Antichrist (2009)

Poster film. (gambar: "Movie Poster Movement")
Poster film. (gambar: “Movie Poster Movement”)

SEMUA film bikinan Lars von Trier selalu meninggalkan jejak — yang tidak bakal pernah bisa saya hapus, secara sengaja maupun tidak sengaja — di pikiran dan jantung persegi milik saya, salah satunya adalah Antichrist yang, sama seperti karyakarya lain bikinannya, kontroversial dan brilian. (Ini adalah film pertama dari Depression Trilogy yang diikuti oleh Melancholia [2011] dan Nymphomaniac [2013]). Setelah pemutaran perdananya di 2009 Cannes Film Festival, film ini memecah para kritikus film menjadi dua pihak: (1) pihak yang menganggap film ini jelek dan sangat mengerikan serta menjijikkan (Todd McCarthy, misalnya, membuka ulasannya di situs Variety dengan “Lars von Trier cuts a big fat art-film fart with ‘Antichrist.’” yang diikuti sembilan paragraf ketidak-sukaannya terhadap film ini); (2) pihak yang memuji film ini sebagai sinematik aneh, bagus, dan sempurna (“I stumble out in a daze, momentarily unsure whether I loved it or loathed it,” tulis Xan Brooks untuk The Guardian. “Abruptly I realise that I love it. Von Trier has slapped Cannes with an astonishing, extraordinary picture — shocking and comical.”).

Pertama kali menonton film ini dengan V (yang, tentu saja, saya paksa untuk menemani saya menghabiskan film ini di kamar pengap rumah saya) pada pertengahan tahun 2010 dulu, saya masih ingat kesan pertama saya bahwa ini adalah film “serius” dengan kumpulan gambar yang sangat mengganggu, dengan kekejaman yang konstan, dengan keputus-asaan karakternya yang begitu mendalam. Dan, bangsat, von Trier berhasil memikat, memengaruhi, dan memenangkan saya dengan caranya yang aneh dalam menyajikan sebuah keindahan (dan kesempurnaan) seperti itu. Jahanam!

Kemarin, saya kembali menonton film ini untuk yang ke-15 kalinya (atau yang ke-16 … ah, entahlah, saya lupa sudah berapa kali menontonnya), saya akhirnya bisa memahami mengapa film indah yang konfrontatif ini telah membagi para kritikus film menjadi dua pihak yang saling berlawanan di awal perilisannya dulu. Menarik untuk diketahui bahwa ada kesenjangan yang begitu mencolok antara para kritikus film dari Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat yang dipantau oleh Rotten Tomatoes dengan para kritikus film dari Prancis yang dipantau Le Film français. Kritikus film dari Amerika Serikat dikenal lebih populis dalam mengulas sebuah film, sementara para kritikus film dari Prancis terkesan lebih teoritis dan intelektual.

Antichrist merupakan film paling putus asa dan gelap yang pernah saya tonton, itu bisa dianggap sebagai sebuah pencapaian monumental. Keputus-asaan adalah aspek penting dari kondisi manusia, terutama di kehidupan modern yang serbabanal. Ini adalah sebuah film yang dibikin dengan sepenuh hati, berisikan materi yang dianggap “menjijikkan” oleh kebanyakan penontonnya. Kinerja akting dari dua pemeran utamanya (Charlotte Gainsbourg dan Willem Dafoe) sungguh luar biasa menakjubkan, tidak kenal takut, dan meninggalkan kesan heroik. Teknik penyutradaraan von Trier, seperti sebelum-sebelumnya, sangat mengesankan. Background musiknya begitu evokatif.

Saya tidak bakal pernah bisa mengabaikan film ini: terasa nyata dan akan tetap melekat di dalam batok kepala saya. Menonton film ini rasanya seperti von Trier memegang pundak saya dan mengguncangnya, lantas kemudian meninggalkan saya untuk sepenuhnya mengartikan pesan dan maksud dari film ini sesuka hati dan pikiran saya.

Bagi saya, film ini ada hubungannya dengan spiritualitas von Trier secara personal (seperti dalam Breaking the Waves [1996]), bahwa dia membayangkan kekuatan supernatural benarbenar nyata hadir di dunia (lantas membikin lelucon sarkastik tentang hal itu). Dibesarkan oleh seorang ibu komunis dan ayah sosialis dalam lingkungan Yahudi, von Trier mendapati fakta bahwa lelaki yang selama ini membesarkannya itu bukanlah ayah biologisnya. Dan untuk menertawakan kenyataan itu (serta membikin kesal ayahnya), von Trier berpindah agama menjadi penganut Katolik. Dan pada tahun 2009, von Trier mendaku diri sebagai seorang ateis dalam wawancaranya dengan The Big Issue: “I’m a very bad Catholic. In fact, I’m becoming more and more of an atheist. Religion in general is shit. I know that much. I’ve kept Nietzsche’s Antichrist on my bedside table since I was 12 (hence the film’s title). It’s his big showdown with Christianity…

