Istirahatlah Kata-kata (2017)

Istirahatlah kata-kata | janganlah menyembur-nyembur | orang-orang bisu … Tidurlah kata-kata | kita bangkit nanti | menghimpun tuntutan-tuntutan | yang miskin papa dan dihancurkan.
— Wiji Thukul

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

KAMIS, 2 Februari 2017, kemarin sekitar jam setengah lima sore, saya dan empat kawan (Yanu Situmorang, Vergian Dimas, Yang Dipertuan Rizal Hilmi, dan Dwi Mas Wahyu) meluncur selow di bawah rintik gerimis Kota Malang ke arah Bioskop Mandala 21 untuk menukarkan bukti transfer dengan tiket nobar Istirahatlah Kata-kata: film drama-biografi romantis menyayat jantung tentang Wiji Thukul, seorang penyair cum aktivis yang dihilangkan oleh negara pada zaman Orde Baru pimpinan “Simbah Piye Enak Jamanku toh?” itu. Saya sudah mempersiapkan diri lahir-batin untuk menonton film ini jauh-jauh hari, sejak kabar bahwa film ini mendapatkan banyak sekali respons positif dari kritikus film di berbagai festival film mancanegara yang diikuti pada pertengahan tahun 2016 lalu. (Saya sempat mengalami kegalauan akut ketika perilisan pertama film ini pada 19 Januari 2017 tidak menyertakan satu pun bioskop di Kota Malang sebagai tempat pemutaran perdananya. Namun kabar gembira itu datang pada 28 Januari 2017 kemarin: bakal diadakan nobar film ini di Malang.) Setelah tiket nobar sudah aman dalam genggaman tangan, dan untuk membunuh dua jam sebelum pemutaran film, saya bersama empat orang kawan itu memilih bercanda sembari merokok dan mengganjal perut dengan camilan di tempat parkir, serta menunggu kedatangan kawan saya lainnya (Kang Wahyu Soketz dan dua temannya [Ari dan Angga], Mas Candra, dan Bella) yang juga berhasrat menonton film ini.

Sebelum menonton film ini, entah sudah berapa kali saya mendengar dan membaca puisi karya Wiji Thukul yang penuh gelora itu. Kumpulan puisi tulisan Wiji Thukul mampu membikin hasrat dan amarah saya mencapai titik maksimum, mendorong saya untuk mengambil beberapa molotov dan melemparkannya ke pos polisi atau bangunan apa pun yang menjadi simbol ketimpangan hidup hari ini. Apa-apa yang ditulis oleh Wiji Thukul bisa membikin siapa saja meledak-ledak meski dia tidak menenteng granat dan mengokang senapan: ganas menusuk dan menikam tanpa ampun — terus memburu seperti kutukan! Wiji Thukul memang penyair pemberani yang sakti, pikir saya. Namun Wiji Thukul (diperankan oleh Gunawan Maryanto) yang saya tonton bersama delapan kawan (dan kami terlambat masuk ke gedung bioskop beberapa menit) pada Kamis malam kemarin dalam film ini adalah sosok Wiji Thukul yang biasa-biasa saja. Kesan pertama yang saya dapati setelah duduk nyaman di kursi empuk bioskop dan menonton rangkaian adegan di menit-menit awal film ini adalah bahwa ternyata Wiji Thukul bukan seperti penyair yang ada dalam bayangan di batok kepala saya sebelumnya. Saya memerhatikan Wiji Thukul dalam film ini secara lekat, saya menikamkan mata kepada setiap ekspresi wajah dan gerak-geriknya secara saksama: tampilannya renyuk tanpa daya tarik, raut mukanya lebih banyak termenung, rambutnya keriting acak-acakan, dan badannya kurus seperti orang kurang gizi. Saya bertanya-tanya, mencari satu alasan yang paling masuk akal, mengapa orang seperti Wiji Thukul (dalam film ini) diburu oleh negara: toh dia tampaknya hidup tanpa hasrat yang menggebu-gebu, tanpa gairah berapi-api.

