Negeri Van Oranje (2015)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

NEGERI Van Oranje — novel yang ditulis secara gotong-royong oleh Wahyuningrat, Rizki Pandu Permana, Nisa Riyadi, dan Adept Widiarsa — sebenarnya memiliki premis yang sederhana: “Bagaimana rasanya kuliah di Belanda?” Dan alih-alih menulis sebuah cerita non-fiksi yang nantinya malah tidak laku di pasaran, mereka berempat mengembangkan premis itu menjadi sebuah novel fiksi tentang eratnya kisah persahabatan antara lima orang di perantauan. Meski 15% isi dari buku Negeri Van Oranje adalah tips dan trik mengakali hidup di Belanda sebagai mahasiswa perantauan (yang menurut saya terkesan terlalu menggurui), namun secara keseluruhan buku ini bukanlah sesuatu yang buruk bagi kamu yang ingin membaca kisah ringan sembari menyeruput secangkir kopihitam hangat di sorehari. Setup ceritanya sederhana: Wicak, Lintang, Geri, Daus, dan Banjar secara kebetulan bertemu di sebuah stasiun kereta api di Belanda; mereka tertahan di sana karena badai, dan akhirnya mencoba menghangatkan suasana yang canggung dengan mengobrol dan saling bertukar cerita. Mereka berlima adalah mahasiswa/i perantauan di Belanda dan tinggal di kota yang berbeda. Kesamaan darah merah-putih dan nasionalisme kacrut “Garuda di Dadaku” menyatukan Wicak, Lintang, Geri, Daus, dan Banjar dalam sebuah persahabatan; mereka berlima menyebut persahabatan itu dengan AAGABAN. Semuanya berjalan mulus sampai akhirnya Wicak, Geri, Daus, dan Banjar sama-sama mencintai Lintang, sementara di sisi lain, Lintang ternyata jatuh cinta kepada Geri. Kondisi adem-ayem AAGABAN pun mulai digoyahkan badai persaingan dan perselisihan.

Mengadaptasi novel dengan cerita seperti itu sebenarnya susah-susah-gampang. Permasalahan utama dari cerita novel ini adalah bahwa nyaris tidak konflik yang cukup berarti di dalamnya. Intinya cuma yang-yangan remaja yang berakhir bahagia, tentu saja. Poin yang cukup menarik dari novel ini adalah bagaimana Wahyu, Rizki, Nisa, dan Adept menggambarkan kesibukan harian masing-masing karakternya di universitas masing-masing dengan cukup detail. Semua karakter lelakinya (Wicak, Geri, Daus, dan Banjar) mendapatkan porsi yang sama dan pas dalam penggambaran kepribadian masing-masing yang cukup menarik, sehingga mampu membikin saya penasaran siapakah di antara empat lelaki itu yang bakal bersanding dengan Lintang di akhir cerita.

Namun versi film dari novel ini — yang disutradari oleh Endri Pelita dan naskah filmnya ditulis oleh Titien Wattimena — tidak memedulikan hal-hal detail macam itu. Yang menjadi fokus dalam versi filmnya adalah menjual kisah cinta segilima antara Wicak (Abimana Aryasatya), Lintang (Tatjana Saphira), Geri (Chicco Jerikho), Daus (Ge Pamungkas), dan Banjar (Arifin Putra). Titien dan Endri tidak peduli untuk menjelaskan alasan masing-masing karakternya dalam memilih kota tempat tinggal di Belanda, atau perbedaan yang mencolok dengan gaya hidup di masing-masing kota dan bagaimana cara mengakalinya, atau penjelasan tentang arti dari AAGABAN (di dalam bukunya, AAGABAN adalah akronim dari “Aliansi Amersfoort Gara-gara Badai di Netherland” — dan mungkin yang menjadi pertimbangan untuk tidak menjelaskan arti nama itu di film adalah bahwa ternyata nama itu cuma akronim norak dan tidak bermakna sama sekali, tapi hei… ah, sudahlah). Tidak ada niat untuk menjelaskan latar-belakang cerita dari masing-masing karakter dan kota yang ditinggalinya — TIDAK ADA! Asalkan selalu ada gambar orang jalan-jalan unyu dan menikmati indahnya taman bunga tulip sembari berpelukan, film ini berharap bisa dimaafkan oleh penontonnya karena melalaikan detail penting di sana-sini.

