xXx: Return of Xander Cage (2017)

Poster film. (gambar: IMDb)

KETIKA film pertama dari seri XXX dirilis pada tahun 2002, Pierce Brosnan masih memerankan James Bond, karakter film yang relatif tidak berubah selama beberapa dekade. Lalu XXX (2002), film aksi yang dibintangi oleh Vin Diesel, mengawali plot ceritanya dengan adegan kematian satire a la 007 sebelum memperkenalkan karakter utama bernama Xander Cage sebagai agen rahasia yang keren untuk generasi baru. Xander memenuhi tubuhnya dengan tato, memiliki masalah serius dengan otoritas, serta beraksi menggunakan skateboard dan papan seluncur salju: dia terkesan ekstrem dan antihero. Lima belas tahun kemudian, melewati XXX: State of the Union (2005) yang diproduksi tanpa Diesel, xXx: Return of Xander Cage dirilis tanpa memiliki tujuan apa pun. Dalam ketidak-hadiran Xander di layar sinema, sudah banyak film bertemakan agen rahasia — mulai dari seri Taken, seri Bourne, Fair Game (2010), sampai Kingsman: The Secret Service (2014) — yang muncul di layar sinema dengan plot dan karakter cerita yang lebih enak untuk diikuti dan membikin saya lupa tentang karakter Xander Cage. Dan, jujur, bahkan seri Harold & Kumar sudah membikin lelucon tentang olahraga ekstrem sampai pada titik di mana lelucon itu sudah tidak terasa lucu. Olahraga ekstrem memang mengesankan secara fisik dan praktik, namun rangkaian adegan aksi dalam film ini merupakan pelecehan paling buruk terhadap hukum fisik manusia yang dihasilkan oleh kelemahan dan kecerobohan teknik animasi green screen-nya. Karakter-karakter yang ada di sini sepertinya hidup dalam Dunia Matrix, bukan Dunia Nyata.

Film ini dibuka dengan Samuel L. Jackson (yang berperan sebagai agen NSA bernama Augustus Eugene Gibbons) duduk di sebuah restoran Cina — dan terlalu banyak bicara sehingga saya ingin sekali menyumpal mulutnya — untuk mencoba meyakinkan Neymar (yang berperan sebagai dirinya sendiri: pesepakbola profesional) untuk bergabung dengan tim XXX. Kemudian sebuah satelit jatuh dari langit, menimbulkan ledakan superbesar, melenyapkan Neymar, Gibbons, dan restoran Cina tersebut. Agen NSA lainnya, Jane Marke (Toni Collette yang selalu tampak berusaha nyaman untuk mempertahankan postur tegak di film ini), mengadakan pertemuan darurat di sebuah ruang rapat CIA dan menunjukkan penyebab jatuhnya satelit: sebuah alat peretas yang dinamai “Kotak Pandora” yang langsung dicuri oleh tiga orang berpakaian hitam yang salah satunya bisa menembus ruang rapat CIA dengan satu lompatan dari gedung sebelah tanpa tali atau apa pun. Tim pencuri “Kotak Pandora” itu dipimpin oleh Xiang (Donnie Yen). Untuk bisa merebut kembali “Kotak Pandora”, Marke melacak Xander yang telah memalsukan kematiannya di film pertama dan kini sedang menikmati waktunya dengan mencuri antena parabola agar kaum miskin bisa menikmati tayangan langsung pertandingan sepakbola di Republik Dominika.

Plot cerita film ini begitu tipis dan receh, mudah ditebak dan sangat klise, yang bisa ditulis oleh siapa saja dalam kondisi setengah mabuk setelah pesta kelulusan SMA. F. Scott Frazier seolah-olah memberikan lebih banyak “pemikiran” — meskipun tidak sebanyak (dan semenarik) yang bisa diharapkan — kepada setiap karakter dalam naskah yang ditulisnya. Frazier menampilkan karakter perempuan yang lebih banyak jumlahnya ketimbang dua prekuel film ini yang secara teori layak mendapatkan pujian. Namun dalam praktiknya hal itu malah membikin saya jengkel karena sebagian dari karakter-karakter perempuan itu ditampilkan memiliki keinginan (jika bukan kewajiban) untuk berhubungan seks dengan Xander. Dalam rangkaian adegan di London ketika mencoba melacak tim pencuri “Kotak Pandora”, Xander menemui seorang peretas, Ainsley (Hermione Corfield, seorang aktris Inggris berusia 23 tahun yang terlihat seperti gadis berumur 15 tahun), yang menikmati malamharinya dengan berenang (dan kamera merekam tubuh Ainsley berbalut bikini dari atas sampai bawah untuk memuaskan fantasi berahi pak tua cabul) untuk kemudian merayu Xander secara seksual. Kemudian ada Serena Unger (seorang agen berparas eksotis dalam tim Xiang yang diperankan oleh Deepika Padukone) dan Adele Wolff (seorang penembak jitu dalam tim Xander yang diperankan oleh Ruby Rose) yang, saya yakin, keduanya juga ingin berhubungan seks dengan Xander. Dan terakhir ada Rebecca “Becky” Clearidge (Nina Dobrev), seorang agen NSA ahli komputer yang memberi-tahukan “kata aman”-nya kepada Xander dalam hitungan menit (atau, mungkin, detik) di pertemuan pertama mereka berdua.

