The Autopsy of Jane Doe (2016)

Poster film. (gambar: IMDb)

KETIKA berselancar di salah satu situs pencari berkas torrent untuk membunuh kebosanan di jam-jam membudak, saya berhenti di salah satu poster film paling menarik perhatian pada saat itu: gambar dari seorang perempuan setengah telanjang dengan mata berwarna abu-abu, mulut tertutup, rambut terurai, dan lubang hidung sebelah kanannya mengeluarkan darah kental, yang ditampilkan terbalik dan di bawahnya tertulis The Autopsy of Jane Doe. Saya mengunduh file filmnya dan langsung menyetelnya selepas kerja, sekitar jam 11 malam bertemankan secangkir kopihitam hangat dan beberapa batang rokokputih. Ekspektasi saya untuk menonton film horor tengah malam terpuaskan karena film ini menyajikan kisah menyeramkan yang bakal menghantui bunga tidur siapa pun. The Autopsy of Jane Doe adalah salah satu film horor yang efektif dan menakutkan yang pernah saya tonton belakangan ini.

Seperti kebanyakan film-film horor keren lainnya, film garapan André Øvredal ini berhasil mengawinkan konsep menyeramkan yang diusung dengan penampilan solid dari pemeran utamanya. Ketika genre horor telah menjadi salah satu cara terbaik bagi para sineas indie untuk menceritakan kisah-kisah yang lebih personal, penekanan pada kinerja aktris/aktornya juga mengalami peningkatan yang signifikan, menuntun ke hasil yang memuaskan dan brilian macam Goodnight Mommy (2014), The Babadook (2014), The Shallows (2016), Don’t Breathe (2016), dll. Konsep The Autopsy of Jane Doe bisa menjadi salah satu kisah hantu yang menyeramkan ketika diceritakan saat ngopi bareng kawan-kawan di pos ronda pada malamhari, sementara kinerja brilian dan dedikasi tinggi dari dua pemeran utamanya (Emile Hirsch dan Brian Cox) untuk menguraikan konsepnya membikin film ini menjadi karya sinematik yang efektif.

Dua aktor yang saya sebutkan di atas berperan sebagai ayah (Tommy Tilden [Cox]) dan anak lelakinya (Austin Tilden [Hirsch]) yang bekerja di salah satu tempat yang inheren dengan hal-hal menyeramkan bagi siapa saja: kamar mayat. Rangkaian adegan pembukanya mampu membangun dan memelihara atmosfer menyeramkan film ini dengan begitu syahdu, manis, dan — tentu saja — menakutkan. Hirsch dan Cox berhasil memainkan peran masing-masing dengan baik untuk menampilkan kesan bahwa Tommy adalah pak tua berpengetahuan luas di bidang autopsi mayat dan Austin merupakan remaja ingusan yang mencoba beradaptasi dengan aktivitas bedah-membedah mayat. Kecakapan akting Hirsch dan Cox juga mampu memberikan gagasan bahwa mereka berdua memang bisa membaca sebuah cerita dari seonggok tubuh manusia yang sudah mati tidak bernyawa.

Film ini dibuka dengan satu-satunya rangkaian adegan yang terjadi di luar kamar mayat ketika kesatuan polisi yang dipimpin oleh Sheriff Sheldon Burke (Michael McElhatton) melakukan investigasi di sebuah rumah yang penuh dengan korban pembunuhan brutal. Ada mayat dari anggota keluarga pemilik rumah tersebut di beberapa tempat, tergeletak dengan kondisi mengenaskan dan benar-benar berantakan, namun hal paling aneh yang berhasil ditemukan adalah mayat perempuan telanjang tanpa identitas yang setengah terkubur di ruang bawah tanah dan kondisinya masih utuh. Apa penyebab kematian mayat perempuan telanjang itu? Dan, yang paling penting, siapakah mayat perempuan telanjang itu? Mayat perempuan telanjang itu — yang kemudian dinamai dengan Jane Doe (sebuah eponim yang selalu digunakan untuk merujuk pada mayat atau pasien tanpa identitas) — kemudian dibawa ke kamar mayat Tommy dan Austin untuk diautopsi. Jadi, kisah apa yang bakal diceritakan Jane Doe kepada Tommy dan Austin? Kondisi internal tubuh Jane Doe ternyata benar-benar rusak: dia sepertinya diikat dan disiksa sebelum mati; lidahnya dipotong secara paksa; paru-parunya gosong terbakar. Namun kondisi tubuh luarnya tetap utuh, mulus, dan bersih. Dan kemudian hal-hal aneh mulai terjadi secara bergantian dan intens.

Pertarungan antara rasa takut terhadap mayat dan kengerian terhadap pembedahan klinis di meja autopsi berhasil menarik dan mendorong saya ke arah yang berbeda dengan konstan sehingga mampu menghadirkan keseraman yang menggugah ketimbang rasa bosan. Seiring berjalannya plot cerita dan menonton Tommy beraksi, menuntun Austin (dan saya) melalui aktivitas autopsi, dia menjelaskan bahwa kondisi mayat memberikan petunjuk tentang eksistensi dan penyebab kematiannya — petunjuk yang berguna untuk mengidentifikasi Jane Doe. Menonton Tommy membelah bagian tubuh dan otak Jane Doe dengan perlahan, metodis, dan cermat berhasil membikin tengkuk saya ngilu dan merinding serta perut mual, namun itu semua diimbangi dengan rincian penjelasan yang memuaskan dari Tommy terkait apa-apa yang dia temukan dalam aktivitas autopsi tersebut. Bahkan ketika hal-hal aneh mulai terjadi, saya samar-samar merasa aman di bawah bimbingan Tommy sebab dia memiliki penjelasan yang logis untuk semuanya. Di tengah-tengah kegelisahan Austin (dan kegelisahan saya sendiri), Tommy mampu memberikan rasa aman — yang, tentu saja, sebenarnya tidak ada.

