Viva JKT48 (2014)

Poster film. (gambar: "Wikipedia")
Poster film. (gambar: “Wikipedia”)

BEBERAPA koper ditampilkan terlantar begitu saja di sebuah taman, lantas kamera bergerak mendekat ke arah satu koper dan, voilà!, Nabilah Ratna Ayu Azalia muncul dari koper tersebut. Tidak lama kemudian, beberapa gadis unyu (Melody Nurramdhani Laksani, Shania Junianatha, Haruka Nakagawa, dll.) dengan baju serupa ditampilkan keluar satu per satu dari koper mereka masingmasing. Rangkaian adegan pembuka Viva JKT48 itu sama sekali tidak memiliki makna apa pun, dan parodi superreceh serta tidak jelas itu menjadi awal yang menjadi pertanda bahwa saya bakal melewati satu jam lebih waktu saya untuk menonton sesuatu yang jeleknya minta ampun malam ini. Setelah delapan — atau sembilan; entahlah, saya lupa — gadis unyu yang tergabung dalam sebuh grup vokal/grup idola JKT48 itu berkumpul, mereka akhirnya sadar bahwa mereka sedang berada di dalam kandang komodo. Mereka mencoba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi, namun tidak bisa. Mereka bukannya tidak sengaja menelan sesuatu yang memabukkan macam empat karakter protagonis dalam trilogi The Hangover (2009-2013): mereka cuma tidak beruntung saja. Semua itu ternyata bermula karena Miss Kejora (Ayu Dewi dengan tampilan dan akting yang sangat mengganggu), nyonya pemilik teater tempat mereka bekerja untuk memuaskan pseudo-berahi para ABG kesepian dan lelaki krisis paruh baya menyedihkan, mengganti mereka dengan grup vokal/grup idola baru bernama BKT48 yang dipimpin oleh Vega (Meirayni Fauziah yang juga sangat mengganggu), anak dari Miss Kejora yang kelakuannya samasama menjengkelkan seperti ibunya.

Setelah berhasil bebas dari kandang komodo, para member JKT48 yang kebingungan itu pergi ke rumah manajer mereka, Takeshi-San (Nobuyuki Suzuki), hanya untuk mendapati kenyataan yang lebih pahit: mereka sudah menanda-tangani pembatalan kontrak kerja di teater milik Miss Kejora. Mereka mencoba menjelaskan dan meyakinkan Takeshi-San bahwa mereka tidak punya keinginan untuk berhenti tampil di teater, bahwa yang menanda-tangani surat pembatalan kontrak kerja itu bukanlah mereka. Setelah itu, dengan bantuan dari tiga lelaki paling nggilani yang mengidolakan JKT48 sampai mampus (Oi [Mario Maulana], Miko [Stephanus Tjiproet], dan Bobby [Bobby Samuel]), mereka berjuang untuk mengumpulkan uang sebesar satu milyar rupiah agar bisa menebus teater dari Miss Kejora.

Film yang superreceh dan jeleknya minta ampun ini dibikin dengan ego supertinggi demi memuaskan pseudo-berahi fans berat JKT48 tanpa peduli dengan perasaan penonton biasabiasa saja macam saya. Awi Suryadi sebagai sutradara dan tiga penulis naskahnya (Raditya, Cassandra Massardi, dan Alim Sudio) memulai film ini dengan konflik, untuk kemudian menikung tajam memasuki plot dan subplot cerita di second act. Tidak ada pengenalan yang utuh terhadap karakterkarakter yang ada dan persetan dengan premis yang manis. Jadi sahsah saja jika saya merasa tidak bersimpati dan tidak peduli dengan semua karakter yang ada karena film ini memang tidak mengenalkannya kepada saya di awal. Dan kehilangan atau tidak merasakan simpati sama sekali kepada karakter dalam sebuah film adalah kegagalan yang teramat parah, sebab sebagus apa pun akting dari aktris/aktor yang memerankannya, toh hal itu tidak bisa membikin saya sebegai penonton percaya dan bersimpati dengan konflik yang mereka alami di sepanjang film.

Humor yang sepertinya ditempelkan secara asal di sana-sini terkesan garing segaring-garingnya. Sementara konklusi yang berisikan solusi untuk menyelesaikan konflik di Viva JKT48 ini setara dengan kebodohan dan kebebalan orang-orang modern saat ini yang suka menelan mentahmentah berbagai macam hoax di dunia maya. Mengumpulkan uang satu milyar rupiah dengan mengamen? Saya coba memahami niat awal Awi yang sepertinya ingin menjadikan film ini sebagai komedi-ajaib, tapi ayolah, jangan bercanda! Bahkan andai saja Melody yang ehem cantiknya itu rela berkorban dengan memberikan pelayanan seks oral untuk fans mereka satu per satu atau sekadar menari telanjang di hadapan fans JKT48, saya masih sangsi mereka bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dengan tenggat waktu yang hanya sepekan saja. Jika memang tidak bisa memberikan pemecahan masalah yang sederhana dan elegan, maka sebaiknya tidak usah membikin masalah dan konflik “sebesar” itu!