Ini adalah sebuah karya sinematik yang ditulis dan disutradarai oleh Yosep Anggi Noen untuk mencoba menampilkan sebuah keganjilan dari seorang Wiji Thukul. Setting waktu dan tempat film ini adalah ketika Wiji Thukul kabur dan bersembunyi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Ini adalah periode di mana Wiji Thukul untuk pertama kalinya dinyatakan sebagai tersangka dan diburu sedemikian rupa oleh negara. Namun, semenggebu-gebu atau sekeras apa pun upaya negara untuk memburu Wiji Thukul, toh kisah yang diceritakan film ini cenderung sunyi-senyap, tenang tanpa gejolak atau konflik receh yang pretensius. Sebuah kesunyian dan kesenyapan yang seharusnya tidak menjadi bagian dalam linimasa hidup seseorang yang menjadikan kata-kata sebagai senjata perjuangannya. Mengharapkan rangkaian adegan heroik, petikan demonstrasi, atau orasi berapi-api dari seorang Wiji Thukul dalam film ini adalah sama dengan mengharapkan hal yang mustahil bisa terjadi. Kehidupan yang dijalani Wiji Thukul saat melarikan diri ke Pontianak adalah kehidupan yang biasa, rutinitas hidup harian yang banal: tidur, nongkrong bersama kawan, merindu anak-istri, makan, melamun, ngopi, keluar pada malamhari untuk beli tuak, duduk-duduk di teras, ngebir, membeli oleh-oleh, dan aktivitas sehari-hari lainnya yang biasa-biasa saja — tidak ada yang istimewa.

Sebagai seorang budak kantoran yang semasa muda merasa (sok) kenal dengan Wiji Thukul melalui kumpulan puisinya, ada semacam rasa penasaran di palung jantung saya yang paling dalam untuk menonton Wiji Thukul beraksi lantang membacakan puisi-puisinya di depan sekumpulan, mengutip Wiji Thukul, “pasukan kacang ijo”. Namun apa lacur, Istirahatlah Kata-kata tidak memunculkan satu adegan yang menampilkan Wiji Thukul meneriakkan penggalan frasa dari puisinya (“… hanya ada satu kata: LAWAN!”) yang tersohor itu. Namun puisi tentang taik itu sempat dimunculkan di film ini — meski tidak dibacakan di depan Kompleks Parlemen Republik Indonesia, melainkan dibacakan di depan Thomas (Davi Yunan) dan Martin (Eduwart Boang) yang tertawa terpingka-pingkal sembari ngudud, ngopi, dan ngebir di sebuah warung setelah Wiji Thukul mengencingi Sungai Kapuas: “Kemerdekaan adalah nasi || Dimakan jadi taik!” (Ah, kapan kita punya waktu untuk ngebir bersama, Om Wiji Thukul?)

Menonton Wiji Thukul dalam film ini berarti juga berusaha menjadi akrab dengan “Wiji Thukul yang lain”. Yosep dalam film ini seperti ingin menelanjangi sisi kemanusiaan seorang Wiji Thukul — namun bukan untuk mempermalukannya, melainkan sebagai sebuah upaya yang begitu tulus untuk menegaskan bahwa Wiji Thukul adalah seorang manusia, bahwa Wiji Thukul yang dihilangkan secara paksa itu memang benar-benar manusia — sama seperti kita. Wiji Thukul yang dimunculkan di film ini adalah seorang manusia yang mencoba sembunyi dari cengkeraman negara, yang mencoba bertahan di bawah tekanan batin akibat teror yang begitu hebat. Untuk itulah, menurut saya, Yosep — dengan menggunakan teknik pengambilan gambar secara long take yang mendominasi film ini — sengaja menampilkan Wiji Thukul sebagai sosok manusia yang menghabiskan banyak waktu dengan melamun dan diam tanpa suara. Kumpulan gambar yang disajikan Yosep dan sinematografernya, Bayu Prihantoro Filemon, serta editornya, Andhy Pulung, di film ini terasa tenang, melodius, fokus, dan menyayat jantung.

