Elle (2016)

Poster film. (gambar: IMDb)

MUNGKIN cuma Paul Verhoeven yang membuka film dengan adegan pemerkosaan yang diamati oleh seekor kucing bermata hijau tanpa ekspresi di wajahnya dan kemudian menindak-lanjutinya dengan rangkaian adegan di mana Michèle Leblanc (korban pemerkosaan — diperankan oleh Isabelle Huppert), yang wajahnya bengkak akibat pemukulan oleh si pemerkosa, mengangkat telepon untuk memesan makan malam dan mengajukan pertanyaan tentang menu paket “holiday roll”. Michèle, tentu saja, merasa ketakutan namun tidak sepenuhnya terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpanya: dia membuang gaun yang dia kenakan saat diperkosa ke tempat sampah, lalu dia mandi dan air sabun di bak mandinya berubah warna menjadi merah jambu karena darah yang masih merembes dari area vaginanya dan dia menyapunya begitu saja, menyiratkan bahwa dia lebih memilih untuk melupakan kejadian pemerkosaan itu dan mencoba melanjutkan hidupnya. Michèle tidak segera melaporkan aksi pemerkosaan itu kepada polisi, sebagai gantinya dia malah memesan makan malam. Dalam acara makan malam beberapa hari kemudian, Michèle dengan santai menceritakan bahwa dia telah diperkosa namun mengabaikan saran dan bantuan yang coba diberikan kepadanya. Melalui pengamatan yang cemat, Michèle berencana untuk menghadapi dan mengatasi permasalahannya dengan caranya sendiri. Sangat sulit untuk membayangkan perempuan tegar dan kuat macam Michèle ini meneteskan air mata. Rangkaian adegan pembuka itu hanyalah awal dari rentetan pengalaman gila dan sekaligus menggembirakan dari film Elle. Ini semacam aksi akrobat berjalan di atas tali kawat yang membentang di antara dua gedung paling tinggi di dunia tanpa jaring pengaman di bawahnya.

Film ini — yang didasarkan pada novel berjudul Oh… karangan Philippe Djian dan diadaptasi ke layar sinema oleh David Birke dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Harold Manning — merupakan hibrida maniak yang begitu percaya diri dalam menggabungkan berbagai macam genre. Ini adalah campuran dari genre rape-revenge-ensemble-comedy-thriller-stalker, dan coba bayangkan sendiri hasil dari pencampuran tersebut. Film ini (dengan beberapa penyesuaian yang sinting dan sakit dan cerdik) mengingatkan saya pada penggambaran karakter-karakter perempuan kuat dalam plot-plot cerita yang melibatkan kekasih/suami tukang selingkuh yang gemar melakukan tindak kekerasan, anak-anak kurang ajar, pengkhianatan karier pekerjaan, dan berbagai macam momen horor yang tidak menyenangkan dalam hidup. Saya bisa membayangkan perempuan kuat dan mandiri macam Michèle membuang bajunya ke tempat sampah, menyulut sebatang rokokputih, dan kemudian memesan menu makan malam setelah diperkosa di ruang tamunya. Perempuan-perempuan kuat dan mandiri macam Michèle tidak bakal pergi ke kelompok terapi atau kantor polisi, atau update status menye-menye di media-sosial: mereka akan melawan dan mengatasi semua permasalahan dan horor hidupnya dengan kekuatan mereka sendiri, dengan sekeras-kerasnya upaya, dengan sehormat-hormatnya.

