Respire (2014)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

REMAJA adalah fase di mana kita — saya dan kamu: sebagai manusia — mulai mendambakan sebuah relasi persahabatan atau asmara yang tulus dan kuat. Semasa remaja, kita merasa bahwa dunia seolah-olah berhenti berputar dan semuanya menjadi berantakan ketika seorang sahabat karib tiba-tiba menjauhi atau memutuskan relasi persahabatan dengan kita. Hal itu seperti diusir dari sebuah kultus yang sangat kuat dan kita harus menghadapi apokalips yang sudah mengintip dari jendela depan rumah sendirian — tanpa sahabat, tanpa orang yang kita cintai, tanpa siapa-siapa. Di usia remaja, jati diri bergantung pada persepsi dari sahabat atau kekasih. Pengkhianatan dan manipulasi adalah bentuk kekejaman yang bisa didapatkan dari sahabat. Respire garapan Mélanie Laurent (yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Anne-Sophie Brasme) sepenuhnya memahami sensasi adiktif dari sebuah persahabatan yang baru terjalin antara dua remaja perempuan, berkembang menjadi sebuah relasi yang terasa tulus dan kuat, sebelum pesona dari hubungan itu menenggelamkan mereka berdua ke dalam palung sakit hati dan jurang kemarahan yang teramat dalam. Ini adalah sebuah film yang sangat kuat, percaya diri, indah, dan menakutkan!

Ketika pertama kali muncul di sebuah sekolah menengah atas, Sarah (diperankan oleh Lou de Laâge) membawa serta kesadaran diri dan memamerkan pesona dari “siswi baru”. Sarah dengan mudah mampu menarik perhatian dan mengambil hati semua murid di kelas barunya dengan membisikkan jawaban kepada seorang siswa yang tampak kesulitan mengerjakan soal matematika di papan tulis. Sarah mengisap rokok dari Nigeria dan bercerita bahwa ibunya bekerja untuk sebuah LSM di Afrika. Saat mengikuti pelajaran olahraga, Sarah pamer kemampuan dengan melompat ke atas balok keseimbangan, melakukan beberapa gerakan senam di mana dia tampak berdiri melayang di udara dengan satu kaki terentang di belakangnya: sebuah visi dari keseimbangan, keheningan, dan kepercayaan diri. Dalam mentalitas remaja SMA, Sarah adalah individu yang telah matang dan memesona — dan itu merupakan suatu hal yang seduktif bagi siapa saja agar bisa dekat dan menjadi sahabatnya.

Charlie (diperankan Joséphine Japy), remaja perempuan yang cenderung pemalu dan menderita penyakit asma, sangat gembira ketika Sarah menjadikannya sebagai sahabat. Charlie menjalani kehidupan domestik yang menjengkelkan di rumah: ibu dan ayahnya (Isabelle Carré dan Radivoje Bukvic) seringkali bertengkar, lantas putus, lalu berbaikan dan rukun kembali, dan kemudian bertengkar dan putus lagi — siklus itu terus berulang sehingga mereka berdua nyaris tidak pernah memberikan cukup perhatian dan kasih sayang kepada Charlie. Sarah dan Charlie menjadi semakin akrab, menghabiskan berjam-jam dengan mengobrol melalui telepon pada malamhari, membolos saat jam pelajaran untuk merokok di kamar mandi sekolah, menari dan bersenang-senang di kafe; mereka berdua menciptakan keterikatan terhadap satu sama lain, membangun sebuah dunia sendiri di mana tidak ada siapa-siapa atau apa-apa di sana kecuali mereka berdua.

