Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016)

Poster film. (gambar: IMDb)

#Peringatan: baca ulasan (atau tonton) film ini dengan stok camilan yang cukup banyak, satu-dua bungkus rokok, secangkir kopihitam, dan sebotol besar bir atau arak lokal. Atau batalkan niat untuk membaca ulasan (atau mengunduh dan menonton) film ini.

#Untuk Mbak F: semoga tidurmu nyenyak, mbak, setelah menonton film ini.

DALAM sepekan terakhir ini linimasa media-sosial gaduh dengan tulisan Allan Nairn yang ditayangkan pertama kali oleh situs The Intercept dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh situs tirto.id tentang investigasi persekutuan para jenderal untuk mengudeta Presiden Joko Widodo melalui kasus penistaan agama. Pihak militer merespons investigasi tersebut dengan cara yang mudah ditebak dan sungguh menggelikan: menyebut artikel tersebut dengan label “hoax” dan menggugat situs yang menayangkannya. Sementara itu, saya lebih memilih untuk mojok, diam-diam mengunduh film Ada Apa dengan Cinta? 2 dan menontonnya berdua dengan sang kekasih di kamar kos saya yang pengap.

Film yang juga membikin heboh jagat maya ketika dirilis pertama kali pada 28 April tahun lalu itu merupakan sekuel dari film drama-romantis remaja, Ada Apa dengan Cinta? (2002), yang sanggup memenangkan jutaan jantung remaja (saya salah satunya) yang kekurangan film layak tonton atau sekadar hiburan menyenangkan pada awal 2000an. Dunia perfilman Indonesia pada era ‘90an sampai awal milenium berada dalam kondisi ajek di sisi yang paling gelap di mana tontonan yang sering diputar — entah itu di bioskop atau di televisi — adalah film-film erotis nanggung yang diproduksi dengan meniadakan akal sehat dan tidak berisikan apa-apa kecuali eksploitasi keseksian tubuh perempuan saja. Industri perfilman Indonesia lesu, para penikmat sinema lebih memilih menonton film-film produksi luar negeri sampai pada akhirnya Ada Apa dengan Cinta? dirilis pada tahun 2002 dan menjadi salah satu pilar yang mampu membangkitkan gairah industri perfilman Indonesia.

Ada Apa dengan Cinta? merupakan salah satu dari sedikitnya film Indonesia yang tidak membikin kepala saya pusing dan perut mual pengin muntah. Setiap aspek yang ada di dalamnya — mulai dari teknik penyutradaraan, sinematografi, plot cerita, latar belakang musik, editing, art, sampai akting para pemerannya — terasa presisi dan pas. Nyaris semua rangkaian adegan yang ditampilkan di layar terlihat berisi, ikonik, dan melekat di batok kepala saya, sementara baris dialognya sudah lumrah dikutip (dan diparodikan) di sana-sini sampai sekarang.

Izinkan saya untuk bernostalgia sebentar…

Plot cerita Ada Apa dengan Cinta? berjalan dengan sederhana (dan, mungkin, tipis) bagi beberapa orang. Namun, bagi saya yang pada saat itu berada di masa peralihan dari anak ingusan ke remaja tanggung, justru karena kesederhanaan (dan ketipisan) itulah yang membikin Rudy Soedjarwo (sutradara) dan tim penulis naskah filmnya (Rako Prijanto, Prima Rusdi, dan Jujur Prananto) bisa meramu dan menggiling cerita yang “biasa-biasa saja” untuk kemudian menyajikannya di layar sinema dengan kematangan yang nyaris sempurna dan kepercayaan diri. Saya menabung selama sebulan penuh agar bisa membeli VCD bajakan Ada Apa dengan Cinta? dan ketika pertama kali menontonnya sendirian di kamar, semua yang ada di film ini berhasil membikin saya yakin dan percaya bahwa persahabatan dan kisah cinta (dua hal yang menjadi tema sentral film ini) merupakan suatu hal paripurna dalam kehidupan karakter-karakter yang ada di film ini — serta mampu membikin saya merefleksikannya dengan persahabatan dan kisah cinta (monyet) yang pada saat itu saya alami.

