We Are Your Friends (2015)

Poster film. (gambar: "tribute.ca")
Poster film. (gambar: “tribute.ca”)

ELECTRONIC dance music — atau EDM, sebagaimana Remaja-Gaul-Kekinian menyebutnya — merupakan satu hal yang menjadi tren saat ini, dengan pujian dan kekaguman dan apa pun yang mereka lakukan untuk mengapresiasi dan menjalani gaya hidup trendi, gaul, dan modern. Pada dasarnya, ornamen sintetis EDM — meski mendapat tambahan “elektronik” — adalah musik tari/dansa, yang memiliki sedikit kesamaan dengan kemunculan musik rock and roll dan disko: dicaci-maki dan dibenci pada awalnya, dan sampai batas tertentu disalah-artikan oleh Hollywood, sebelum akhirnya menjadi tren yang dicintai oleh banyak orang.

We Are Your Friends — disutradarai oleh Max Joseph, dari naskah yang ditulis oleh Meaghan Oppenheimer dan Joseph sendiri, berdasarkan pada kisah yang diceritakan oleh seorang produser musik bernama Richard Silverman — mencoba memanfaatkan musik EDM untuk mendapatkan apa-apa yang ingin didapatkan dari tren gaya hidup saat ini. Ada format visual yang cukup manis dan fleksibel yang mencampurkan kiasan desain grafis dengan animasi dan semacamnya untuk beberapa rangkaian adegan menarik di film ini. Ada satu adegan di mana karakter protagonisnya, seorang DJ EDM pemula bernama Cole Carter (Zac Efron), menjelaskan EDM dengan bahasa sains ketika dia mampu membikin sekian banyak orang di lantai dansa bergoyang dalam alunan musik yang dia mainkan, menguraikan dan mengelaborasi cara mendapatkan hitungan magis BPM (beats per minute) yang membikin musik EDM mampu menghipnotis dan mengontrol subjek di lantai dansa menjadi seperti kumpulan zombie yang digerakkan oleh denyut bas. Beberapa nama musisi dan artis disebutkan dalam rangkaian dialog film ini ketika salah satu karakter (DJ James Reed [Wes Bentley]) memamerkan Buchla Electronic Musical Instruments miliknya kepada Cole dan membandingkan musikalitas Cole dengan Juan Atkins.

Sebelum film ini, Joseph membikin sebuah film dokumenter tentang tim produksi/label rekaman musik EDM bernama DFA Records dengan judul 12 Years of DFA: Too Old To Be New, Too New To Be Classic pada tahun 2013, jadi dia tampaknya memiliki pengetahuan yang cukup tentang seluk-beluk musik EDM. Dan sementara otak saya tidak pernah bisa menemukan satu alasan bagus yang mampu memengaruhi kuping saya untuk menikmati alunan musik EDM, semua lagu yang menjadi latar-belakang musik di film ini terdengar sangat mengganggu dan jelek untuk ukuran kuping saya. Kesan tidak menyenangkan itu semakin diperparah oleh plot film dan dinamika karakternya yang receh dan murahan. Bayangkan ini: DJ berbakat dan penuh gairah namun minim pengalaman akhirnya mendapatkan pelajaran dan bimbingan dari seorang DJ yang lebih tua dan populer namun mengalami keletihan emosional yang juga memiliki, oh, kekasih seksi (Sophie [Emily Ratajkowski]) di mana nantinya DJ pemula itu terjebak dalam situasi yang buruk karena jatuh cinta kepada kekasih seksi milik DJ populer itu. Premis receh yang sangat klise dan membosankan? Ya, tentu saja.

Yang paling receh adalah bahwa DJ Cole (izinkan saya menggunakan nama itu di sisa ulasan ini) membangun relasi persahabatan dengan tiga kawannya yang seksis, sok gaul, dan sok garang di San Fernando Valley. Oh iya, dan minus daya tarik. Ketiga kawan DJ Cole itu adalah pemuda yang memproklamirkan diri sebagai “aktor” terkenal bernama Ollie (Shiloh Fernandez), remaja lelaki kurang ASI bernama Dustin Mason (Jonny Weston), dan ABG pemalu bernama Squirrel (Alex Shaffer). Relasi persahabatan mereka itu memang tulus, tapi norak.

