Kurt Cobain: Montage of Heck (2015)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

TUJUH belas tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kelas dua SMP dan mulai membiasakan kuping untuk menyukai musik, mengutip mama saya: “berisik dan tidak keruan”, dari band seperti Radiohead, System of a Down, Sex Pistols, Rancid, NOFX, Green Day, Bad Religion, Anti-Flag, dan semacamnya, agar terlihat keren di mata para gadis di sekolah. Pada satu akhir pekan, ketika nongkrong dengan sekumpulan bocah tengil lain (dan kami dengan bangga mendaku diri sebagai anak punk), seorang kawan kasih-dengar Come as You Are dengan cerita yang lumayan panjang tentang Nirvana dan bahwa vokalis grup musik itu, Kurt Cobain, sudah mangkat karena bunuh diri pada tahun 1994. Oke, Nirvana dan Kurt Cobain — saya ingat-ingat nama itu di kepala. Esok harinya saya mencoba mencari tahu tentang Nirvana kepada kakak saya — orang yang pada saat itu saya anggap sebagai lelaki keren dengan referensi dan pengetahuan musik yang tidak saya diragukan — dan ternyata dia punya beberapa koleksi musik Nirvana: dua album terakhir (Nevermind [1991] dan In Utero [1993]) dan satu live album (MTV Unplugged in New York [1994]) dalam bentuk kaset, serta satu VCD bajakan yang berisi beberapa video klipnya. Where Did You Sleep Last Night, Something in the Way, Smells Like Teen Spirit, Lithium, dan About a Girl akhirnya menjadi semacam lagu wajib untuk didengarkan minimal dua kali dalam sehari — bersama dengan semua lagu Radiohead. Dan saya pun menyesalkan kenapa Cobain harus mati beberapa tahun sebelumnya.

Saya masih ingat momen pertama kali saya bisa memainkan akord gitar About a Girl dengan lancar; setelahnya, saya selalu memainkan lagu itu untuk pamer ketika nongkrong dengan kawan sepermainan atau di hadapan gadis yang saya suka. Muka saya yang pas-pasan jadi lebih keren satu level karena bisa memainkan akord gitar dan hafal lirik About a Girl, pikir saya waktu itu. Musik yang dimainkan Nirvana, bagi saya pada saat itu, memiliki semacam daya sihir seperti itu, dan menonton Kurt Cobain: Montage of Heck — sebuah film dokumenter tentang pentolan Nirvana dan ikon musisi rock ‘90an, Kurt Cobain — memberikan saya sesuatu yang istimewa dan pengalaman magis yang sama dengan lagu bikinan Nirvana. Persis sama seperti Nirvana mengambil beberapa elemen musik yang pernah saya dengar sebelumnya untuk kemudian diubah sedemikian rupa menjadi sesuatu yang terdengar segar dan brilian, Brett Morgen — yang menjadi sutradara film ini — mendekonstruksi unsur dokumenter tentang musik dan membikin suatu karya sinematik yang terasa baru dan menakjubkan. Bahkan saya bisa bilang bahwa ini merupakan salah satu film dokumenter musik terbaik yang pernah diproduksi dan yang pernah saya tonton. (Dan saya menulis ulasan ini ditemani album kompilasi Nirvana (2002) dengan mode repeat di Windows Media Player: nostalgia romantis yang nyaris sempurna.)

Film ini, dari beberapa artikel di internet yang saya baca setelah menontonnya, merupakan produk dari delapan tahun observasi dan pengumpulan materi yang dilakukan dengan tulus oleh Morgen, dan ini adalah dokumenter “resmi” pertama tentang Nirvana. Ini adalah hasil dari kerja keras yang luar biasa! Ini bukanlah sebuah hagiografi. Sebagian besar film dokumenter musik dibikin “oleh fans untuk fans lainnya”, biasanya cuma menceritakan (dan mengagung-agungkan) sejarah musik yang sebenarnya sudah sering diumbar dan diketahui oleh banyak orang, atau hanya bermaksud untuk “meluruskan” anggapan miring tentang musisi pujaan yang menjadi subjek filmnya. Di film ini, Morgen tidak melakukan hal receh seperti itu. Ini adalah film dokumenter musik dengan tujuan dan maksud yang sama sekali berbeda: menarik turun tuhan musik rock ‘90an dari singgasananya yang tidak tersentuh di langit untuk kembali menapaki kehidupan fana di Bumi — bahwa Cobain, sebrilian dan se-ikonik apa pun dirinya, juga “manusia biasa” dengan segala kompleksitas emosional dan kerumitan hidupnya. Film ini lebih sentimental, lebih personal, lebih intim, lebih emosional, dan lebih dekat ketimbang dokumenter musik yang pernah ada sebelum ini. Film ini benar-benar mengajak saya untuk melihat kembali dan menelanjangi kehidupan pribadi seorang Kurt Cobain. Bagaimana proses yang dilewati Cobain untuk menjadi seorang musisi rock yang disembah oleh banyak orang? Bagaimana Cobain bisa mengubah trauma dan rasa sakit masa kecilnya menjadi karya seni? Bagaimana tekanan psikis berhasil mengalahkan Cobain ketika dia berada di puncak karier musiknya? Itu adalah beberapa pertanyaan yang jauh lebih sulit untuk dijawab oleh seorang sineas film ketimbang perdebatan receh macam “Pearl Jam vs. Nirvana” atau “apakah musik Nirvana termasuk dalam genre grunge?” atau sampah lain yang biasanya sering dijadikan premis dan plot cerita dalam film dokumenter musik rock konvensional.