Dari awal film, tim produksi Ada Apa dengan Cinta? begitu cerdik mengenalkan kedekatan persahabatan, serta seberapa gaul dan berpengaruhnya, geng mading sekolahan yang beranggotakan Milly (Sissy Priscillia), Maura (Titi Kamal), Cinta (Dian Sastrowardoyo), Carmen (Adinia Wirasti), dan Alya (Ladya Cheryl). Saya langsung percaya bahwa persahabatan mereka berlima adalah persoalan hidup dan mati. Dan ketika Cinta ternyata malah jatuh hati kepada Rangga (Nicholas Saputra), remaja lelaki yang, meminjam kata-kata Cinta, “udah mati rasa, sok cuek … udah kayak sastrawan besar … belagu banget”, saya ikut geregetan. Film ini mungkin hanyalah drama-romantis remaja, namun konflik (dan klimaksnya) masih terasa relevan sampai saat ini. Rasa penasaran perihal “apakah Cinta bakal membiarkan harga dirinya jatuh demi Rangga, atau dia memilih memadamkan gaduh di dadanya demi persahabatan” dipelihara dengan baik dan dituntaskan dengan rangkaian adegan klimaks yang ikonik.

Geng mading “Ada Apa dengan Cinta?” (2002). [gambar: “BRIL!O.NET”]
Pascaperilisan Ada Apa dengan Cinta?, remaja di kampung halaman saya melakoni hidup dengan mengasosiasikan diri mereka kepada film ini. Kawan-kawan saya mendadak menjadi pujangga muda macam Rangga atau berdandan a la Cinta atau menjadi manis dan pengertian layaknya Alya, kegiatan ekstrakurikuler mading banjir peminat, sementara geng persahabatan kian bermunculan di sana-sini. Semua ingin melakukan dan merasakan apa-apa yang dilakukan dan dirasakan oleh Rangga, Cinta, Alya, dan semua karakter yang ada di film ini. Bagi mereka (dan saya), semua hal yang ada di dalam Ada Apa dengan Cinta? rasanya paripurna, manis, dan kekal. Selain itu, film ini juga mampu menumbuhkan minat baca publik: kesusastraan yang sebelumnya sepi peminat seolah-olah menemukan oase di padang pasir yang gersang. Sastra mulai menemukan hasrat dan gairahnya sendiri. Para penyair, penulis, dan pegiat sastra lainnya kembali memiliki keyakinan bahwa karya sastra, khususnya syair dan puisi, bukan hanya sekadar nyanyian sepi remeh-temeh tanpa pendengar.

Setelah rampung menonton Ada Apa dengan Cinta?, saya mulai mengasosiasikan diri dengan karakter Rangga, meniru lagaknya yang cool, mulai menyukai sastra dan rakus bacaan (di dalam tas sekolah saya saat itu selalu terselip satu bahan bacaan — entah itu novel, majalah, koran sepakbola, atau zine — di antara buku-buku pelajaran yang monoton dan membosankan), dan ketika tahu bahwa kakak saya — salah satu orang yang saya jadikan sebagai junjungan dan role model ketika saya beranjak dewasa, dan kebetulan bernama Rangga juga — suka menulis puisi mendayu-dayu untuk pacarnya, saya juga ikutan dan mulai membiasakan diri untuk menulis puisi atau curahan hati di buku catatan harian. Kini, belasan tahun setelah Ada Apa dengan Cinta? dirilis dan setelah melewati proses pendewasaan diri yang meletihkan dan menyakitkan, saya mulai menyadari bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi Rangga. Bagi saya, hanya ada dua Rangga di dunia ini (dan tidak bakal bisa menjadi tiga): karakter utama film Ada Apa dengan Cinta?, dan kakak saya sendiri. Sampai kapan pun.

* * * * *

Rangga ternyata butuh lebih dari satu purnama untuk menagih janji kepada Cinta. LINE, aplikasi pengirim pesan instan di ponsel-cerdas, menjadi perantara pertemuan Rangga dan Cinta dalam film pendek Ada Apa dengan Cinta? 2014 (2014). Film pendek yang dikemas dengan cukup menggemaskan sebagai rangkaian promosi/iklan aplikasi LINE itu dirilis via akun resmi LINE Indonesia di situs YouTube dengan sederet janji dan setumpuk nostalgia manis yang membikin linimasa media-sosial heboh dan menjadi semakin tidak keruan setelah Miles Films memutuskan untuk membikin sekuel resminya.

