Camp X-Ray (2014)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

CAMP X-Ray adalah film bagus yang memiliki kecerdasan sinematik dan moral di dalamnya. Debut film dari sutradara-merangkap-penulis-naskah, Peter Sattler, tentang seorang tentara perempuan yang ditugaskan di Kamp Tahanan Teluk Guantánamo, Kuba, ini merupakan sebuah drama yang tenang dan sabar yang berfokus pada beberapa karakter dan dimainkan dalam beberapa lokasi penting: sel penjara, lorong penjara, halaman penjara, beberapa ruangan kantor. Film ini mengartikulasikan observasi dan emosinya melalui teknik pengambilan dan pemotongan gambarnya, serta reaksi dari para pemerannya. Film ini juga tentang patriotisme, kewajiban, idealisme, bentrokan dua budaya, dan rasanya menjadi seorang perempuan di dunia kerja yang masih didefinisikan oleh ide-ide primordial “kejantanan” lelaki dalam sistem patriarki. Ini bukan film yang sempurna — pengembangan plot cerita dan karakternya masih terasa dipaksakan, terutama di bagian third act yang menyia-nyiakan upaya dan kinerja baik yang dibangun di awal film — namun film ini ambisius dan punya jiwa yang tulus untuk menceritakan kisahnya. Ini adalah salah satu film terbaik yang pernah dibikin oleh Hollywood dalam menggambarkan kondisi psike Amerika Serikat pasca-Serangan 11 September 2001: mati-rasa moral dan kebencian warga Amerika Serikat terhadap orang-orang Arab (muslim) yang sampai sekarang masih belum reda/hilang sepenuhnya. (Dan sepertinya sentimen negatif ini bakal semakin parah, tengok saja siapa yang memenangkan Pemilu Presiden Amerika Serikat barubaru ini: Donald Bebek, eh maaf, maksud saya — Donald Trump! Apa yang bakal terjadi jika negara adikuasa dipimpin oleh badut rasis macam Trump? Entahlah, saya tidak berani membayangkan.)

Kristen Stewart memikul beban tanggung jawab paling besar dari film ini di bahu rampingnya; dia memerankan karakter utama, PFC Amy Cole: seorang perempuan muda dari Kota Florida yang mendaftarkan diri secara sukarela menjadi tentara untuk mendapatkan pelajaran dan pengalaman hidup, dan dia ditugaskan di Kamp Tahanan Teluk Guantánamo — juga dikenal dengan sebutan Gitmo, atau Camp X-Ray — untuk mengawasi prisoners (narapidana). Er maaf: detainees (tawanan). Sangat penting untuk menggunakan kata “detainees” ketimbang “prisoners” karena, seperti yang dijelaskan oleh Amy kepada kawannya: “Prisoners are subject to the Geneva Conventions. Detainees are not.” (Saya menekan tombol pause setelah dialog itu dan mengambil ponsel-cerdas untuk mencari tahu perbedaan “prisoners” dan “detainees” menurut Konvensi Jenewa dengan bertanya kepada beberapa kawan [salah satunya adalah Oky S. Triant, pemuda marxis-romantis cum sarjana hukum yang saat ini sedang sibuk merintis jenjang karier profesional sebagai, mengutip profil Instagram-nya, “Legal Officer Mandiri Bank Surabaya Kanwil Regional VIII”] karena penerjemah teks subtitle yang saya pakai untuk film ini menerjemahkan dua kata itu dengan satu kata yang sama: “narapidana”. Dan setelah 93 baris chat WhatsApp dengan Oky, saya memutuskan untuk meneruskan menonton film ini dengan teks subtitle bahasa Inggris saja, dan tetap menggunakan kata “detainees” dalam ulasan ini.)

Komandan regu Amy, CPL “Randy” Ransdell (Lane Garrison), mewanti-wanti kepada Amy agar tidak memandang dan memperlakukan “detainees” sebagai manusia otonom karena hal itu bakal semakin mempersulit pekerjaannya. Randy mencoba memanfaatkan perasaan tidak aman dan kegelisahan Amy sebagai minoritas di Camp X-Ray, sebuah kamp tahanan yang sebagian besar isinya adalah tentara lelaki kekar yang bertugas menjaga blok penjara penuh dengan fundamentalis muslim yang tidak suka diawasi oleh orang Amerika Serikat, khususnya perempuan Amerika Serikat.

