#IstirahatlahKataKata: oase bagi kesusastraan dan menyelami batin Wiji Thukul

AWAL tahun 2017 ini, dunia sastra Indonesia sedang menggeliat. Bukan karena banyak karya antologi syair, novel, atau cerpen ramai didiskusikan dan dibedah secara serius, melainkan karena pemutaran film drama-biografi romantis menyayat jantung berjudul Istirahatlah Kata-kata (2017) yang berkisah tentang kesenyapan dan kegelisahan Wiji Thukul — seorang penyair yang diburu dan diculik oleh negara, dan sampai saat ini masih hilang tanpa jejak — ketika menjalani rutinitas hidup hariannya sebagai buron di Pontianak, Kalimantan Barat. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Yosep Anggi Noen ini diputar secara serentak untuk pertama kalinya di bioskop di 19 kota di seluruh Indonesia mulai 19 Januari 2017 kemarin untuk mengenang 19 tahun menghilangnya Wiji Thukul. Angka 19 memang sengaja digunakan sebagai sebuah upaya tegas untuk merawat ingatan dan menolak melupakan tragedi penghilangan Wiji Thukul (dan 12 orang lainnya) pada 1998 lalu, sekaligus juga menjadi simbol duka (dan rindu) kolektif terhadap mereka yang telah hilang dan yang ditinggalkan.

Pada malam tanggal 19 Januari itu, dari beberapa artikel yang saya baca di internet, antusiasme orang-orang untuk menonton film ini ternyata di luar dugaan: mereka berbondong-bondong memenuhi bioskop dan datang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Selain orang-orang yang ingin menonton karena didasari rasa penasaran kepada sosok Wiji Thukul, ada juga beberapa kalangan yang pernah berlintasan dan berjuang bersama Wiji Thukul semasa hidupnya — sejarawan, sastrawan, politikus, aktivis HAM, akademisi, dll. — yang juga ikut datang menonton pemutaran perdana film ini di bioskop: semuanya larut dalam kemanunggalan emosi yang persis sama. Di belahan dunia maya, tentu saja, dipenuhi dengan berbagai macam postingan bertagar #ThukulDiBioskop dan #IstirahatlahKataKata, serta berbagai macam foto lembaran tiket bioskop diunggah. Setelahnya, antusiasme ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda bakal surut dalam waktu dekat.

Sialnya, Malang tidak masuk dalam daftar kota yang disambangi oleh film ini. Sebagai seorang budak kantoran yang (sok) mengenal Wiji Thukul melalui berbagai karya puisinya — dan telah mempersiapkan lahir-batin untuk menonton karya sinematik yang membahasnya jauh-jauh hari sejak kabar kemunculan film ini di berbagai macam festival film mancanegara — saya hanya bisa gigit jari dan menggerutu, mengalami kegalauan akut dan berusaha untuk menenangkan hati dengan membaca beberapa ulasan film ini di internet dan mendengar cerita dari kawan-kawan di kota lain yang kebagian jatah pemutaran film ini tentang plot cerita dan sebagainya. Namun burung biru dunia maya itu akhirnya memberikan kabar gembira: ada acara nonton bareng di Malang pada hari Kamis, 2 Februari 2017! Saya langsung bergerilya memesan tiketnya dengan perasaan sukacita yang membuncah.

Hari Kamis tanggal 2 Februari 2017 kemarin, sekitar jam setengah lima sore, saya bersama empat kawan bergerak menuju gedung Bioskop Mandala 21 di pusat Kota Malang — tempat nobar film Istirahatlah Kata-kata digelar — untuk menukarkan bukti transfer pemesanan dengan tiket masuk studio bioskop. Saya mendapati antrean yang cukup panjang ketika pertama kali tiba di gedung bioskop dan antusiasme membuncah dari para penonton yang menunggu, semuanya seperti tidak sabar ingin menonton Wiji Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto dalam film ini. Saya mengenali beberapa wajah yang hadir di bioskop saat itu, dan sempat menyapa untuk bertukar kabar dan gairah yang persis sama untuk menonton film ini. Sembari menunggu empat kawan lain yang belum datang dan menghabisi waktu sebelum jam tayang filmnya, saya memilih bercanda sembari merokok dan mengganjal perut dengan camilan di tempat parkir.

