Viridiana (1961)

Poster film versi "The Criterion Collection". (gambar: IMDb)
Poster film versi “The Criterion Collection”. (gambar: IMDb)

LUIS Buñuel adalah sineas yang paling “nakal” dalam sejarah dunia perfilman. Di filmnya yang berjudul Viridinia, Buñuel menjadikan Messiah (oratorio gubahan George Frideric Handel) sebagai musik pembuka yang diikuti dengan adegan di sebuah biara terpencil di mana gambar di layar menampilkan seorang suster kepala menasihati calon biarawati agar dia mau mengunjungi pamannya yang sudah tua dan sakit-sakitan — seolah-olah memberikan kesan awal bahwa ini adalah sebuah film religi, namun pada kenyataannya ini bukanlah film bertemakan keagamaan; tidak ada hal baik mengenai agama yang bakal datang dari film-filmnya Buñuel. Adegan berikutnya menampilkan anak kecil bermain lompat tali sendirian pada sorehari, namun tidak ditampilkan utuh satu badan: Buñuel hanya memberikan gambar dari kaki anak itu melompat-lompat, dan kamera terus mengamatinya cukup lama, sekitar 2-3 menit. Itu adalah adegan pada sorehari yang indah dan menyenangkan, dan Buñuel berhasil membikin saya — sebagai penonton — untuk tidak melupakannya.

Jadi: Buñuel si satiris, Buñuel si fetisisme, Buñuel si anti-klerikal. Itu adalah sebutan yang sering digunakan ketika membincangkan seorang Luis Buñuel, namun saya ingin mengingatkan bahwa Buñuel juga merupakan si jenius-bangsat perihal komedi-hitam. Film bikinan Buñuel selalu dipenuhi pandangan sinis dan sarkastik (yang menggelitik) terhadap sifat alamiah manusia. Objek yang sering dibicarakan Buñuel selalu berkisar pada dry humor. Bahkan saat bekerja untuk beberapa rumah produksi film di Hollywood di mana Buñuel hanya mendaur-ulang setting dan kostum film berbahasa Inggris ke dalam versi Spanyol atau hanya sekadar mengalih-bahasakannya ke bahasa Spanyol, dia mampu menyelipkan sinisme dan selera humornya dengan cerdik. Buñuel merupakan salah satu sineas yang memiliki ide-ide paling orisinal, pencipta satire yang menyenangkan, memiliki selera humor yang cerdas, dan jika kamu adalah seorang penikmat film bagus yang tidak akan lekang oleh waktu maka kamu mestinya menyukai karya-karya keren bikinannya.

Buñuel memulai kariernya di dunia sinematik sebagai seorang surealis, dan berkolaborasi dengan Salvador Dalí untuk membikin film pertamanya yang berjudul Un Chien Andalou (1929), berisikan gambar dan materi surealisme berdurasi sekitar 21 menit dan menjadi salah satu film pendek paling keren, paling terkenal, dan paling bangsat sampai saat ini. L’Age d’Or, sebuah film surealis keren lainnya garapan Buñuel dan Dalí pada tahun 1930 yang berisi sindiran dan kritikan pedas terhadap agama dan institusinya (serta terhadap kemunafikan kaum borjuis), mendapat penentangan keras dari Ligue des Patriotes (sebuah grup politik-kanan Prancis) yang akhirnya dibredel oleh otoritas Prancis dan film tersebut “menghilang” selama 49 tahun. Setelah kejadian itu Buñuel pulang ke kampung halamannya di Spanyol untuk kemudian melarikan diri saat pemerintahan fasis Jenderal Francisco Franco berkuasa, yang membawanya ke Amerika Serikat dan menemukan pekerjaan di Hollywood. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Buñuel mendapatkan kewarga-negaraan Meksiko dan tinggal di sana sampai dia mati pada tahun 1983 — dalam rentang waktu itu dia juga membikin beberapa film di Prancis, dan Viridiana ini diproduksi olehnya di Spanyol.

Saya bertanya-tanya dan penasaran dengan alasan mengapa Buñuel kembali ke Spanyol meskipun dia tahu bahwa kediktatoran fasis Jenderal Franco yang sangat dibencinya itu masih berkuasa di sana. Setelah membaca artikel demi artikel yang membahas tentangnya di internet, Buñuel memberikan jawaban yang berbeda-beda ketika ditanya tentang hal itu. Buñuel mengaku bahwa kepulangannya ke Spanyol itu dipicu oleh “penawaran gaji yang menggiurkan” (empat kali lipat lebih besar dari yang dia terima di Meksiko) dari produsernya, sementara di lain kesempatan dia mengatakan “ingin bernostalgia dengan kampung halaman” ketika memutuskan kembali ke Spanyol. Namun saya membayangkan alasan lain yang tidak pernah diungkapkan: Buñuel kembali pulang ke Spanyol untuk membikin film keren yang sekaligus digunakannya untuk mengolok-olok rezim diktator Jenderal Franco.

