Un Chien Andalou (1929)

Poster film. (gambar: IMDb)

KETIKA ditanya apa yang bakal dilakukan untuk menikmati hidupnya jika diberi waktu hidup selama 20 tahun sebelum akhirnya mati, Luis Buñuel menjawab: “Give me two hours a day of activity, and I’ll take the other twenty-two in dreams — provided I can remember them.” Mimpi adalah substansi utama dari film-film bikinan Buñuel, dan sejak masa-masa awalnya sebagai seorang surealis di Paris sampai berada di titik puncak kesuksesan pada akhir ‘70an, logika (dunia) mimpi selalu menyela unsur realisme film-filmnya dengan cara yang aduhai. Hal itu memberikan kenikmatan dan keindahan, serta kualitas yang sangat khas sehingga langsung bisa diidentifikasi sebagai “filmnya Buñuel” ketika menontonnya. Un Chien Andalou merupakan karya sinematik pertama Buñuel, hasil kolaborasinya dengan Salvador Dalí. Baik judul maupun hal lain yang ada di dalam film ini tidak dimaksudkan menjadi sesuatu yang masuk akal. Meski begitu, Un Chien Andalou tetap menjadi film pendek paling terkenal (dan paling keren dan paling bangsat menurut saya) yang pernah diproduksi sepanjang sejarah perfilman, dan siapa pun yang tertarik dengan dunia sinema, cepat atau lambat, bakal menonton film ini. Saya sudah menonton film ini lebih dari 27 kali dan baru sekarang nekat memberanikan diri untuk menulis ulasannya di sini.

Film ini, saya pikir, dibikin dengan tujuan untuk memberikan kejutan revolusioner kepada masyarakat. Dalam ulasannya untuk film ini, Adonis A. Kyrou pernah menulis: “For the first time in the history of the cinema, a director tries not to please but rather to alienate nearly all potential spectators.” Teknik dan nilai produksi film ini telah diserap dan ditiru, serta sudah terlalu sering dipakai, oleh sutradara-sutradara modern — baik itu indie maupun mainstream — sehingga faktor kejutannya mungkin terasa menjadi sesuatu yang tipis dan biasa-biasa saja saat ini — kecuali rangkaian gambar yang menampilkan adegan horor seseorang sedang mengiris bola mata, atau adegan seorang lelaki menyeret piano superbesar dengan pastor dan bangkai keledai ada di atas piano tersebut.

Saya selalu berpikiran bahwa film ini bukanlah buah karya kolaborasi Buñuel dan Dalí sebagai dua orang tua keriput yang sering saya lihat dalam foto yang banyak beredar di internet, melainkan karya sinematik yang dibikin oleh dua pemuda berusia di bawah 20 tahun yang sedang dirasuki oleh kebebasan Paris serta terlibat dalam pergerakan seni surealisme dan avant garde pada masa-masa Lost Generation. Ada hubungan unik antara surealis dan Sex Pistols, Dalí dan Damien Hirst (seniman Inggris yang memamerkan setengah badan domba dalam sebuah kubus plastik), Buñuel dan David Lynch. “Meskipun tidak menganggap diri mereka sebagai teroris,” tulis Buñuel dalam buku autobiografinya, My Last Sigh, “para surealis selalu konsisten melawan masyarakat yang mereka benci. Senjata utama para surealis — tentu saja — bukanlah senapan mesin, pistol, atau bom; senjata utama mereka adalah skandal.

Skandal yang disebabkan oleh Un Chien Andalou telah menjadi salah satu legenda surealis yang paling terkenal di dunia sinematik. Pada saat pemutaran perdana film ini di Studio des Ursulines, Paris, Buñuel berdiri di belakang layar pemutaran dengan kantong baju yang penuh berisikan batu, mencomot kata-kata Buñuel di buku autobiografinya, “untuk dilemparkan ke arah penonton jika kondisi pemutaran film berubah menjadi kekacauan”. Tidak ada yang mengingat tentang batu-batu yang ada di kantong bajunya, namun kenangan Buñuel dalam buku autobiografinya adalah penulisan riwayat hidupnya yang cukup jelas. Film ini merupakan salah satu dari karya sinematik indie generasi pertama: film yang diproduksi oleh sineas dengan anggaran yang sangat minim, tanpa pembiayaan dari studio/rumah produksi film ternama. Bisa dibilang bahwa film ini adalah nenek moyang dari karya-karya John Cassavetes (pionir genre indie dalam sejarah perfilman dunia) dan film digital independen hari ini.

