Suffragette (2015)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

KARYA sinematik yang menceritakan kisah nyata tentang aksi massa gerakan politik radikal cenderung memiliki salah satu dari dua masalah ini: (1) memandang peristiwa atau kejadian melalui filter pengalaman satu individu yang malah menyempitkan ruang lingkup atau cakupannya; dan (2) mencoba melakukan pendekatan yang teliti terhadap satu kejadian namun mengorbankan kompleksitas emosional secara keseluruhan. Suffragette — yang mencoba menyajikan detail cerita tentang aksi perjuangan politik untuk hak pilih kaum perempuan di Inggris pada tahun 1911-13 — memiliki dua masalah yang saya sebutkan di awal, terutama pada poin pertama. Disutradarai oleh Sarah Gavron dan naskahnya ditulis oleh Abi Morgan, dinamika plot film ini bergantung pada pengalaman dan komitmen dari satu karakter rekaan/fiktif bernama Maud Watts (diperankan oleh Carey Mulligan). Pada kenyataannya, gerakan politik kaum perempuan Inggris saat itu jauh lebih menarik ketimbang gambaran yang disajikan oleh film ini yang lebih menitik-beratkan pada gejolak emosi dari satu perempuan rekaan/fiktif sebelum akhirnya memutuskan untuk terlibat dalam aksi perjuangan radikal.

Maud tinggal bersama suami (Sonny Watts [Ben Whishaw]) dan anaknya (George Watts [Adam Michael Dodd]); dia bekerja di penatu di mana kondisi tempat kerjanya menyedihkan, upahnya rendah, dan kekerasan seksual terjadi setiap harinya. Rekan kerjanya di penatu, Violet Miller (Anne-Marie Duff), mengajak Maud untuk ikut hadir dalam pertemuan rahasia yang dijalankan oleh pasangan suami-istri, Edith dan Hugh Ellyn (diperankan oleh Helena Bonham Carter dan Finbar Lynch). Maud menuruti ajakan Violet dan tertarik untuk terlibat semakin dalam. Pada aksi pertamanya, Maud tertangkap dan ditahan di kantor polisi untuk kemudian dilepaskan — pola yang terus berlanjut — dan dalam satu adegan di penjara melibatkan aksi mogok makan yang diikuti praktik para polisi untuk memaksa Maud dkk. makan secara kejam. Kepala Polisi Arthur Steed (diperankan oleh Brendan Gleeson) yang memimpin penyelidikan (dan secara terang-terangan tidak mendukung) gerakan politik radikal kaum perempuan Inggris itu memiliki kepedulian berlebih kepada kondisi Maud: dia melihat Maud sebagai seorang perempuan dari kelas pekerja yang diperlakukan sebagai “umpan” dan berani mengambil risiko yang selama ini dihindari oleh kaum perempuan kelas menengah ngehek. Steed tidak sepenuhnya salah, namun dia juga tidak memiliki simpati yang tulus kepada Maud. Gleeson memberikan lapisan dan elemen yang cukup menarik dalam film ini.

Sebagian besar gambar di film ini diambil menggunakan kamera hand-held oleh sinematografer, Edu Grau, dan hal itu membikin visualnya terkesan seperti sebuah film dokumenter namun, pada saat yang bersamaan, tenggelam di dalam subjektivitas (close-up wajah imut Mulligan ditampilkan berulang kali). Elemen perifer di mana halhal manis dan indah sering terjadi nyaris tidak terasa. Maksud saya — bagian yang paling menarik sekaligus mengharukan di dalam film ini malah terdapat pada kumpulan gambar hasil rekaman dokumenter warta berita dari kejadian nyata yang sesekali ditampilkan di layar.

Suffragette melibatkan beberapa peristiwa atau kejadian yang dikenal oleh siapa saja yang akrab dengan aksi protes, perjuangan, perlawanan, dan pemberontakan politik: teriakan, sabotase, pukulan brutal dari pentungan polisi, mogok makan, bom yang diletakkan di dalam kotak surat, demonstrasi; ada satu rangkaian adegan yang menampilkan Maud dkk. mengebom rumah musim panas milik Menteri Keuangan Inggris saat itu, David Lloyd George (Adrian Schiller).

Epsom Derby pada tahun 1913 menjadi momen penting bagi aksi politik radikal memperjuangkan hak pilih bagi kaum perempuan Inggris. Emily Davison (Natalie Press) memasuki lintasan pacu kuda dengan spanduk bertuliskan “Votes for Women” di tangannya, berdiri di depan tempat duduk Raja George V (Simon Gifford), sebelum akhirnya diinjak-injak oleh puluhan kuda balap sampai mati. Emily menjadi martir. Ribuan orang membanjiri jalanan Kota London untuk menyaksikan prosesi pemakaman Emily. Kisah nyata itu ditampilkan di layar dalam film ini dengan sentimentil dan membikin simpati, namun saya tetap saja ingin menyingkirkan Maud agar bisa mendapatkan tampilan fakta sejarah yang lebih baik.

