Fifty Shades Darker (2017)

Poster film. (gambar: “Pinterest”)

SIAPA yang menyangka bahwa Christian Grey, lelaki tajir mampus dengan hasrat seksual BDSM (bondage, discipline, dominance and submission, sadomasochism) yang menjadi salah satu karakter utama dalam trilogi novel erotis Fifty Shades karangan E. L. James, adalah penggemar film The Chronicles of Riddick (2004) saat masih kanak-kanak? Dalam satu adegan di film Fifty Shades Darker, sekuel dari Fifty Shades of Grey (2015), Christian (Jamie Dornan) duduk berdampingan dengan kekasihnya, Anastasia “Ana” Steele (Dakota Johnson), di atas kasur di kamar tidur masa kecilnya. Tampak jelas dan menonjol di belakang Christian adalah poster film The Chronicles of Riddick berukuran superbesar. Apakah tim produksi yang kebagian jatah mendekorasi lokasi syuting sengaja menempelkan poster The Chronicles of Riddick di pintu kamar tidur masa kecil Christian hanya untuk menambahkan tekstur film? Atau semacam proyeksi kisah masa kecil Christian? Atau ode untuk Vin Diesel? Entahlah. Apa pun itu maksudnya, menjadikan poster The Chronicles of Riddick sebagai gambar latar belakang dalam adegan yang melibatkan obrolan (atau meminjam istilah Ana: “komunikasi” — Ana sepertinya belum tahu tips ciamik dari Smartfren agar “komunikasi” bisa lancar: isi pulsa, hahaha!) postcoital yang sangat serius merupakan kecerobohan yang lumayan lucu. Ada beberapa hal lucu semacam itu dalam Fifty Shades Darker garapan James Foley (yang juga menyutradarai seri terakhir dari waralaba ini, Fifty Shades Freed) dengan menduetkan Johnson dan Dornan kembali sebagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk … ah, sudahlah, mereka berdua tampaknya memang tidak bakal bisa hidup tanpa satu sama lain. Fifty Shades Darker (beserta pendahulu dan mungkin penerusnya) menyajikan apa-apa yang ada di dalamnya dengan sok serius dan hal ini membikinnya menjadi sasaran empuk untuk diulas, dikritik, dan dihina sepuas-puasnya.

Film ini dibuka dengan adegan yang menampilkan Christian mendadak terbangun di tengah malam karena mimpi buruk dari kejadian penganiayaan yang dia alami saat masih kecil. Hal inilah yang menjadi dorongan utama film ini (lelucon permainan kata tidak dapat dihindari): trauma dari kejadian buruk di masa lalu Christian dan entah apakah Ana bisa menyembuhkannya atau tidak. Saya tidak begitu suka menghakimi imajinasi dan fantasi orang lain. Namun keberhasilan James sebagai pemuas imajinasi dan fantasi orang-orang malah menghasilkan tampilan yang melelahkan dan menjemukan. Christian dan Ana punya semacam percakapan subteks-bebas, di mana Christian mengatakan “The right term is a sadist. I get off on punishing women. Women who look like you…” yang dibalas Ana dengan bisikan “Like your mother.” tanpa ekspresi apa-apa. (Semoga Ana tidak lupa isi pulsa agar komunikasinya lancar.)

Fifty Shades of Grey (disutradarai oleh Sam Taylor-Johnson) adalah kisah hubungan seksual membosankan yang menampilkan foreplay bertele-tele dan berkepanjangan sebelum adegan foreplay yang sebenarnya. Akankah Ana menanda-tangani kontrak persetujuan seksual BDSM dengan Christian? Apakah Ana setuju dengan “main kepal” (anal fisting) saat berhubungan seks? Fifty Shades of Grey ditutup dengan permainan seks yang tidak beres, dan Ana baru sadar bahwa BDSM benar-benar melibatkan rasa sakit yang luar biasa. Mengetahui fakta “tidak nyaman” itu, Ana langsung pergi meninggalkan “kamar merah” Christian. Fifty Shades Darker meneruskan cerita setelah momen itu. Ana sekarang bekerja sebagai asisten editor di sebuah kantor penerbitan kecil. Jack Hyde (Eric Johnson), yang menjadi bos Ana saat ini, adalah seorang predator dengan lirikan yang cukup tajam dan membikin Christian tampak seperti hewan jinak. (Ah iya, ada satu asisten lain di kantor itu yang diberi nama Hannah [Ashleigh LaThrop] dengan fungsi kerja yang tidak saya pahami dan film ini menampilkan beberapa adegan dengan variasi dialog: “Goodnight, Hannah.”, “Goodnight Anna.”, “Hannah, how are you?”, “I’m fine, Anna.” dan lain-lain. Apakah penulis naskahnya [Niall Leonard] tidak bisa memikirkan nama selain “Hannah”, huh?)