Amy mengabaikan instruksi Randy dan membiarkan seorang detainees yang fasih berbahasa Inggris bernama Ali Amir (Peyman Moaadi) mengajaknya mengobrol ketika dia betugas mendorong kereta buku mengelilingi blok penjara untuk membagikan buku bacaan kepada detainees. Relasi yang tercipta antara Amy (pribadi yang tidak banyak bicara) dan Ali (seorang provokator cerewet) memiliki citarasa yang khas seperti dalam film era ‘60-70an. Kinerja akting Stewart (yang sebagian besar ditunjukkan melalui mata, tangan, dan gerak tubuh) terkesan tulus dan sungguh brilian, mengingatkan saya kepada Liv Ullmann dalam film Persona (1966) karya Ingmar Bergman. Sementara Moaadi yang juga menampilkan kinerja memuaskan dan tulus dengan lebih banyak mengoceh dan membujuk, mengingatkan saya kepada Fernando Rey dalam film That Obscure Object of Desire (1977) garapan sang maestro Luis Buñuel. Obrolan pertama Amy dan Ali terkesan Kafka-esque secara samarsamar: Ali sudah membaca enam seri novel Harry Potter dan dalam dua tahun terakhir telah mengajukan permohonan untuk mendapatkan seri yang ketujuh; Amy tidak bisa dan tidak ingin membantu mewujudkan permohonan itu, dan sebagai gantinya Amy menawarkan koran yang terbit dua minggu yang lalu atau buku lainnya yang ada di kereta buku itu kepada Ali. Percakapan Amy dan Ali yang membahas buku bacaan adalah rangkaian adegan yang cukup menarik dan penting untuk mengeksplorasi tema film secara keseluruhan (mereka berdua mengobrol tentang My Ántonia, novel yang ditulis oleh Willa Cather [salah satu pelopor gerakan perempuan di Amerika Serikat pada awal abad ke-20], dan Harry Potter, novel yang ditulis oleh seorang filantropis dan aktivis-feminis asal Inggris, J. K. Rowling), namun sayangnya Sattler menyajikan percakapan ini dengan cara konvensional yang lumayan membosankan.

Yang jauh lebih baik adalah tampilan detail jurnalistiknya: majalah dan koran di kereta buku Amy, di mana semua wajah perempuan yang ada di majalah dan koran itu dihitamkan; cara detainees membungkus Al-Qur’an dengan kain putih kecil, dan menghabiskan waktu di dalam sel penjara dengan menggambar, mengisi teka-teki silang, berteriak kepada para penjaga dan kepada sesama detainees, serta terkadang melakukan protes dengan melemparkan taik kepada para penjaga; bahwa tradisi, protokol, dan prosedur masingmasing-lah yang mengatur segala sesuatunya bagi kedua belah pihak.

Paruh pertama Camp X-Ray berkonsentrasi untuk menunjukkan kepada penonton bagaimana rasanya menjadi Amy dan rasanya melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh Amy di Kamp Tahanan Teluk Guantánamo. Sattler seringkali menggambarkan Amy dengan cara menyamarkan sisi femininnya atau mencoba untuk merumitkan reaksi penonton. Ketika pertama kali muncul di layar, Amy ditampilkan dalam bayangan siluet dengan cahaya latar dari sinar terik matahari. Seiring dengan berjalannya plot cerita, ada banyak sekali teknik pengambilan gambar close-up yang diambil dari belakang bahu Stewart ketika Amy berjalan menyusuri lorong penjara, atau ketika Amy sedang duduk di kursi kantin penjara atau duduk di pinggiran kasur apartemennya untuk berpikir. Mata saya secara natural tertarik untuk mengamati rambutnya yang diikat ke belakang membentuk sanggul kecil. Sanggul kecil yang cukup ketat itu berada tepat di tengah frame dalam begitu banyak adegan penting yang pada akhirnya membikin saya beranggapan bahwa hal itu merupakan sebuah metafora untuk kepribadian Amy yang tersiksa secara emosional karena kondisi sulit di tempat kerjanya. Amy mendapatkan apresiasi karena mampu menampilkan dirinya “tidak menarik secara seksual” bagi semua lelaki di tempat kerjanya, dan pada saat yang bersamaan, dia juga merasa berada di bawah tekanan atau teror psikis untuk terus bisa bersikap “jantan” dan sebisa mungkin menyembunyikan perasaan atau sisi femininnya. (Amy hanya ditampilkan sekali dengan rambut terurai ketika berkomunikasi dengan ibunya melalui Skype.) “… are you a soldier, or are you a female soldier?” Randy bertanya ketika Amy menolak tugas untuk menjaga dan sekaligus melihat Ali mandi. “’Cause I don’t have these kind of problems with soldiers. You got to watch him. That’s your job. Look at him.” Tugas itu melanggar SOP dan norma sosial orang-orang Arab; Randy memberikan perintah itu dengan maksud untuk mempermalukan dan menghukum Amy dan Ali yang dianggapnya telah menjalin hubungan terlalu akrab (serta karena Ali terlampau cerewet sebagai detainees dan Amy yang menolak berhubungan seks dengan Randy).