Ada beberapa isyarat atau tanda bahaya di rangkaian awal film. Sarah, dengan aura dingin dari sebuah penyangkalan yang masih masuk akal, mencoba mengiris tali pertemanan yang terjalin sejak masih anak-anak antara Charlie dan Victoire (Roxane Duran) dalam adegan ketika mereka bertiga pulang bersama dari sekolah. Kemudian, saat berlibur akhir pekan dengan keluarga dan kerabat Charlie, Sarah menggoda seorang pria yang menaruh hati pada ibu Charlie. Ada kekejaman tersendiri yang saya rasakan terkait hal itu — namun bukan dipicu oleh alasan moralis remeh-temeh macam etis atau tidak etis. de Laâge selalu menampilkan akting yang memukau, namun kinerjanya yang paling menarik adalah saat karakter yang diperankannya tidak menjadi pusat perhatian: dia mampu menampilkan emosi dan ekspresi wajah yang datar, dan dengan sabar menunggu sebuah momen yang pas untuk kembali memegang kendali, untuk kembali menjadi pusat perhatian. Ketika ekuilibrium persahabatan ini tampak terguncang, emosi Charlie menjadi tidak keruan. Meski begitu, alih-alih menyerah, Charlie tetap berpegang-teguh pada persahabatannya dengan Sarah dan berupaya sekuat-kuatnya tenaga untuk menyeimbangkan relasi mereka berdua. Sarah dan Charlie sama-sama memiliki sesuatu yang sangat didambakan oleh satu sama lain. Kesenjangan dan kekosongan yang sebelumnya dirasakan oleh Sarah dan Charlie dalam kehidupan masing-masing secara perlahan bisa diluruskan dan diisi oleh kehadiran dan keberadaan satu sama lain — dengan kata lain: pada titik tertentu, mereka berdua saling melengkapi.

Respire menjadi semakin menarik ketika persahabatan Sarah dan Charlie telah melewati dan meninggalkan momen-momen menyenangkannya. Kekuatan yang paling utama dari film ini adalah bahwa, pada kenyataannya, Sarah sebenarnya bukanlah karakter yang jahat, meskipun perilakunya seringkali mengerikan (dan menjengelkan). Sarah, seperti halnya manusia pada umumnya, juga menyimpan rahasia/kebohongan: cerita tentang ibunya yang mengagumkan, baik hati, dan tanpa pamrih adalah sebuah omong kosong yang bisa diketahui oleh siapa saja tanpa perlu mendalami ilmu psikologi tentang manusia atau ilmu tentang apa pun. Mungkin kebohongannya itu merupakan mekanisme Sarah untuk bisa bertahan hidup di tengah-tengah pergaulan remaja dan dunia yang sedang tidak baik-baik saja. (Mungkin saja seperti itu adanya, saya tidak tahu secara pasti.) Lama-kelamaan, Sarah merasakan bahwa persahabatannya dengan Charlie adalah sesuatu yang mengganggu dan membosankan.

Detail yang ditampilkan Laurent di sini sangat menarik: kolase dari aspek kehidupan remaja, kesunyian, emosi, ekspresi wajah, bahasa tubuh. Momen-momen penting selalu ditampilkan dalam gambar terisolir yang sempurna: Sarah dan Charlie saling berbisik ketika mengobrol di telepon pada malamhari; Sarah dan Charlie berlarian bebas di sebuah padang ilalang yang indah dan damai; Charlie bermain hoki bersama kawan-kawannya. Plot ceritanya disajikan linear (tidak seperti novelnya yang, menurut beberapa artikel yang saya baca, dikisahkan dalam kilas-balik), terfragmentasi dan cukup santai; sangat enak untuk dinikmati sampai akhir bersama rokokputih, kopihitam, camilan, dan dekapan kekasih. Ada beberapa gambar stand-out shot yang memukau. Laurent jelas memiliki kemampuan brilian dalam setiap komposisi pengambilan gambarnya, dan Arnaud Potier — sinematografer film ini — mampu menerjemahkan keinginan Laurent dalam upaya mereka untuk merekam dan menyajikan berbagai macam gambar yang cantik dan mengesankan di layar. Potier dan Laurent berhasil membikin film ini menarik secara visual dengan konsistensi penuh. Adegan pembuka film ini, misalnya, yang menampilkan wajah cemberut Charlie sebagai background di balik close-up secangkir kopi sama-sama menarik dan efektifnya dengan gambar wide shot dari Charlie berdiri di tengah laut yang tenang. Potier dan Laurent juga mengambil beberapa gambar menggunakan teknik tracking shot dalam mode yang mengejutkan dan cerdas untuk mengungkapkan twist di beberapa plot cerita.

