The Fate of the Furious (2017)

Poster film. (gambar: “IMP Awards”)

Setelah meraih kesuksesan dengan Straight Outta Compton (2015), F. Gary Gray melompat ke salah satu waralaba paling sukses sepanjang masa dengan menyutradarai The Fate of the Furious: seri kedelapan yang tampaknya semakin mempertegas polarisasi, memecah-belah para penikmat film menjadi dua kubu — pro dan kontra. Seberapa sukses waralaba ini dari segi pendapatan finansial? Waralaba Fast & Furious telah menghasilkan pendapatan hampir $4 miliar di seluruh penjuru dunia, dengan Furious 7 (2015) berhasil memecahkan rekor pendapatan seri sebelumnya, menghasilkan $1,5 miliar. Waralaba besar ini dimulai dengan film The Fast and the Furious (2001) yang berhasil menemukan perpaduan sempurna antara daya tarik internasional, rangkaian adegan action memuaskan, kegembiraan sederhana dari balap-liar jalanan, dan, tentu saja, penekanan pada “keluarga” (apa pun artinya kata itu bagimu), yang kemudian berkembang menjadi seri film megah dan paling konyol sepanjang sejarah dunia sinematik. Terlepas dari berbagai macam ulasan negatif yang sudah ada, waralaba ini sudah terlampau besar untuk dianggap sebagai sebuah kegagalan, dan bisa dipastikan bakal terus memproduksi film-film lanjutan untuk masa-masa mendatang. Namun bukan berarti saya (dan kamu) tidak boleh merasa kecewa, sebab The Fate of the Furious dengan jelas menurunkan level kualitas dari waralaba Fast & Furious untuk pertama kalinya dalam satu dekade ini.

Dengan tujuh film yang selama ini telah mendapatkan perhatian yang sangat luas dalam hal daya tarik kritis, tidak salah rasanya jika kita — saya dan kamu — juga mendeklarasikan selera pribadi terhadap film-film yang ada di waralaba Fast & Furious ini. Saya tidak terlalu peduli dengan film-film dari waralaba Fast & Furious sampai mereka merilis Fast Five pada tahun 2011 meskipun saya setuju bahwa The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006) mengambil lebih banyak risiko dan, jujur, lebih menyenangkan ketimbang detik-detik mengerikan (2 Fast 2 Furious [2003]) dan yang paling buruk dari waralaba ini (Fast & Furious [2009]). Butuh lima film untuk akhirnya memahami waralaba Fast & Furious, yang berubah menjadi semacam roller coaster yang naik-turun dan berganti-ganti untuk semakin meninggalkan keseimbangan nyaris sempurna dari rangkaian adegan laga yang indah dan rangkaian baris dialog tentang “keluarga”. Waralaba ini tampaknya ingin menjawab pertanyaan “bagaimana jika kita membikin film yang isinya berupa potongan-potongan gila dari adegan pembuka film-film James Bond, dan ditambah pembicaraan tentang ‘keluarga’?”. Dan waralaba ini menjadi sedikit lebih menarik dengan masuknya wajah-wajah baru macam Jason Statham, Kurt Russell, dan Dwayne Johnson: iya, mereka bertiga terlihat konyol dan menggelikan — namun itu juga yang membikin mereka mampu memberikan kesan menyenangkan.

Jadi, mengapa The Fate of the Furious malah terasa receh dan kurang menyenangkan ketimbang film-film pendahulunya? Setelah menonton film ini untuk pertama kali dengan teman kerja dan mendapati kesan yang biasa-biasa saja karena tidak terlalu fokus dan setengah mengantuk, saya menonton-ulang film ini di kamar kos ditemani secangkir kopihitam hangat dan sebungkus rokokputih dengan harapan bisa mendapatkan hiburan yang menegangkan di pagihari yang dinginnya jahanam betul. Alih-alih mendapatkan hiburan menegangkan, saya malah terus-menerus memikirkan pertanyaan yang saya tulis di awal paragraf ini ketika kredit akhir film mulai bergulir di layar laptop butut saya. (Film ini relatif menyenangkan bila dibandingkan dengan film-film blockbuster penuh lubang lainnya di tahun 2017 ini, namun relatif receh dan mengecewakan bila dibandingkan dengan level yang sudah diraih oleh film-film lain dalam waralaba Fast & Furious.) Alasan yang pertama, dan yang paling penting, ini merupakan film dengan durasi lebih dari dua jam dan nyaris tidak memiliki plot sama sekali. Dominic “Dom” Toretto (Vin Diesel) mengkhianati timnya (atau “keluarga”-nya) setelah dipaksa dan dimanipulasi oleh karakter penjahat bernama Cipher (Charlize Theron). Tim lawas Dom (Tej Parker [Chris “Ludacris” Bridges], Roman Pearce [Tyrese Gibson], Ramsey [Nathalie Emmanuel], Luke Hobbs [Johnson], dan Letty Ortiz [Michelle Rodriguez]) berupaya mati-matian untuk menghentikan Dom dan membawa kembali Dom menjadi bagian dari “keluarga” mereka. Itu premis dari plot ceritanya.

