Fair Game (2010)

Poster film. (gambar: "Rotten Tomatoes")
Poster film. (gambar: “Rotten Tomatoes”)

OKE. Ini adalah faktanya: Amerika Serikat di bawah perintah George W. Bush telah memutuskan untuk perang dengan menginvasi Irak pada tahun 2003. Hal yang dijadikan alasan untuk membenarkan perang itu adalah laporan bahwa Niger telah menjual uranium dalam jumlah yang sangat besar kepada Irak sebagai bahan dasar senjata nuklir. Joseph C. Wilson, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Niger, dikirim ke sana untuk mencari bukti di lapangan. Wilson ternyata tidak menemukan apa-apa, Niger tidak menjual apa pun kepada Irak: penjualan uranium dalam jumlah yang sangat besar seperti yang dicurigai oleh Pemerintahan Amerika Serikat tidak mungkin terjadi. Namun laporan kunjungan Wilson ke Niger diabaikan begitu saja, dan Bush — seperti yang telah kita ketahui — tetap mengirim tentara Amerika Serikat ke Irak untuk berperang. Merasa ada yang tidak beres, Wilson kemudian menulis sebuah artikel di The New York Times yang membeberkan tentang apa yang dia temukan, dan yang tidak ditemukannya, selama kunjungannya (atau penyelidikannya) di Niger. Dalam upaya untuk mendiskreditkan Wilson, seseorang di struktur hierarki Pemerintahan Amerika Serikat era Bush membocorkan informasi rahasia kepada kolumnis Chicago Sun-Times (Robert Novak) bahwa istri Wilson, Valerie Plame, adalah seorang agen rahasia CIA.

Scooter Libby, salah satu ajudan Dick Cheney (Wakil Presiden Amerika Serikat era Bush), kemudian ditangkap dan diadili karena obstruksi keadilan dan memberikan informasi palsu, dijatuhi hukuman 30 bulan kurungan penjara, meski begitu Bush dengan segera memberikan keringanan hukuman untuk Libby. Seperti kebanyakan agen rahasia yang sering saya tonton di layar sinema, Plame bekerja dengan berbagai macam nama samaran untuk menjalankan jaringan rahasia informan untuk Amerika Serikat di Bagdad, Irak, dan kotakota lain di Timur Tengah. Ketika identitas asli Plame bocor di media, beberapa informannya mati dibunuh; dari beberapa laporan menyebutkan sedikitnya 70 informan Plame mati. Setelah itu muncul pernyataan resmi dari (bagian pemelintir fakta di) pemerintahan bahwa jabatan Plame di CIA hanyalah seorang “sekretaris”. Dan pemelintiran fakta itu masih terus berlangsung sampai hari ini.

Fair Game garapan Doug Liman, berdasarkan buku The Politics of Truth karya Wilson dan buku Fair Game: My Life as a Spy, My Betrayal by the White House karya Plame serta dibintangi oleh Naomi Watts (sebagai Plame) dan Sean Penn (sebagai Wilson), adalah film yang sangat berani untuk sebuah karya sinematik fiksionalisasi berdasarkan kejadian nyata. Seluruh karakter di film ini menggunakan nama asli dari tokoh politik dan pejabat pemerintahan era Bush, serta banyak sekali fakta yang diungkapkan di dalamnya. Film ini berargumen: (1) Saddam Hussein, diktator yang memimpin Irak selama 24 tahun itu, tidak memiliki weapon of mass destruction (WMD atau senjata pemusnah massal) seperti yang selama ini dituduhkan oleh Amerika Serikat; (2) CIA tahu bahwa Hussein tidak punya WMD; (3) Gedung Putih juga tahu tentang itu; (4) invasi ke Irak adalah salah satu agenda Cheney dan kelompok neokonservatif Gedung Putih yang harus dilakukan secepatnya, apa pun konsekuensinya; dan (5) oleh karenanya bukti atau laporan Wilson itu sengaja diabaikan dan pasukan tentara Amerika Serikat pergi berperang ke Irak atas-dasar klaim palsu atau sebuah kebohongan.