Christian ingin Ana kembali lagi dalam cengkeramannya dan dia bahkan rela melakukan vanilla sex jika memang itu yang dibutuhkan agar bisa memenangkan Ana kembali. “No rules, no punishments, and no more secrets,” janji Christian kepada Ana. Pertahanan Ana runtuh seketika. Jadi, Christian dan Ana balikan dan mengisi aktivitas yang-yangan dengan vanilla sex, menghabiskan pagihari di atas kapal mewah, menghadiri jamuan pesta topeng, dan semuanya tampak baik-baik saja sampai akhirnya … well, sampai pada akhirnya ada banyak hal — dan saya tidak sedang hiperbolis kali ini: percobaan penyerangan seksual, mantan pacar yang sedikit sinting, kilas-balik yang merangsang gangguan stres pascatrauma, kesepakatan bisnis yang ya begitulah, helikopter yang tiba-tiba oleng di atas gunung berapi, ancaman dari mentor BDSM, dan MASIH BANYAK LAGI YANG LAINNYA — yang mulai mengganggu hubungan mereka berdua. Dua sejoli Christian dan Ana tidak mendapatkan jeda dan vanilla sex ternyata tidak bisa menahan tekanan dari hasrat yang luar biasa besar. Foley membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa tidak ada yang menarik dari seorang jutawan melakukan seks membosankan dalam posisi misionaris, dan aerial shot kapal mewah Christian yang diikuti oleh aerial shot dengan sudut yang berbeda untuk menampilkan gambar yang sama secara berulang-ulang adalah tampilan yang receh dan membosankan. Ana akhirnya kembali masuk dalam jaring BDSM Christian, dan dia menikmatinya dengan riang-gembira: saya ikutan senang untuknya. Namun hal itu tidak mampu membikin saya sedikit menyukai film ini.

Satu hal tentang Dakota — dan menurut saya ini hal yang penting — adalah bahwa dia tidak bisa menyembunyikan kecerdasan dan rasa humornya yang menyenangkan. Sudah sangat jelas bahwa hal itu menjadi ciri khas dari Dakota yang bisa dimanfaatkan sebagai jangkar penting bagi sebuah film yang memang sangat membutuhkannya. Baris dialog di film ini begitu konyol, receh, dan repetitif sehingga bisa menenggelamkan bintang film yang paling berpengalaman sekali pun ke dalam kubangan mediokritas, namun Dakota mampu bertahan di sini. (Dan saya menghitung ada sekitar 35 kali kekasih saya merespons baris dialog receh film ini dengan “duh, gobloknya” sembari memeriksa akun toko daring di Instagram.) Ada semacam kelambanan dari Dakota, sebuah kecanggungan menawan yang terasa organik dan menjadi daya tarik; Foley cukup cerdik untuk menyadari betapa rasa humor Dakota bisa membantu menyelamatkan film receh ini. Dakota tampil hebat dalam film A Bigger Splash (2015) garapan Luca Guadagnino dalam memerankan karakter seksi manipulatif yang suka bermain-main dengan lelaki yang tertarik kepadanya. Disandingkan dengan aktris dan aktor kawakan di A Bigger Splash (Tilda Swinton, Matthias Schoenaerts, dan Ralph Fiennes), Dakota lebih dari sekadar pemeran figuran: dia mampu memancarkan sinarnya sendiri. Di Fifty Shades Darker, Dakota dijadikan sebagai pusat perhatian. Dakota memang tidak bisa menyajikan Ana sebagai karakter yang unik, namun dia cukup berani untuk menampilkan Ana sebagai karakter yang reaktif dan impulsif di layar. Ana tidak takut pada materi BDSM dan juga tidak takut untuk menunjukkan emosi absurd ketika menemukan materi itu, untuk menunjukkan betapa absurdnya dia bertemu Christian. Ini adalah kinerja yang layak diapresiasi dari film ini: di sini, Dakota begitu menyenangkan untuk ditonton selepas membudak pada sorehari. Namun, tetap saja, hal itu tidak bisa membikin saya sedikit menikmati film ini secara keseluruhan.