Apa-apa yang mengejar dan memburu Wiji Thukul memang tidak terlihat di Pontianak dan tidak ditampilkan di film ini. Wiji Thukul ditampilkan menjalani hidup yang lumayan nyaman di sini: pengin makan, ada yang mengantarkan makanan ke rumah persembunyiannya; saat bosan, ada kawan yang mengantar dan menemaninya jalan-jalan; dia bersuka-cita saat main kartu di rumah kawannya atau bercanda bebas gembira di tepi sungai sembari minum tuak — semacam sedang mengambil cuti liburan dan piknik ke Kalimantan. (Pasti hal ini membikin gusar kawan saya yang menjadi pimpinan sekte hura-hura kami: Yang Dipertuan Rizal Hilmi. Apa Lacur? Lhawong Wiji Thukul yang sedang diburu oleh negara itu saja ditampilkan bersenang-senang di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, sementara Yang Dipertuan Rizal masih belum siap lahir-batin untuk menjemput sang kekasih di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.) Namun kegelisahan merupakan satu hal yang tidak bakal pernah bisa ditutup-tutupi oleh berbagai macam momen banal itu. Kegelisahan yang menggantung di wajah Wiji Thukul adalah relief dari tekanan hebat yang tidak menunjukkan tanda-tanda bakal mereda. (Ada rangkaian adegan yang menampilkan Wiji Thukul bertanya tentang pintu belakang yang bisa digunakan untuk kabur dalam keadaan darurat ketika pertama kali tiba di rumah Thomas, kemudian dilanjutkan dengan Wiji Thukul yang mengukur ketinggian balkon kamar tidurnya menggunakan tali rafia.) Yang membikin Wiji Thukul merasakan kegelisahan begitu hebat — hingga dia tidak bisa tidur dan menulis — bukan melulu perihal ketidak-jelasan nasibnya yang sedang diburu oleh negara, melainkan juga disebabkan oleh kondisi tatanan politik yang semakin hari semakin tidak berpihak kepada apa-apa yang sedang dia perjuangkan sekuat-kuatnya tenaga. Tekanan yang diberikan oleh negara itu tidak ditujukan kepada Wiji Thukul saja, namun juga menyerang kamerad seperjuangan dan siapa saja yang dibelanya melalui bait puisi.

Berbagai macam hal miris menyayat jantung yang dimunculkan di Istirahatlah Kata-kata memang terkesan melegakan: itu semua adalah rekaan dari hasil observasi dan imajinasi Yosep. Namun di sisi lain, hal itu seolah-olah ingin bilang bahwa seorang penyair sekaligus pejuang garda-depan yang memimpin ribuan pekerja berdemonstrasi untuk memperjuangkan hidup itu juga merasakan was-was dan bisa gelisah ketika berada di bawah tekanan yang bertubi-tubi. Kemarin bisa saja tertawa ngakak bersama kawan-kawan sembari ngebir, hari ini rindu setengah-mati kepada anak-istri, dan besok bisa saja hilang tinggal nama. Kumpulan puisi Wiji Thukul memang terlampau sering terdengar dalam aksi melawan penindasan, namun pada satu momen, dia ternyata juga tidak bisa menulis, tangan dan pikirannya tidak cukup kuat dan bebas untuk menciptakan sederet bait syair penuh amarah yang bisa membikin kuping para pejabat memerah berang.

