T2 Trainspotting (2017)

Poster film. (gambar: murphyalex.com”)

BAGI kamu atau siapa pun yang merindukan pesona sinema indie era ‘90an dan, terutama, film Trainspotting (1996), T2 Trainspotting mampu memberikan gairah romantisme nostalgia itu dengan cara yang lumayan tepat. Dan ketika saya bilang “lumayan tepat”, itu berarti film ini memang memberikan nostalgia dengan “lumayan tepat”. Sekuel garapan Danny Boyle ini menyajikan hal yang hampir sama dengan film pertamanya yang pada saat itu berhasil mendefinisikan semangat generasi era ‘90an. Tampaknya, satu-satunya tujuan Boyle untuk membikin film ini adalah memanfaatkan kesempatan untuk memasuki kubangan nostalgia masa lalu, untuk mengingat-ingat kembali apa-apa yang telah dilewati sebelumnya, dan kemudian menggunakannya untuk menyampaikan ketidak-berdayaan karakter-karakternya menghadapi banalitas hidup mereka hari ini. Ini merupakan pengulangan mutlak, lengkap dengan isyarat visual, ledakan musik, beberapa baris dialog, dan bahkan cuplikan klip yang diambil dari film pertamanya, untuk kemudian digabungkan sedemikian rupa ke dalam plot cerita dan rangkaian adegan sekuelnya.

Kenapa baru sekarang merilis sekuel Trainspotting?” Pertanyaan itu masih berputar-putar di dalam batok kepala saya setelah menghabiskan 117 menit menonton Simon “Sick Boy” Williamson (Jonny Lee Miller), Mark “Rent Boy” Renton (Ewan McGregor), Francis “Franco” Begbie (Robert Carlyle), dan Daniel “Spud” Murphy (Ewen Bremner) yang sekarang berusia 20 tahun lebih tua. Boyle bisa membikin film apa pun yang dia inginkan, dan dia telah menyutradarai The Beach (2000), 28 Days Later (2002), Sunshine (2007), Slumdog Millionaire (2008), 127 Hours (2010), dan Steve Jobs (2015). Boyle merupakan sutradara yang tidak takut mengambil risiko. Dengan meninjau-ulang Trainspotting, dan bila dibandingkan dengan film-film yang saya sebut sebelumnya, Boyle malah terkesan memainkan dan menyajikan T2 Trainspotting dengan “rasa aman yang janggal”. Kecerdasan visual Boyle masih terasa di sini, namun dia kehilangan sentuhan naratifnya.

Pemilihan judul T2 Trainspotting mengisyaratkan bahwa film ini melaju dalam gerak konstan ke depan meskipun hal itu juga membikinnya mirip dengan film pertamanya. Film ini bahkan dibuka dengan rangkaian adegan yang menampilkan Rent Boy sedang berlari, namun kali ini dia berlari di atas treadmill di sebuah pusat kebugaran, bukannya berusaha melarikan diri dari kejaran polisi seperti di film pertamanya. Naskah film ini — yang ditulis oleh John Hodge berdasarkan dua novel karangan Irvine Welsh: Trainspotting dan Porno — mengirim Rent Boy ke kampung halamannya di Edinburgh, sebuah lingkungan kelas pekerja di Skotlandia, dari Amsterdam, Belanda.

Rent Boy telah menjalani kehidupan yang nyaman bermodalkan uang sebesar £16.000 yang berhasil dia curi dari kawan-kawannya setelah menuntaskan transaksi penjualan heroin yang mereka lakukan di akhir film pertama. Ekspresi puas dan senyum lega di wajah Rent Boy muda melintasi jembatan dengan tas ransel penuh uang di tangannya merupakan salah satu dari sekian banyak cuplikan klip kilas-balik yang menjadi kunci Boyle untuk menghadirkan kembali romansa nostalgia dan kesegaran di sini. Dengan bantuan dari Anthony Dod Mantle (sinematografer) dan Jon Harris (editor), Boyle juga mencoba mencipta-ulang kombinasi dari visual yang mengejutkan dan pace menyenangkan yang dulu berhasil membikin Trainspotting menjadi salah satu karya sinematik yang riang, jujur, dan menggetarkan hati.