Dari segi finansial, keputusan Miles Films untuk memuaskan dan mengeksploitasi berahi nostalgia dengan membikin Ada Apa dengan Cinta? 2 bukanlah keputusan yang salah. Saya yakin bahwa salah satu rumah produksi film Hollywood yang disetir oleh para cartolas bakal menempuh langkah yang sama dengan Miles Films jika punya film ikonik dan menjanjikan profit menggiurkan macam Ada Apa dengan Cinta? — bahkan mereka, para cartolas Hollywood itu, bisa-bisa membikin sekuel Ada Apa dengan Cinta? setiap tiga tahun sekali menyamai waralaba The Fast and the Furious. Pertanyaannya adalah apakah Ada Apa dengan Cinta? memang memerlukan sekuel? Bagi saya, Ada Apa dengan Cinta? adalah film drama-romantis remaja nyaris sempurna yang tidak membutuhkan kisah lanjutan. Saya lebih suka Rangga dan Cinta dibiarkan selesai dan habis di bandara dan mengabadi di sana. Namun toh, Miles Films ngotot untuk melanjutkan kisah Rangga dan Cinta meski harus merelakan hilangnya aura magis mereka berdua di film pertama. Ada Apa dengan Cinta? 2 tetap dibikin dan rilis pada 28 April tahun lalu. (Saya melakukan aksi boikot pribadi dengan tidak menonton film ini tahun lalu, sampai akhirnya kemarin — dengan sedikit paksaan dari kekasih — mengunduh dan menontonnya.) Film ini tetap laris, jumlah penontonnya membludak: ternyata banyak orang yang ingin menonton kelanjutan kisah Rangga dan Cinta.

Empat belas tahun setelah rangkaian adegan di bandara yang ikonik itu, Cinta masih terlihat seperti Cinta yang dulu meski film ini tidak menampilkan dia menulis puisi dan bermain gitar. Cinta sekarang lebih sibuk mengelola Kafe Seni Pop Mini dan sudah bertunangan dengan lelaki mapan bernama Trian (Ario Bayu). Meski begitu, Cinta masih sering nongkrong bareng dengan geng mading SMA-nya dulu: Milly yang kawin dengan Mamet (Dennis Adhiswara) dan sedang hamil besar, Maura yang sudah jadi ibu-ibu heboh beranak tiga dan bersuamikan Christ (Christian Sugiono) yang cuma sekadar setor muka doang di film ini, dan Carmen yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi narkoba karena depresi menghadapi rumah tangganya yang amburadul. Persahabatan Cinta dan geng madingnya masih sekuat masa SMA dulu dan mereka memutuskan liburan ke Yogyakarta dengan tujuan untuk … entahlah, yang penting mereka masih bersama-sama. Ada yang kurang? Iya, geng mading itu kini tanpa Alya yang ternyata sudah mati gara-gara kecelakaan. (Ini bangsat sebangsat-bangsatnya! Saya pengin sekali menggasak Riri Riza [sutradara] serta Prima Rusdi dan Mira Lesmana [penulis naskah] tepat di hidung mereka bertiga!) Pada rangkaian adegan yang menampilkan Cinta dan kawan-kawannya (sok) sedih dan pamitan di depan kuburan Alya sebelum berangkat liburan, saya ingin muntah dan menganggap film ini sudah sepenuhnya kelar!

Sementara itu, Rangga gundah gulana di tengah-tengah kesibukannya mengurus kedai kopi di New York, Amerika Serikat. Rangga masih ditampilkan sebagai lelaki yang sama seperti ratusan purnama yang lalu ditambah minat baru di dunia fotografi layaknya hipster kekinian dan menjalani kehidupan yang persis sama macam tahu bulat: tanpa isi, repetitif, dan monoton. Berbekal potret kenangan berdua bersama Cinta, Rangga memilih untuk masuk, terjebak, serta hilang arah dan gairah dalam limbo yang menyesatkan bernama kangen. Roberto (Chase Kuertz), rekan kerja sekaligus sahabatnya, berulang kali menasihati Rangga untuk mulai mencoba menulis kembali agar hidupnya bisa sedikit berubah, namun berulang kali pula Rangga cuma mengangguk-angguk dengan malas sembari mencatat kebutuhan produksi kedai kopinya ketika mendengar nasihat sahabatnya. Lalu twist plot semenjana disisipkan oleh Riri: adik tiri Rangga bernama Sukma (Dimi Cindyastira) datang ke New York hanya untuk memberi kabar bahwa ibunya (Sarita Thaib) sakit dan berharap Rangga mau datang menjenguk ke Yogyakarta. Dengan beragam pertimbangan (salah satunya untuk menuntaskan kangen kepada Cinta) serta perdebatan dengan Sukma dan Roberto, Rangga akhirnya memutuskan pergi ke Yogyakarta … dengan setengah hati saja yang berdebar-debar.