Film ini dipenuhi dengan berbagai macam karakter. Michèle memiliki banyak hal: seorang tetangga ganteng (Patrick [Laurent Lafitte]) yang sudah kawin dan pernah dia amati menggunakan teropong dari jendela kamarnya sembari masturbasi; relasi seksual yang sudah basi dan membosankan dengan suami (Robert [Christian Berkel]) dari sahabatnya sendiri (Anna [Anne Consigny]); proyek mendesak di tempat kerja (dia memiliki sebuah perusahaan video game); mantan suami (Richard Casamayou [Charles Berling]) yang berkencan dengan instruktur yoga cantik yang lebih muda (Hélène [Vimala Pons]); ibu kandung (Irène Leblanc [Judith Magre]) yang terlalu sering melakukan operasi plastik dan sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang gigolo (Ralph [Raphaël Lenglet]); seorang anak lelaki pemalas (Vincent [Jonas Bloquet]) yang punya pacar kejam (Josie [Alice Isaaz]) yang sedang hamil; dan kisah masa lalu yang rumit dan pelik yang diungkap sepotong demi sepotong seiring berjalannya plot cerita. Semua itu, ditambah kejadian pemerkosaan yang baru saja dialami, menjadi hal-hal yang harus dihadapi oleh Michèle dalam rutinitas hariannya. Dan kemudian Michèle mulai mendapatkan teror menyeramkan berupa pesan-pesan teks dari si pemerkosa yang belum jelas identitasnya: bahwa vaginanya terlalu sempit untuk ukuran perempuan seusianya, bahwa si pemerkosa tahu di mana dia berada dan sedang memakai baju apa. Semua lelaki yang dikenal Michèle bisa menjadi tersangka yang memerkosanya. Sebagai pertahanan diri, Michèle membeli semprotan merica dan kapak kecil. Michèle, pada satu adegan, mengatakan: “Aku bisa mengatasi orang gila. Itu adalah keahlian khususku.” Saya memercayai kata-kata Michèle itu dan yakin seyakin-yakinnya dia memang bisa mengatasi semuanya, namun, pada satu titik, trauma dan kengerian dari horor yang pernah dialaminya itu bakal mengulurkan tentakel untuk menjerat dan melukainya lebih dalam dan lebih parah lagi.

Verhoeven melengkapi gravitasi pemerkosaan Michèle dengan dekonstruksi terhadap kelas borjuis Prancis. Meminjam dari maestro surealisme Spanyol, Luis Buñuel, Elle menyisipkan komedi-hitam yang cerdas dalam rangkaian adegan makan malam pesta Natal di rumah Michèle. Dengan pasangan saleh (Rebecca [Virginie Efira] dan Patrick) serta pasangan Irène dan Ralph, film ini menampilkan interaksi yang sangat tidak menyenangkan dan tidak nyaman — namun selalu cerdas. Adegan itu menyajikan kontras yang cukup gamblang dengan momen pemerkosaan Michèle dalam film ini, namun mampu menunjukkan kontrol Michèle yang tidak biasa terhadap situasi yang ada di sekitarnya.

Verhoeven mengaduk-aduk ketegangan dan misteri yang ada dari aspek “identitas si pemerkosa” dalam Elle dengan memberikan beberapa petunjuk yang samar-samar sejak awal filmnya tentang siapa-siapa yang mungkin memerkosa Michèle, untuk kemudian memutar plot cerita ke arah konklusi yang memuaskan. Verhoeven tertarik pada kondisi psikologi dan perilaku Michèle: kameranya mengikuti Michèle ke mana-mana layaknya seorang penguntit yang sedang jatuh cinta. Seperti dalam kehidupan nyata, entah kita — saya dan kamu — mau mengakuinya atau tidak, garis-garis yang menjadi pembatas itu sering terlihat samar-samar. Setiap interaksi, tidak hanya seksual dan politik, mengandung dorongan kecil untuk menguasai, untuk mendominasi, untuk mengukuhkan posisi. (Siapa “yang berada di atas”? Siapa “yang harus rela berada di bawah” pada momen-momen tertentu?) Selalu ada tujuan untuk berkompetisi dalam setiap percakapan, masing-masing orang bakal melakukan manuver tertentu untuk mendapatkan apa-apa yang mereka inginkan. Dorongan untuk mendapatkan kekuatan dan kekuasaan datang dalam berbagai bentuk, bermain-main dalam dinamika hubungan yang romantis, bahkan dalam percakapan santai sewaktu ngopi bareng dengan kawan-kawan di mana kamu merasa ingin menyampaikan suatu hal yang penting dan semua kawanmu terlalu sibuk dengan ponsel-cerdas masing-masing. Elle adalah disertasi tentang dinamika kekuatan/kekuasaan.

