Melancholia (2011)

Poster film. (gambar: "Alternative Movie Poster")
Poster film. (gambar: “Alternative Movie Poster”)

LARS von Trier membuka Melancholia dengan musik dari pertunjukan opera karya Richard Wagner berjudul Tristan und Isolde, suasana kelam, gelap, dan apokaliptik, serta gambar meresahkan dari ketidak-beresan dunia. Seorang perempuan terlihat kepayahan menggendong anaknya di sebuah lapangan berawa. Seekor kuda terjatuh dalam adegan gerak lambat. Seorang perempuan berpakaian pengantin berjalan ke dalam hutan yang terkesan menyeretnya masuk ke dalam mimpi buruk a la Disney; kemudian dia mengapung di kolam, memegang bunga, dan tampak seperti Ophelia. Seorang anak kecil sedang mengupas ranting pohon. Sementara itu, di langit terlihat bayangan sebuah planet lain dengan ukuran yang luar biasa besar. Bumi sebentar lagi bakal hancur — berakhir, apokalips.

Rangkaian adegan pembuka tersebut adalah sebuah prolog yang terisolir. Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, von Trier mengajak penontonnya untuk bertemu dengan sepasang pengantin baru yang sedang menuju pesta perkawinan mereka di sebuah tempat yang mewah dengan halaman yang begitu besar. Pesta perkawinan itu sendiri sebenarnya hanyalah perayaan kecil-kecilan yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat saja, untuk memperlihatkan bahwa beberapa dari mereka mungkin sudah gila.

Pengantin perempuannya adalah Justine (diperankan oleh Kirsten Dunst), dan suaminya adalah Michael (diperankan oleh Alexander Skarsgård). Charlotte Gainsbourg berperan sebagai Claire (kakaknya Justine), dan orangtua mereka yang sudah bercerai — Gaby dan Dexter — diperankan oleh Charlotte Rampling dan John Hurt. Venue pesta perkawinan adalah milik John (suami dari Claire, dimainkan oleh Kiefer Sutherland). Jack — bos sebuah jasa periklanan (tempat kerja Justine) yang diperankan oleh Stellan Skarsgård — juga hadir di pesta perkawinan itu dengan tujuan menagih tagline iklan dari Justine. Udo Kier berperan sebagai wedding planner, dan berhasil meyakinkan saya bahwa dia memang orang yang tepat untuk merencanakan sebuah pesta perkawinan di akhir zaman.

Kinerja Dunst di film ini begitu mengagumkan. Penjiwaannya dalam memerankan karakter Justine (yang mengalami depresi katatonik) terasa sangat tulus dan kuat, mengingatkan saya pada penampilan mengagumkan dari tiga pemeran perempuan utama di film von Trier lainnya: Björk (yang memerankan karakter Selma Ježková dalam Dancer in the Dark [2000]), Nicole Kidman (yang berperan sebagai Grace Margaret Mulligan dalam film Dogville [2003]), dan Gainsbourg saat memerankan Joe dalam porno-epik Nymphomaniac (2013). Gainsbourg juga memberikan kinerja yang menarik dan brilian di film ini.

Plot pesta perkawinan dalam film ini tidak seperti tampilan pesta perkawinan konvensional yang sering ditampilkan dalam sebuah film, atau bahkan dalam pesta perkawinan pada umumnya di kehidupan nyata. Justine yang menolak berhubungan badan dengan suaminya lebih memilih untuk melakukan seks dengan orang lain di sebuah kotak pasir lapangan golf. Uniknya adalah tidak ada kesan kongkalikong/intrik dalam adegan seks itu, melainkan murni spontanitas. Setiap momen dalam film ini dipenuhi dengan nuansa kelam karena sebuah pengetahuan umum bahwa Bumi bakal segera ditabrak oleh planet superbesar bernama Melancholia. (Saya tidak begitu yakin apakah planet superbesar itu memang diberi nama seperti itu oleh von Trier.)

Justine pertama kali melihat Melancholia ketika sedang berada dalam perjalanan menuju pesta perkawinannya. Melancholia lebih terang ketimbang kumpulan bintang malamhari dan, seiring berjalannya waktu, terlihat semakin bertambah besar hingga memenuhi langit. Anehnya (atau malah menariknya), orang-orang yang hadir di pesta perkawinan Justine tidak menghabiskan seluruh waktu mereka untuk membicarakan Melancholia, dan hanya sedikit sekali informasi yang diberikan tentang kapan planet superbesar itu pertama kali terlihat mendekati Bumi. (von Trier lebih memilih untuk menampilkan banyak sekali percakapan berliku di pesta perkawinan itu.) von Trier menghindari semua hal klise dari film apokalips sains-fiksi: tidak ada update berita mengenai Melancholia di televisi, tidak ada pertemuan para pejabat negara, tidak ada nuklir yang ditembakkan ke planet superbesar itu, tidak ada kelompok massa yang membanjiri jalanan dengan kepanikan.

Biasanya, dalam setiap film tentang kehancuran dunia atau apokalips, sering ditampilkan bagaimana manusia sibuk menyelamatkan Bumi dengan efek editing supermahal untuk menggambarkan bencana mengerikan yang bakal mengakhiri peradaban manusia. Namun von Trier menggambarkan akhir dunia dengan lebih tenang dan syahdu melalui film ini. Tidak ada gelombang air setinggi ratusan meter. Tidak ada kumpulan hewan yang mencoba kabur dari dalam hutan. Tidak ada tampilan runtuhnya gedung-gedung pencakar langit. Sama sekali tidak ada elemen klise-membosankan dari film apokalips sains-fiksi di sini. Hanya ada karakter yang berdiri di bukit dan dengan tenang menatap lurus langsung kepada malapetaka yang bakal terjadi ketika atmosfer kedua planet mulai bergabung, serta von Trier menampilkannya dalam gerak-lambat yang seolah-olah ingin mengatakan: “Saya tahu apokalips bakal terjadi sebentar lagi, saya siap menghadapinya, saya tidak akan berpaling atau berusaha untuk menyelamatkan diri, saya akan terus mengamati setiap momen syahdunya selama mata dan pikiran saya masih berfungsi.” von Trier mungkin menganggap kematian dan apokalips sebagai hal yang justru melegakan, semacam momen langka dari kegembiraan yang mampu melepaskan manusia dari segala macam penderitaannya.

Melancholia adalah film absurd tentang akhir dunia, sekaligus film yang luar biasa indah dalam banyak hal. Sangat tolol rasanya untuk tidak mengakui keindahan inspirasi visual yang ada di dalam film ini. Salah satunya adalah ketika Justine berjalan keluar untuk melihat planet yang bakal menabrak Bumi, melepaskan semua bajunya, dan merebahkan diri bermandikan cahaya biru dari Melancholia — ini adalah adegan yang benar-benar erotis … sekaligus aneh. Atau bagian akhir film yang menampilkan Leo (dimainkan oleh Cameron Spurr), Justine, dan Claire bersiap menghadapi apokalips, duduk saling berpegangan tangan di dalam sebuah “gua ajaib” bikinan mereka, sementara Melancholia dengan perlahan mulai mendekat dan akhirnya menabrak Bumi.

Di setiap filmnya, von Trier selalu mampu meninggalkan kesan artistik yang begitu mendalam dan menggairahkan. Dan menonton karya-karya Lars von Trier adalah salah satu pengalaman menyenangkan dalam banalitas kehidupan harian saya.

Pada akhirnya, apokalips tidak pernah terlihat serta terasa begitu indah dan syahdu seperti ini. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s