Meryl Streep hanya ditampilkan sekali di layar sebagai Emmeline Pankhurst, tokoh sentral dan ikon dari gerakan politik memperjuangkan hak pilih bagi kaum perempuan Inggris ini. Emmeline, yang menjadi buruan Kepolisian Inggris pada saat itu, muncul dari tempat persembunyiannya untuk memberikan pidato penyemangat dari balkon hotel. Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, Rebecca West (seorang suffragette, jurnalis, dan menjadi salah satu “saksi” dalam film Reds [1981] bikinan Warren Beatty) menjuluki Emmeline Pankhurst dengan sebutan “gelagah baja”. Sementara Streep yang muncul kurang dari dua menit di film ini menampilkan sisi yang terlalu “sopan” dan “halus” di balik dering suara angkuhnya dan pidatonya difilmkan sedemikian rupa serampangannya untuk kemudian diakhiri dengan gambar topi raksasa yang dia pakai memenuhi layar.

Kinerja akting yang paling tulus dan paling menarik di Suffragette datang dari Bonham Carter sebagai Edith, seorang apoteker dengan kehidupan rumah tangga baikbaik saja yang memutuskan untuk melanggar segala macam hukum dan aturan yang disahkan tanpa persetujuan atau hak suaranya. Edith adalah pribadi yang rapuh secara fisik, namun tangguh secara emosional. Sedangkan Mulligan yang memerankan karakter utama film ini malah menampilkan kinerja akting yang tampaknya tidak fokus dan medioker. Sebagai perbandingan, misalnya, dalam satu rangkaian adegan yang menampilkan Lloyd George mengumumkan keputusan Parlemen Inggris tidak meloloskan RUU Hak Pilih untuk Perempuan, ribuan massa perempuan yang berkumpul di depan gedung merasa dikhianati (kaum perempuan mengira bahwa Lloyd George adalah sekutu mereka) dan teriakan “Pembohong!” menjadi musik spontan yang menggema di udara. Maud ikut berteriak, namun saya tidak merasakan emosi apa pun: ekspresi wajah Mulligan tidak menampilkan apa-apa, terlihat datar tanpa amarah, tanpa emosi apa pun, dan terkesan cuma ikut-ikutan berteriak saja — seolah-olah dia di sana hanya sekadar untuk mengisi waktu luang sehabis bekerja, bukannya sedang memperjuangkan hal penting bersama kamerad seperjuangan demi kehidupan yang lebih baik. Sementara itu, berdiri di samping Maud adalah Edith yang memancarkan aura percampuran antara tekad, kejijikan, dan amarah. Bonham Carter menampilkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang tidak kenal takut, perwujudan yang sebenarnya dari “gelagah baja” di film ini. Satu hal yang patut disayangkan adalah bahwa Edith, sosok perempuan pejuang dan pemberani itu, hanyalah karakter rekaan/fiktif belaka.

Stonewall (2015) bikinan Roland Emmerich menerima kritik negatif dan dicerca habis-habisan karena upayanya untuk menceritakan peristiwa Stonewall riots dari sudut pandang seorang pemuda kulit putih, sementara aksi gerakan politik massa yang memicu kerusuhan besar di Manhattan, New York City, pada tahun 1969 itu diprakarsai oleh komunitas pejuang LGBT yang kebanyakan berasal dari ras kulit hitam dan Hispanik, orang-orang yang namanya tercatat dalam lembaran buku sejarah dunia. Suffragette memiliki permasalahan yang sama. Orang-orang yang terlibat dalam sebuah aksi perjuangan dan perlawanan adalah para pahlawan dalam arti yang sesungguhnya; biarkan mereka membintangi film yang mengisahkan cerita mereka sendiri. Bandingkan dengan film Selma (2014) — disutradarai oleh Ava DuVernay — dengan bentrokan ideologis, perselisihan dalam menentukan pendekatan politik yang terbaik untuk diterapkan, dan melibatkan beragam potret tokoh dari kehidupan nyata: perempuan, pendeta, pelajar, orang awam. Atau Reds garapan Beatty yang memiliki kisah personal, menampilkan kehidupan harian yang benarbenar nyata dari masyarakat kelas tertindas, yang juga berhasil dalam menunjukkan perpecahan gerakan kiri, faksifaksi sayap-kanan, dan aliansi tidak terduga dalam politik Amerika Serikat, tanpa mengorbankan emosi dan kedalaman plot cerita. Atau Fair Game (2010) karya Doug Liman, sebuah fiksionalisasi yang cukup berani dan terang-terangan dalam menyampaikan cerita dan argumen berdasarkan kejadian nyata menggunakan nama asli dari orang-orang yang terlibat langsung, bukan malah bersembunyi dan menggantungkannya pada karakter rekaan/fiktif. Filmfilm seperti Selma, Reds, atau Fair Game punya kemauan/kerelaan untuk menoleransi kompleksitas karena hal itu merupakan bagian dari aksi perjuangan dan perlawanan. Ada beberapa momen dalam Suffragette yang mencoba untuk menoleransi kompleksitas dari sebuah aksi gerakan politik radikal (misalnya dalam adegan di mana beberapa perempuan anggota aksi memilih mundur ketika kelompok perjuangan mulai membahas penggunaan bom atau melakukan insureksi), namun fokus yang berlebihan kepada Maud dan kondisi personalnya malah memberikan kesan bahwa film ini dengan sengaja mencoba mengecilkan aksi perjuangan politik radikal yang menjadi tema sentralnya.