Tema utama dalam Antichrist adalah agama, salah satu lembaga patriarkis yang selalu menindas perempuan. Dan film ini, bagi saya, merupakan wujud simbolisasi dari teologi alternatif versi von Trier terhadap ayat-ayat yang ada di dalam Book of Genesis perihal terusirnya manusia dari Taman Eden dan setan menjalankan peran jahatnya di dunia. Film ini dibuka dengan rangkaian gambar hitam-putih indah dalam adegan slow-motion yang menampilkan sepasang suami-istri, “She” (Gainsbourg) dan “He” (Dafoe), melakukan hubungan seks dengan penuh gairah sementara, di kamar sebelah, anak mereka yang masih bayi (Nick, diperankan oleh Storm Acheche Sahlstrøm) terpesona oleh turunnya salju, merangkak mendekati jendela kamar yang terbuka, kemudian memanjat pagar pembatas balkon kamar, jatuh ke jalanan, dan mati. (Ini adalah simbolisasi dari “Man’s Fall from Grace”, kejatuhan/terusirnya manusia dari Taman Eden.) “She” merasa bersalah atas kejadian itu dan menderita kesedihan yang begitu mendalam hingga mengalami depresi akut dan harus dirawat di rumah sakit. “He” merasa tidak yakin dengan perawatan medis istrinya dan bersikeras untuk menyembuhkannya sendiri dengan metode psikoterapi. Dosa “She” adalah Keputus-asaan, dan dosa “He” adalah Kesombongan. Itu adalah dua dosa terbesar dalam Dosa Asal yang sangat dibenci oleh tuhan.

“She” dan “He” pergi ke kabin terpencil mereka di hutan yang diberi nama Eden. “He” merawat istrinya dengan terapi bicara, meruntuhkan pertahanan dan pembenaran istrinya dengan terus-menerus menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh istrinya itu adalah rasionalisasi dan perasaan yang salah dalam menanggapi kejadian buruk yang menimpa mereka. Banyak ulasan dari film ini yang berfokus pada kekerasan fisik “She” terhadap “He”, namun penting untuk dicatat bahwa kekerasan psikologis yang ditimbulkan oleh “He” terhadap “She” juga sama brutalnya. “He” hanya berbicara dan terus-menerus seperti itu, mencabik-cabik pertahanan dan jiwa istrinya, mengekspos istrinya dengan cara yang menjengkelkan dan membosankan. (Mengutip wawancara von Trier tentang film ini dengan The Big Issue: “My male protagonists are basically idiots, who don’t understand shit. So, of course things get fucked up!”)

“She” dan “He” terkunci dalam sebuah momen pertarungan psikologis yang tidak terhindarkan setelah kematian tragis Nick. Kekerasan di film ini ditampilkan secara eksplisit, namun bagi saya hal itu tidak dimaksudkan bakal menjadi kenyataan — well, maksud saya, mungkin memang pernah terjadi namun tidak sering. “She” dengan konyol melubangi kaki suaminya menggunakan bor, lalu menancapkan sebatang besi di lubang tersebut, dan menautkannya dengan gerinda berat. Ajaibnya, meski telah menerima kekerasan seperti itu, “He” masih bisa berbicara dengan jelas, merangkak sendirian ke dalam hutan, bahkan berkelahi dengan “She”. Kekerasan dalam film ini adalah penggambaran dari kebencian yang begitu mendalam “She” terhadap “He”, vice versa, dan mereka berdua tidak bakal berhenti melakukannya sampai salah satu dari mereka kalah atau mati.

Gambar yang mungkin terinspirasi dari lukisan The Garden of Earthly Delights karya Hieronymus Bosch ditampilkan di scene menjelang akhir Antichrist. Kumpulan anggota tubuh manusia bangkit meraih “She” dan “He” ketika mereka berdua sedang berhubungan seks di bawah sebuah pohon. Ada rusa, rubah, dan burung yang bisa bicara. Ending film ini menampilkan “He”, setelah membunuh “She”, berjalan keluar dari kabin, memakan buah beri, dan berdiri di atas sebuah bukit sementara kumpulan “manusia tidak wajar” berjalan menuju dirinya.

Ide yang diajukan oleh von Trier adalah biblikal, namun bukan dari Kitab Injil konvensional seperti yang jamak diketahui sekarang ini. Sosok manusia tidak telanjang, mendaki menuju kelahiran, melainkan berpakaian, mendaki menuju kematian. Setelah terusirnya/kejatuhan mereka dari Taman Eden, Hawa dan Adam mengenal rasa malu, dan akhirnya menutupi ketelanjangan mereka. Di dalam dunia rekaan von Trier, Hawa dan Adam terlahir berpakaian, dan dilemparkan ke ketelanjangan oleh dosadosa mereka.