Rasa gelisah menguasai tubuh saya ketika Tommy dan Austin mulai melakukan autopsi terhadap mayat Jane Doe, dan perasaan itu berubah menjadi kengerian yang lebih besar ketika mereka berdua membelah tubuh Jane Doe semakin dalam. Pada sayatan pertama, darah tiba-tiba merembes dari mayat Jane Doe — suatu hal yang seharusnya tidak bakal terjadi jika kita menyayat mayat seseorang. Tubuh Jane Doe memberikan beberapa petunjuk: ada sisa-sisa tanah gambut di rambut dan kukunya, sementara di perutnya terdapat Jimsonweed (tanaman yang menyebabkan kelumpuhan) dan perkamen tua aneh bertuliskan simbo-simbol aneh yang digunakan untuk membungkus gigi gerahamnya. Petunjuk-petunjuk janggal itu malah menimbulkan banyak pertanyaan, ketimbang memberikan jawaban pasti. Ketika Tommy dan Austin terus bekerja sampai malamhari, badai dahsyat sedang mengamuk di luar, siaran radio dan jaringan komunikasi mulai kacau, listrik padam, membikin mereka berdua (dan saya) terjebak di tempat gelap yang penuh dengan mayat dan aura kemarahan supernatural yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Dan saya tahu bahwa itu semua bukanlah pertanda baik.

Øvredal, yang meraup kesuksesan internasional setelah menggarap film cult berjudul Trollhunter (2010), berhasil menyajikan setup awal yang sederhana namun indah dan fantastis dalam satu jam durasi awal film ini. Salah satunya adalah adegan yang menampilkan Tommy sedang menjelaskan tradisi atau kebiasaan mengikatkan lonceng kecil di salah satu jari kaki mayat hanya untuk memastikan bahwa mayat itu memang benar-benar sudah mati, bukan dalam keadaan koma. Penggemar film horor — dan mungkin kamu salah satunya — bakal tertawa mendengarkan penjelasan Tommy tersebut, sebelum akhirnya merinding panas-dingin tidak keruan ketika suara denting lonceng memainkan peran menyeramkan sekitar 30 menit kemudian. (Sumpah demi apa pun, itu merupakan rangkaian adegan menyeramkan yang sebelumnya berhasil dibangun dengan trik brilian dengan memanfaatkan perangkat film yang terkesan sederhana dan saya sampai harus menekan tombol pause untuk memastikan bahwa tidak ada suara denting lonceng di sekitar kamar kos saya.) Itu adalah trik yang hebat, yang memberikan kesan seram yang sama seperti ketika film horor tentang rumah berhantu yang memungkinkan penontonnya melihat pintu atau jendela berderit pada sianghari sebelum tiba-tiba bergerak sendiri tanpa sebab yang jelas di malamhari. First dan second act di film ini memiliki struktur setup/pay-off yang begitu indah dan bikin merinding. Ketika saya mulai penasaran dengan identitas asli dari Jane Doe, film ini semakin meningkatkan ketegangan dan keseramannya. Ini, pada dasarnya, merupakan film horor rumah berhantu yang keren dan hebat — dengan pergantian tempat dari rumah menjadi kamar mayat. Dan, sekali lagi, kinerja akting yang kuat dan mengagumkan dari Hirsch dan Cox berhasil menjual apa-apa yang ingin dijual oleh film ini: mereka berdua sukses membikin saya merinding ngeri sendirian di kamar kos pengap pada tengah malam yang … ah, bangsat!

Hal ini berlaku sekitar satu jam dari total keseluruhan durasi 86 menit filmnya dan kemudian The Autopsy of Jane Doe berpacu pada sebuah klimaks menuju konklusi yang (sedikit) tidak masuk akal. Bisa dibilang bahwa film ini lebih efektif dalam membangun setup awalnya ketimbang rangkaian adegan klimaks di third act-nya yang seolah-olah mempertanyakan “niat baik” masyarakat yang malah berubah menjadi mimpi buruk dalam menciptakan monster, namun konklusi itu disajikan dengan tidak masuk akal dan banal. Desis bisikan di kuping terasa lebih menyeramkan ketimbang teriakan langsung di wajah. Tetapi klimaks tidak masuk akal itu masih bisa dimaafkan karena setup awalnya dibangun dengan sangat cerdik, dan juga karena di awal bulan seperti ini saya selalu berubah menjadi individu baik hati yang bisa memaafkan hal-hal sepele.

Setelah ini, saya sepertinya bakal ngeri dan tidak tenang ketika mendengar suara denting lonceng.

Jadi, ya begitulah … hehehe

ting-a-ling! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s