Anomalisa (2015)

Poster film. (gambar: "mintmovi3.deviantart.com")
Poster film. (gambar: “mintmovi3.deviantart.com”)

DALAM dunia perfilman Amerika Serikat, nama Charlie Kaufman menjadi semacam garansi kualitas bagus atau jeleknya plot cerita sebuah film. Sejak Being John Malkovich (1999), Kaufman masuk dalam daftar singkat dari penulis naskah film Amerika Serikat terbaik yang hasil karyanya terkesan orisinal sehingga banyak kritikus film yang menganggapnya sebagai auteur, meskipun film — konon katanya — merupakan media bagi sutradara untuk menyampaikan ide melalui gambar bergerak. Banyak sutradara terkenal telah mengadaptasi naskah bikinan Kaufman, seperti Spike Jonze (Being John Malkovich dan Adaptation [2002]) dan Michel Gondry (Human Nature [2001] dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind [2004]), namun apa pun hasil dari teknik penyutradaraannya, filmfilm itu masih dianggap sebagai “film-nya Charlie Kaufman”.

Tulisan naskah film Kaufman selalu berisikan campuran antara perangkat cerita yang memiliki kesadaran diri, humor slapstick pedas, serta gambar dan gaya bahasa yang diambil dari kumpulan puisi, teori psiko-analisis, dan mimpi. Berbagai macam elemen cerdas dan aneh itu bahkan pernah dikombinasikan oleh Kaufman dengan lebih kuat dalam debutnya sebagai sutradara di film Synecdoche, New York (2008) yang berkisah tentang seorang penulis naskah teater yang menghabiskan bertahun-tahun (atau bahkan mungkin seumur hidupnya) hanya untuk latihan dan menulis ulang naskah sandiwara perihal kehidupannya sendiri, namun disajikan dengan konsep bertumpuk dan rumit yang tidak bisa dibedakan antara kenyataan, mimpi, dan proses latihan. (Sumpah, saya telah menonton Synecdoche, New York sebanyak empat kali untuk mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam film itu, namun sampai saat ini saya tidak memahami apa pun — bahkan saya merasa tidak punya kecerdasan dan keberanian yang cukup untuk menentukan jelek/bagus atau sekadar suka/benci terhadap film bangsat itu. Jahanam!)

Setelah tujuh tahun menyutradarai Synecdoche, New York, Kaufman kembali menjadi sutradara dalam film berjudul Anomalisa: sebuah drama krisis paruh baya yang ditampilkan dengan animasi gerak henti boneka tentang seorang pakar efisiensi perusahaan bernama Michael Stone (sulih suara oleh David Thewlis) yang mengalami depresi di mana dia mendengar semua orang/karakter berbicara dalam warna dan pita suara yang sama persis (sulih suara oleh Tom Noonan) serta memiliki raut dan ekspresi wajah yang juga sama persis, kecuali seorang perempuan muda pemalu — Lisa Hesselman (sulih suara oleh Jennifer Jason Leigh) — yang menjadi peserta seminarnya di Cincinnati, Ohio, dan Michael pun sempat merasakan jatuh cinta yang begitu gila terhadap Lisa. Anomalisa, seolah-olah tentang anomali bernama Lisa dan interaksinya dengan karakter utama, sebuah pencampuran surealis dan narasi linear khas Kaufman, dan dieksekusi dengan teknik yang menakjubkan.

Film ini diadaptasi dari audio play dengan judul yang sama bikinan Kaufman pada tahun 2005. Pada awalnya, Kaufman menyajikan audio play tersebut sebagai drama berseri, berkolaborasi dengan Coen Bersaudara dan komposer musik, Carter Burwell, yang juga menggarap latar belakang musik di film ini. Dalam audio play, para sulih suara membacakan baris dialog mereka diiringi oleh musik score gubahan Burwell sebagai latar belakangnya. Di versi filmnya, Kaufman bekerja-sama dengan seorang animator gerak henti, Duke Johnson, dalam penyutradaraan untuk memberikan dan menempatkan “jejak visual” secara tepat ke dalam audio play Kaufman. Dan, voilà! Hasilnya sungguh keren: setiap karakter yang ada di film ini terlihat bergerak secara realistis dan terdengar berbicara secara natural, dan hal ini berhasil membikin saya lupa bahwa mereka bukanlah “manusia yang sebenarnya”, melainkan hanya sekadar “boneka animasi gerak henti”.