Stewart tampil brilian di film ini, lupakan kinerja akting dan pesonanya yang didegradasi sedemikian rupa jeleknya oleh naskah The Twilight Saga (2008-2012); dia bisa dibilang nyaman memerankan karakter tomboi yang tampak tegar dan kuat secara tampilan fisik namun di dalam batinnya menderita siksaan emosional yang begitu hebat. Stewart memberikan kinerja akting yang tulus dan brilian: ada beberapa gambar close-up berkualitas film bisu (silent film) jempolan di mana saya bisa membaca setiap fluktuasi suasana hatinya meskipun dia nyaris tidak menggerakkan anggota tubuhnya sedikit pun. Dan itu merupakan kualitas kinerja dari seorang bintang film papan atas. Namun ada juga beberapa momen di mana Stewart gagal meyakinkan atau memenangkan simpati saya sepenuhnya dan itu disebabkan oleh kelemahan naskah film yang terjebak dalam gejolak batin khas karakter film Hollywood. Dan ketika kinerja Stewart mulai kendur, Mooadi mampu menanamkan kinerja aktingnya dengan semangat, nuansa, dan kemarahan yang tepat untuk menambal kekurangan itu. Relasi yang dibangun oleh Stewart dan Moaadi memiliki semacam ikatan emosional atau chemistry yang nyata dan efektif di paruh pertama dan kedua film, namun konklusi receh di paruh ketiga membikin fondasi itu sedikit goyah dan nyaris hancur berantakan — malah terkesan mengkhianati apa-apa yang coba dibangun di awal film.

Camp X-Ray memilin ke dalam drama konvensional jelang bagian akhirnya, bergegas melalui pencerahan biasabiasa saja dari Amy dan keputus-asaan Ali, untuk kemudian berubah menjadi film persahabatan yang terlampau mendramatisir dan membangga-banggakan sentimentalitas receh. Namun film ini masih layak tonton dan cukup menghibur karena kualitas akting para pemerannya dan kecerdasan teknik filmmaking-nya. Sattler dan sinematografer film ini, James Laxton, mampu memotret dan menyajikan gambar yang mementingkan (dan sekaligus mengembangkan) plot cerita pada inti tema naskah filmnya tanpa terkesan pretensius atau sok indah. Film ini mampu memaksimalkan arsitektur bangunan penjara, membingkai para penjaga dan detainees dalam kotak persegi panjang yang konvergen dengan teknik long shot tanpa celah yang memiliki soliditas geometris. Teknik editing oleh Geraud Brisson menyejajarkan beberapa gambar dengan cara yang sedikit nakal, seperti ketika film ini menampilkan potongan gambar seorang muslim sedang melakukan azan dan kemudian diikuti dengan potongan gambar tentara berbaris untuk melakukan apel pagi: rangkaian adegan itu diakhiri dengan gambar dari bendera Amerika Serikat berkibar ditiup angin sepoisepoi, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa patriotisme adalah agama resmi yang harus diyakini dengan membabi-buta oleh setiap warga negara.

Dan lagu Kettering dari The Antlers yang diputar ketika kredit akhir film mulai ditampilkan di layar dengan berlatar-belakang gambar one-take-shot dari dua tentara yang sedang berjaga — berjalan memutari ruang persegi panjang blok penjara sembari melongok ke celah di setiap pintu sel penjara untuk memeriksa detainees — sebelum akhirnya layar mulai memudar perlahan dan sepenuhnya menghitam sukses membikin saya berpikir: “Kasihan juga dua tentara itu setiap harinya harus melewati rutinitas pekerjaan yang menyedihkan dan membosankan seperti itu demi bertahan hidup dan menghindari amukan komandan. Sama seperti saya yang harus anteng di depan komputer selama delapan jam per harinya demi beberapa kaleng susu formula dan membayar tagihan awal bulan. Sial!

Ah tapi apa pun itu, asal kamu tahu, saya menulis ulasan ini dengan perasaan senang karena Juventus tadi malam berhasil menang. Ting-a-ling haram jadah! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s