Setelah nobar "Istirahatlah Kata-kata" di Bioskop Mandala 21, Malang. (gambar: Facebook)
Setelah nobar “Istirahatlah Kata-kata” di Bioskop Mandala 21, Malang. (gambar: Facebook)

Wiji Thukul, penyair cadel yang lahir di Kota Solo itu, memang sosok yang eksentrik. Bayangkan, di Surabaya dikabarkan sejumlah pemuda berdiri dan menyanyikan lagu Darah Juang sebelum memasuki studio bioskop. Sementara di Kota Semarang, penonton tidak langsung beranjak pergi meski kredit akhir film telah usai ditampilkan di layar bioskop. Kerumunan orang yang menonton di Medan tidak juga segera membubarkan diri meski bioskop sudah ditutup. Poster film dan buku saku kumpulan puisi karangan Wiji Thukul jadi rebutan ketika dibagikan kepada penonton (dan sayangnya, atau sialnya, saya tidak kebagian dua barang itu). Berbagai macam ruang diskusi kembali dibuka untuk membincangkan film ini. Dan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, kegiatan menonton film diakhiri dengan fenomena nostalgia romantis “ngamen puisi”. Istilah itu memang identik dengan aktivitas seorang Wiji Thukul: semasa hidupnya, dia rajin menggelar acara pembacaan dan diskusi puisi dari satu kota ke kota lain — kegiatan yang diberi nama “ngamen puisi” oleh Wiji Thukul sendiri. Wiji Thukul layaknya magnet yang menjadi simbol perlawanan: pada tampilan fisiknya yang renyuk dan ceking itu berdiam nyali yang begitu besar, meluap-luap energi yang tidak mau diam; pada lidahnya yang cadel itu keluar kata-kata yang mampu membakar semangat juang para pembangkang dan buruh sehingga membikin junta militer fasis Orde Baru pimpinan Soeharto ketar-ketir.

Saya melangkah keluar dari studio bioskop usai menonton film ini dengan perasaan lega dan batok kepala yang dipenuhi dengan rangkaian adegan dan kutipan dialog dari film yang memesona ini. Saya mulai mengunduh album Merah Bercerita yang berisikan sepuluh musikalisasi puisi karangan Wiji Thukul, sembari membaca ulang puisi-puisinya. Sementara di Malang sendiri usai pemutaran filmnya, diadakan acara Sarasehan Budaya Wiji Thukul: Kemana Sang Penyair Kerakyatan? pada hari Jumat, 3 Februari 2017, dengan empat pembicara (Wahyu Susilo [adik dari Wiji Thukul], Permata Ariani [pegiat Komunitas Kalimetro Malang], Melati Noer Fajri [pegiat Anak Singa Film Malang], dan Gunawan [pemeran Wiji Thukul dalam film ini]) serta menampilkan testimoni dari Utomo Rahardjo dan Suciwati, yang tidak bisa saya ikuti karena alasan klise membudak demi satu-dua kaleng susu formula. Sial!

Istirahatlah Kata-kata sejatinya menuai banyak simpati dan apresiasi, meskipun ada juga yang mencibir di sana-sini. Namun, saya bisa pastikan, sampai detik ini persentase yang menunjukkan tingginya antusiasme dan simpati publik terhadap film ini bukan karena keberadaan Wiji Thukul yang masih belum menemukan titik terang hingga sekarang setelah dihilangkan oleh negara pada 1998 lalu, bukan pula karena keadilan sekarang ini masih sulit untuk ditegakkan, melainkan karena Wiji Thukul adalah seorang penyair dari kalangan “wong cilik” yang berhasil menghidupkan syair puisi dan pemberontakannya ke ruang publik dengan medium yang tidak biasa.

Sehabis menonton Istirahatlah Kata-kata dalam perjalanan pulang, seorang kawan mengatakan dengan nada sedikit kecewa bahwa film ini tidak menggambarkan sosok Wiji Thukul sebagai seorang penyair kritis yang menggelorakan hasrat revolusioner di tengah-tengah aksi demonstrasi. Namun, bagi saya, sisi dan kisah lain dari kehidupan seorang Wiji Thukul di luar keberaniannya menulis dan menyuarakan protes keras terhadap penguasa jahanam dalam bentuk puisi yang ditampilkan di film ini justru menarik, sebab selama ini belum pernah diungkapkan secara luas. Di antara semangat dan aksi perlawanan yang dilakukan oleh Wiji Thukul tersimpan sosok yang penuh kasih dan sayang yang memendam rindu sedemikian besar kepada orang-orang yang dicintainya. Film ini tidak menampilkan sosok Wiji Thukul yang garang dan berani dalam melawan rezim pemerintahan fasis yang represif dan menindas, melainkan mengajak penonton untuk menyelami suasana batin Wiji Thukul yang menghadapi keterasingan, kesepian, kerinduan, kegelisahan, dan kebosanan yang dirasakannya ketika menjadi orang yang diburu oleh negara dan memilih melarikan diri ke Pontianak.