Dan yang paling menakjubkan bagi saya adalah teknik one-take-shot lumayan panjang di sekitar eksterior gedung apartemen Sarah di mana kamera bergerak dengan syahdu untuk merekam dan menyajikan kehidupan domestik Sarah dan ibunya melalui jendela satu ke jendela lainnya. Kemarahan Charlie karena merasa dijauhi oleh Sarah memicunya untuk diam-diam menguntit Sarah pulang ke rumah, dan gambar yang dihasilkan dari one-take-shot lumayan panjang itu merupakan representasi sempurna dari kemarahan (dan kegelisahan) Charlie. Merasa dijauhi oleh sahabatnya, Charlie membutuhkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan untuk dirinya sendiri: “Mengapa Sarah menjauhiku?” dan “Kesalahan apa yang telah kuperbuat?” Sudah jelas bahwa Charlie tidak ingin diabaikan oleh Sarah (dan dia sangat marah karena hal itu), namun terkadang reaksi yang ditampilkannya memberi kesan seolah-olah dia malah muak dengan dirinya sendiri.

Pada awalnya, Charlie terlihat seperti karakter klise sebagai penyendiri (atau pemalu) yang sering ditampilkan di film drama-melankolis remaja lainnya. Namun kinerja Japy mampu menampilkan detail yang menarik untuk menunjukkan yang sebaliknya: ekspresi datar ketika dia berada di rumahnya yang memberikan kesan bahwa dia menyimpan kemarahan dan merasakan kebosanan ketika berada di rumah, dan dia masih belum tahu bagaimana caranya untuk menangani perasaan itu. Sementara de Laâge mampu menunjukkan pemahaman yang brilian dalam menggambarkan seorang remaja perempuan rapuh yang telah menciptakan kepribadian yang cocok baginya dan persona yang membantunya untuk menavigasi kehidupan hariannya sekaligus juga memanipulasi orang-orang di sekitarnya. Sarah adalah karakter narsistik dan sangat bergantung pada perhatian (dan penilaian) orang lain — fokusnya bukan pada dirinya, melainkan pada sesuatu yang lain: citra dirinya di mata orang banyak. Sarah adalah pribadi yang kejam dan brutal, namun di sisi lain dia juga lemah, suportif, dan menyenangkan.

Film ini merupakan tontonan yang menyayat jantung. Dan kekasih saya, Kanjeng Ratu F, yang melewatkan 5-10 menit awal film ini untuk membikin kopihitam (yang tidak pernah pas takarannya), tidak mau mengalihkan pandangannya dari layar laptop butut saya sedetik pun — tenggelam dalam plot syahdu film ini. Dengan wajah memelas dan nada bicara yang terdengar nyaris putus asa, Kanjeng Ratu F mempertanyakan mengapa persahabatan Sarah dan Charlie yang tampak tulus dan kuat itu pada akhirnya berantakan, diikuti dengan perasaan geram menyadari fakta bahwa kaum perempuan (dan manusia pada umumnya) ternyata tidak bisa berhenti untuk bertindak kejam terhadap makhluk hidup lainnya. Film ini adalah penggambaran yang akurat dari kekejaman dan keganasan (serta betapa otoriternya) perempuan yang seringkali tidak terlihat atau bahkan malah memang disembunyikan di balik topeng manisnya. Ketidak-pedulian Sarah memang menyakitkan bagi Charlie dan, saya yakin, hal itu juga dirasakan oleh siapa saja yang pernah dikecewakan oleh sahabatnya masing-masing. Dan jika tidak ingin terus-terusan sakit, maka sudah sepatutnya Charlie melepas Sarah dan dengan ikhlas merelakan relasi persahabatannya karam di dasar jurang. Namun Charlie tidak bisa (atau tidak mau) melakukan hal itu, sebab Sarah telah memberinya sesuatu yang sangat dia inginkan dan tidak pernah dia dapatkan dari orang lain: perhatian, kasih sayang, dan rasa saling memiliki. Charlie masih menginginkan semua itu dari Sarah — hanya dari Sarah. Yang tidak mampu dipahami oleh Charlie — begitu juga oleh Kanjeng Ratu F dan saya — adalah fakta bahwa Sarah telah memanipulasinya dan memperlakukannya dengan sangat buruk.

