The Tribe (2014)

Poster film. (gambar: “Gold Poster”)

SEORANG remaja, Sergey (Grigoriy Fesenko), tiba di sekolah asrama baru, namun usahanya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru digagalkan oleh unsur kriminal teman-teman sekelasnya. Perkelahian singkat menjadi semacam inisiasi bagi Sergey untuk bergabung dengan hierarki kelompok kriminal di sekolah barunya dan dia kemudian mulai menipu, merampok, menjambret, mencuri, atau apa pun bersama dengan teman-teman kriminal barunya. Setelahnya, Sergey dipromosikan sebagai muncikari bagi dua murid perempuan (Svetka [Roza Babiy] dan Anya [Yana Novikova]) yang melacurkan diri di tempat pemberhentian truk, namun ketika dia jatuh cinta (atau terobsesi secara seksual) kepada Anya, pekerjaannya sebagai muncikari menjadi sedikit lebih rumit, menyebabkan konflik yang tidak terhindarkan dengan teman-temannya. Premis The Tribe garapan Myroslav Slaboshpytskiy ini adalah plot cerita biasa-biasa saja dengan karakter-karakter yang banal karena tidak memiliki kedalaman yang menyenangkan, tidak menunjukkan adanya suatu perkembangan karakter dan cerita yang memuaskan, sehingga gagal menciptakan hubungan emosional mengesankan dengan saya sebagai penontonnya. Film ini menjadi semakin receh karena kecenderungan Slaboshpytskiy untuk menyisipkan momen-momen jeda dari perulangan rangkaian adegan yang itu-itu saja dan tidak penting sama sekali.

Oh iya, saya hampir lupa, semua karakter yang ada di film ini tuli serta mereka berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat Ukraina dan ekspresi wajah masing-masing: film ini berjalan tanpa teks terjemahan sebab tidak ada baris dialog yang harus diucapkan. Kesombongan ini (dan mari sama-sama mengakui bahwa ini memang suatu kesombongan yang menyebalkan dan murahan) memaksa saya untuk menonton film ini dengan melampaui cara-cara konvensional agar bisa memahami perilaku karakter-karakternya dan kehidupan yang pada intinya sangat manusiawi. Meski begitu — dengan segala macam keunikan, kekurangan, dan kesombongannya — film ini tetap harus masuk dalam daftar tontonan para film-snob atau siapa saja yang menghargai sineas yang berani mengambil jalur yang belum dipetakan di dunia sinematik untuk menceritakan kisahnya dengan cara yang tidak biasa.

Eksperimen Slaboshpytskiy dalam film ini tampaknya mengusulkan ide bahwa tindakan dan interaksi manusia tidak selalu membutuhkan terjemahan kata-kata, dan jujur saja, kebenaran dari ide dan keyakinannya itu menjadi cukup jelas ketika saya menonton film ini (meski dengan kesan yang tidak nyaman). Karakter-karakter yang ada di film ini saling terkait satu sama lain sekaligus juga terhubung dengan lingkungan di sekitar mereka, dan dengan beberapa pengecualian — seperti: apakah ada orang dewasa yang bertanggung-jawab di sekolah asrama itu? mengapa mereka ingin pergi ke Italia? — saya tidak pernah merasa sepenuhnya ditinggalkan dalam ketiadaan alasan dan kegelapan tentang apa-apa yang sedang terjadi atau hal-hal yang sedang dibahas oleh karakter-karakternya. Selalu ada semacam sifat intuitif yang memungkinkan penonton untuk mengikuti jalannya plot cerita sebuah film tanpa teks terjemahan atau tanpa penjelasan tertentu.

Kesederhanaan plot cerita yang disajikan Slaboshpytskiy cukup membantu dalam upaya memahami The Tribe, namun adalah suatu kemewahan dan keistimewaan intelektual untuk menonton adegan demi adegan yang menampilkan interaksi dan percakapan manusia menggunakan bahasa isyarat tanpa teks perjemahan/rangkaian dialog dan tetap mengikutinya sampai akhir dengan pemahaman yang kompeten. Ini tidak sesederhana seperti ketika saya — atau mungkin kamu — menonton film luar negeri dan mematikan fungsi teks terjemahan sebab kebanyakan film tidak bakal mampu memberikan tingkat pemahaman yang sama tanpa teks terjemahan tersebut (bahkan film-bisu masih menampilkan teks untuk menjelaskan apa-apa yang sedang terjadi di layar, for fuck’s sake!), dan penonton film ini diharapkan bisa memahami apa yang sedang terjadi melalui petunjuk dan isyarat visual. Oke, oke! Kemarahan dan kekecewaan dan kekerasan memang tidak selalu membutuhkan kata-kata penjelasan, begitu juga dengan rasa sakit, obsesi, dan kegembiraan: semua itu adalah emosi universal yang bisa diketahui, dirasakan, dan dipahami oleh semua orang. Tapi apa-apa yang biasanya terdeteksi dengan menggunakan nada atau volume bicara justru muncul dalam gerakan tangan atau simbolisasi yang terburu-buru di film ini, meski harus saya akui bahwa Slaboshpytskiy berhasil menceritakan kisahnya dengan mengesampingkan detail-detail tertentu macam rangkaian dialog yang harus diucapkan.