Rutinitas harian Wiji Thukul yang biasa-biasa saja di tengah banalitas kebiasaan warga Pontianak itulah yang menjadi fokus utama Yosep dalam film ini. Pada umumnya, menulis apa-apa yang dilihat oleh mata telanjang setiap harinya ketika mengamati orang berjalan lalu-lalang atau memotret apa pun secara spontan tanpa aba-aba untuk berpose kerap melahirkan karya tulisan atau foto yang gampang membikin bosan. Bukankah menulis atau memotret adalah upaya untuk mengabadikan keindahan yang terabaikan oleh mata telanjang? Menulis atau memotret itu bukan cuma sekadar usaha untuk menyulut api yang sebenarnya tidak diperlukan atau perkara untuk merekayasa apa-apa yang tidak indah untuk menjadi sesuatu yang cantik, kan? Tulisan, pentas drama, lukisan, foto, film, atau apa pun — semua hasil karya seni pasti memiliki tendensi untuk menampilkan keindahan yang spektakuler, bukan begitu? Lantas, apa yang menarik jika yang diabadikan hanyalah hal-hal yang banal dan biasa-biasa saja, yang bisa dilihat setiap hari?

Kehidupan harian menjadi banal dan membosankan karena hal itu dapat terjadi pada siapa saja dan bisa terjadi di mana saja. Namun yang menjadi pertanyaan: “Apakah rutinitas hidup harian itu memang ‘suatu hal yang biasa-biasa saja’ atau keseharian itu adalah ‘suatu hal yang dipaksa untuk menjadi biasa-biasa saja’?” Seorang tentara yang menyerobot antrean di tukang potong rambut mungkin memang “suatu hal yang biasa-biasa saja” di Pontianak pada saat itu. Perasaan senang dan bangga untuk tidak memungut bayaran atas jasa memotong rambut tentara mungkin memang “suatu hal yang biasa-biasa saja”. Apa yang aneh dengan listrik yang mendadak padam di Kalimantan? Apa yang janggal ketika seorang pendatang diminta menunjukkan KTP atas-nama keamanan lingkungan? Bukankah sudah menjadi suatu kewajaran jika ada orang yang dianggap meresahkan tiba-tiba dihilangkan begitu saja oleh negara? Bukankah sudah lumrah jika ada suami yang tidak kunjung pulang ke rumah untuk melepas kangen dengan anak-istri? Bukankah, di sini, pembredelan buku-buku yang dianggap dapat memantik gejolak perlawanan dan pemberontakan terhadap negara adalah “hal yang biasa-biasa saja”? Menghilangnya Wiji Thukul dan orang-orang yang dianggap sebagai ancaman oleh negara merupakan suatu hal yang dipaksa untuk menjadi “biasa-biasa saja”, sebuah cerita berakhiran tanda tanya besar yang dipangkas menjadi titik. Kebiasaan memang merupakan hal yang wajar — namun kebiasaan adalah satu hal, sedangkan dipaksa untuk menjadi “biasa-biasa saja” (atau dipaksa untuk terbiasa dengan kebiasaan yang kejam dan menindas) adalah hal lain yang sama sekali berbeda. Di situlah film ini akhirnya menjadi sesuatu yang spesial dan begitu penting.