Plot film ini sempat berjalan terputus-putus dan terasa bimbang di bagian transisi dari babak kedua ke babak ketiganya, ketika naskah film (yang ditulis oleh Laurent dan Julien Lambroschini) berupaya membikin beberapa lompatan untuk menghubungkan retaknya persahabatan Sarah dan Charlie dengan beberapa gambar kilas-balik kejadian di masa lalu mereka berdua, namun 20 menit akhir film berhasil menghapus kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya oleh film ini — serta diakhiri dengan keberanian dan rasa percaya diri yang begitu besar.

(Sarah mendatangi rumah Charlie hanya untuk memanipulasi dan mengejek Charlie, lantas kemudian — sumpah demi apa pun, saya terkejut dan merasa dipuaskan pada saat yang bersamaan ketika menonton adegan ini — bham!, Charlie membenturkan kepala Sarah dengan sangat keras ke laci di sebelah tempat tidurnya. Dengan wajah yang berlumuran darah, Sarah malah tertawa. Dan karena merasa jijik mendengar tawa Sarah, sebuah kejutan indah lainnya disajikan Laurent — dan saya bersyukur untuk hal itu: Charlie membekap wajah Sarah dengan bantal sampai Sarah akhirnya mati lemas di tempat tidurnya. Ketika ibunya pulang ke rumah, Charlie meminta maaf kepadanya dan berkata: “Dia ada di lantai atas,” sebelum akhirnya Charlie mulai menderita serangan panik yang begitu hebat, meninggalkan saya yang melongo menatap layar laptop menampilkan kredit akhir film dan kemudian kelimpungan berusaha memasang kembali jantung saya yang copot karena kenikmatan dan gairah yang diberikan oleh Laurent sebagai adegan penutup film ini. Sial, jahanam, bangsat!)

Sudah banyak film dengan kisah persahabatan dua perempuan yang cukup intens dan manipulatif, yang terkadang memberikan situasi folie à deux sebagai konklusi. Laurent tahu dan paham dengan semua itu, dan di sini dia berhasil menjaga kisahnya berjalan dalam jalur yang tepat dan lezat dan indah dan menakutkan sehingga tidak berakhir menjadi klise. Respire merupakan sebuah observasi yang tulus dan cermat tentang sensasi adiktif (dan histeria) dari sebuah relasi persahabatan, dan momen ketika hal-hal buruk mulai muncul untuk menyeret relasi persahabatan yang pada awalnya tampak sempurna itu ke lembah yang paling dalam dan gelap — dieksekusi dengan teknik penyutradaraan yang brilian, diramu dengan kinerja yang luar biasa memukau dari para pemeran dan kru filmnya, serta disajikan dengan pace yang syahdu dan nikmat untuk menghasilkan sebuah tontonan yang sentimental, jujur, dan menggugah selera.

Dan setelahnya — saya mulai memeriksa kembali semua relasi yang pernah dan sedang saya jalani, mengingat-ingat semua orang yang hadir dalam hidup saya serta yang mengaku peduli dan mencintai saya: sahabat, mantan pacar, kekasih, kakak, ibu, ayah, adik; semuanya. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s