Inglourious Basterds (2009)

Poster film. (gambar: "Movie Poster Movement")
Poster film. (gambar: “Movie Poster Movement”)

INGLOURIOUS Basterds bikinan Quentin Tarantino ini adalah sinematik alternatif tentang Perang Dunia II yang diisi dengan kumpulan dialog brilian, kinerja akting yang fantastis, kekerasan secara mendadak, dan teknik penyutradaraan yang luar biasa keren. Selain itu, film ini juga dilengkapi dengan lelucon menyenangkan yang membikin film ini menjadi salah satu film perang paling menarik dan paling menghibur yang pernah saya tonton. Dan ini adalah ke-15 kalinya saya menonton film ini, untuk kemudian berhasrat menuliskan ulasannya di sini.

Film ini dimulai dengan salah satu rangkaian adegan pembuka terbaik sepanjang sejarah perfilman. Seorang petani sedang memotong kayu bakar di luar gubuk kecilnya yang terletak di daerah pedesaan Prancis pada dekade ‘40an, sementara dari kejauhan terlihat empat tentara Nazi Jerman semakin mendekat dengan mengendarai sepeda motor. Setelahnya, seorang perwira Nazi meminta untuk berbicara empat mata dengan petani itu di dalam gubuk. Kedua lelaki ini (petani dan perwira Nazi) terlibat percakapan tentang tugas kerja, susu, nama julukan, hama — di mana perwira Nazi-lah yang lebih banyak berbicara — dan berlangsung selama 20 menit atau lebih, namun adegan percakapan itu tidak memberikan kesan membosankan. Kenapa? Ada dua alasan: (1) kemampuan brilian Christoph Waltz dalam memerankan perwira Nazi bernama Kolonel Hans Landa; dan (2) naskah keren dari Tarantino. Adegan selanjutnya bergerak menuju kengerian dan kekerasan: kamera perlahan bergerak ke lantai papan kayu yang menunjukkan satu keluarga Yahudi sedang bersembunyi di bawahnya, anak buah Kolonel Hans Landa menembaki lantai dengan brutal, sebelum ditutup dengan seorang perempuan muda Yahudi yang berhasil kabur dari gubuk itu sementara Kolonel Hans Landa berdiri di pintu berkata “Au revoir, Shosanna!”, alih-alih menembaknya.

Adegan pembuka itu merupakan satu dari lima bagian dalam film ini, awalan yang terasa cocok untuk membuka sebuah film keren. Ada tawa (baik yang tulus maupun yang terdengar gugup) dan ketegangan tidak terhindarkan yang menuntun perasaan saya — sebagai penonton — dari humor ke rasa ingin tahu ke teror mencekam. (Film ini dibangun dengan formula seperti itu dari awal hingga akhir secara berkala dan syahdu. Beberapa berisi adegan humor yang megah, beberapa berisi adegan kekerasan dan kebrutalan yang menginduksi rasa ngeri, beberapa berisi adegan sentimental dan emosional, serta beberapa gambar lainnya berisi adegan yang mampu membikin saya ingin bersorak dan bertepuk-tangan.) Empat bagian lainnya yang tersisa dari film ini menampilkan The Basterds, perempuan cantik cum misterius pemilik salah satu gedung bioskop di Paris, plot pembunuhan yang direncanakan oleh kesatuan militer Inggris, dan klimaks (30 menit akhir film) yang berisi momen kebahagiaan murni bercampur dengan ketegangan, patah hati, kengerian, kejutan, dan pembantaian. Itu adalah hal yang indah untuk ditonton, anak muda.

Inglourious Basterds bukan film action sepenuhnya. Ada tiga subcerita yang saling jalin-menjalin berkelindan menuju ending alternatif yang eksplosif. The Basterds adalah pasukan khusus berisi kumpulan tentara Yahudi-Amerika — beranggotakan Prajurit Satu Smithson “The Little Man” Utivich (B. J. Novak), Sersan Hugo Stiglitz (Til Schweiger), Sersan Donny “The Bear Jew” Donowitz (Eli Roth), dll. dan dipimpin oleh Letnan Aldo “The Apache” Raine (diperankan oleh Brad Pitt) — yang memiliki misi “sederhana” untuk meneror dan membunuh tentara Nazi Jerman sebanyak-banyaknya. The Basterds menjalankan misinya dengan cara yang paling brutal, dan terkadang membiarkan beberapa tentara Nazi Jerman tetap hidup dengan memberikan tanda/bekas luka berupa lambang swastika di kening mereka.