Sementara kehilangan merupakan perkara yang tidak bakal pernah menjadi basi. Wiji Thukul dan orang-orang yang dianggap sebagai ancaman oleh negara itu tidak dihilangkan empat-lima tahun yang lalu: mereka sudah menghilang selama satu dekade lebih! Tetapi orangtua, istri, dan anak mereka belum berhenti berjuang agar mereka yang dihilangkan negara itu bisa pulang kembali ke dalam peluk hangat dan rumah mereka. Kumpulan ibu berpayung dan berpakaian serbahitam itu sudah melakukan protes dengan aksi berdiri dalam diam setiap Kamis di depan Istana Negara di Jakarta sejak satu dekade yang lalu. Keberadaan para ibu pejuang Aksi Kamisan itu memang tanpa nyanyian kemarahan yang memekakkan kuping dan lemparan molotov, namun eksistensi mereka bakal terus mengganggu siapa saja yang ikut ambil-bagian dalam upaya menghilangkan rasa kehilangan dan kerinduan mereka. Mungkin para ibu itu sudah tidak terlalu terkejut dan kelimpungan ketika ditanya “Kapan ayah pulang, bu?” oleh anak-anak mereka, atau mungkin anak-anak mereka sudah terbiasa melihat kemesraan dan kasih sayang yang diterima oleh kawan-kawannya dari sosok seorang ayah. Namun percayalah puan, demi apa pun yang ada di semesta ini, kerinduan itu (termasuk juga kerinduan yang dirasakan oleh istri Wiji Thukul — Siti Dyah Sujirah / Sipon [Marissa Anita] — dan dua anaknya, Fitri Nganthi Wani [Putri Fathiya Hany Nurrohman] dan Fajar Merah [Franco Christo]) adalah rindu yang tidak bisa habis: nyeri tak terperikan tanpa jeda yang tidak mengenal waktu. Rasa kangen itu bakal terus-terusan datang meski sudah bertahun-tahun lamanya. Yosep mampu mencampurkan dan mengemas kerinduan dan kegelisahan itu dengan brilian, serta mengakhirinya dengan begitu syahdu: harapan tentang keberadaan Wiji Thukul (“Aku tidak ingin kamu pergi, aku juga tidak ingin kamu pulang: aku hanya ingin kamu ada.”) sengaja diklimakskan dengan rangkaian adegan yang menampilkan Wiji Thukul mengambilkan segelas air minum untuk Sipon, yang kemudian dihabiskan oleh Sipon tanpa sisa, lantas Wiji Thukul berjalan masuk dapur dan tidak pernah muncul kembali, sementara Sipon — dengan air mata yang tidak berhenti menderas pipinya — ditampilkan menyapu lantai.

Ketika layar mulai menampilkan kredit akhir film, lampu bioskop dinyalakan, dan musikalisasi emosional dari bait syair Bunga dan Tembok oleh Merah Bercerita dan Cholil Mahmud diperdengarkan, ada beberapa tepuk tangan malu-malu untuk mengapresiasi film ini — mungkin mereka takut bakal ikut dihilangkan jika bertepuk-tangan terlalu keras dan membuncah setelah menonton film ini. Sementara saya — yang juga cuma berani memberikan applause malu-malu — melongo menatap layar bioskop sembari sibuk menata jantung ke posisi semula. Film yang memesona ini telah memenangkan simpati dan emosi saya sepenuhnya, serta berhasil menjaga kewarasan dan amarah terhadap segala bentuk kekejaman yang sampai saat ini masih berusaha ditutup-tutupi oleh segelintir pihak yang haus kekuasaan. Dan saya melangkah keluar gedung bioskop dengan perasaan lega.

Seumpama bunga | kami adalah bunga yang tak kau hendaki tumbuh | engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah.
Seumpama bunga | kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya | engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi.
Seumpama bunga | kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri.
Jika kami bunga | engkau adalah tembok itu | tapi di tubuh tembok itu | telah kami sebar biji-biji | suatu saat kami akan tumbuh bersama | dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami | di mana pun — tirani harus tumbang!

Pada akhirnya, semenggebu-gebu dan sehebat apa pun upaya untuk menjadikan kehilangan ini sebagai “suatu hal yang biasa-biasa saja”, bakal selalu ada kata-kata yang tidak pernah beristirahat untuk mengabarkan luka yang belum kering sepenuhnya. Bakal selalu ada puisi yang terus-menerus berteriak lantang tanpa permisi walaupun paksaan bungkam datang bertubi-tubi. Bakal selalu ada syair yang tidak bisa hilang meski sang penyair sudah lama dihilangkan. Dan Istirahatlah Kata-kata adalah sebuah upaya yang tulus dan romantis untuk menolak lupa, untuk merawat ingatan bahwa pernah ada satu masa di mana menulis puisi dan memperjuangkan hak untuk hidup yang layak bakal diganjar dengan teror yang bisa menghancurkan segalanya.

Bahwa perjuangan melawan segala macam ketidak-adilan itu masih belum usai.

Tabik. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s