Dan keburukan film ini masih terus berlanjut. Setelah mendapati fakta pahit, member JKT48 itu ditampilkan sebagai anak gelandangan yang bingung harus melakukan apa. Orang yang paling gila sedunia pun paham dan yakin bahwa para gadis unyu-unyu itu pasti punya keluarga yang sedang menunggu di rumah. (Kenapa mereka tidak berpikir untuk pulang ke rumah, dan menjalani sisa hidup mereka yang banal dengan ikhlas dan mencoba bahagia saja? Ah sudahlah, tidak usah terlalu pusing memikirkan kenapa mereka bisa segoblok itu. Kenyataan itulah yang terjadi di film ini, terima saja.) Mereka ditampilkan linglung dan kemudian terdampar (serta bermalam) di minimarket Lawson dan berbagi dua gelas teh untuk delapan (atau sembilan) orang, meski mereka masih bisa tampil ayu dengan dandanan trendi padahal koper mereka terbatas.

Apakah sampai di situ saja? Oh tentu saja tidak. Film ini masih memiliki keburukan lain yang bakal membikinmu muntah darah bercampur nanah selama tiga hari tiga malam! Karakter antagonis yang ada di film ini begitu tolol dan sangat mengganggu dalam arti yang paling buruk. Menonton Vega dan Miss Kejora beserta antek-anteknya yang supertolol itu membikin saya ingin membunuh mereka dengan metode siksaan yang paling kejam! Sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan karakter antagonis yang ditampilkan sebagai karikatur lucu-lucuan. Banyak film receh bikinan Hollywood yang berisikan dua-tiga karakter antagonis superkonyol, namun para sineas di sana memiliki kemampuan dan kecerdasan yang cukup untuk meyakinkan penonton dengan karikatur tokoh antagonis mereka. Di film ini, Awi seperti tidak memedulikan hal itu. Dan saya semakin yakin bahwa sebagian besar sineas Indonesia memang memiliki kemampuan unik perihal mengumpulkan gadisgadis unyu (macam Melody, Shania, Nabilah, Haruka, dll.) dalam satu frame untuk kemudian mengubahnya sedemikian rupa menjadi suatu tontonan yang menjijikkan.

Dengan durasi 78 menit yang terpotong kurang-lebih 15 menit untuk rangkaian adegan menari dan bernyanyi, serta tanpa pengenalan dan pengembangan karakter yang mumpuni dan logika plot cerita yang entah seperti apa, Viva JKT48 terlalu menyedihkan dan menjijikkan untuk disebut sebagai film atau karya seni sinematik. Ini adalah bahan onani untuk sekadar memuaskan pseudo-berahi fans berat JKT48, para ABG kesepian yang kurang kerjaan, dan kumpulan lelaki yang menyedihkan di luar sana. Ini adalah 78 menit paling lama dan paling menyeramkan dan paling tidak jelas dan paling tolol yang pernah saya lewati untuk menonton sampah menjijikkan. Selain receh dan buruknya nggak ketulungan, film ini berhasil membikin saya merasakan apa yang dirasakan oleh Mal dan Dom Cobb ketika berada dalam Limbo di film Inception (2010), bahwa saya merasa seperti terjebak di suatu tempat mengerikan yang sama dan semua kejadian buruk itu terus-menerus terjadi berulang-ulang kali — dan perasaan ini lebih buruk ketimbang terjebak dalam rutinitas kerja harian yang sangat membosankan. Setelah kelar menonton film ini, saya terlalu shock dengan apa-apa yang baru saja tampil di layar laptop butut saya dan mendadak dihinggapi rasa takut bahwa saya tidak bakal bisa melewati malam ini dengan baikbaik saja.

Menertawakan keburukan dan kengacoan film ini bukanlah sebuah aktivitas yang menghibur untuk dilakukan di malam yang dinginnya jahanam seperti sekarang ini. Saya harus kembali mengasihani diri sendiri garagara sesuatu yang membikin otak saya semakin geser tidak keruan. Asu tenanan!

Dan silakan saja jika kamu ingin onani setelah menonton film ini. Namun jika ternyata kamu tidak mengalami ejakulasi sampai klimaks yang memuaskan, jangan pernah mencoba untuk menyalahkan saya atas ketololanmu sendiri. Paham?!? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s