Buñuel, remaja kelahiran Spanyol yang pergi ke Paris dengan segudang mimpi untuk menjadi seorang seniman, menemukan pekerjaan di industri film Prancis untuk kemudian dipecat karena menghina Abel Gance (sutradara kenamaan di Prancis pada saat itu) dan akhirnya menemukan jalannya ke lintasan orbit para surealis Paris. Buñuel tinggal beberapa hari di rumah Dalí dan menceritakan mimpinya tentang awan yang mengiris bulan menjadi dua, seperti sebuah pisau cukur yang mengiris mata manusia. Dalí membalas cerita Buñuel tersebut dengan kisah mimpinya sendiri tentang ratusan semut yang mengerubungi tangan manusia. Buñuel dan Dalí akhirnya memutuskan untuk membikin film dengan menyertakan dua mimpi surreal tersebut dan beberapa elemen surealisme lainnya. Buñuel (merangkap sebagai sutradara) dan Dalí berkolaborasi untuk menulis naskah filmnya, dan dengan bantuan dana dari María Portolés (ibunya Buñuel), mereka mengeksekusinya dalam kurun waktu sepuluh hari.

Metode dalam naskah film yang ditulis oleh Buñuel dan Dalí tersebut adalah untuk menyajikan rangkaian gambar atau kejadian yang mengejutkan dari satu adegan ke adegan lainnya, dan mereka berdua harus sama-sama setuju sebelum proses pengambilan gambar filmnya. “No idea or image that might lend itself to a rational explanation of any kind would be accepted,” kenang Buñuel dalam buku My Last Sigh. “We had to open all doors to the irrational and keep only those images that surprised us, without trying to explain why. Nothing, in the film, symbolizes anything. The only method of investigation of the symbols would be, perhaps, psychoanalysis.

Gambar segumpal awan yang melintasi bulan purnama langsung dipadu-padankan dengan rangkaian adegan yang menampilkan seorang lelaki (Buñuel) mengiris mata perempuan (Simone Mareuil — properti yang dipakai oleh Buñuel dalam film ini sebenarnya adalah mata anak sapi yang sudah mati, namun ada beberapa ulasan yang menyebut mata keledai, domba, dan babi) menggunakan pisau cukur. Lalu gambar ratusan semut yang mengerubungi tangan manusia diikuti oleh rangkaian gambar yang menampilkan seorang waria di atas sepeda, ketiak berambut, potongan tangan manusia yang tergeletak begitu saja di trotoar, tongkat yang menusuk tangan manusia, pelecehan seksual a la film bisu, seorang perempuan yang melindungi dirinya dengan raket tenis, seorang pemerkosa menarik piano superbesar dengan beban aneh di atasnya, dua patung yang tampak hidup di pasir, dan seterusnya… Cara paling gampang untuk mendeskripsikan Un Chien Andalou adalah dengan mencatat daftar rangkaian gambar yang ditampilkan di setiap adegannya, sebab memang benar-benar tidak ada plot cerita dalam artian konvensional untuk menghubungkan adegan satu dengan adegan lainnya. Film ini menggunakan logika mimpi dalam aliran naratif yang bisa dikaitkan dengan teori asosiasi bebasnya Sigmund Freud untuk menyajikan serangkaian adegan yang sangat berbeda satu sama lainnya.