Dari awal, Ada Apa dengan Cinta? 2 sudah gagal untuk memenangkan jantung saya. Berbeda dengan film pertamanya yang dengan tenang, sabar, dan cerdik mengenalkan karakter-karakternya tanpa perlu bantuan baris dialog yang bertele-tele, plot Ada Apa dengan Cinta? 2 gagal membangun fondasi cerita yang aduhai dan terburu-buru mengenalkan karakter-karakternya di bagian awal film. Pada saat saya masih kesulitan mengenal ulang karakter-karakternya (dan menjawab beberapa pertanyaan dari kekasih), Riri — dengan bantuan rangkaian adegan menyebalkan di dalam mobil di mana Mamet menyanyikan Kesepian Kita-nya Pas Band secara buruk cuma untuk memberikan sentuhan momen nostalgia yang memuakkan (saya langsung mual ketika menonton adegan ini) — memboyong filmnya ke Yogyakarta, menampilkan Cinta dkk. jalan-jalan mencoba menikmati liburan bersama-sama. Pada titik ini saya mengamini sindiran Rangga untuk Cinta sewaktu kencan di Kwitang dalam film pertamanya: “Kayak nggak punya pendirian aja … Nonton harus sama-sama, pulang sekolah juga sama-sama, berangkat juga sama-sama, apa namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi demi sesuatu yang kurang prinsipil?

Tentu saja, Rangga dan Cinta akhirnya bertemu di Yogyakarta dan suasana filmnya sedikit lebih bisa dinikmati dan tidak bikin pusing — meskipun ada beberapa baris dialog dan rangkaian adegan yang terkesan tolol, serta ikatan emosional Nicholas dan Dian tidak sekuat dan semagis film pertamanya. Setidaknya rangkaian adegan Rangga dan Cinta di Yogyakarta lebih asyik untuk ditonton ketimbang drama liburan Cinta dan geng madingnya yang kurang prinsipil. Rangga dan Cinta mencoba menuntaskan rindu (dan mencoba menyelesaikan masalah) mereka dengan berbicara dari hati ke hati satu sama lainnya sembari muter-muter menikmati Yogyakarta, meniru Jesse dan Céline dalam The Before Trilogy (1995 – 2013) bikinan Richard Linklater namun tanpa baris dialog yang berkesan dan rangkaian adegan yang ikonik: Rangga sibuk mendeklamasikan pandangan politiknya, sementara Cinta memosisikan diri sebagai korban yang lemah dan tidak tahu harus berbuat apa kecuali menampar Rangga dengan alasan yang paling receh untuk kemudian kembali dan meminta maaf sembari senyum-senyum kecil seperti orang mabuk bir murahan. (Dan saya diharap maklum dengan adegan itu? Ora sudi!)

Rangga dan Cinta merupakan salah satu pasangan romansa paling keren sekaligus anomali. Ketika masih SMA, Rangga dan Cinta adalah remaja canggih yang lebih suka membahas sastra, seni, eksistensialisme, dan aktualisasi diri. Di film pertamanya, Rangga dan Cinta berhasil mengencingi Eros dan Aphrodite bersamaan dan meninggalkan dewa daya tarik seksual dan dewi cinta itu masturbasi di pojokan surgaloka. Sementara di film ini, ketika sudah dewasa, Rangga dan Cinta didegradasi sedemikian rupa oleh Riri dan Prima menjadi sekadar manusia urban yang tidak ada bedanya dengan para perusuh linimasa media-sosial yang sering mengeluh tentang mantan kekasih dan sok melek politik. Saya berharap Rangga dan Cinta mati tertembak peluru nyasar militer atau dihukum rajam oleh moralis-bau-amis karena tertangkap basah yang-yangan di puncak gunung.

