belakangnya sampai saat ini. Namun di dalam diri kita masing-masing masih ada sosok lain yang berdiri selamanya di ujung jalan yang tidak kita pilih, bersemayam di kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak kita ambil sebelumnya. Mrs Dalloway adalah cerita tentang hubungan erat antara seorang perempuan yang eksis di dunia nyata dan perempuan lain (semacam sosok dalam realitas alternatif) yang mungkin saja ada. Tokoh utama cerita ini merenungkan kenyataan bahwa dia sekarang dianggap sebagai “Mrs. Dalloway” oleh nyaris semua orang yang mengenalnya: “I’m not even Clarissa anymore. No more marrying, no more having children. Just Mrs. Dalloway.” Mrs. Clarissa Dalloway pernah muda dan tergoda oleh dua pilihan yang menggairahkan: Peter Walsh adalah sosok pemuda yang menyenangkan dan sangat mencintainya, namun dia penuh risiko berbahaya; yang lebih berbahaya lagi adalah Sally Seton yang liar dan bergairah dan selalu menggodanya, serta hubungan mereka berdua berpotensi berkembang menjadi sesuatu yang tidak ingin dinamai olehnya. Clarissa tidak mengambil dua pilihan itu, malah memutuskan untuk kawin dengan Richard Dalloway yang “normal dan lurus-lurus saja” hidupnya, yang sering diolok-olok oleh Peter dengan sebutan: “… he is a fool! And unimaginative, dull fool!

Bertahun-tahun kemudian, Mrs. Dalloway sedang mengadakan pesta. Asisten rumah tangga Mrs. Dalloway sibuk menyiapkan segalanya sejak subuh, hari itu begitu cerah dan indah, dan Mrs. Dalloway pergi berjalan-jalan keluar untuk membeli bunga sebagai hiasan pestanya. Itu adalah pembuka novel terkenal berjudul Mrs Dalloway karangan Virginia Woolf yang mengikuti kisah Mrs. Clarissa Dalloway selama sehari dengan menggunakan teknik arus kesadaran baru yang berhasil dikembangkan oleh Marcel Proust dan James Joyce sebelumnya. Plot cerita novel ini mengikuti Mrs. Dalloway sampai akhir pestanya pada satu hari di mana tidak ada yang tahu apa-apa yang sebenarnya dia pikirkan: yang dilihat oleh para tamu undangan hanyalah tampilan luar Mrs. Dalloway yang terkesan pendiam, anggun, dan menawan. Sebagian besar isi novel ini menceritakan apa yang sebenarnya ada di dalam batok kepala Mrs. Dalloway. Karya sinematik tidak bisa melakukan hal itu, namun film Mrs Dalloway garapan Marleen Gorris menggunakan narasi voice-over untuk memberi tahu penonton isi pikiran Mrs. Dalloway yang tidak pernah dia bagikan kepada orang lain. Bagi dunia, Mrs. Dalloway adalah perempuan terhormat dari kalangan bangsawan berusia 60an yang tinggal di London dan menjadi istri dari seorang pejabat negara. Bagi saya (dan semua orang yang sudah menonton/membaca cerita ini), Mrs. Dalloway adalah seorang perempuan tua yang selalu bertanya-tanya apa yang bakal terjadi andai saja dia mengambil pilihan lain di masa lalu.

Vanessa Redgrave, yang memerankan Mrs. Clarissa Dalloway di film ini, sangat menyukai novel karya Woolf tersebut dan dia ikut memberikan pendapat dalam proses adaptasi naskah film ini yang ditulis oleh Eileen Atkins, seorang aktris yang telah terlibat dalam banyak pagelaran drama panggung yang berorientasi karya-karya Woolf. Redgrave tentu saja merupakan pribadi yang tampak berlawanan dengan sosok perempuan macam Mrs. Clarissa Dalloway, dan saya menganggap dia hanya memiliki sedikit penyesalan dalam hidupnya. Namun kita semua selalu bertanya-tanya tentang berbagai macam pilihan dan kesempatan dan kemungkinan yang tidak kita ambil sebelumnya, sebab dalam ingatan kita, berbagai macam pilihan itu masih tetap bersinar terang dengan segala janji perihal realitas alternatif yang ada di belakangnya, sementara kenyataan yang kita jalani hari ini penuh dengan banalitas yang membosankan — dan terkadang memuakkan.

Seiring berjalannya plot cerita film Mrs Dalloway mengikuti rutinitas harian Mrs. Dalloway, ada sisipan kilas-balik pada musim panas yang telah lalu menampilkan cerita Peter muda (Alan Cox) yang sedang berpacaran dengan Clarissa muda (Natascha McElhone), dan Sally muda (Lena Headey) yang mungkin juga menjalin hubungan asmara dengan Clarissa muda, dan versi filmnya terasa lebih malu-malu ketimbang versi novelnya. Namun Woolf terlalu bijaksana untuk membiarkan karakter Sally dan Peter tetap berada di masa lalu yang cerah: mereka berdua juga dimunculkan dalam plot cerita masa sekarang.