Kim Basinger tampil sebagai Elena Lincoln, yang disebut sebagai Mrs. Robinson di Fifty Shades of Grey, seorang perempuan tua yang menjadi mentor untuk mengenalkan Christian ke dunia BDSM dan, pada saat yang sama, dituduh melakukan pemerkosaan terhadap Christian menurut undang-undang. Dalam satu adegan di toilet rumah orangtua Christian saat pesta topeng, Elena muncul sebagai sosok yang mirip Cassandra (putri Raja Priam dan Ratu Hecuba dari Kota Troy dalam mitologi Yunani yang bisa meramalkan masa depan) yang memberi semacam peringatan dan ancaman kepada Ana. Bella Heathcote berperan sebagai Leila Williams, salah satu mantan pacar Christian yang sedikit sinting dengan baju compang-camping (yang membikinnya terlihat seperti figuran dalam Les Misérables [2012]) dan sekarang menguntit Ana. Marcia Gay Harden kembali memerankan Grace Trevelyan-Grey, ibu angkat Christian yang tampak sangat senang bahwa Christian terlibat asmara serius dengan “seseorang yang sangat normal”. Ini adalah campuran yang aneh. Rangkaian adegan seks-nya ditampilkan sebagai sebuah momen-momen kebetulan yang sok serius, bukannya plot menyenangkan yang menjadi faktor penting untuk dibicarakan. Dan itulah kesalahan terbesar dari film receh ini.

Ada begitu banyak “potongan pemikiran” tentang Fifty Shades, baik itu novel dan filmnya, sebab ketika jutaan perempuan tergila-gila pada sesuatu secara massal, maka hal itu menjadi Perhatian Umum. Apa artinya bahwa kaum perempuan menanggapi hal ini secara serius? Baik perempuan maupun lelaki sama-sama berpartisipasi dalam concern-trolling macam ini. Kenapa seorang perempuan yang pasrah menuruti semua tuntutan lelaki misoginis dianggap sebagai sebuah keseksian? Mungkin karena ini adalah bentuk imajinasi dan fantasi, dan kita sama-sama tahu bahwa dua hal itu sering tidak masuk akal. Kamu bisa berfantasi diculik oleh bajak laut, atau berimajinasi diperkosa oleh alien di rumahmu sendiri, dan dalam kehidupan nyata kamu tidak punya keinginan untuk mengalami imajinasi dan fantasi seperti itu. Christian dan Ana sama-sama menyetujui untuk melakukan aktivitas seks. Saya tidak ingin mengatakan bahwa Christian bukanlah orang jahat. Christian adalah mimpi buruk bagi kaum perempuan, namun bukan karena dia mendapatkan kepuasan seksual dengan mengikat dan memukul Ana saat berhubungan seks. Christian adalah kekasih yang buruk sebab dia seenak udelnya melarang Ana pergi ke luar kota untuk melakukan tugas kantor hanya karena cemburu buta. Ada begitu banyak hal nyata yang perlu dikhawatirkan di dunia ini, Christian!

Saat seks disajikan sebagai hal yang (sok) serius — bukannya aktivitas purba yang menyenangkan dan kebutuhan primordial yang dilakukan oleh dua orang dengan ikhlas dan bergairah — maka hal itu bakal berubah menjadi sebuah kewajiban yang melelahkan dan membosankan. Seks bisa — dan sering — menjadi hal yang menggairahkan dan absurd. Secretary (2002), film garapan Steven Shainberg, juga mengisahkan tentang relasi seksual dominance and submission yang mampu menggambarkan rasa takut, hasrat, dan humor secara bersamaan dengan begitu apik. Dengan kata lain, Secretary mengulum ball gag di mulut dan kemudian menelannya juga. Fifty Shades Darker kurang tertarik untuk mengeksplorasi bagaimana kekuatan dan dominasi dalam BDSM harus dinegosiasikan, dan malah lebih tertarik pada narasi konvensional tentang seorang lelaki rapuh yang takut dengan romansa tulus dan seorang perempuan penuh kasih yang berharap pasangannya berubah menjadi kekasih romantis sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Fifty Shades Darker mungkin memakai rantai dan cambuk — namun alih-alih menggairahkan, film ini malah menjadi retro yang membosankan dan sama sekali tidak erotis. Taik, dengan sebutan apa pun, tetap saja baunya tidak enak.

(Dan toyoran sang kekasih di kepala saya adalah ganjaran menggairahkan selepas menonton film ini berdua di kamar kos yang pengap.)

Oh iya, film ini memberikan jawaban terkait rasa penasaran saya tentang apa yang dikerjakan Christian setiap harinya untuk bertahan hidup: membeli perusahaan orang lain.

Sekian, dan terimakasih. :p []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s