Buñuel bukanlah seorang sentimental, dan Pemerintahan Spanyol jelas melakukan sebuah kesalahan jika mengharapkan sebuah kepulangan yang menggembirakan dari dirinya. Viridiana bukanlah sebuah film anti-Katolik atau yang secara terang-terangan menyerang kelas penguasa, namun Buñuel membikin tiga karakter utama film ini (seorang biarawati yang berbudi luhur [Viridiana — diperankan oleh Silvia Pinal], seorang lansia borjuis kaya raya [Don Jaime — diperankan Fernando Rey], dan anak dari pak tua borjuis itu [Jorge — diperankan oleh Francisco Rabal]) terlibat dalam cerita yang gelap dan penuh skandal. Film ini diakhiri dengan Viridiana yang telah meninggalkan biara itu diam-diam masuk ke kamar Jorge dan menutup pintu kamar secara perlahan, meninggalkan siapa saja yang menontonnya dengan imajinasi masing-masing tentang apa yang bakal terjadi selanjutnya di antara mereka berdua. Lembaga sensor Pemerintahan Spanyol dengan tegas menolak ending seperti itu, dan Buñuel kemudian menggantinya dengan adegan Viridiana masuk ke kamar tidur ketika Jorge sedang bermain kartu bersama kekasihnya (Ramona [Margarita Lozano]); Viridiana ikut bermain kartu bersama, dan Jorge kemudian berkata bahwa dia yakin seyakin-yakinnya jika cepat atau lambat mereka bertiga bakal “bermain” bersama-sama; lantas layar menghitam, meninggalkan implikasi yang cukup jelas dari hubungan ménage à trois. Sebuah ending yang ternyata lebih sugestif dan menyindir kemunafikan kaum borjuis. Ha!

Film ini memenangkan penghargaan Palme d’Or (bersama dengan The Long Absence [1961] karya Henri Colpi) di ajang 1961 Cannes Film Festival. Namun Paus John XXIII, melalui L’Osservatore Romano (koran resmi Vatikan), menyebut film ini sebagai sebuah penghinaan terhadap agama. Sementara otoritas Spanyol langsung melarang film ini tayang di sana setelah pemutaran perdananya sampai tahun 1977, dua tahun setelah kematian Jenderal Franco. Pada era 1960-70an, Buñuel masuk dalam jajaran sineas papan atas di dunia perfilman di mana karyanya selalu menuai pujian internasional, terutama untuk filmnya yang berjudul Belle de Jour (1967).

Selalu ada subteks licik dalam film bikinan Buñuel: seorang perempuan baik hati namun akhirnya dipermalukan dengan cara yang paling kejam di Belle de Jour merupakan refleksi lanjutan dari Viridiana, atau guyonan anti-klerikal yang sedap di The Discreet Charm of the Bourgeoisie (1972) dalam adegan ketika seorang uskup berpura-pura menjadi tukang kebun demi pujian dari masyarakat. Dan Buñuel memiliki ketertarikan berlebih terhadap kaki (atau sepatu) seseorang. Hanya Buñuel yang memfilmkan adegan dari sebuah keindahan surgawi macam Catherine Deneuve diseret di hutan dan gambar yang ditampilkan hanya fokus pada kakinya! Saya tidak ingin memberikan kesan bawah Buñuel adalah lelaki tua yang cabul. Saya selalu mengagumi kinerja Buñuel dan menganggapnya sebagai seorang lelaki jenius-bangsat yang suka menghibur penontonnya dengan humor cerdas, meski saya butuh waktu yang lumayan lama untuk mencerna dan memahami lelucon, estetika, dan erotisme di balik sepasang kaki Deneuve yang diseret di tengah hutan. Buñuel selalu menganggap bahwa fetisisme merupakan hal yang lucu.

Rangkaian adegan yang paling terkenal di Viridiana, selain simulasi lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci, adalah ketika Jorge melihat seekor anjing dalam keadaan terikat di belakang gerobak petani sedang berjalan kesusahan untuk mengimbangi kecepatan gerobak itu. Merasa kasihan, Jorge menghentikan gerobak tersebut dan membeli anjing itu dengan maksud untuk membebaskan sang anjing dari penderitaan. Namun tanpa disadari oleh Jorge, ada seekor anjing lain yang juga terikat di belakang gerobak petani lainnya sedang menuju ke arah yang berlainan. Adegan itu merangkum cara pandang Buñuel terhadap cara kerja dunia, bahwa hal-hal buruk tidak bakal berhenti terjadi hanya dengan satu aksi kebaikan kecil yang tidak dilanjuti dengan aksi kebaikan lainnya secara berkesinambungan.