Perlawanan Wiji Thukul melalui jalan kepenyairan dan aktivitas demonstrasi tidaklah semulus paha Chelsea Islan. Dengan latar belakang “yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa”, Wiji Thukul mampu membikin berang otoritas pemerintahan fasis yang semena-mena pada saat itu sehingga dia direpresi dan diburu sedemikian rupa oleh negara. Gejolak api perlawanan yang dihidupkan oleh Wiji Thukul masih membara sampai saat ini, mencoba membakar habis ketidak-adilan — tidak pernah padam, tidak mati-mati. Dengan medium kata-kata yang diubahnya menjadi senjata, Wiji Thukul berusaha menghabisi siapa saja yang menindas dan tidak memihak kaum marjinal dan sub-altern.

Jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa.

Kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar.

Bila rakyat berani mengeluh
itu artinya sudah gasat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: LAWAN!
Peringatan, oleh Wiji Thukul

Puisi bikinan Wiji Thukul berhasil menghantui dan, mengutip bait dalam Sajak Suara, “memburu seperti kutukan” kelas penguasa yang doyan menindas dan menggorok kaum sub-altern yang terpinggirkan. Teori ketergantungan, di mana kaum periphery (pinggiran) terbiasa menggantungkan hidup kepada kelas penguasa, tidak berlaku apa-apa di hadapan seorang Wiji Thukul — dianggap sebagai lelucon tidak lucu yang harus dihantam di bagian yang mematikan dan dibabat habis sehabis-habisnya. Wiji Thukul, melalui syair puisinya, mendobrak sekat-sekat semu antara kelas penguasa dan kaum tertindas, mengajarkan agar tidak terbiasa diam ketika direpresi, untuk tidak menjadi bunga yang selalu dirontokkan di negeri sendiri.

Kata “bunga” yang digunakan Wiji Thukul dalam puisinya berjudul Bunga dan Tembok memiliki arti sebagai generasi bangsa yang pertumbuhannya tidak dikehendaki oleh kelas penguasa rakus yang punya hobi menindas. Jangankan dirawat, “bunga” itu justru dihabisi sedemikian rupa oleh kaum elite di dalam hierarki kekuasaan. Kehendak penguasa untuk merepresi (bahkan mematikan) pertumbuhan “bunga” itu menyulut perlawanan dan pemberontakan. Bait puisi Bunga dan Tembok yang dimusikalisasi oleh Merah Bercerita dan Cholil Mahmud diperdengarkan dengan begitu syahdu ketika kredit akhir film Istirahatlah Kata-kata mulai dimunculkan di layar bioskop, menggelorakan hasrat perlawanan agar tidak mati, agar terus tumbuh membangun kesadaran dan daya kritis menghadapi segala macam praktik ketidak-adilan di kehidupan harian saat ini.

Seumpama bunga,
kami adalah bunga yang tak kau hendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah.

Seumpama bunga,
kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi.

Seumpama bunga,
kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri.

Jika kami bunga
engkau adalah tembok itu
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
di mana pun — tirani harus tumbang!
Bunga dan Tembok, oleh Wiji Thukul

Menyulut api perlawanan dan pemberontakan melalui medium kata-kata puisi memang ampuh, bahkan memasyarakatkan syair (atau karya sastra lainnya) menggunakan film yang ditayangkan di bioskop — ketika Indonesia menjadi bangsa yang terasing dari dunia literatur — juga memiliki prospek yang menjanjikan. Saya masih ingat ketika para remaja, atau bahkan kaum tua yang sudah uzur sekali pun, mendadak berlepotan frasa romantis, suka menulis dan membaca puisi atau buku, setelah film Ada Apa dengan Cinta? ditayangkan untuk pertama kalinya pada tahun 2002 silam. Gara-gara Ada Apa dengan Cinta?, buku berjudul Aku karangan Sjuman Djaya (yang ditenteng kesana-kemari oleh Rangga di film itu) yang sudah menghilang di pasaran puluhan tahun yang lalu akhirnya dicetak ulang dan menjadi buku bacaan bestseller. Sementara orang yang bertanggung-jawab di balik penulisan puisi dalam film Ada Apa dengan Cinta? adalah Rako Prijanto yang menjadi asisten sutradara pada saat itu. Puisi gubahan Rako itu luar biasa romantis, penuh dengan metafora dan diksi yang mendayu-dayu, serta mampu menghasut siapa saja untuk tiba-tiba suka menulis dan membaca puisi usai menonton film Ada Apa dengan Cinta?. Namun sayang sekuelnya, Ada Apa dengan Cinta? 2, yang dirilis pada tahun 2016 kemarin itu terlampau receh dan terlalu menyedihkan untuk disebut sebagai karya sinematik, tidak mampu mengobati kerinduan kepada Rangga dan Cinta (terutama kerinduan saya pada karakter Alya yang diperankan oleh Ladya Cheryl di film pertama), hanya menjadi komoditas nostalgik pengeruk profit yang lebih pantas masuk keranjang sampah! Meski begitu, buku kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini tulisan Aan Mansyur yang juga digunakan di film Ada Apa dengan Cinta? 2 laris-manis dan naik cetak ulang.