Di sepanjang film, nyaris semua karakternya mendapatkan dan menampilkan emosi yang setengah-setengah. Rodriguez telah melakukan segalanya untuk memerankan Letty yang terjebak dalam campur-aduk emosi antara kebingungan dan rasa cinta yang tulus untuk Dom. Statham dan Johnson juga sudah melakukan banyak hal dalam menghidupkan rangkaian adegan perselisihan karakter yang mereka perankan, bahkan adegan-adegan perselisihan itu lebih mirip film-film aksi-komedi era ‘80an ketimbang genre action yang diusung waralaba Fast & Furious. Bahkan setting film ini tampak tipis dari segi penulisan skripnya. Rangkaian adegan laga film ini melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, di seluruh penjuru dunia dengan cara untuk menarik perhatian penonton internasional demi profit yang lebih banyak ketimbang untuk memanfaatkan lokasi demi kepentingan sinematik. Saya membayangkan sebuah papan tulis di ruang penulis skripnya yang bertuliskan “Rusia = dingin, Kuba = panas”. Dan sementara waralaba ini telah menjadi semacam lelucon untuk mengatakannya sebagai karya sinematik tentang “keluarga”, hal itu benar-benar berfungsi seperti penopang di sini. Karakter-karakter di film ini menggunakan kata “keluarga” sebanyak 17 kali, seolah-olah itu merupakan trik andalan mereka ketika sutradara dan penulis skripnya tidak bisa memikirkan hal lain yang lebih cerdas untuk menghubungkan rangkaian adegan laga dalam plot ceritanya.

Para fans garis keras selalu memberikan pembelaan bahwa plot cerita yang syahdu bukanlah hal yang paling penting bagi film-film dalam waralaba Fast & Furious. Segalanya tentang adrenalin, dan tidak ada yang peduli bahwa sutradara dan penulis skripnya lupa untuk memberikan sesuatu yang berkesan untuk dilakukan oleh karakter-karakter di film ini, sesuatu yang bisa diingat dan membekas di batok kepala dalam waktu yang cukup lama. Dan ada kalanya The Fate of the Furious memberikan rentetan adegan laga cukup gila dan megah yang mudah disepakati dan dikagumi. Film ini memberikan sedikit kenikmatan tontonan ketika menampilkan rangkaian adegan gelombang mobil canggih masa kini yang diretas untuk menyerang konvoi Perdana Menteri Rusia di Kota New York dan kekacauan klimaks di Rusia yang hampir terasa seperti olok-olok bagi Fast & Furious 6 (2013) dalam hal inkonsistensi. Ada momen kocak dan menyenangkan yang bisa dinikmati dari film ini, namun sebagian besar film ini diisi dengan momen yang benar-benar menjengkelkan.

Alasan kedua yang membikin film ini menjadi sebuah kegagalan bagi saya adalah ketidak-mampuannya untuk menghubungkan rangkaian adegan-adegannya dan tidak bisa memanfaatkan kualitas akting para pemerannya. Film ini masuk dalam jajaran film blockbuster yang gagal menggunakan bakat brilian bintang film besar — macam Theron — dalam beberapa tahun belakangan ini. Mengingat kemampuan akting Theron yang sangat gemilang dan brilian dalam film Mad Max: Fury Road (2015), Chris Morgan sebagai penulis skrip film ini malah lalai untuk memberikan Theron satu rangkaian adegan laga yang mengesankan. Sebagai Chiper, Theron terjebak di dalam pesawat berteknologi tinggi yang melayang-layang di udara dan mengeluarkan perintah ini-itu untuk orang lain yang beraksi di daratan. Adalah hal yang sia-sia dan mengecewakan ketika kamu memiliki Imperator Furiosa (karakter yang dimainkan Theron dalam Mad Max: Fury Road) namun tidak membikin satu adegan yang menampilkan balapan mobil Imperator Furiosa melawan Dom Toretto. Theron memiliki satu rangkaian adegan yang menarik di awal film, di mana “Dom yang jahat” dan Chiper menyerang dan melumpuhkan tim lawas Dom di markas intelijen Amerika Serikat untuk kemudian mencuri God’s Eye. Setelahnya, semua adegan yang melibatkan Theron terasa seperti taik kucing busuk dan kekecewaan karena saya tahu dan paham sebrilian apa kemampuan aktingnya di depan kamera. Tanpa seksualitas, tanpa gairah, tanpa fisikalitas: tidak ada apa-apa yang bisa diingat dari karakter Chiper dalam film ini. Saya bahkan tidak tahu dan tidak paham mengapa Chiper melakukan apa-apa yang dia lakukan dalam film ini, dan saya benar-benar bisa melihat Theron mulai bosan. Waralaba Fast & Furious selalu punya masalah dari segi karakter penjahatnya — meskipun cukup menarik ketika setiap karakter penjahatnya berubah menjadi pahlawan di seri film berikutnya — dan permasalahan itu menjadi kegagalan yang terlampau mencolok di film ini, bukan hanya dalam hal mengabaikan kemampuan akting brilian Theron, melainkan juga fakta bahwa film ini terus-terusan memaksa Theron untuk memberikan eksposisi yang membosankan dan tidak berguna.