Pendekatan yang dilakukan Morgen dalam Kurt Cobain: Montage of Heck sama briliannya dengan pendekatan musik yang dihasilkan oleh Cobain dan Nirvana. Ada beberapa wawancara (termasuk dengan Krist Novoselic [pemain bas Nirvana] dan Courtney Love [istri mendiang Cobain], namun sayangnya tidak ada wawancara dengan Dave Grohl [pemain drum Nirvana]), namun ini bukanlah film dokumenter yang cuma menampilkan orang-orang berbicara dan menceritakan pengalamannya bersama Cobain — Morgen lebih berfokus untuk menampilkan arsip rekaman video tentang Cobain. Dan ini juga bukan film dokumenter yang sebagian besar materinya berisi arsip rekaman video penampilan Nirvana dalam konser-konser besar. Morgen menggunakan teknik dan gaya yang cukup bervariasi untuk menghasilkan sebuah tontonan yang menarik: menampilkan rekaman video rumahan milik keluarga Cobain, animasi dari tulisan dan hasil gambar Cobain, rekaman wawancara eksentrik Nirvana saat konser, rekaman video pribadi Love dan Cobain; semua itu diedit sedemikian rupa bagusnya oleh Morgen dan Joe Beshenkovsky. Adalah hal yang menarik bagi saya ketika menonton rekaman video rumahan dari Cobain kecil yang hiperaktif sembari mendengarkan lagu hasil karya Cobain dewasa yang dijadikan latar-belakang musik di adegan itu. Pada satu momen di awal film, Morgen memainkan versi lain All Apologies yang terdengar seperti melodi pengantar tidur dari kotak musik mainan anak-anak yang menenangkan. Sementara momen ketika Morgen memainkan suara rekaman Cobain yang bercerita tentang kehidupan masa remaja dan keinginannya untuk melakukan bunuh diri, diselingi dengan gambar animasi untuk mendramatisir momen itu, merupakan rangkaian adegan yang menarik sekaligus suram: sebuah versi romantis dari seorang remaja anti-sosial.

Film ini berisi penuh dengan emosi yang sangat menyentuh. Morgen sengaja menyorot ekspresi ibu tiri Cobain (Jenny Cobain) sedikit lebih lama untuk memberikan kesan dramatis yang mengharukan setelah membahas pelecehan emosional yang dialami oleh Cobain kecil (“Menurut saya yang paling menyedihkan dari semua kejadian ini adalah Kurt ingin sekali tinggal bersama ibunya.”) dan kemudian dialog ibu tiri Cobain itu dilanjutkan dengan lirik awal dari Something in the Way; sangat sulit untuk tidak bersimpati dengan berbagai macam kesulitan yang dialami oleh Cobain kecil, sebelum akhirnya dia mampu mengubahnya menjadi masterpiece di kemudian hari. Morgen mengombinasikan arsip rekaman video, foto, hasil gambar dan catatan harian Cobain, dan animasi, untuk kemudian mengeditnya dan menampilkannya seirama dengan musik Nirvana dalam cara yang betul-betul memukau.

Kurt Cobain: Montage of Heck menjadi sedikit repetitif ketika masalah Cobain dengan ketenaran yang dia dapatkan sebagai musisi terkenal dan hubungan asmaranya dengan Love (dua hal yang sudah terlampau sering diulas ketika membahas tentang kisah hidup Cobain) mendominasi narasi cerita di bagian babak kedua film ini, namun hal itu tidak mengurangi daya sihir film ini. Rekaman video yang menampilkan Cobain bercanda dengan Love (mencemooh Axl Rose dan Chris Cornell) mengungkapkan dinamika dari hubungan asmara mereka berdua dengan cara yang berbeda dari gambaran yang sering diumbar oleh media selama ini. Setiap pilihan lagu untuk latar-belakang musiknya, setiap rekaman video yang ditampilkan, setiap animasi dari hasil gambar dan catatan harian Cobain — semuanya adalah hasil ketelitian dan ketulusan dari kerja keras selama delapan tahun.

Pada akhirnya, yang membikin film dokumenter ini menjadi begitu spesial adalah keberhasilan Morgen dalam menampilkan Kurt Cobain sebagai seorang “manusia biasa” yang terasa lebih nyata dan lebih dekat. Mengutip seorang kawan — Yanu Situmorang, yang mengidolakan Nirvana sampai mampus — ketika menonton film ini: “Ternyata hidupnya Cobain itu nggak beda jauh dengan kita.” []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s