Subcerita yang kedua menampilkan kesatuan militer Inggris merencakan plot pembunuhan terhadap beberapa pejabat tinggi Nazi Jerman dalam satu rencana. Jenderal Ed Fenech (Mike Myers) yang menjadi pemimpin operasi pembunuhan itu mengirim Letnan Archie Hicox (Michael Fassbender) ke Prancis sebagai komandan aksi lapangan untuk memandu The Basterds dalam menjalankan rencana pembunuhan tersebut. Sementara subcerita yang ketiga menampilan seorang perempuan cantik bernama Shosanna Dreyfus / Emmanuelle Mimieux (diperankan dengan menakjubkan dan sepenuh hati oleh Mélanie Laurent) yang menyembunyikan jati diri Yahudi-nya sebagai pemilik salah satu gedung bioskop di Paris pada masa pendudukan Nazi Jerman di Prancis. Seorang tentara Nazi yang menjadi terkenal karena aksi heroiknya (Prajurit Satu Fredrick Zoller [Daniel Brühl]) kepincut dengan kecantikan Shosanna / Emmanuelle dan akhirnya jatuh cinta, mencoba untuk membujuk para petinggi Nazi Jerman agar memindahkan lokasi malam pemutaran perdana film propaganda bikinan Joseph Goebbels (Sylvester Groth) ke gedung bioskop milik Shosanna / Emmanuelle. Setelah berhasil kabur dari inspeksi Kolonel Hans Landa di awal film, Shosanna / Emmanuelle menghabiskan hari-harinya dengan berpura-pura menjadi warga Paris sembari tetap memupuk kebenciannya terhadap Nazi Jerman, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah pemutaran perdana film propaganda bikinan Joseph yang bakal dihadiri oleh Adolf Hitler (Martin Wuttke) dan pejabat tinggi Nazi Jerman lainnya, Shosanna / Emmanuelle mengubah kesempatan itu menjadi aksi balas dendam dengan membakar gedung bioskopnya.

Banyak pujian yang diberikan oleh kritikus flm kepada kinerja Waltz yang berhasil menampilkan intrik kengerian sebagai kekuatan utama dalam memerankan karakter Kolonel Hans Landa, seorang ahli interogasi dan detektif Nazi Jerman (saya yakin Sherlock Holmes bakal iri setengah-mati dengan cara Kolonel Hans Landa merokok menggunakan pipanya di adegan pembuka film ini). Dengan karisma, kemampuan akting, gaya bicara, dan ekspresinya, Waltz mampu memberikan kesan teror yang menyeramkan sekaligus memesona pada saat yang bersamaan.

Kinerja fantastis dan brilian lainnya di Inglourious Basterds berhasil ditampilkan oleh Laurent dalam memerankan keseluruhan emosi Shosanna / Emmanuelle dari kehilangan, jatuh cinta, ketakutan, hingga amarah. Salah satunya adalah adegan di sebuah restoran di mana Shosanna / Emmanuelle, yang secara kebetulan bertemu kembali dengan Kolonel Hans Landa, menampilkan ekspresi rasa takut dan cemas sembari tersirat permohonan tulus agar dirinya tidak ditinggalkan berdua saja dengan Kolonel Hans Landa, dan pada saat yang bersamaan, Laurent masih mampu memancarkan pesona dan aura kecantikannya yang mampu memenangkan simpati dan empati saya — dan, semoga saja, simpati dan empatimu juga; terkutuk dan celakalah orang-orang yang tidak terenyuh dan tidak tergerak jantungnya setelah menonton kemampuan akting Laurent dalam adegan itu. Adegan mengesankan itu dilanjutkan dengan karisma dan keramahan Kolonel Hans Landa saat mengajukan pertanyaan demi pertanyaan yang semakin meneror dan menyiksa batin Shosanna / Emmanuelle (dan juga, saya yakin seyakin-yakinnya, batin siapa saja yang menonton film ini), kemudian ditutup dengan tangis lega Shosanna / Emmanuelle.

Sementara itu, semua pasti tahu bagaimana kemampuan akting Pitt di dunia perfilman dan kinerjanya di film ini sudah seharusnya tidak terlalu mengejutkan banyak orang. Mungkin yang bisa diapresiasi dari kinerja Pitt di film ini adalah komitmennya dalam memerankan karakter yang bersandar pada komedi-aneh dan keberhasilannya membawakan beberapa dialog lucu dengan tidak garing. Sedangkan aktris/aktor yang menjadi pemeran pendukung di film ini juga mampu memberikan kinerja akting yang tidak setengahsetengah.