Karakter dalam kebanyakan film animasi biasanya ditampilkan dengan lebih lincah dan energik: mereka dibikin dengan tujuan untuk menghibur. Sementara di Anomalisa, karakter-karakternya diciptakan dengan tujuan yang berbeda: mereka ada untuk menganggu ketenangan atau memang sengaja membikin keadaan menjadi tidak nyaman. Penderitaan yang dialami oleh Michael membikin saya berpikir tentang kesepian, keputus-asaan, dan keterasingan di abad 21 — sebuah hal yang bakal jadi subjek tidak menyenangkan jika Kaufman tidak menuliskan karakter-karakternya dengan penuh kasih sayang dan tambahan humor segar. Kaufman dan Johnson melakukan pengambilan gambar dengan perhitungan yang begitu cermat dan seksama, tidak terlalu banyak melakukan cutting, semacam meletakkan boneka-bonekanya di sana untuk melakukan apa saja yang mereka sukai lantas direkam sampai akhir. Ada beberapa one-take-shot dalam film ini yang saya pikir bakal mendapat banyak pujian dan apresiasi jika teknik tersebut digunakan dalam fitur film live-action, misalnya dalam urutan adegan ketika kamera mengikuti Michael melintasi loronglorong hotel tempat dia menginap, atau adegan ketika Michael dan Lisa berhubungan seks.

Mungkin bakal terdengar aneh, film animasi gerak henti ini mampu memberikan gambaran yang lebih akurat perihal bagaimana rasanya menghabiskan beberapa hari di hotel yang terletak di sebuah kota yang menyimpan kenangan buruk bagi ingatan kita ketimbang kebanyakan film live-action yang pernah saya tonton — dan, tentu saja, hal itu bukanlah deskripsi yang bakal membikin kekasihmu mau diajak untuk menonton film animasi ketika kencan pada Sabtu malam. Sama seperti kebanyakan karakter utama di naskah Kaufman lainnya, Michael dalam film ini merupakan karakter yang memiliki kegundahan dan kegelisahan serta sedang berjuang ekstrakeras untuk menemukan makna “kebahagiaan” dalam hidup di tengahtengah ketidak-pedulian kondisi sosial dari dunia di sekitarnya — sebuah dunia yang berisikan miliaran makhluk hidup yang semuanya berpikir bahwa mereka adalah tokoh utama dan memiliki kontrol penuh terhadap kehidupan mereka sendiri, namun kenyataannya mereka menyimpan rasa frustasi yang begitu mendalam bahwa mereka sebenarnya tidak pernah mengalami satu pun momen transformatif dalam kehidupan banal mereka.

Tampak jelas bahwa Michael tidak bahagia dengan pekerjaannya, perkawinannya, bahkan tidak bahagia dengan anaknya. Michael merasa terasing dengan dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Tidak banyak hal bermakna yang terjadi dalam hidupnya. Pesawat yang dinaiki Michael mendarat di Cincinnati, kemudian dia menaiki taksi menuju hotel tempatnya menginap tanpa menunjukkan ketertarikan terhadap obrolan sopir taksi yang mengantarnya, kemudian merebahkan diri di kasur sebelum memesan makan malam melalui layanan kamar hotel, lantas mondar-mandir di kamarnya dengan sebatang rokok di tangan kanannya dan setumpuk kegelisahan yang mengendap di batok kepalanya. Setelah menyaksikan seorang karyawan melakukan masturbasi melalui jendela hotelnya, Michael memberanikan diri untuk menelepon mantan kekasihnya, Bella, yang tinggal di Cincinnati, mengajaknya bertemu di bar hotel dan berharap semuanya bakal menjadi baikbaik saja, namun Michael malah mendapati fakta bahwa dia telah meninggalkan luka yang begitu besar bagi Bella — sebuah luka yang sangat menyakitkan yang tidak bakal pernah bisa sembuh sempurna, sampaisampai Bella merasa jijik berada di dalam satu ruangan bersama Michael.

