Passengers (2016)

Poster film. (gambar: “Pinterest”)

DALAM Passengers garapan Morten Tyldum, dua bintang film rupawan terjebak di sebuah pesawat ruang angkasa superbesar tanpa ada suatu hal menarik untuk dilakukan setiap harinya kecuali pamer baju mewah dan saling jatuh cinta satu sama lain. Chris Pratt, Jennifer Lawrence, dan konsep “all play but no work” (kebalikan dari Robinson Crusoe [1954], The Shining [1980], atau The Martian [2015]), dengan nuansa WALL-E (2008) terlihat di setiap penjuru. Perpaduan seperti itu adalah sebuah paket yang bisa membujuk dan membangkitkan minat saya (atau siapa saja) untuk menonton film ini. Setidaknya sampai saya merasa ada ketidak-beresan yang cukup mengganggu di film ini: penghinaan (atau kebencian) yang begitu mendalam untuk karakter protagonis perempuannya, dan yang lebih luas, untuk kaum perempuan di seluruh dunia.

Film ini mengambil setting di masa depan, di sebuah pesawat ruang angkasa superbesar dan mewah yang disebut Avalon dan desain produksi dari Guy Hendrix Dyas yang sangat menakjubkan menjadi satu-satunya hal yang bisa dimaafkan di film ini. Berisikan ribuan manusia yang berhibernasi di pod masing-masing, Avalon melakukan perjalanan ke sebuah planet yang disebut Homestead II dengan waktu tempuh selama 120 tahun dari Bumi. Para penumpang Avalon dijadwalkan bangun dari hibernasinya pada empat bulan terakhir dari waktu perjalanan di mana hal itu diharapkan bakal berubah menjadi sebuah pesta besar agar para penumpang bisa menyesuaikan diri, bertemu dan saling mengenal satu sama lain, serta merayakan permulaan menjalani hidup baru di planet baru yang dipenuhi dengan banyak kemungkinan dan harapan.

Salah satu penumpang Avalon adalah Jim Preston (Pratt), seorang insinyur mekanik yang ingin merasa “useful again” dan menganggap Bumi sudah terlalu padat di mana penduduknya lebih suka untuk langsung mengganti sesuatu yang telah rusak dengan yang baru, ketimbang mencoba untuk memperbaikinya terlebih dahulu. Pod hibernasi Jim mengalami kerusakan, dan dia terbangun (secara permanen, sebab tidak ada cara yang dapat dilakukan agar bisa kembali berhibernasi) untuk menghadapi kenyataan yang suram: perjalanannya ke Homestead II masih membutuhkan waktu 90 tahun lagi. Setelah setahun mabuk-mabukan setiap hari, menumbuhkan jenggot, dan “bersenang-senang” sendirian di Avalon, Jim mulai merasa kesepian dan depresi, bahwa dia ditakdirkan untuk mati sebelum penumpang Avalon lainnya bangun dari hibernasi. Jim akhirnya memutuskan untuk membangunkan salah satu penumpang yang punya data biografi menarik dan terlihat cantik seperti Jennifer Lawrence sedang tidur-siang-manis di dalam pod (dan untungnya, entah disengaja atau tidak, diperankan oleh Lawrence :p) bernama Aurora Lane. Pada dasarnya, Jim telah mencuri dan membunuh harapan Aurora untuk bisa hidup di masa depan yang lebih baik.

Ketika naskah Passengers (yang penuh dengan muatan klise) — ditulis oleh Jon Spaihts — membawa penontonnya lebih jauh ke dalam alur ceritanya dengan pace yang sangat lamban, saya malah merasa bahwa film ini telah kehilangan fondasi yang telah dibangun sebelumnya dengan melucuti kompetensi karakter protagonis perempuannya. Setelah terbangun dari hibernasi, Aurora — seorang penulis yang berencana tinggal secara temporer di Homestead II untuk kemudian kembali ke Bumi dan menuliskan pengalamannya — sempat linglung dan merasa telah menjadi korban dari kerusakan sistem pod hibernasinya. Jadi, Aurora jatuh ke dalam pesona Jim. Mereka berdua — Jim dan Aurora — menjalin relasi asmara yang (tampak) bahagia, memanjakan diri dengan berbagai macam hidangan lezat yang disajikan oleh robot, dan nongkrong di bar untuk menikmati berbagai macam minuman keras yang disajikan oleh bartender android bernama Arthur (Michael Sheen). Setahun kemudian, Arthur merusak momen indah Jim-Aurora dengan membocorkan rahasia kepada Aurora bahwa sebenarnya Jim yang telah membangunkan Aurora secara paksa dari pod hibernasi.