Negeri Van Oranje sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi film bertema persahabatan yang cukup menarik andai saja Endri mengeksekusinya dengan cerdas. Uraian penjelasan tentang karakternya memang ada, namun terasa tipis dan a la kadarnya — sementara pengembangan dan kedalaman karakternya benar-benar dilupakan begitu saja: NOL BESAR, NIHIL, TIDAK ADA! Yang membikin saya masih bisa menahan diri untuk tidak mematikan laptop (dan lanjut tidur) ketika menonton film ini hanya interaksi lumayan bagus yang terasa hangat dan dekat di antara aktris/aktornya.

Endri sekadar menampilkan Wicak, Geri, Daus, dan Banjar sebagai empat mahasiswa yang cuma punya kesibukan untuk mendekati dan mencoba memenangkan jantung Lintang doang, alih-alih menggambarkan rutinitas harian mereka yang sebenarnya. Di dalam versi novelnya, cuma Geri yang diceritakan sebagai borjuis anak orang kaya dan digambarkan tidak terlalu ngoyo banting-tulang untuk sekadar bertahan hidup di Belanda. Namun dari versi filmnya saya mendapatkan kesan bahwa semua karakter berasal dari keluarga kaya: mereka tidak pernah ditampilkan kesulitan atau kelaparan sampai akhirnya harus sok akrab dengan pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Belanda. Bahkan momen yang saya anggap paling lucu dalam versi novelnya di mana Wicak dan Lintang menjemput orang Indonesia yang sok tahu tentang Belanda di bandara malah terlihat dan terasa receh saat ditampilkan di layar oleh Endri dalam versi film.

Fokus untuk menjual kisah cinta segilima antara Wicak, Lintang, Geri, Daus, dan Banjar demi melayani tujuan untuk memperkaya diri sendiri dari profit yang dihasilkan sih sebenarnya sah-sah saja dalam dunia perfilman yang terlanjur kapitalistik seperti sekarang ini, namun Titien dan Endri seharusnya paham dan mau untuk memerhatikan detail kecil ini: menampilkan Lintang sebagai karakter perempuan utama film yang mampu membikin para penonton jatuh cinta dan kepengin menjadikannya kekasih sehidup-semati, setidaknya seperti dalam film bergenre komedi-romantis standar Hollywood. Dan saya tidak bisa merasakan hal macam itu. Jujur — sewaktu menonton Lintang yang (oke!) diperankan oleh Tatjana supermanis itu, saya tidak punya hasrat untuk pergi ke Belanda dan mengajaknya untuk menjalin hubungan asmara. Sumpah demi apa pun!