(Namun, tetap saja, banyak yang mencoba untuk menghubungkan adegan-adegan dalam film ini. Sudah banyak ulasan yang telah menerapkan teori dan formula marxis, jungian, dan freudian untuk menganalisis dan mendeskripsikan film ini. Dan apa yang dilakukan Buñuel terhadap ulasan yang tidak terhitung jumlahnya itu? Buñuel, tentu saja, menertawakan semua ulasan tersebut. Menonton film ini, saya kira, adalah sebuah pengalaman surealis yang mengajarkan kepada kita — saya dan kamu — bahwa ada beberapa hal indah dan aneh di dunia ini yang tidak memiliki tujuan atau makna tertentu; kita hanya perlu menikmatinya, entah itu bersama orang yang kita cinta atau sendirian.)

Dalam satu adegan menampilkan seorang lelaki menyuruh kekasihnya untuk melihat ke luar jendela pada “sesuatu — atau, mungkin, sebuah parade militer”, namun adegan berikutnya menampilkan seorang waria terjatuh dari sepeda. Saya mengasumsikan bahwa pasangan kekasih itu sedang melihat tubuh manusia yang baru saja terjatuh dari sepeda sedang rebah di trotoar. Ini merupakan hal asing bagi segala hal yang saya ketahui tentang metode film atau karya sinematik konvensional yang biasanya menyimpulkan bahwa gambar yang ditampilkan berurutan adalah bagian yang saling berhubungan dalam satu plot cerita utama, sementara adegan sepasang kekasih di jendela kamar yang diikuti oleh adegan waria terjatuh dari sepeda di trotoar dalam film ini ditampilkan begitu saja tanpa ada hubungan yang jelas satu sama lainnya. Dengan metode dan cara konvensional yang sama, saya mengasumsikan seorang lelaki menarik piano superbesar (dengan pastor, bangkai keledai, dll. di atasnya) ke seberang ruangan karena hasrat dan berahi seksualnya telah ditolak oleh seorang perempuan yang menggunakan raket tenis sebagai senjata untuk melindungi diri. Dan saya selalu bisa mendengar tawa girang Buñuel yang mencemooh asumsi saya itu: “Dua gambar dalam serangkaian adegan itu tidak punya hubungan sama sekali, anak muda!” (Bahkan, saya merasa Buñuel sedang menertawakan saya di pojokan kamar kos karena saya sok memahami dan menghubung-hubungkan apa-apa yang terjadi di film ini untuk kemudian memberanikan diri menulis ulasannya di sini. Sialan!)

Saya menganggap bahwa Un Chien Andalou adalah “cerita” tentang orang-orang atau apa pun yang ada di dalamnya — perempuan dan lelaki dan momen-momen yang terjadi di sekitar keduanya. Namun bagaimana jika orang-orang yang ada di dalam film ini bukan dimaksudkan untuk menjadi protagonis atau karakter tertentu, melainkan hanya sekumpulan model — hanya aktris dan aktor yang dibayar untuk melakukan akting atau tindakan tertentu? Semua orang tahu bahwa motor/mobil yang dipajang di sebuah pameran tidaklah dirancang dan tidak diproduksi untuk para model berpakaian seksi yang merepresentasikan dan menawarkan motor/mobil tersebut kepada orang-orang yang sedang lewat di depan stan penjualan, namun tetap saja ada yang tertarik membelinya gara-gara itu. Buñuel mungkin berpendapat bahwa aktris dan aktor yang ada di film ini memiliki hubungan yang hampir mirip dengan momen-momen yang terjadi di sekitar mereka.

(Kekasih saya, Si Nyonya Tua V, langsung berteriak [“Ini film apa, sayang?!?”] ketika baru menonton film ini selama lima menit dengan raut wajah terkejut-ngeri-setengah-menahan-tawa seolah-olah film ini adalah sebuah lelucon konyol mengerikan dan dia tidak mampu menemukan atau memutuskan di bagian mana letak kekonyolan dan kengeriannya, namun dia tidak pernah memalingkan pandangannya dari layar laptop. Pada saat kelar menonton, V menoleh ke arah saya dan berbisik pelan: “Film ini adalah film paling absurd, isinya cuma gambar-gambar konyol dan mengejutkan, tanpa plot cerita yang jelas, yang pernah kutonton — tapi anehnya, aku suka banget!” Dan jujur saja, bagi saya bisikan pelan itu telah menjelaskan semuanya perihal film ini: sebuah tamasya yang berkelayap di batok kepala kekasih saya yang terlalu memesona untuk dipercayainya. Di dalam hati saya cuma bisa bergumam “Buñuel bangsat!”.)