Itulah beberapa hal yang ingin disampaikan oleh film ini. Meskipun saya yakin seyakin-yakinnya ada ketidak-setujuan atau perbedaan pendapat mengenai hal ini. Beberapa orang sudah cukup senang digambarkan dan dianggap sebagai pembohong dan pengkhianat. Yang cukup mengherankan bagi saya adalah bahwa Fair Game tidak memainkan plot permainannya menggunakan nama samaran atau nama fiktif. Semua pemain memerankan karakter dengan nama asli, termasuk mantan Wakil Presiden Cheney yang secara pribadi ditampilkan memerintahkan CIA untuk memalsukan atau mengabaikan laporan Wilson agar Amerika Serikat bisa menginvasi dan meluluh-lantakkan Irak.

Watts terlihat sangat mirip dengan tampilan nyata Plame, namun bukan itu intinya; apa yang saya maksud bukanlah tampilan fisik saja, melainkan juga keseriusan, nada bicara, dan kecekatan Plame versi Watts sebagai seorang agen rahasia CIA yang tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pahlawan nasional melainkan sebagai petugas operasi yang terlatih, terampil, dan loyal. Ada sebuah rangkaian adegan di mana Plame menghancurkan karakter lain (Dr. Zahraa [Liraz Charhi]) dengan informasi yang dia miliki tentang karakter tersebut dan bagaimana dia bisa menggunakan informasi tersebut. Penn memerankan mantan Dubes Wilson, karakter yang lebih agresif ketimbang Plame, yang marah besar dan jijik dengan cara pemerintahan yang mencoba untuk menghancurkan Wilson dan Plame. Film ini tampak realistis dalam menampilkan momen krusial dari keretakan perkawinan Wilson dan Plame. Keduanya — Wilson dan Plame — adalah pegawai pemerintahan yang loyal dan setia kepada negaranya, mereka berdua tidak terlalu politis sampai akhirnya menemukan adanya informasi atau klaim palsu yang dijadikan pembenaran untuk melakukan invasi ke Irak. Implikasinya: andai saja Bush dan pemerintahannya tidak mengabaikan atau menutup-nutupi informasi yang dilaporkan oleh Wilson dan Plame, maka perang di Irak pada tahun 2003 kemungkinan besar tidak bakal terjadi, dan ratusan-ribu nyawa tidak perlu mati hanya karena alasan yang dibuat-buat.

Topik Perang Irak memang masih menjadi perdebatan dan masih simpang-siur sampai saat ini. Pertanyaan yang menurut saya cocok untuk diajukan terkait film ini adalah “seberapa bagus Fair Game bekerja sebagai sebuah karya sinematik yang ingin mengungkapkan fakta di balik Perang Irak?”. Saya pikir Fair Game menjadi bagus ketika kamu menyetujui setiap argumen yang disampaikan oleh film ini.

Penggambaran keretakan perkawinan Wilson-Plame adalah salah satu hal yang sangat personal, berdasarkan dua kepribadian yang saling bertentangan dalam menghadapi tekanan politik. Watts berhasil membikin Plame menjadi karakter matamata yang ideal: misterius dan terorganisir. Sementara itu Penn memainkan Wilson sebagai karakter idealis yang didorong oleh kejijikan dan amarah terhadap otoritas. Mereka berdua dikelilingi oleh perhatian pers yang tidak kenal lelah, serta Plame mendapati fakta bahwa kerja kerasnya sengaja dipelintir oleh pemerintahan era Bush dan sebagian besar informannya di luar negeri dibunuh satu per satu.

Salah satu elemen yang menarik dari film ini adalah bahwa Bush sebenarnya tidak tahu apa-apa. Film ini memberikan kesan bahwa Bush mungkin saja tidak sepenuhnya menyadari adanya kecacatan informasi yang dijadikan pembenaran untuk pergi berperang ke Irak. Setelah menonton film ini, saya pikir orang yang bertanggung-jawab dan pantas disalahkan atas terjadinya Perang Irak pada tahun 2003 adalah Cheney. Sementara Bush … ah cukuplah dia menjadi badut tidak lucu yang terlampau egosentris dan tolol. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s