Karakter-karakter utama di T2 Trainspotting tidak mengalami banyak perubahan. Spud yang simpel dan lugu tetap menjadi pecandu yang kini ditampilkan melarat dan sedang dilanda depresi akut dan dalam proses percobaan bunuh diri ketika Rent Boy mampir ke apartemennya. Sick Boy yang keras kepala kini ditampilkan sedang mengelola pub warisan bibinya yang tampak lebih kumuh dari sebelumnya dan nyaris tidak sepopuler dulu. Rent Boy membangun kembali serpihan hidupnya di Amsterdam, serta mengaku telah terbebas dari narkoba dan obat-obatan yang dulu pernah menghipnotis dan mencengkeram erat dia dan kawan-kawannya di Edinburgh. Dan Franco masih seorang pemarah bengis seperti sebelumnya yang menghabiskan waktunya di penjara dan sekarang berusaha untuk berhubungan kembali dengan anaknya yang nyaris tidak dia kenal dengan menyeret anaknya ke dalam kehidupan kriminal. Di antara semuanya, Franco masih menyimpan dendam yang membara atas pengkhianatan Rent Boy di akhir film pertama.

Pada dasarnya, plot cerita film ini menampilkan Rent Boy mondar-mandir ke sana-sini, bertemu dan berhubungan dengan karakter-karakter lain, termasuk kekasih Sick Boy bernama Veronika Kovach (Anjela Nedyalkova), seorang pelacur dengan hati emas yang memiliki impian untuk membantu Sick Boy mengubah pub tua menjadi rumah bordil mewah. Namun Veronika pada dasarnya eksis hanya untuk mendengarkan ocehan Sick Boy dan Rent Boy tentang apa pun: mulai dari sepakbola, George Best, curhatan kisah masa lalu, sampai monolog “Pilihlah Hidup” dari Rent Boy yang satire dan terasa mengerikan ketimbang versi aslinya di Trainspotting. Rangkaian adegan-adegannya adalah contoh penting bagaimana T2 Trainspotting berhasil membangun irama yang akrab: saya tidak merasa teralienasi, dan saya mengalami nostalgia yang cukup manis. Namun, tetap saja, manisnya romantisme nostalgia yang terlalu sering diumbar pada akhirnya mengubah film ini menjadi sesuatu yang klise dan culas.

Keseluruhan pace dan atmosfer film ini sebenarnya berjalan tidak menentu, suatu kejanggalan mengingat film ini adalah bikinan Boyle. Film ini punya momen lucu dan beberapa kilas-balik yang bisa membikin saya tersenyum: adegan yang menampilkan Rent Boy di toilet superkotor, misalnya, atau ketukan drum yang khas dari intro lagu Lust for Life-nya Iggy Pop. Miller dan McGregor mampu menampilkan kekompakan yang hangat di layar, terlepas (atau, mungkin, karena) gesekan pahit yang mendefinisikan relasi karakter mereka berdua di film ini. Sementara itu, Kelly Macdonald (sebagai Diane Coulston) tiba-tiba dimunculkan begitu saja dan terlampau singkat, terasa seperti tempelan yang diletakkan secara serampangan dalam plot cerita dan terkesan sebagai sebuah kesalahan yang disengaja. Di film pertama, Diane merupakan gadis di bawah umur penggila pesta yang sering nongkrong dengan Rent Boy dkk.; kini, di sekuelnya, Diane adalah seorang pengacara hukum yang tampak terlalu tegang dan terlampau serius, seolah-olah itu merupakan karma atau semacam penghukuman sosial atas perbuatannya dulu.

Teknik editing untuk menampilkan rangkaian cuplikan klip kilas-balik di beberapa momen film ini dilakukan dengan baik, meski hal itu semakin menunjukkan bahwa Boyle sangat bergantung pada nostalgia dan eksploitasi kenangan. Motivasi karakter-karakter dalam film ini didorong oleh ingatan mereka tentang masa lalu dan ketidak-berdayaan untuk mewujudkan hasrat agar bisa menyimpulkan narasi njelimet hidup mereka hari ini. Ketergantungan itu membikin film ini terasa seperti sebuah epilog, bukannya sekuel.

T2 Trainspotting tidak bisa menemukan alur budaya dan gagal memberikan pernyataan politik seperti prekuelnya dulu. Adegan yang menampilkan Rent Boy berdiri dengan canggung di kamar tidur masa kecilnya di rumah orangtua-nya, dengan wallpaper bergambar kereta api yang masih menutupi dinding kamar dan kelihatannya tidak tersentuh selama 20 tahun, adalah simbol dari keseluruhan usaha Boyle untuk film ini. Hanya karena kamu akhirnya “bisa” pulang ke rumah lagi setelah sekian tahun, bukan berarti kamu “harus” melakukannya.

Dan andai saja Boyle menunggu delapan tahun lagi, bisa jadi film sekuel ini bakal diberi judul 28 Years Later, eh? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s