Setelah film ini, Buñuel membikin film surealis keren lainnya, L’Age d’Or (1930), yang diberedel (dan “menghilang” selama 49 tahun) oleh otoritas Prancis karena dianggap berisikan gambar-gambar yang menistakan agama. Buñuel kemudian menjadi pekerja harian di Metro–Goldwyn–Mayer (MGM) untuk mengalih-bahasakan film-film Hollywood ke bahasa Spanyol. Ketika Perang Dunia II mencapai klimaksnya, Buñuel pindah ke Meksiko dan membikin banyak film di sana, beberapa di antaranya adalah Los Olvidados (1950), Él (1953), The Criminal Life of Archibaldo de la Cruz (1955), dan Cela s’appelle l’aurore (1956). Pada tahun 1961 Buñuel merilis Viridiana yang menggemparkan dunia dengan adegan mengejutkan yang menyimulasikan (atau dalam konteks Buñuel: guyonan satire) momen Perjamuan Malam Terakhir dalam Alkitab. Dan selama 16 tahun berikutnya, Buñuel menghasilkan film-film menakjubkan dan superkeren macam The Exterminating Angel (1962), Diary of a Chambermaid (1964), Simon of the Desert (1965), Belle de Jour (1967), Tristana (1970), The Discreet Charm of the Bourgeoisie (1972), The Phantom of Liberty (1974), dan That Obscure Object of Desire (1977).

Un Chien Andalou adalah racun yang menyerang dan mengacaukan metode konvensional di dunia perfilman. Film ini benar-benar menjengkelkan, menggelisahkan, dan membikin frustasi dengan cara yang luar biasa syahdu, nikmat, dan sekaligus aneh pada saat yang bersamaan. Film ini dibikin tanpa tujuan tertentu dan berjalan begitu saja tanpa ingin menjelaskan makna apa pun. Di dalamnya berisi kombinasi mengerikan antara humor manis dan hasrat untuk menyinggung perasaan. Sebagian besar orang saat ini mungkin tidak bakal tersinggung dan tidak merasa terganggu dengan film ini; dan, mungkin, itu berarti bahwa para surealis telah memenangkan revolusinya: mereka berhasil menunjukkan bahwa seni (dan kehidupan) tidak perlu patuh secara membabi-buta untuk mengikuti batasan sempit dan aturan kolot yang telah dibikin oleh orang lain sejak dahulu kala — bahwa masing-masing makhluk hidup memiliki hak untuk menuliskan dan menjalani takdirnya sendiri. Dan bahwa kita — saya dan kamu — tidak bakal pernah tahu apa-apa yang mungkin kita lihat ketika memandang ke luar jendela rumah.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, sudah banyak orang yang mencoba mendeskripsikan film ini dengan berbagai macam teori yang ada, namun pada saat yang bersamaan, tidak ada yang benar-benar mampu mendefinisikan apa arti dari film ini yang sebenarnya. Sebagian gambar dalam film ini bakal memberikan kesan aneh dan mengejutkan, sementara sebagian sisanya mungkin terkesan biasa-biasa saja. (Dan suka atau tidak, ikhlas atau tidak, seperti itulah hidup.) Bagi saya, film ini meninggalkan kesan menggairahkan yang berakhir dengan pelukan hangat dan sedikit ciuman mesra dari Si Nyonya Tua V. Sebab pada dasarnya kehidupan memang terkadang berisikan kejutan-kejutan kecil menyenangkan yang tidak bisa dijelaskan dan tidak jarang pula dipenuhi oleh hal-hal banal yang membikin kita menj ~

~ jancuk, saya lupa matiin kompor! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s