Dalam plot yang lebih besar di film ini, Viridiana mengunjungi pamannya yang sudah tua dan sakit-sakitan, Don Jaime. Bagi Viridiana, kunjungan itu adalah bentuk dari kebaikan hatinya dan merupakan tindakan balas budi yang dilakukan secara sukarela. Sementara Don Jaime malah terkejut: setelah tidak bertemu selama bertahun-tahun, dia menyadari bahwa Viridiana ternyata sangat mirip dengan istrinya yang telah mati sekian tahun yang lalu. Don Jaime lantas memohon agar Viridiana mau memakai gaun pengantin sang istri saat mereka makan malam berdua di kamarnya, dan, sebagai hadiah, Viridiana menyanggupi permintaan pamannya itu. Viridiana muncul dengan anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, dan Buñuel — tentu saja — memberikan perhatian lebih ke kaki dan sepatunya. Don Jaime terpukau: dia merasakan jatuh cinta dan meminta Viridiana agar mau kawin dengannya. Viridiana terkejut, merasa jijik, dan mencoba pergi meninggalkan kamar, namun Don Jaime mencegahnya dengan meminta maaf, lantas memberinya secangkir kopi bercampur obat bius, dan kemudian…

Don Jaime mati gantung diri! Viridiana memilih berhenti menjadi biarawati dan bertekad untuk melakukan kebaikan dengan berbagi (sembari melakukan edukasi moral) kepada orang-orang yang kurang beruntung. Viridiana mengumpulkan 13 pengemis/gelandangan paling menyedihkan di kota (penderita kusta, pemabuk, orang lumpuh, pelacur, cebol yang pemarah, orang buta, dll.) dan membawa mereka untuk hidup di gudang perkebunan yang ada di lingkungan rumah peninggalan Don Jaime. Kebaikan Viridiana itu ternyata tidak mampu memberikan efek apa pun: para pengemis/gelandangan itu berselisih dan bertengkar satu sama lain, malas bekerja meski pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka tergolong perkejaan yang mudah, dan mereka mengucilkan penderita kusta (yang ngotot bahwa luka di tubuhnya itu cuma bisul).

Sementara itu, Jorge yang mendapatkan warisan dari Don Jaime tiba di sana dan menempati rumah utama sedangkan Viridiana yang juga memiliki separuh hak atas rumah itu memilih tinggal dan menempati sebuah bangunan kecil yang ada di dekat rumah utama. Klimaks dari eksperimen Viridiana terjadi ketika dia dan Jorge pergi selama beberapa hari untuk membereskan beberapa urusan, sementara 13 pengemis/gelandangan itu berhasil masuk ke rumah utama. Pada awalnya, 13 pengemis/gelandangan itu hanya berniat untuk melihat-lihat isi rumah. Dihadapkan dengan kemewahan yang mereka temukan di dalam rumah, 13 pengemis/gelandangan itu lantas mengadakan pesta makan besar-besaran, mabuk sepuas-puasnya, dan memorak-porandakan ruang makan. Kemudian 13 pengemis/gelandangan itu beranjak pergi meninggalkan rumah ketika Viridiana dan Jorge tiba-tiba pulang, sebelum akhirnya memasuki bagian akhir film yang sudah saya tulis di atas.

Plot cerita film ini berjalan tenang, nyaman, dan dikontrol dengan sangat baik sehingga tidak ada satu pun yang terasa keluar dari jalur yang semestinya. Hal ini membikin saya merasa terpuaskan secara mental. Gambar yang ada di film ini juga diambil dengan elegan untuk menyampaikan sesuatu yang spesifik dan konkret dari gagasan (serta sindiran) Buñuel terhadap banalitas sifat alamiah manusia. Buñuel mendeskripsikan Don Jaime bukan sebagai karakter yang sepenuhnya jahat dan cabul, melainkan seorang lelaki tua kesepian dan larut dalam kesedihan yang ingin berbuat dosa namun tidak memiliki ketidak-senonohan dan keberanian yang cukup untuk melakukannya. Viridiana juga bukanlah karakter seorang perempuan yang mengalami kemerosotan moral, begitu juga Jorge bukanlah karakter yang sepenuhnya bandot, dan karakter 13 pengemis/gelandangan itu pada akhirnya cuma bertingkah seperti yang selama ini diajarkan oleh dunia kepada mereka.

Viridiana adalah sebuah film yang menyegarkan, menguatkan, dan menghibur, yang dikembangkan dari sebuah ide yang segar dan orisinal serta dieksekusi dengan begitu kuat dan brilian. Saya membayangkan Buñuel menonton film komedi-romantis masa kini yang paling riang dan lucu, dan hanya menyunggingkan tawa kecil mencemooh di sepanjang film. Buñuel sepenuhnya tahu dan paham bahwa dunia memiliki sistemnya sendiri agar tetap berjalan, dan dia memiliki cara tersendiri untuk menyajikan kekejaman dunia di layar sinema, dan mengajak penonton untuk menertawai cara kerja dunia (dan masyarakat di dalamnya) sebagai sebuah kekonyolan. Dan saya selalu suka menonton film-film bikinan Buñuel: hal itu mampu memberikan pengalaman yang unik dan membikin saya bahagia!

Namun bakal selalu ada gerobak lain dan seekor anjing lain yang terikat di belakangnya, kan? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s