The Childhood of a Leader (2015)

Poster film. (gambar: IMDb)

KETIKA seorang aktor berusia 20 tahunan memutuskan untuk mempermanis curriculum vitae­-nya dalam dunia sinematik dengan menjadi sutradara, produser, atau penulis naskah, bisa dibayangkan bahwa tantangan, harapan, dan beban yang diletakkan di pundaknya cukup besar. Brady Corbet mampu melakukan pekerjaan yang luar biasa serta berhasil melampaui tantangan dan harapan konvensional para pecinta sinema dalam debut filmnya sebagai sutradara-produser-penulis yang berjudul The Childhood of a Leader. Ada dua alasan kenapa saya berkata seperti itu: (1) Corbet tidak memberikan peran untuk dirinya sendiri dalam film ini, dia murni berada di balik layar; dan (2) visi atau tujuan dan keberanian estetikanya menjadikan film ini sebagai tontonan yang sangat manis dan sama sekali berbeda dengan produksi Hollywood konvensional. Setelah pernah bermain dalam film-film keren bikinan sutradara terkenal macam Lars von Trier (Melancholia [2011]), Ruben Östlund (Force Majeure [2014]), Michael Haneke (Funny Games [2007]), Sean Durkin (Martha Marcy May Marlene [2011]), Bertrand Bonello (Saint Laurent [2014]), Noah Baumbach (While We’re Young [2014]), dan Olivier Assayas (Clouds of Sils Maria [2014]), Corbet memasuki dunia auteur sinema dengan film yang jauh terasa lebih Eropa ketimbang indie Hollywood dalam sensibilitas dan kepekaannya. Film ini menceritakan tentang masa kecil disfungsional dan tidak bahagia dari seseorang yang nantinya menjadi pemimpin fasis. Film ini mengambil latar belakang tempat di Prancis, serta memberikan potongan sejarah Eropa yang cukup akurat untuk dikunyah: beberapa momen pada masa-masa Perjanjian Versailles, ketika Perang Dunia I mendekati konklusinya.

Film ini dibuka dengan rentetan dari kumpulan gambar sejarah hasil rekaman dokumenter warta berita yang memukau dan menjadi semakin keren sebab digabungkan dengan latar belakang musik score propulsif nan syahdu hasil gubahan Scott Walker. Ketika cerita film ini dimulai, rangkaian adegan yang ditampilkan (dalam long take yang misterius dan kelam) tampak seperti berada di sebuah tempat perlindungan dari konflik mengerikan yang membikin Benua Eropa hancur berkeping-keping. Di sebuah desa yang tenang dan damai di pinggiran Prancis, sekumpulan anak-anak mengenakan kostum drama sedang mempersiapkan diri berlatih pementasan untuk acara Boar’s Head Feast dalam rangka perayaan Natal pada tahun 1918. Di antara sekumpulan anak-anak itu ada seorang bocah lelaki berambut panjang yang langsung keluar sesaat setelah latihan pementasan selesai dan, untuk alasan yang tidak dijelaskan, mulai melemparkan bebatuan kepada orang lain.

Narasi film ini dipecah dalam tiga bab atau bagian di mana yang pertama diberi judul “I: The First Tantrum” dengan subjudul “A Sign of Things to Come”, dilanjutkan “II: The Second Tantrum” dengan subjudul “A New Year”, dan diakhiri oleh “III: The Third Tantrum” dengan subjudul ““It’s a dragon…””. Karakter utama yang menjadi poros cerita dalam tiga bagian itu adalah seorang bocah lelaki berambut panjang dari rangkaian adegan pembuka film ini yang merupakan anak dari seorang Diplomat Amerika Serikat (The Father [Liam Cunningham]) di Prancis untuk menegosiasikan perjanjian perdamaian pasca-Perang Dunia I yang dimulai pada bulan Januari 1919. Diplomat Amerika Serikat ini kawin dengan perempuan cantik kelahiran Jerman (The Mother [Bérénice Bejo]) yang salah satu tugas domestiknya adalah menghukum sang anak sampai pada akhirnya menumbuhkan sikap anti-sosial dan kekejaman pada diri sang anak. Menjelang akhir film, seingat saya pada menit 103, nama bocah lelaki berambut panjang itu disebut untuk pertama kalinya: Prescott. (Di sepanjang film, bocah atau sang anak tersebut hanya dipanggil dengan kata “garçon”, “chéri”, atau “darling”. Sementara nama kedua orangtua-nya tidak pernah disebutkan, kredit akhir film pun tidak menampilkan nama-nama karakter yang ada di film ini — dalam daftar pemeran halaman Wikipedia untuk film ini cuma disebutkan sebagai The Mother dan The Father.) Identitas bocah lelaki berambut panjang itu adalah suatu teka-teki misterius di sepanjang film ini, sementara judul filmnya mengajak saya — sebagai penonton — untuk menebak-nebak, merenung, berpikir, dan bertanya-tanya: “Saya menonton kisah masa kecil dari pemimpin fasis yang mana? Apakah bocah lelaki berambut panjang itu adalah orang yang nyata dan benar-benar ada secara historis atau dia merupakan karakter rekaan/konstruksi simbolis tentang fasisme?