Saya juga ingat ketika film biopik Soe Hok Gie yang berjudul Gie (2005) garapan Riri Riza diputar di bioskop, banyak orang yang mulai mengutip puisi dan syair bikinan Soe Hok Gie. Kawan-kawan dalam lingkar pertemanan saya pada saat itu kerap membincangkan sosok Soe Hok Gie dan sumbangsihnya dalam gerakan perlawanan melawan penguasa yang semena-mena, sementara buku Catatan Seorang Demonstran yang ditulis oleh Soe Hok Gie pun menjadi barang yang paling dicari pada saat itu.

Dunia sastra Indonesia saat ini tidak bisa dibilang stagnan atau berdiam di satu titik saja, namun tidak bisa juga dibilang melesat maju dan berkembang ke arah yang membanggakan. Kesusastraan Indonesia, menurut hemat saya, memang masih melangkah, namun geraknya superlamban seperti siput atau kura-kura tua yang sudah terlalu lelah. Sastra, khususnya syair dan puisi, seolah-olah mendekam di ruang senyap yang hanya bisa dimasuki dan diakses oleh beberapa orang saja. Industri buku puisi pun masih lesu dan tidak bisa menumbuhkan minat baca publik di sini. Penyair Indonesia seolah mati bunuh diri jika dihadapkan dengan penjualan buku puisi yang tingkat penjualan atau distribusinya sepi di bawah oplah sepeda motor, pakaian, minuman ringan, mobil, makanan cepat saji, gadget, atau komoditas lainnya. Saat ini penyair lebih memilih untuk menulis dan memublikasikan syair puisi-puisinya di media-massa (baik cetak maupun online), dan kemudian membukukan dan mendistribusikannya secara indie.

Dan ketika film-film seperti Istirahatlah Kata-kata, Gie, dan Ada Apa dengan Cinta? mampu melahirkan antusiasme yang luar biasa besar dan mendapatkan respons positif dari publik, serta bisa menumbuhkan minat baca publik, sastra seolah-olah menemukan oase di padang pasir yang gersang. Sastra mulai menemukan hasrat dan gairahnya sendiri. Para penyair, penulis, dan pegiat sastra lainnya kembali memiliki keyakinan bahwa karya sastra, khususnya syair dan puisi, bukan cuma sekadar nyanyian sepi remeh-temeh tanpa pendengar.

Jika kita merunut sejarah kesusastraan Indonesia ke belakang, syair dan puisi sempat menjadi senjata pemberontakan dan memiliki kekuatan yang mampu mendobrak sekat dan menguak sisi luka kehidupan, menjadi corong protes atau alat perlawanan kaum marjinal yang cukup nyaring untuk membikin kuping penguasa ngehek gatal. Semangat insureksi di dalam dada saya selalu berdebar hebat ketika bait-bait protes dari puisi Wiji Thukul dibacakan, mampu menghasut saya untuk menenteng molotov dan melemparkannya ke simbol ketimpangan hidup hari ini. Sementara bulu kuduk saya masih merinding ketika membaca dan mendengar puisi-puisi bikinan Chairil Anwar.

Pada akhirnya, film bisa menjadi salah satu media kampanye sastra yang efektif. Istirahatlah Kata-kata, Gie, dan Ada Apa dengan Cinta? — untuk menyebut beberapa — secara langsung dan tidak langsung telah menjadi media promosi yang mengenalkan kita — sebagai penonton — kepada kesusastraan serta mampu mengajak setiap kalangan untuk kembali menggandrungi sastra dan mengetahui sepotong kisah penyair, novelis, atau cerpenis.

(Dan saya tidak bakal lelah dan bosan untuk mengingatkanmu, Rayna sayang: perbanyaklah membaca, tidak usah sungkan untuk bertanya, dan jangan lupa untuk terus bermain — mengupayakan hidup yang lebih bahagia dan lebih bermakna ketimbang hari ini dan menikmatinya. Peluk manja dan kecup mesra.)

Sebagai penutup, saya ingin mengutip twit Yosep ini: “Film itu (Istirahatlah Kata-kata) hanya upaya kecil, tidak sebesar ingatan.

Tabik. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s