Naskah film pertamanya yang kuat berhasil memberikan plot cerita yang jelas: Rangga vs. geng mading Cinta, di mana geng mading Cinta dibangun dengan fondasi yang kokoh. Ada Apa dengan Cinta? 2 sepertinya ingin memberikan konflik Trian vs. Rangga, namun masalahnya: Trian di film ini tidak memiliki karakteristik yang jelas kecuali menyela makan malam romantis dengan menjawab telepon dari kolega bisnisnya dan terlihat tidak menikmati acara seni. Hubungan Trian dan Cinta tidak dikenalkan dan tidak dikembangkan dengan syahdu sehingga saya sama sekali tidak peduli dengan relasi asmara mereka berdua. Coba ganti karakter Trian dengan seonggok taik dan film ini masih bisa diteruskan tanpa ada rasa kehilangan sesuatu.

Setelah cukup bisa menenangkan — meski tidak istimewa — di second act, film ini menjadi lebih jahanam, lebih bangsat, lebih bedebah, dan lebih menjijikkan ketika menjelang ending-nya dengan sekonyong-konyong menampilkan rangkaian adegan banal yang memuakkan a la FTV yang tayang tengah malam di stasiun televisi swasta. Karakteristik dan citra Rangga yang keren, cool, dan adiluhung dirusak seenaknya. Rangga lebih mirip pemurung tolol yang mengemis kasih sayang kepada Cinta. Sementara plot filmnya sengaja dipanjang-panjangkan untuk mencapai klimaks yang asoy namun tidak pernah kesampaian: adegan super-receh sok dramatis di Kafe Seni Pop Mini dipindahkan dengan terburu-buru ke bandara dan Cinta nyaris mengalami kecelakaan dalam usahanya menyusul Rangga ke bandara, lalu dimajukan (lagi-lagi dengan terburu-buru) menjadi “satu purnama kemudian” di New York dan Cinta sempat merasa cemburu kemonyet-monyetan a la karakter banal FTV sebelum akhirnya mereka berdua cipokan yang gagal menyaingi kesakralan dan kemegahan adegan ciuman di bandara dalam film pertamanya. Saya tertawa ngakak menonton akhir film ini, sementara kekasih saya cuma bisa melongo menatap layar laptop butut saya.

Kamu boleh bilang bahwa film adalah perkara selera personal dan menganggap Ada Apa dengan Cinta? 2 sebagai romantisme nostalgia untuk menuntaskan rindu (dan memuaskan berahi) terhadap karakter Rangga dan Cinta dengan memberikan argumen dan analisis sinematik yang njelimet berdasarkan teori sosiologi, psiko-analisis, ekonomi, antropologi, atau apa pun. Namun film receh adalah film receh. Taik adalah taik. Buruk adalah buruk. Tidak bisa diganggu-gugat. Titik!

* * * * *

Sekitar sepuluh menit momen kesunyian setelah kredit akhir film tuntas ditampilkan di layar, kekasih saya melemaskan otot lehernya sembari bertanya: “Menurutmu berapa bintang ratingnya film barusan?” Saya menghela nafas panjang, menyulut sebatang rokokputih, dan ngasih jawaban: “Tanpa bintang, mbakku sayang.

Saya sebenarnya ingin mengesampingkan ego dan menulis yang baik-baik saja tentang Ada Apa dengan Cinta? 2. Namun, maaf, ternyata saya tidak bisa. Apa lacur? Sebotol arak lokal dan dua bungkus rokokputih pemberian sang kekasih membikin saya tidak ingin merusak romantisme kenangan saya terkait Ada Apa dengan Cinta?, sebab memang tidak ada yang baik-baik saja yang bisa ditulis dari Ada Apa dengan Cinta? 2, dan karena Alya mati. Ada Apa dengan Cinta? 2 jelas-jelas membutuhkan Alya. Panjang umur Alya! Panjang umur Ladya Cheryl!

Saya berharap terjadi apokalips mendadak pagi ini. Namun harapan memang selalu berpisah jalan dengan kenyataan dan saya akhirnya harus membiasakan diri untuk menahan muntah selama 27 purnama mendatang gara-gara film ini. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s