Pada awalnya niat von Trier membikin film ini adalah untuk mengungkapkan pandangan sarkastiknya bahwa dunia diciptakan oleh setan, bukannya tuhan — bahwa kejahatan, bukan kebaikan, yang mengendalikan berjalannya kehidupan di dunia. Dan akhir film ini memang mencerminkan ide yang sama dengan niat awal von Trier tersebut, namun tidak secara eksplisit. Kata “antichrist” yang menjadi judul film adalah kuncinya. Ini adalah replika dunia yang (sengaja) diciptakan oleh von Trier (atau oleh setan), sebuah kebalikan dari dunia yang eksis hari ini — atau malah bisa jadi sebaliknya. Dalam replika dunia bikinan von Trier ini, tidak mengambil dan memakan buah dari Pohon Pengetahuan tentang Kejahatan dan Kebaikan adalah dosa besar yang bakal mengakibatkan manusia terusir dari Taman Eden. “She” dan “He” berperilaku kejam terhadap satu sama lain bukan sebagai manusia nyata, melainkan sebagai makhluk yang dibayangkan (atau diciptakan) von Trier untuk menghuni dan hidup dalam moral replika dunia bikinannya. Sebesar apa pun rasa cinta yang mungkin tumbuh di antara “She” dan “He” di dunia nyata setelah kehilangan seorang anak dengan tragis, sebesar itu pula mereka bakal mengobarkan rasa sakit, kesedihan, dan kebencian masingmasing dan melampiaskannya dalam bentuk kekejaman sekejam-kejamnya terhadap satu sama lain di replika dunia bikinan von Trier.

Kaum moralis-amis di luar sana bakal bilang bahwa film ini memang menunjukkan dunia yang diciptakan dan dikendalikan oleh setan. Ketakutan bahwa kejahatan memang benarbenar nyata dan ada di dunia ini, bahwa hal itu bakal menuntun manusia untuk melakukan kekejaman tanpa batas terhadap sesama makhluk hidup, dan bahwa hal itu bakal memusnahkan seluruh harapan. (Don’t be so naive! That’s what happen in this fucking world right now!) Namun, sama seperti “dunia yang baik” tidak bisa mengandung keindahan dan cinta yang terlalu banyak, maka “dunia yang jahat” juga tidak bisa terlalu banyak memiliki kekejaman dan kebencian di dalamnya. Mungkin yang tersisa untuk dilakukan adalah menyadari bahwa manusia memang memiliki potensi gelap untuk melakukan kekejaman yang sangat mengerikan, dan hal itu harus diwaspadai, diakui, dan pada akhirnya, diterima sebagai bagian dari diri kita semua — makhluk hidup anggota subspesies Homo sapiens sapiens.

Saya tidak terlalu yakin apakah von Trier telah membikin suatu pernyataan moral di sini, entah dia sedang mencoba memberitahu apa yang sedang terjadi saat ini atau memperingatkan tentang apa yang bakal terjadi di masa yang akan datang. Satu yang saya tahu, dan saya kagumi, bahwa logika von Trier selalu bekerja dengan sempurna. von Trier tidak pernah berkompromi atau merasa terganggu dengan pandangan dan idenya sendiri. von Trier adalah pribadi yang kuat, berani, aneh, dan merupakan salah satu sutradara paling heroik dalam dunia perfilman yang dengan tegas dan tanpa kompromi selalu membikin sebuah karya film yang sepenuhnya mencerminkan penderitaan dari rasa sakit di dalam perasaannya sendiri. Dan hal ini berdampak pada semua aktris/aktor yang berani mengorbankan dan memberikan segalanya ketika bekerja-sama dengan von Trier.

Apakah Antichrist adalah sebuah masterpiece dan apakah saya bakal merekomendasikannya sebagai tontonan di akhir pekan? Ah, saya percaya bahwa von Trier tidak bakal peduli dengan apa yang saya (atau orang lain) pikirkan tentang seluruh karyanya. von Trier adalah jahanam-bangsat yang memiliki perasaan dan ide tertentu, kemudian mencampurnya dengan teologi, seks, kesedihan, rasa sakit, penderitaan, kepedihan, luka, dan kebosanan dalam eksperimen yang aneh untuk melahirkan sebuah tontonan keren, brilian, dan aduhai. (Namun untuk menjawab pertanyaan di awal paragraf ini: “Iya, bajingan! Ini adalah masterpiece yang wajib tonton di selasela kesibukan menjadi sekrup kapitalisme laknat dan budak perdaban modern kampret sekarang ini.”) []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s