Dalam film ini, Tarantino dengan cerdas dan bijak mampu menghilangkan kecintaannya terhadap teknik manipulasi waktu yang sering dia gunakan dalam setiap film bikinannnya demi menghasilkan plot cerita yang linear dan enak untuk diikuti. Dan ketika tidak sedang bermain dengan waktu, Tarantino di film ini malah bermain-main dengan sejarah. Maksud saya — Tarantino seperti ingin memberikan sejarah alternatif tentang Perang Dunia II dengan tidak mengizinkan sejarah konvensional menghalangi jalan cerita yang coba dibangun olehnya dan seluruh karakter yang ada di film ini. Tarantino juga memberikan pengecualian yang mengejutkan dalam pemilihan musik untuk film ini. Alih-alih menggunakan musikmusik bergenre pop atau rock seperti dalam karya-karyanya yang lain sebelum film ini, Tarantino malah memilih untuk menggunakan score megah dari Ennio Morricone yang semakin melengkapi elemen ketegangan, emosional, dan action film ini.

Namun Tarantino tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaannya. Masih ada selipan ode atau semacam penghormatan untuk filmfilm klasik, serta di Inglourious Basterds ini, Tarantino juga menampilkan kecintaannya terhadap dunia perfilman secara langsung dan lebih bermakna. Gedung bioskop yang berfungsi sebagai tempat untuk mereproduksi kenikmatan menonton sebuah film yang jarang didapatkan pada zaman modern ini diubah sedemikian rupa oleh Tarantino menjadi medan pertempuran terakhir antara “yang jahat” dan “yang baik”. Kamera secara efisien menyorot Shosanna / Emmanuelle memasukkan rol film ke dalam proyektor dan mengoperasikannya dengan penuh kasih sayang.

Satu hal yang menurut saya menjadi sedikit masalah di film ini adalah perubahan bentuk dan model tulisan (sampai empat kali) untuk subjudul di kredit awal film yang rasanya malah mengurangi kemegahan tema musik score pembuka film. Namun hal itu tidak mengurangi keindahan film ini secara keseluruhan. Tarantino selalu mampu memukau para penontonnya dengan sentuhan gaya anehnya yang khas, sementara naskah film ini berhasil menghindari penyimpangan plot cerita yang tidak perlu, serta menunjukkan penguasaan terhadap karakter, dialog, dan ritme atau tempo film. Keterampilan dan kepercayaan diri Tarantino sebagai sutradara telah berkembang menjadi setumpuk pujian, dan dia mampu menciptakan keseimbangan antara momen refleksi yang menenangkan dan adegan kekerasan yang mendadak muncul di setiap film garapannya. Film ini dipenuhi dengan kombinasi menarik dari gambargambar indah dan suasana yang menyesakkan dada: pengambilan gambar berbingkai pintu terbuka dari seorang perempuan muda yang kabur untuk menyelematkan diri dari kekejaman Nazi Jerman, kamera yang mengikuti gerak-gerik para aktris/aktor dengan detail, wajah orang tertawa puas penuh kemenangan yang berkedip di antara asap, kematian menyedihkan yang ditandai dengan kebrutalan. Semua momen dalam film ini memberikan sebuah pengalaman menonton yang mengasyikkan, sekaligus juga menyeramkan dan menegangkan.

Dengan kecerdasan, antusiasme, dan kemampuan artistiknya, Tarantino berhasil menyaring dan menggabungkan rasa sakit, luka, kekerasan, dan absurditas dari setiap film bertema Perang Dunia II yang pernah dibikin oleh para sineas sebelumnya, untuk kemudian dia ubah menjadi karya sinematik yang luar biasa megah dan bangsat betul kerennya. Kemegahan film ini bukan terletak pada dana besar yang dihabiskan dalam proses pembuatannya, bukan pula pada efek yang digunakan atau pada segi pretensinya, melainkan kemegahan yang berasal dari semangat dan ide serta sisi hiburan yang terkandung di dalamnya.

Dan sampai saat ini, Inglourious Basterds adalah satu-satunya film perang yang berisi pengetahuan tentang potensi rol film nitrat sebagai pemicu kebakaran besar, dan satu-satunya film perang dengan adegan klimaks yang bertempat di gedung bioskop. Film ini adalah sebuah petualangan tidak terduga dari proporsi, kejeniusan, dan desain yang tidak biasa, dengan keberanian untuk menawarkan ending alternatif dari pembacaan sejarah tentang Perang Dunia II. Hanya di sinilah si bajingan bernama Adolf Hitler itu ditampilkan mati diberondong senapan MP40 di ruang VIP sebuah gedung bioskop di Kota Paris, Prancis. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s