Dalam sejarah gerakan politik, kelompok ini pada awalnya selalu dikucilkan, tidak dianggap penting keberadaannya, dan selalu dinomor-duakan: perempuan non-kulit putih, perempuan kelas pekerja, perempuan jomblo, dan mereka yang (dianggap) menyimpang dari dogma konvensional. Suffragette diakhiri dengan catatan yang menunjukkan tanggal ketika berbagai negara di dunia mulai memberikan hak pilih atau hak berpolitik untuk kaum perempuan. Di Indonesia, kaum perempuannya mendapatkan hak pilih pada bulan November 1941, namun intimidasi dan diskriminasi terhadap perempuan masih terus-menerus terjadi sampai saat ini. Dan ini merupakan kelalaian dan kebebalan ngehek yang menunjukkan keengganan untuk menghidupi hidup yang harmoni dalam kompleksitas dan keragaman realitas.

Saya sebenarnya tidak punya hasrat berlebih untuk menulis ulasan ini. Alasannya bukan karena kebohongan dalam strategi pemasarannya yang menampilkan poster bergambarkan Streep berdampingan dengan Mulligan dan Bonham Carter, meski Streep cuma muncul sekejap (tidak sampai dua menit — iya, kurang dari dua menit! — dari total durasi film yang mencapai 106 menit). Atau bukan karena karakter utama (dan beberapa karakter penting) dalam Suffragette ini adalah tokoh rekaan/fiktif — Gavron menyebutnya sebagai composite character; di film ini cuma ada empat karakter nyata (Emmeline Pankhurst, David Lloyd George, Raja George V, dan Emily Davison), sisanya palsu. Atau bukan pula karena film ini recehnya minta ampun! Bukan karena semua alasan itu.

Saya tidak ingin menulis ulasan ini karena saya sebenarnya sudah malas untuk terus-terusan menulis tentang kehidupan orang kulit putih. Saya sudah mulai bosan dengan dunia rekaan yang hanya berisi orang-orang kulit putih. Dan saya juga bingung harus menjawab dengan apa lagi ketika anak saya selalu bertanya: “Mengapa di filmfilm jarang ada orang yang kulitnya sedikit lebih gelap macam kita, troy?” atau “Kenapa orang-orang di film selalu punya kulit yang putih dan bersih, dan rambutnya pirang?

Ah tapi garagara menulis ulasan ini saya jadi teringat dengan Ibu-ibu Pejuang Kendeng yang masih terus berjuang melawan kesewenangan duet jahanam negara dan korporasi semen yang menyerobot tanah dan hak hidup mereka. Sudah lebih dari dua tahun belakangan ini Ibu-ibu Pejuang Kendeng berupaya mencari keadilan. Mungkin anak-anak dari Ibu-ibu Pejuang Kendeng merasakan rindu yang teramat dalam karena ditinggal pergi untuk memperjuangkan hak hidup dan melawan ketidak-adilan. Namun mereka — anak-anak dari Ibu-ibu Pejuang Kendeng — sudah sepatutnya bangga karena ibu mereka itu adalah perempuanperempuan pemberani nan hebat yang mampu menginspirasi siapa saja agar tidak berdiam diri ketika ditindas. Solidaritas dan panjang umur perlawanan!

* * * * *

Dua hari yang lalu, 21 Januari 2017, jutaan perempuan melakukan aksi Women’s March di berbagai tempat di seluruh dunia dengan visi dan misi, saya kutip dari situs Women’s March on Washington: “We stand together in solidarity with our partners and children for the protection of our rights, our safety, our health, and our families – recognizing that our vibrant and diverse communities are the strength of our country.” Sementara sejak 19 Januari 2017 kemarin di beberapa kota di Indonesia mulai diputar film drama-biografi tentang Wiji Thukul, seorang penyair cum aktivis yang (di)hilang(kan) pada zaman Orde Baru berjudul Istirahatlah kata-kata (2016). Dan jahanamnya adalah film tentang Wiji itu tidak tayang di Malang. Sialan! []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s