DJ Cole adalah karakter remaja “nakal” yang sedikit lebih modern ketimbang Teddy Sanders, salah satu karakter protagonis yang juga diperankan oleh Efron dalam film Neighbors (2014). Dibandingkan dengan Teddy, di film ini Efron membangun karakternya dengan mimpi yang lebih “besar” dan sentimentalitas yang lebih banyak. Kisah cinta segitiga antara Sophie, DJ James, dan DJ Cole — meskipun klise dan gampang ditebak — merupakan salah satu dari sedikit bagian yang layak tonton di film ini karena karakter DJ James diperankan oleh Bentley yang mampu memberikan kinerja akting lumayan bagus untuk menerjemahkan keletihan emosional karakternya, dan Sophie dimainkan oleh Ratajkowski yang — sumpah demi apa pun — menyenangkan untuk dipandang setiap kali dia ditampilkan di layar. (Dengan ikhlas saya harus menyebutkan bahwa Ratajkowski mampu menavigasi tiga elemen penting dari keberadaan karakternya: sensibel, seksi, dan manis.) Satu adegan di sebuah festival musik di mana Sophie membagi pil ekstasi, atau apa pun itu, kepada DJ Cole dan mereka berdua pun akhirnya “bersenang-senang” di Las Vegas nyaris membikin saya berharap menemukan mesin waktu lintas-zaman agar bisa kembali ke masa muda ketika saya masih berupa seonggok remaja lelaki idealis yang tidak sungkan untuk bersuka-cita dengan mimpi untuk menaklukkan dunia. Sementara setiap adegan yang menampilkan DJ Cole dan ketiga sahabatnya adalah — seperti yang sudah saya tulis di atas — hal yang norak, rangkaian adegan yang menampilkan DJ Cole bekerja di bidang real estate adalah subplot yang berisi beberapa varietas nadir dalam hidupnya.

(Saya harus menegaskan kembali bahwa adegan Sophie dan DJ Cole “bersenang-senang” di Las Vegas itu nyaris — saya ulangi dengan caps lock: NYARIS — membikin saya berharap bisa balik ke masa muda, namun pada kenyataannya saya tidak pernah menyesal dengan kehidupan banal yang saya jalani saat ini karena semua itu adalah konsekuensi dari semua pilihan hidup yang saya bikin dengan kesadaran diri sepenuhnya agar bisa menikmati hidup sebaik-baiknya. Sekarang ini saya membudak delapan jam sehari dengan gaji bulanan yang cukup untuk membayar cicilan dan tagihan awal bulan, punya dua anak dari dua puan betina yang saya cinta sepenuh jantung, menjalin hubungan yang hangat dan romantis dengan kekasih saya, serta masih bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan aktivitas yang saya suka seperti menulis, menonton film, dan membaca buku.)

Bagi saya, ini adalah film receh cum superjelek — terlepas dari fakta bahwa saya memang tidak bisa menikmati lantunan musik EDM. Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh film ini untuk membikin orang-orang yang masih awam dengan musik EDM — atau yang tidak bisa menikmatinya, seperti saya — agar bisa memahami genre musik yang sedang tren di kalangan Remaja-Gaul-Kekinian saat ini, namun semua itu terlambat dimunculkan, setidaknya bagi saya karena saya sudah tidak begitu tertarik dengan film ini di menit ke-25 (kecuali adegan di Las vegas itu). Hal terakhir yang ingin saya katakan tentang film ini adalah bahwa seorang kawan yang baik sudah seharusnya mencegah sahabatnya untuk menonton We Are Your Friends.

Ah, saya sudah melantur terlampau panjang. Saya tidak akan berkata apa-apa lagi. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s