Girl on a Bicycle (2013)

Poster film. (gambar: IMDb)

DEREK (Paddy Considine) adalah orang Inggris yang tinggal di Paris, Prancis. Derek belajar bahasa Prancis selama bertahun-tahun, dan keinginan yang terpendam di dasar hatinya adalah menemukan seorang perempuan Prancis yang bersedia berbicara bahasa Prancis ketika bersamanya. Namun setiap perempuan Prancis yang ditemui Derek selalu ingin mengobrol menggunakan bahasa Inggris ketika tahu bahwa itu adalah bahasa ibunya. Derek telah kawin-cerai sebanyak tiga kali, dan ketiga mantan istrinya itu tidak ada yang bisa memenuhi keinginan atau hasrat terpendamnya untuk menggunakan bahasa Prancis dalam obrolan sehari-hari.

Cecile (Louise Monot) adalah seorang model yang bisa berbahasa Prancis dengan lancar dan tidak malu tampil telanjang di depan kamera. Cecile adalah karakter tituler dari Girl on a Bicycle. Karena kecelakaan — dia adalah seorang yang ceroboh — lengan dan kaki Cecile patah. Ketika mencoba sepeda baru di apartemennya, penyangga balkon kamarnya tiba-tiba ambruk dan Cecile terlempar keluar dari jendelanya ke tenda sebuah kafe yang ada di seberang jalan dan mendarat di pangkuan Derek yang kebetulan sedang duduk di sana menikmati secangkir latte. Terkesan seperti pertemuan yang lumayan ajaib (atau cerdas, eh?) di plot awal sebuah film komedi romantis, kan? Sayangnya, atau sialnya, momen itu terjadi di menit ke-60 dalam film Girl on a Bicycle. Film ini bukan tentang Derek dan Cecile. Derek hanyalah karakter sekunder yang dimasukkan begitu saja ke dalam naskah filmnya. Relasi asmara Derek dan Cecile cuma sebuah subplot, sementara plot utama film ini sedang terjadi di tempat lain.

Sepeda baru yang dicoba oleh Cecile adalah pemberian dari Paolo (Vincenzo Amato), karakter protagonis film ini yang berprofesi sebagai seorang sopir bus wisata di Paris. Cecile mengalami patah tulang karena ditabrak oleh Paolo dengan bus wisatanya ketika mencoba meminta nomor teleponnya. Akibatnya, Paolo harus mengurus semua keperluan Cecile dan kedua anaknya yang menganggap Paolo sebagai ayah mereka. Paolo menjadikan Derek sebagai alibi untuk menyembunyikan aktivitasnya mengurus Cecile dari tunangannya asal Jerman, Greta (Nora Tschirner), yang berprofesi sebagai pramugari.

Bisa dipahami apa yang coba saya tulis sampai titik ini?

Jalinan kata yang berbelit-belit di atas bukan semacam pembenaran atau keadilan untuk Girl on a Bicycle yang memang dirancang dengan cukup buruk. Ini adalah sebuah film komedi romantis yang tidak romantis, tidak masuk akal, dan tidak lucu, yang menghina beberapa etnis Eropa dan menjadi budak dari “sindrom idiot plot”. Saya berani bilang bahwa ini adalah film komedi romantis paling buruk yang pernah saya tonton, dan itu bukanlah rangkaian kalimat majas hiperbola — saya serius! Seluruh konten dan karakteristik yang ada di film ini tidak mampu memberikan kenikmatan menonton yang memuaskan. Kamu membutuhkan suspensi ketidak-percayaan superbesar agar bisa menikmati apa-apa yang disajikan oleh Jeremy Leven (sutradara dan penulis naskah) di film ini. Dan meski kamu memiliki kualitas suspensi ketidak-percayaan yang luar biasa, saya masih menyangsikan kalau kamu bakal betah menonton film ini sampai kelar.

Setiap karakter yang ada di film ini direduksi sedemikian rupa menjadi stereotip paling umum dari negara asal mereka. Greta yang berasal dari Jerman adalah seseorang yang teliti dan suka mengatur-atur/memerintah siapa pun dan di mana pun sampai-sampai lamaran perkawinan Paolo pun diatur olehnya. Derek yang berasal dari Inggris adalah seorang lelaki menyenangkan doyan mabuk yang setia kawan dan tidak egois. Paolo yang berasal dari Italia adalah pribadi sombong yang selalu menganggap Italia merupakan negara yang lebih baik ketimbang negara lainnya, membangga-banggakan pasta bikinannya dan tangannya selalu bergerak kesana-kemari ketika berbicara. Lalu ada karakter minor bernama Francois (Stéphane Debac) yang berprofesi sebagai pilot dan selalu berusaha merayu Greta agar mau berhubungan seks dengannya. Pandangan dan argumen Francois tentang orang-orang Italia berpotensi menyulut demonstrasi dan perang.

Paolo terus-menerus mengatakan kebohongan yang menyakitkan di sepanjang film. Paolo berbohong kepada anak-anak Cecile yang belum pernah bertemu dengan ayah kandung mereka dan Cecile diam saja menanggapi kebohongan Paolo tersebut. Cecile bahkan membiarkan Paolo — lelaki asing yang menabraknya dengan bus wisata — mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dan tinggal di kamar apartemennya. Paolo juga berbohong kepada Greta yang mengiranya berselingkuh namun sangat lamban untuk membuktikan kecurigaannya sehingga dia kehilangan semua kredibilitasnya. Ketika Paolo menerima telepon saat berhubungan seks (Leven sepertinya menganggap interupsi saat seks adalah adegan yang lucu) dan kemudian pergi, Greta bukannya curiga kenapa Paolo tiba-tiba pergi ke tempat yang tidak diketahuinya pada jam tiga pagi, melainkan mengeluh karena Paolo tidak menuntaskan aktivitas seks mereka. Saya cuma bisa menggelengkan kepala.

Semua hal klise dari film komedi romantis ada di sini: anak-anak lucu yang terus-terusan mengulangi hal yang sama, kesalah-pahaman yang konstan dan Leven berharap satu baris dialog bisa membereskan kesalah-pahaman itu, karakter-karakter yang harus dicuci otaknya karena perilaku mereka tidak masuk akal, dan latar belakang musik pengiring yang sama sekali tidak nyaman di kuping.

Klimaks Girl on a Bicycle menampilkan rangkaian adegan ketika Paolo membikin semua penumpang pesawat (yang terlihat tidak nyaman) menyanyikan lagu Italia untuk memenangkan hati Greta kembali. Saya memalingkan pandangan dari layar laptop, dan kemudian samar-samar mengingat adegan serupa yang lebih romantis dan lebih berkesan dalam film The Wedding Singer (1998). Bahkan, saya bisa memikirkan beberapa film komedi romantis lainnya di mana beberapa elemen plot yang digunakan oleh Girl on a Bicycle bisa bekerja dengan baik. Beberapa film komedi romantis itu memiliki karakter yang membikin saya peduli dengan kisah romansa mereka. Sementara di Girl on a Bicycle: tidak ada apa-apa selain klise yang bikin perut mual tidak keruan.

Saya berpikir bahwa menonton film ini merupakan karma dari hal-hal buruk yang pernah saya lakukan di masa lalu. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s