Ketika ditampilkan berdua di layar, Rodriguez dan Diesel adalah benjolan daging yang tidak bernyawa dengan ikatan emosi nol besar. Sementara Ludacris dan Gibson hanya eksis untuk memberikan humor garing dan terlalu sibuk memenangkan hati Emmanuel karena karakter figuran yang kurang penting lainnya bakal mati dengan sendirinya di sekitar mereka. Statham, Russell, dan Johnson dibiarkan memikul beban berat dan mengisi kekosongan karisma film ini, dan hal itu membikin saya berharap mereka bertiga mendapatkan film spin-off sendiri dalam waralaba Fast & Furious.

Ketololan film ini masih terus berlanjut. Mengapa pihak otoritas Amerika Serikat sekali lagi membutuhkan kelompok “penjahat” untuk menyelamatkan dunia dari apokalips? Mengapa, dalam rangkaian adegan kejar-kejaran di Kota New York, Hobbs dkk. tidak langsung menembak ban mobil Dom ketimbang mengandalkan sistem rumit yang melibatkan tali kawat? Mengapa Letty masih memakai scoop neck t-shirt di daerah sedingin Rusia? Dan daftar ketololan itu masih bisa bertambah panjang andai saja saya menonton dan menulis ulasan film ini pada akhir bulan. Hasrat saya untuk mengolok-olok film receh menurun drastis ketika awal bulan, yeuh.

Kematian Paul Walker memberikan rasa kehilangan dan luka yang kemungkinan besar tidak bisa sembuh dengan sempurna, namun saya sangat menyayangkan keputusan tim produksi waralaba Fast & Furious untuk memensiunkan karakter Mia Toretto dan Brian O’Conner tanpa penjelasan yang memuaskan dari segi plot cerita. Sementara itu, kemampuan Gray sebagai sutradara patut dipertanyakan. Beberapa rangkaian adegan laga dalam The Fate of the Furious dibangun dan ditampilkan dengan cukup baik dan menggugah (meski kurang menegangkan dan tidak menyenangkan), sementara momen sisanya terlihat sangat kusam dan membosankan. Potongan adegan laga yang paling berkesan dan membekas di batok kepala saya adalah pertarungan tangan kosong yang terkesan lebih intim ketika momen kerusuhan di blok penjara, meski harus saya akui bahwa hal itu tidak ada apa-apanya jika dibandingan dengan rangkaian adegan kerusuhan penjara di The Raid 2: Berandal (2014) dan SPL II: A Time for Consequences (2015) yang diproduksi dengan bujet lebih kecil. Oh iya, dan ekspresi menggemaskan bayi lelaki Dom, Brian Marcos Toretto, menjadi kesegaran dan keindahan tersendiri di film ini.

Ketika menonton film blockbuster macam The Fate of the Furious, saya selalu mengharapkan sebuah spektakel yang lebih besar dari diri saya namun tidak terlalu jauh sehingga saya masih merasa terhubung dengannya — selain terhibur — sementara film ini gagal memberikan apa-apa yang saya harapkan. Ini merupakan film receh dan membosankan yang melayang-layang di ruang hampa. Satu-satunya “furious” di sini adalah ketukan jari di atas keyboard komputer dalam potongan adegan pertarungan siber.

Namun segala macam keluhan saya di atas tidak bakal menghentikan niat tim produksi waralaba Fast & Furious untuk membikin beberapa sekuel lagi di masa mendatang. Dan jika ingin mencapai level hiburan yang menegangkan dan memuaskan seperti yang pernah diraih film-film sebelumnya, waralaba Fast & Furious membutuhkan satu-dua orang yang bisa membikin lembah naratif di antara puncak perjalanan roller coasternya agar lebih berkesan: butuh penulis skrip yang bisa menulis rangkaian baris dialog yang lebih menarik; butuh sutradara yang bisa menambahkan kecerdasan visual selain sekadar rentetan gambar dari mobil-mobil yang meledak dan yang mampu mengarahkan aktris/aktornya untuk memberikan kemampuan akting yang brilian. Jika tidak, maka film ini menjadi bukti dan alasan yang cukup kuat bagi para cartolas Hollywood untuk mengakhiri waralaba Fast & Furious sebelum keadaan menjadi kian buruk dan semakin memuakkan.

Dan, tentu saja, semua keluhan saya itu juga tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap keberhasilan film ini masuk dalam jajaran box office tahun 2017. Pada titik ini, tujuan akhir telah ditentukan — proses perjalanan menuju tujuan akhir itulah yang terasa semakin melelahkan dan membosankan. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s