Pendekatan yang dilakukan Verhoeven dalam film ini sangat provokatif, dan itu bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Michèle adalah seorang perempuan berusia 50an dan seksualitas di dalam dirinya sedang bergelora untuk mencari ekspresi atau pelampiasan. Hal itu membawa Michèle ke beberapa hal yang cukup gelap. Dalam kehidupan nyata, seks seringkali tidak berkembang dalam daftar perilaku yang disetujui yang terjadi dalam urutan yang benar. Seks bisa saja hanya tentang dua orang pada satu momen acak tertentu karena terkadang orang-orang tertartik pada bahaya untuk mengambil risiko. Pemerkosaan bisa menjadi fantasi duniawi yang sangat umum: bahwa persetujuan untuk melakukan aktivitas seks adalah keputusan yang dibikin secara mendadak pada saat-saat terakhir dan tidak mungkin bisa diubah. Pilihannya adalah setuju atau tidak setuju.

Michèle menolak dianggap sebagai korban, dan Verhoeven menggunakan humor cerdik untuk menegaskan hal itu. Dari ketenangannya dalam merespons aksi pemerkosaan yang baru saja dialaminya, sudah jelas bahwa Michèle berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas dirinya. Ketika sudah pulih secara fisik, Michèle tidak hanya ingin membalas dendam pada lelaki yang telah memerkosanya, namun dia juga ingin merebut kendali yang telah dicuri paksa oleh si pemerkosa. Pertarungan untuk mendapatkan kekuatan dan kekuasaan ini menuntun pada salah satu momen paling menggembirakan dari film ini, saat Michèle berhadapan muka untuk kedua kalinya dengan si pemerkosa dan memilih untuk merespons momen itu dengan cara yang sangat mengejutkan.

Tidak ada keraguan untuk menyebut bahwa pemerkosaan dalam film ini (atau dalam kehidupan nyata) merupakan hal yang sangat mengerikan, dan saya tidak bakal membenarkan dan membelanya. Verhoeven tidak memberikan sentuhan erotis dalam adegan pemerkosaan di film ini. Selepas memerkosa dengan biadab, si pemerkosa langsung menyeka rembesan darah dari vagina Michèle yang menempel di pahanya untuk kemudian berdiri dan meninggalkan Michèle tergeletak tidak berdaya di lantai. Namun dalam satu rangkaian adegan lainnya, ketika telah mengetahui identitas si pemerkosa yang sebenarnya serta dengan berahi membara dan antusias tinggi, Michèle “setuju” untuk berhubungan seks (untuk diperkosa lagi) namun kali ini dia menggunakan seksualitasnya untuk melucuti keberanian dan meruntuhkan rasa percaya diri si pemerkosanya karena dia tidak mampu mengalahkan si pemerkosa secara fisik. Kerelaan Michèle untuk diperkosa dan disakiti tampak membingungkan si pemerkosa yang memprotes: “Cara kerjanya bukan seperti itu. Tidak bagiku. Harus seperti sebelumnya.” Namun Michèle sudah tidak peduli, dia menggunakan serangan yang menyakitkan itu untuk pemberdayaan dan kepuasan seksualnya sendiri, dengan terengah-engah di lantai ruang bawah tanah yang dingin ketika mengalami orgasme sehabis diperkosa. Si pemerkosa (dan saya, pada titik tertentu) merasa ngeri, namun itulah poin utamanya, sebab Michèle telah melucuti kekuatan dan kepuasannya melalui kekerasan yang telah disetujui dan diizinkan oleh Michèle.