Dalam versi novelnya, Lintang adalah karakter yang gampang disukai dengan kebandelannya yang memiliki hobi menari dan rasa pengertian yang superbesar terhadap kenorakan empat sahabat lelakinya: keseimbangan yang pas antara karakter perempuan yang cukup nyaman untuk dijadikan partner in crime dan cukup cantik untuk dijadikan bahan lamunan mesum di sianghari. Namun Lintang dalam versi filmnya adalah karakter perempuan yang cukup mengganggu sehingga saya pun tega mendorongnya ke dalam sungai agar bisa dijadikan bahan tontonan dan tertawaan di sorehari sembari menyesap kopihitam hangat dan mengisap rokokputih. Di dalam film, Lintang didegradasi menjadi karakter yang supertolol dan tidak spesial. Film ini tidak terlalu bersusah-payah untuk menampilkan adegan di mana Lintang sibuk kuliah seperti layaknya mahasiswi yang menuntut ilmu di luar negeri, namun mendadak dia mendapatkan telepon dari pihak kampus yang memberi tahu bahwa dia lulus kuliah. Film ini terlalu fokus menampilkan Lintang yang lebih sibuk nongkrong dan jalan-jalan dengan Wicak, Geri, Daus, dan Banjar — sementara di sisi lain, keempat lelaki itu ditampilkan kecewa karena ternyata Lintang sudah punya kekasih bule. Dan adegan yang menampilkan Lintang menangis sok dramatis ketika mengetahui fakta bahwa Geri ternyata gay dengan latar-belakang pinggir pantai lengkap dengan senja sorehari berhasil membikin saya ingin memuntahkan seporsi nasi goreng yang baru saja saya habiskan! Di rangkaian adegan itu Lintang memosisikan dirinya sendiri sebagai korban dusta, meski Geri sudah mencoba menjelaskan bahwa menjadi gay bukanlah sebuah pilihan yang gampang.

(“Gue selama ini ngerasa bego banget gara-gara lo,” teriak Lintang kepada Geri, sementara air mata sibuk membasahi pipinya. Dan seketika itu pula saya ingin berteriak ke wajah Lintang: “Saya juga merasa tolol karena harus membetahkan diri untuk anteng di depan laptop menonton kamu dan film ini, mbak!”)

Dan yang lebih parah adalah Tatjana tidak mampu untuk setidaknya membikin Lintang (dan film ini) menjadi tontonan yang manis di awal pekan. Oke, Tatjana memang cantiknya keterlaluan dan — nyaris sama seperti Chelsea Islan lah — mampu membikin segala hal di sekitarnya terlihat ikut cantik ketika dia ditampilkan di layar. Namun siapa yang bakal percaya bahwa Tatjana adalah seorang mahasiswi yang mencoba menyelesaikan studi S2 di luar negeri yang selalu dikecewakan oleh lelaki dan keseharian masa kecilnya dihabiskan untuk memanjat pohon buah mangga? Tatjana bukanlah Mélanie Laurent yang selalu mampu menampilkan kinerja akting brilian meski hanya memerankan karakter superhina dalam film Aloft (2014) bikinan Claudia Llosa itu. Ketika Lintang marah karena mengetahui bahwa keempat sahabat lelakinya yang selama ini dia anggap sebagai teman sejati malah beradu argumen tentang siapa yang layak menjadi kekasihnya, Tatjana malah membikin Lintang terlihat seperti seorang perempuan kurang ajar yang tidak tahu terimakasih, alih-alih merasa dikhianati dan dikecewakan. Ada tiga lelaki baik yang mencintai dan memperebutkan jantung persegimu, namun kamu malah kabur dan menangis tidak jelas? Oh nona manis, saya harap kamu hilang tersesat dan tidak kembali lagi!

Meski terbantu dengan interaksi yang lumayan hangat di antara aktris/aktornya, Negeri Van Oranje hanyalah film drama hina tentang persahabatan yang tidak semenarik dan sedramatis Jomblo (2006) yang melibatkan pertengkaran hebat dan rusaknya persahabatan di akhir film. Film ini adalah versi lain dari 5 cm (2012) tanpa adegan naik gunung dan setting tempatnya dipindah ke Belanda. Film ini lebih mirip arsip rekaman video selebritis selama 95 menit yang tidak berisi apa-apa yang menarik kecuali pamer sedang berlibur di Belanda doang!

Dibutuhkan upaya yang lebih tulus dan lebih keras ketimbang sekadar kumpulan gambar kekasih berpelukan dan berpose di depan lanskap Praha yang indah, atau seorang perempuan manis menangis dengan latar-belakang senja sore yang melodius, agar bisa memenangkan simpati saya dan membikin saya mengerti tentang arti dari persahabatan (dan cinta) yang sesungguhnya.

Tabik. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s