Namun Ainsley tidak melakukan seks dengan Xander; dia malah memberikan Xander akses untuk “bersenang-senang” dengan enam teman perempuannya (dalam film porno, hal ini disebut reverse gangbang dan meski tidak ditampilkan secara eksplisit, penonton diharapkan untuk percaya bahwa hal itulah yang terjadi) di dalam tenda sebelah kolam renang. Setelah itu Xander bersama timnya melakukan tugas yang tidak terlalu membahayakan (dan tidak terlalu lucu) untuk negaranya.

Tahun ini Diesel bakal genap berumur 50 tahun: fisik tubuhnya masih prima, namun tampilan wajahnya mulai terlihat seperti hasil proyek perkawinan silang (yang gagal) antara Harpo Marx dan orang sial yang membintangi The Amazing Colossal Man (1957). Dalam pengambilan gambar dari jarak dekat, kepala Diesel memenuhi hampir duapertiga layar. Baris dialog yang diucapkan Diesel selalu berisikan rangkaian kalimat yang itu-itu saja, dan di film ini, karakternya dipaksa untuk mengucapkan beberapa dialog rayuan receh yang diharapkan menjadi semacam penyegaran namun malah terkesan tidak berguna dan menjijikkan bagi saya.

Teknik penyutradaraan D. J. Caruso semakin melengkapi ketiadaan tujuan dan kejelekan xXx: Return of Xander Cage di mana sebagian besar gambarnya diambil dari sudut rendah dan liukan gerak kameranya membikin tidak nyaman. Satu-satunya hal yang mungkin bisa dimaafkan dari film ini adalah rangkaian adegan yang cukup mengasyikkan dalam setengah jam terakhirnya. Tim Xiang dan Xander menemukan semacam getaran “keluarga” yang akhirnya mempersatukan mereka, satu hal yang kerap dijadikan garis dasar dalam (dan sudah pasti terasa akrab bagi penggemar) film seri yang juga dibintangi oleh Diesel: The Fast and the Furious. Ada sedikit “kecanggihan” The A-Team (2010) yang berhasil menciptakan rangkaian adegan intercut parallel cukup seru di bagian klimaksnya. Dan Yen — meski rangkaian adegannya terlalu sering dan terlalu cepat untuk dipotong dari layar — berhasil menampilkan koreo akting bela diri yang cukup bagus. Meski begitu, kesan yang terus membekas di batok kepala saya usai menonton film ini adalah bahwa Xander dkk. sebenarnya tidak beraksi menyelamatkan dunia atau menunjukkan patriotisme — mereka cuma sedang sok pamer kemampuan ekstrem saja. Sementara Neymar lebih baik menikmati waktunya untuk berlatih dan memikirkan bagaimana caranya membobol gawang Gianluigi Buffon saja, ketimbang sibuk menjaga keselamatan Gibbons di layar sinema.

Dan, tentu saja, film ini ditutup dengan setup adegan yang mengisyaratkan bakal ada sekuel lanjutannya. Saya harap sekuel film ini bisa diproduksi dan dirilis sebelum Diesel semakin menua, karena bakal terasa cukup aneh dan sangat mengganggu ketika menonton seorang aktor tua botak berusia 60an beraksi memerangi kejahatan dengan menaiki skateboard di jalanan. Atau mungkin Diesel harus merelakan sekuel berikutnya dibintangi oleh salah satu dari aktris yang ada di film ini — entah itu Rose, Padukone, Dobrev — atau yang lainnya macam Rose Leslie atau Mélanie Laurent atau Gal Gadot. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s