Mengutip Corbet dalam wawancaranya dengan IndieWire: “It’s about the birth of fascism that occurred during the signing of the Treaty of Versailles. I have intentionally not revealed the identity of the character. And it’s a funny thing because it’s not for the reasons that people think. One thing I will happily tell everybody is that the character is not Hitler [laughs]. And the character is not Mussolini. It’s someone else. And there’s the dramatic event where you learn who this person is and that’s something I want to save for people. Robert Pattinson is not playing Hitler as you now know [laughs]. I’ll go on the record saying that.” Perjanjian Versailles, tentu saja, mengerucutkan ingatan saya kepada satu “pemimpin”: seorang megalomaniak fasis bernama Adolf Hitler yang karier politiknya melesat karena berhasil membujuk (atau mengintimidasi) segenap warga Jerman bahwa mereka telah dipermalukan dan dikhianati dengan cara yang sangat buruk untuk mengakui kekalahan di Perang Dunia I. Namun Hitler — atau Joseph Stalin dan Benito Mussolini — menghabiskan masa kecil hidupnya bersama keluarga dari kelas yang lebih rendah dan miskin ketimbang kehidupan keluarga yang ditampilkan di film ini. Sementara kehidupan masa kecil Oswald Mosley dan Francisco Franco sedikit lebih borjuis dan lebih nyaman ketimbang ini. Bahkan yang lebih menarik adalah bahwa film ini tampaknya merupakan mitos yang lebih metaforis perihal fasisme Amerika ketimbang Eropa.

Dalam ulasan ini saya tidak bakal memberikan (kemungkinan) jawaban dari misteri yang sengaja disajikan oleh The Childhood of a Leader karena, jujur saja, saya juga masih penasaran dan bertanya-tanya tentang hal itu. Di sini saya cuma ingin mencatat dan ngasih tahu bahwa film bikinan Corbet ini adalah hasil karya sinema yang memang misterius, kelam, gila, gelap, buram, dan keren — sebuah pendekatan sinematik cukup brilian yang membikin orang-orang yang sudah menontonnya terbagi menjadi dua kelompok. Beberapa orang mungkin menuntut adanya kejelasan lebih lanjut dari film ini: potret siapakah yang digambarkan oleh karakter Prescott, penyebab masalah internal keluarga mereka dan koneksi dari drama domestik mereka dengan drama besar dari sejarah negosiasi perdamaian pasca-Perang Dunia I. Sementara sebagian lainnya yang memungkinkan film ini untuk membangun logika sinematiknya sendiri bakal mampu menikmati cara orisinal Corbet menyusuri berbagai macam konvensi yang tidak terhitung jumlahnya dalam upayanya untuk mendorong dan menyerahkan sepenuhnya kepada para penonton untuk mengambil kesimpulan masing-masing.

Corbet menerapkan metodenya dengan mengajak penontonnya untuk melihat sekilas — sepotong demi sepotong — aktivitas atau apa yang terjadi dalam keluarga Prescott, memperlakukan penontonnya nyaris sama dengan para pelayan rumah atau pekerja yang membantu keluarga tersebut atau para tamu yang berkunjung ke kediaman Prescott. Pada titik tertentu, Prescott adalah bocah keras kepala yang cukup menyebalkan dan menjengkelkan, namun hal itu sepertinya merupakan sifat khas anak kecil dari keluarga kelas menengah-ke-atas atau borjuis otoritarian yang hidup pada zaman pasca-Perang Dunia I. Prescott mengalami keterasingan dalam kehidupan keluarganya; orangtua-nya menempati dunia yang berlainan dengannya, sibuk dengan urusan mereka masing-masing: sang ibu sibuk mengurusi persoalan domestik mulai dari pelayan rumah sampai guru les bahasa Prancis, sementara sang ayah sibuk membahas politik (salah satunya dengan seorang kawan yang mengantarnya pulang dari Paris [Robert Pattinson, yang memainkan dua peran dalam film ini sebagai Charles Marker dan Prescott dewasa]). Sang ibu dan ayah hanya tertarik untuk mendisiplinkan Prescott dengan cara apa pun yang dianggap paling mudah (misalnya dengan memberikan hukuman), dan mungkin di tengah keprihatinan mereka terhadap kondisi dunia pascaperang, mereka belum bisa menyadari efek dari semua itu malah memprovokasi Prescott untuk tumbuh menjadi pribadi anti-sosial yang kejam. Dalam keterasingannya, Prescott mulai melihat dan memahami apa itu kekuasaan dan bagaimana cara menggunakannya untuk menindas/menguasai orang lain.