Di usia tuanya sekarang, Peter (Michael Kitchen) adalah pribadi yang agak menyedihkan, serta baru saja kembali ke Inggris dari kisah romansa yang berantakan dan karier yang gagal di India. Dan Sally (Sarah Badel) sekarang ini telah menjadi Lady Rosseter yang terhormat dan lebih konvensional yang telah melahirkan lima anak lelaki. Ada adegan indah yang menampilkan momen di mana Sally dan Peter meninggalkan keriuhan pesta, duduk berdua di ruang perpustakaan dan Peter curhat tentang Clarissa kepada Sally: “I know that I loved her once and that it stayed with me all my life … and colored everything.” Sally mengangguk mendengar kalimat itu, dan memendam apa-apa yang sedang dia pikirkan untuk dirinya sendiri. Saya menganggap bahwa Sally, di usia senjanya, mungkin mempraktikkan pemikiran-dua-jalur yang sama persis seperti Mrs. Dalloway: kedua perempuan itu kini melihat hidup dengan lebih tajam, dan lebih kritis, ketimbang yang bisa dibayangkan oleh orang lain, meski dalam kasus Sally, saya harus menebak ini dari tampilan luarnya.

Ada karakter lain yang sepertinya “penting” di film ini. Fungsi “karakter penting” itu tidak jelas dan tidak bisa dipahami, kecuali oleh orang-orang yang sudah membaca versi novelnya. “Karakter penting” ini bernama Septimus Warren Smith (Rupert Graves) yang dalam rangkaian adegan pembuka film ditampilkan sedang berada di medan perang dan bertugas menjaga garis pertahanan ketika sahabatnya diledakkan oleh bom musuh di Perang Dunia I. Lima tahun kemudian, Septimus menderita shell shock (gangguan stres pascatrauma yang dialami banyak tentara selama dan setelah Perang Dunia I) dan mengalami serangan panik di pelataran toko bunga yang sedang dikunjungi Mrs. Dalloway. Mrs. Dalloway terdiam memandang Septimus, dan meskipun mereka berdua belum pernah bertemu sebelumnya, ada semacam kaitan di antara keduanya: Septimus dan Mrs. Dalloway telah melihat lebih dalam ke bawah permukaan kepastian realitas hidup hari ini, dengan kemungkinan bahwa tidak ada — atau malah lebih buruk daripada ketiadaan itu sendiri — suatu hal yang bersembunyi dan sedang mengintai di bawah lapisan permukaan itu. Woolf beranggapan bahwa Perang Dunia I telah menjejalkan horor mengerikan yang meracuni setiap lapisan masyarakat.

Subteks dari kisah ini adalah pilihan untuk melakukan bunuh diri. Woolf menanyakan tujuan apa yang ingin dicapai di balik keputusan Septimus dan Mrs. Dalloway untuk menjalani kehidupan mereka. Motif halus di film Mrs Dalloway adalah keberadaan pagar rumah, sama seperti batas kehidupan, dengan ujungnya yang runcing dan tajam yang bisa menusuk dan melukai siapa saja. Sebelum menggarap film ini, Gorris membikin Antonia’s Line (1995) yang memanen pujian dan apresiasi para kritikus film (termasuk berhasil menyabet gelar Academy Award for Best Foreign Language Film di 68th Academy Awards pada tahun 1996 silam) tentang seorang perempuan yang memilih kebebasan hidup. Mrs Dalloway adalah sisi lain atau kebalikan dari Antonia’s Line. Adalah hal yang cukup mengherankan bagi saya bahwa Gorris, yang sangat terbuka dan begitu gamblang tentang seksualitas Antonia, malah malu-malu (bahkan terkesan enggan dan menghindari) untuk membicarakan lesbianisme yang ada di dalam kisah Mrs Dalloway tulisan Woolf ini.

Namun yang paling penting adalah perjuangan dan kerja keras Gorris yang tulus agar bisa memfilmkan novel terkenal yang sangat sulit untuk diadaptasi ke layar sinema. Upaya Gorris itu memang tidak selalu berhasil: rangkaian adegan pembuka film ini bakal membingungkan penonton yang belum membaca versi novelnya. Namun kinerja akting yang memukau dari Redgrave mampu meredakan kebingungan itu dan berhasil memenangkan simpati saya sepenuhnya, dan ketika kredit akhir telah muncul di layar, saya akhirnya mengerti dan paham apa yang coba disampaikan oleh film ini. Teknik arus kesadaran bergerak sepenuhnya di dalam pikiran. Karya sinematik cuma menunjukkan tampilan luarnya saja. Narasi voice-over adalah teknik yang sangat bermanfaat untuk menyampaikan isi cerita film ini, begitu pula dengan mata Redgrave yang indah cum menenangkan, ketika dia melihat dan mengobservasi para tamu undangan di pestanya. Bagi saya, Redgrave mampu menampilkan sosok Mrs. Clarissa Dalloway yang sama sekali tidak terlihat seperti nyonya rumah yang sejahtera, terhormat, bijaksana, dan tua — dia lebih mirip hewan buas yang sudah terlatih dan terampil, namun tidak sepenuhnya berhasil dijinakkan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s