Namun itu bukanlah prestasi atau pencapaian revolusioner. Sudah begitu banyak film yang berhasil menceritakan kisah-kisah yang kaya dan menarik menggunakan baris dialog yang minim. (Untuk menyebut beberapa: The Silence [1963], Themroc [1973], Elephant [2003], The Illusionist [2010], The Artist [2011], Under the Skin [2013], dan All Is Lost [2013].) Film merupakan medium visual dan karya Slaboshpytskiy ini seharusnya tidak mengejutkan siapa pun, meski jumlah sineas yang berani untuk membikin karya sinematik yang tidak bergantung pada kata-kata yang diucapkan para pemerannya masih sangat sedikit.

Perbedaannya dengan film-film yang saya sebut di atas adalah karakter-karakter tuli di film ini dimainkan oleh aktris/aktor yang benar-benar tunarungu. Dan itu adalah sebuah kesombongan lain yang coba diumbar oleh Slaboshpytskiy (entah apa pun motivasinya), salah satu faktor yang bisa dijual dan dibangga-banggakan sebagai estetika dalam film ini. Saya dibawa ke sebuah dimensi yang benar-benar asing — Ukraina, sekolah tanpa penanggung-jawab orang dewasa, sebuah dunia di mana semua orang-orangnya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, dll. — namun anehnya, alih-alih merasa seperti alien tolol yang kebingungan mencerna apa-apa yang sedang terjadi, saya malah — setidaknya sedikit — memahami apa yang mereka rasakan dan mereka “katakan”. Seharusnya ini bukanlah sebuah pencerahan yang revolusioner, namun film ini meninggalkan kesan aneh seperti itu.

Secara visual, The Tribe pada dasarnya merupakan serangkaian teknik long shot yang sebagian di antaranya berhasil menarik perhatian karena kebajikan dari kebodohan mereka sendiri, sementara beberapa bagian lainnya menonjol sebagai sesuatu yang imersif, membosankan, dan tidak terlalu penting. Sinematografer (yang merangkap sebagai editor) film ini, Valentyn Vasyanovych, menggerakkan kameranya untuk mengikuti karakter-karakternya berjalan menuruni tangga yang berkelok-kelok dan menelusuri rel kereta api, serta cukup lama merekam tanpa berkedip ketika karakter-karakter tersebut melakukan tindakan apa pun, baik itu yang menggairahkan secara fisik maupun yang dangkal dan membosankan. Ada beberapa rangkaian adegan film ini yang membekas di batok kepala saya — terutama sepuluh menit akhir film yang dipungkasi dengan adegan Sergey menghancurkan kepala teman-temannya menggunakan meja kecil — namun kebanyakan adegan film ini diedit, didegradasi sedemikian rupa, dan ditampilkan dengan cara yang paling membosankan yang mampu membikin saya bengong mengerutkan kening tersiksa lahir batin untuk mencari-cari suatu kesenangan atau hal-hal dramatis yang memang tidak ada sedari awal. Apa yang menyenangkan dan dramatis dari pengalaman menonton karakter film sedang menggeledah lemari atau mengisi formulir selama sepuluh menit, huh?

Slaboshpytskiy juga mencoba memberikan elemen kejutan dengan menyisipkan segelintir rangkaian grafis yang cukup menarik yang melibatkan seks dan aborsi yang agak traumatis. Hal itu cukup efektif, terutama adegan aborsi yang mampu membikin saya ngilu. Namun sayangnya, atau sialnya, rangkaian adegan yang mengejutkan itu didorong terlalu jauh yang pada akhirnya terkesan terlampau dipaksakan, dan dalam pencarian realisme grafis, hal itu berubah menjadi elemen yang cukup mengganggu dan tidak mengenakkan.

Bagi saya, The Tribe bukanlah film yang bagus. Ini adalah karya sinematik receh yang membosankan dengan karakter-karakter yang tidak menarik dan narasi tipis yang dibangun di atas twist plot yang biasa-biasa saja. Film ini gagal memberikan pengalaman menonton yang memuaskan untuk menoleransi kepayahan mental dan fisik akibat dihajar sedemikian rupa oleh rutinitas harian yang kian banal. Jika ide awal membikin film ini adalah untuk membuktikan bahwa emosi manusia tidak selalu membutuhkan kata-kata penjelasan, atau untuk menyajikan kondisi dunia yang semakin munafik dan tidak baik-baik saja, atau menjadikan film ini sebagai ode bagi kaum tunarungu, atau entahlah, saya mengharapkan Slaboshpytskiy bisa lebih satire dan lebih cerdas dari ini. Kaum tunarungu layak berbagi pengalaman secara sinematis dan sudah seharusnya mereka pantas mendapatkan yang lebih baik ketimbang film receh ini. Bahkan kita — saya dan kamu — layak mendapatkan yang lebih menarik dari semua ini.

Namun karena keunikan gagasannya (film ini mungkin bukanlah tentang karakter-karakter tuli per se, melainkan menyoal dunia yang tertutup dan terisolasi, perihal sebuah kelompok yang memiliki kode unik dan bahasa mereka sendiri yang tidak bisa [atau sedikit] dimengerti oleh orang luar), dan seperti yang sudah saya ketik di paragraf kedua tulisan ini, The Tribe termasuk karya sinematik yang harus ditonton — setidaknya sekali — oleh orang-orang yang mengaku sebagai pecinta film.

Setelahnya, jangan lupa piknik. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s