Fakta bahwa metode film ini berlangsung dari insiden kecil ke insiden kecil lainnya tanpa mencoba membangun atau membawanya ke dalam atmosfer dramatis yang khas merupakan salah satu keangkuhan yang sangat berisiko. Corbet memungkinkan detail-detail kecil berakumulasi dengan pace yang lumayan lambat, tidak tergesa-gesa, dan hasilnya adalah saya merasa ditarik ke pojokan gang dan diajak duduk dengan tenang di sana untuk mengobservasi apa-apa yang terjadi di kediaman Prescott secermat mungkin, hingga akhirnya saya seolah-olah merasa dekat dengan Prescott dan orangtua-nya sejak lama meski saya mengamati kehidupan harian mereka dari kejauhan. Teknik pendekatan visual yang digunakan dalam film ini semakin menegaskan metode observasi dari kejauhan tersebut. Dengan pencahayaan a la Johannes Vermeer yang elegan, sinematografer Lol Crawley menerjemahkan rumah keluarga Prescott sebagai karakter yang menyimpan rahasia dan memiliki suasana hati sendiri, yang dimunculkan melalui sudut kamera dengan kemiringan tertentu dan long take yang seolah-olah termenung beberapa saat ketika mengambil gambar ruangan/kamar yang kosong setelah ditinggal oleh karakter-karakter film ini. (Atau ketika kamera Crawley fokus menyorot puting payudara Ada [guru les bahasa Prancis Prescott, diperankan oleh Stacy Martin] yang tampak samar-samar di balik blus putih-semi-transparan yang dipakainya saat membacakan dongeng fabel untuk Prescott. Sumpah demi apa pun, itu adalah long take estetis yang memukau, intim, dan erotis.) Sementara beberapa tracking shot-nya juga menampilkan rangkaian gambar yang begitu syahdu. Crawley dan Corbet paham bagaimana caranya mengapresiasi dan menyajikan keindahan.

Aktor cilik Inggris bernama Tom Sweet menjadi pusat perhatian dalam film ini dengan kinerja akting yang luar biasa cemerlang sebagai Prescott kecil. Dengan tampilan rambut ikal panjang berwarna pirang dan baju berenda, Prescott kerap dikira sebagai gadis kecil dan hal itu membikinnya jengkel dan marah. Sweet mampu menerjemahkan kejengkelan dan amarah Prescott kecil menjadi tontonan yang manis di layar, sebuah kinerja akting yang benar-benar luar biasa dari seorang aktor cilik. Film ini semakin berkesan karena seluruh aktris/aktornya mampu menampilkan kinerja yang solid dan menggugah selera.

Dari halaman Wikipedia menyebutkan bahwa naskah film ini — yang ditulis oleh Mona Fastvold dan Corbet — terinspirasi dari cerita pendek dengan judul yang sama karya Jean-Paul Sartre dan novel The Magus karangan John Fowles. Tema atau ide sentral film ini dipahami sebagai upaya untuk mencoba menyingkap latar belakang psikologis tertentu dari salah satu pemimpin fasis. Lebih dari apa pun, film ini adalah karya yang cukup personal dan puitis untuk melihat kembali sebuah zaman di mana sinema, sejarah, psikologi, dan politik silang-menyilang dalam beberapa poin tertentu dan dengan cara yang masih coba diuraikan oleh manusia modern saat ini. Dan bahwa film ini memiliki keberanian untuk tidak mengungkapkan misterinya, yang membikin saya — beserta para penonton simpatik lainnya — terpukau penasaran setelah kredit akhir film telah memudar, adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang menjadikan The Childhood of a Leader sebagai sebuah tontonan keren dan debut film yang menjanjikan dari seorang Brady Corbet. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s