Dan itu, pada akhirnya, merupakan observasi yang paling tajam dan pedas di Elle, serta tujuan Verhoeven benar-benar mematikan dan sungguh akurat. Kebanyakan lelaki tidak tahu harus melakukan apa ketika dihadapkan dengan seorang perempuan yang sangat menginginkan seks dan paham apa-apa yang diinginkannya dalam seks. Kebanyakan lelaki yang selalu ingin “berada di posisi atas”, yang ingin selalu memegang kendali, bakal merasa terancam dan kebingungan oleh perempuan yang mengambil peran untuk “berada di posisi atas” (bukan hanya sekadar dalam posisi seksual, namun lebih dalam sikapnya yang mengambil-alih kendali). Permasalahan seksis ini telah ada sejak awal peradaban manusia, dan tidak bakal bisa diselesaikan dalam waktu semalam saja. Namun Elle adalah salah satu karya sinematik paling cerdas tentang “persetujuan seks” yang pernah saya tonton sampai detik ini.

Huppert di film ini tidak perlu bersusah-payah untuk menyodorkan tawaran apa pun agar bisa memenangkan simpati dan empati saya. Dan, bahkan, Huppert tidak perlu melakukan hal yang istimewa di sepanjang karier panjangnya di dunia perfilman untuk merebut perhatian saya dan ini adalah salah satu hal yang membedakannya dengan aktris-aktris lainnya. Bagi saya, Huppert adalah keistimewaan itu sendiri. (She’s the one and only Isabelle Huppert, for fuck’s sake!) Aktris yang paling berbakat sekali pun ingin memastikan bahwa saya “paham dan mengerti” mengapa karakter yang diperankannya melakoni apa-apa yang dia lakukan di depan kamera dengan berbagai macam kemampuan akting yang brilian, namun Huppert tidak memedulikan hal semacam itu. Huppert benar-benar melampaui kekhawatiran receh macam itu: dia begitu tulus dan asli dalam melakukan pekerjaannya. Hal inilah yang membikin Huppert begitu istimewa (she’s the one and only Isabelle Huppert, for fuck’s sake!) dan sangat menyenangkan untuk ditonton, serta masuk dalam daftar langka dari aktris-aktris yang selalu memesona: Mélanie Laurent, Monica Vitti, Liv Ullmann, Audrey Hepburn, Charlotte Gainsbourg, Jodie Foster, Catherine Deneuve, dan Ladya Cheryl. Selalu ada beberapa elemen misteri yang utuh tertinggal dalam kinerja Huppert: dia bisa menjadi begitu hampa dan menakutkan (La Cérémonie [1995], The Piano Teacher [2001]), dia bisa tampak manusiawi dengan segala kekurangannya (Amour [2012], Things to Come [2016]). Di Elle, Huppert menjadi Michèle yang rumit, mandiri, kuat, dan tidak ada bandingannya. Dan, oh iya, di sini Huppert juga menjadi lucu dengan komedi-hitamnya, terutama dalam penyampaian baris dialognya (“Wanita-wanita bodoh dengan payudara besar tidak membikinku khawatir. Tapi seorang wanita yang membaca ‘The Second Sex’ bakal menelanmu. Dan dia akan memuntahkanmu.”) dengan gerak-gerik tubuh dan ekspresi wajahnya. Dan itu sangat menyenangkan untuk ditonton! Saya tidak bisa melepaskan fokus pandangan sedetik pun dari Huppert, dan begitu pula Verhoeven. Huppert adalah salah satu keistimewaan yang unik di dunia. (She’s the one and only Isabelle Huppert, for fuck’s sake!)

Menonton Elle terasa seperti mendaki gunung paling tinggi di alam semesta tanpa membawa tangki oksigen dan jaket supertebal. Pemandangannya memesona dengan suara-suara indah yang ada di dalam keheningan sekitar dan udaranya begitu segar. Namun itu bisa membikin kepala pusing dan dada sesak, serta tubuh menggigil tidak keruan. Ancaman berbahaya yang melenakan, risiko yang layak untuk dijalani, sebuah pengalaman memukau yang bermakna. Dan saya selalu gagap mengendalikan dingin yang jahanam ~

~ dan saya akrofobia. []

Advertisements

2 thoughts on “Elle (2016)

  1. Buset mas penjelasannya keren abis!

    Saya nonton ini dan gagap dengan maksud the director. Saya cuma mikirnya nih director cuma sibuk mengeksploitasi seksualitas aja… tapi berkat mas saya jadi manggut-manggut maksud film ini dan kenapa film ini keren. Haha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s