Pada titik ini, Tyldum dan Spaihts bisa saja memberikan twist plot yang sedap, namun yang dilakukan mereka berdua malah membawa film ini untuk melecehkan dan menghina kaum perempuan secara gamblang. Film ini dengan kurang ajarnya malah mengeksploitasi perasaan penonton agar bersimpati kepada Jim, dengan terang-terangan mengindikasikan agar berpihak kepada Jim, tanpa memedulikan kesejahteraan dan kebahagiaan Aurora. Kerusakan sistem Avalon dijadikan alasan yang memaksa Aurora untuk bekerja-sama dan memaafkan Jim, sebab harapan dan masa depan dan kebebasan Aurora yang telah tercuri adalah persoalan yang remeh bila dibandingkan dengan keseluruhan Avalon yang kemungkinan meledak dan hancur berkeping-keping di ruang angkasa. Dan ketika saya berharap Aurora mengambil kesempatan untuk mewujudkan harapan dan membahagiakan dirinya sendiri setelah berhasil memperbaiki sistem Avalon, dia malah memilih Jim: seorang pangeran-ganteng-tanpa-kuda-putih yang pada dasarnya telah mencuri dan membunuh harapan, masa depan, dan kebebasan Aurora demi memuaskan berahi. Even if you believe in forgiveness, the way this film stacks the deck to get to that place is unforgivable! Dengan demikian, film ini tanpa malu-malu telah menciptakan semesta dongeng yang mengasumsikan bahwa kaum perempuan hanya ingin jatuh dan terperangkap ke dalam pesona lelaki, serta cuma bisa diselamatkan oleh lelaki ketika dihadapkan dengan ketidak-pastian dalam kehidupan, tanpa bisa (atau boleh) melakukan apa pun untuk dirinya sendiri.

Dalam sebuah adegan klimaks menjelang akhir film, Aurora berteriak “Aku tidak peduli! Kamu mati, aku mati!” kepada Jim. Hal ini samar-samar mengingatkan saya pada salah satu baris dialog di film romansa lain yang juga mengambil setting di sebuah media transportasi yang bakal hancur, namun bukan dilandasi dengan alasan yang persis sama. Kalimat Aurora itu “meminjam” baris dialog Titanic (1997) bikinan James Cameron yang diucapkan oleh Rose DeWitt Bukater: “Kamu lompat, aku (juga) lompat.” Bahkan, sebagian besar elemen dalam Passengers membikin saya membandingkannya dengan Titanic dan akhirnya menyadari bahwa Aurora Lane bukanlah Rose DeWitt Bukater: Aurora adalah karakter protagonis perempuan yang diciptakan dan diperlakukan semata-mata dari sudut pandang lelaki untuk memenuhi fantasi (dan memuaskan berahi) lelaki. Baris dialog Aurora dalam Passengers adalah jerit ketidak-berdayaan, sementara baris dialog Rose dalam Titanic adalah deklarasi kesetaraan dan keberanian. Mungkin mengharapkan karakter protagonis perempuan yang mandiri dan kuat adalah sebuah kekonyolan yang lebih konyol dari film yang superkonyol macam Passengers ini. Namun, tidak bisa tidak, saya tetap menginginkan ada film sains-fiksi di mana karakter perempuannya diberikan kebebasan untuk menuliskan dan menentukan takdir mereka sendiri, atau setidaknya, tidak mudah jatuh cinta kepada lelaki yang telah mencuri, melukai, dan merusak hidupnya.

Passengers adalah perpaduan menjijikkan dari pemuasan fantasi Sindrom Stockholm yang sangat mengganggu dan omong kosong seksisme yang menyebalkan. Ketika menonton film ini dengan Vergian Dimas dan Rizal Hilmi, saya lebih terhibur dengan guyonan garing yang diocehkan oleh dua kawan saya itu. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s