That Obscure Object of Desire (1977)

Poster film. (gambar: IMDb)

SEORANG lelaki paruh-baya, dandanannya rapi dan necis, terlihat berwibawa dan jelas terhormat, berlari mengejar kereta api dan berhasil naik. Seorang perempuan muda terlihat berlari dari peron stasiun mencoba mengejar kereta api tersebut. Ada ekspresi kejengkelan yang intens di raut wajah lelaki paruh-baya itu; dia berbisik kepada kondektur, memberi uang tip, dan kemudian pergi masuk ke toilet kereta api. Tidak lama kemudian, lelaki paruh-baya itu muncul dengan seember air dan — ketika perempuan muda itu mencoba naik ke atas kereta api — dia mengguyur kepala perempuan muda tersebut. Ah … dengan rasa puas, lelaki paruh-baya itu duduk di kursinya hanya untuk mendapati tatapan penasaran yang kuat dari sesama penumpang yang ada di dalam kompartemen kereta api tersebut. Salah satu dari penumpang tersebut adalah seorang psikolog cebol yang kemudian berkata: “I couldn’t help seeing what you did. I can tell from your appearance that you are a gentleman. Therefore, you must have had an excellent reason.

Yes,” lelaki paruh-baya itu menjawab, “I had a most excellent reason.” Karena tersanjung dengan rasa penasaran dan keingin-tahuan para penumpang di kompartemennya, lelaki paruh-baya itu mulai bercerita. Jadi, dengan atmosfer tenang dan licik, Luis Buñuel membuka film garapannya yang berjudul That Obscure Object of Desire.

Selama lebih dari 40 tahun, Buñuel telah berhasil menciptakan karakter-karakter rekaan yang melakukan pertempuran dengan hasrat erotis. Karakter-karakter tersebut cenderung ditampilkan sebagai pribadi yang angkuh dan rewel, berasal dari kelas menengah ngehek, serta selalu sibuk menjaga citra dan harga diri di depan publik. Selain itu, karakter-karakter bikinan Buñuel juga memiliki nafsu berahi, kecemburuan buta, dan berbagai macam obsesi seksual aneh lainnya. Dan Buñuel tampaknya belajar lebih banyak tentang kelemahan karakter-karakter tersebut, dan menganggap hasrat hidup mereka sebagai suatu hal yang sangat lucu dan konyol.

Karakter utama film ini, Mathieu (Fernando Rey), merupakan lelaki paruh-baya yang berasal dari kalangan terhormat. Mathieu adalah seorang duda kaya yang sudah tidak tertarik pada kebanyakan perempuan: jika dia tidak merasakan adanya hasrat cinta sejati, maka dia tidak akan menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Suatu hari, seorang pelayan baru datang membawakan makan malam ke kamar mewah Mathieu. Pelayan baru itu bernama Conchita: manis, ayu, anggun, sedikit sinis. Pertahanan kokoh Mathieu runtuh seketika: dia langsung jatuh cinta, namun semua upaya yang dia lakukan malah menjauhkan Conchita dari pelukannya.

Mathieu, yang terlanjur kesengsem, mencoba apa-apa yang dia anggap sebagai cara beradab untuk mendekati dan mendapatkan cinta perempuan, salah satunya adalah dengan menemui ibunda Conhita, Encarnación (María Asquerino), untuk melamar dan berjanji bakal memenuhi segala kebutuhan finansial keluarga sebagai imbalan, ahem … namun Conchita memprotes: “I wanted to give myself to you, but you tried to buy me!

Mathieu bersedia memberikan segala yang dimilikinya, namun Conhita tiba-tiba lenyap ditelan Bumi. Beberapa waktu kemudian, secara kebetulan, Mathieu bertemu kembali dengan Conchita di Swiss. Kehidupan Mathieu dan Conchita berubah menjadi permainan-kucing-dan-tikus yang cukup aneh dan erotis, di mana Conchita menyiksa Mathieu dengan berahi keperawanan dan keintiman yang malah membikin Mathieu tidak bisa menjangkau (apalagi memiliki) tubuh dan cinta Conchita. Mathieu sudah siap dengan konsekuensi apa pun asalkan dia bisa menjalin hubungan romantis dan menua bersama Conchita, bahkan Mathieu sanggup melewati malam demi malam dengan tidur berduaan tanpa menyentuh Conchita sedikit pun. Mathieu benar-benar jatuh dan terpikat oleh keanggunan Conchita!

Buñuel sangat menyukai tema kefrustrasian erotis: kekecewaan karena gagal menuntaskan berahi. Karakter-karakter utama bikinan Buñuel yang paling berkesan adalah mereka yang menyangkal berahi diri mereka sendiri, dan saya selalu ingat Silvia Pinal tidur menggunakan cilice tertutup di film Viridiana (1961) serta hiburan masokistik Catherine Deneuve di Belle de Jour (1967) dan Tristana (1970). Di That Obscure Object of Desire, Buñuel masuk semakin dalam untuk mengatakan sesuatu yang jauh lebih banyak. Conchita tidak hanya sekadar menyangkal dirinya sendiri kepada lelaki yang sangat mencintainya: dia juga memberikan pembelajaran kepada Mathieu tentang sifat kompleks lelaki, tentang kebutuhan lelaki terhadap seorang perempuan yang tidak bakal bisa terpenuhi dengan sempurna sampai kapan pun.

Dan Buñuel, tentu saja, memberikan ciri khasnya yang surealis dan jenaka: film ini penuh dengan sentuhan kecil yang lucu, dengan keanehan perilaku karakter-karakternya, dengan amoralitas anarkisnya, dengan sinisme tentang watak alamiah manusia, yang entah bagaimana caranya selalu terasa menyenangkan dan menggembirakan. “Kenakalan” (atau “kelicikan”) Buñuel di film ini adalah sentuhannya yang paling manis dan paling lezat: untuk mendramatisir Conchita — baik itu dari segi godaannya yang menggiurkan maupun penolakannya yang bikin geregetan — Buñuel sengaja menggunakan dua aktris (Ángela Molina dan Carole Bouquet) yang saling bergantian memerankan Conchita. Ini adalah kenakalan sekaligus kecerdikan Buñuel yang, setahu saya, sampai saat ini belum pernah dilakukan oleh para sineas. Molina dan Bouquet saling bertukar-badan dan beralih-peran dalam beberapa rangkaian adegan secara bergilir tanpa ada cetak-biru yang jelas dan terkadang mereka melakukannya di tengah-tengah adegan.

Jadi, ketika Mathieu yang tampak menyedihkan sedang mengeluarkan segala macam jurus rayuan, Conchita (Bouquet) beranjak ke kamar mandi untuk ganti baju tidur, dan beberapa menit kemudian Conchita (Molina) ditampilkan keluar dari kamar mandi bersiap-siap untuk tidur. (Ha! Saya selalu melongo takjub menonton setiap pergantian peran Conchita dari Molina ke Bouquet ke Molina ke Bouquet, dst., sementara sudut mata saya menangkap setengah bayangan Buñuel sedang meringis puas di pojok kamar kos.) Siramkan seember air ke kepala perempuan seperti itu? “Ya,” saya membayangkan Buñuel mengangguk dengan bijak sembari tersenyum sinis, “seorang lelaki paruh-baya yang sedang mangkel bisa dengan mudah melakukan hal sedemikian ekstrem.

Buñuel selalu punya cara yang menyenangkan untuk menyajikan sinisme tentang sifat (dan berahi) manusia. Asu tenanan! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s