Ketika sedang mandi di kamarnya, Michael mendengarkan suara perempuan; dia kemudian bergegas keluar kamar untuk mencari pemilik suara tersebut: seorang perempuan muda pemalu dengan rambut tersisir ke sebelah kanan untuk menyembunyikan bekas luka di wajahnya, yang datang ke Cincinnati dengan temannya untuk menghadiri acara seminar Michael. Perempuan muda pemalu itu bernama Lisa, dan dia adalah satu-satunya karakter yang memiliki warna dan pita suara sendiri di film ini — semua karakter di film ini memiliki suara yang sama, kecuali Michael dan Lisa. Michael pun lantas kepincut dengan Lisa. Ini adalah cinta pada pandangan pertama, atau setidaknya Michael berpikiran seperti itu. Michael menganggap Lisa sebagai figur pembebas, seseorang yang bakal membebaskannya dari krisis eksistensial yang sedang dialaminya.

Namun sebelum adegan perjumpaan Michael dengan Lisa, film ini telah memberikan plot cerita yang cukup kentara bahwa Michael bukanlah pribadi yang benarbenar tahu apa yang sebenarnya dia butuhkan dalam kehidupannya sendiri. Kaufman mendorong penontonnya untuk mengubah perasaan dari yang awalnya bersimpati terhadap Michael (dan ingin agar dia menemukan makna “kebahagiaan” yang dia cari setengah-mati dalam hidupnya) ke perasaan ingin tahu apakah Michael sebenarnya mengidap gangguan mental atau punya semacam kondisi jiwa yang begitu lemah. Dan kemudian film ini membikin saya berpikir ulang dan bertanya-tanya — sama seperti Michael — tentang kehidupan yang sedang saya jalani sekarang ini, merenungkan ketakutan dan kelemahan saya sendiri, mengingat-ingat kesempatan apa yang telah saya lewatkan sampai detik ini dan perilaku repetitif yang itu-itu saja dalam kaitannya dengan kegelisahan dan kebosanan yang saya rasakan di tengahtengah banalitas kehidupan harian.

Kaufman dan Johnson mengakhiri film ini dengan adegan Michael pulang ke rumahnya di Los Angeles. Michael memberikan hadiah berupa robot perempuan Jepang kepada anaknya, dan direspons dengan kekecewaan oleh sang anak. Istrinya telah mempersiapkan pesta kejutan untuk menyambut kepulangan Michael, namun dia tidak mampu mengenali salah satu kerabat yang hadir, dan hal ini menyulut kemarahan sang istri. Michael kemudian duduk sendirian di tangga menatap robot perempuan Jepang itu sedang menyanyikan sebuah lagu anak-anak Jepang berjudul Momotarō’s Song. Layar kemudian menampilkan gambar Lisa yang bersedih sedang menulis surat kepada Michael, berharap mereka berdua bisa bertemu kembali di kesempatan yang lain. Sementara teman Lisa yang duduk di sebelahnya sedang menyetir mobil, akhirnya ditampilkan dengan wajahnya sendiri.

Untuk semua keberanian visual dan ketulusan yang telah ditampilkan, terdapat begitu banyak keindahan dan kesedihan di dalam setiap adegan Anomalisa — dan terkutuklah orang-orang yang meremehkan plot ceritanya setelah merampungkan 90 menit durasi film ini. Saya berani menjamin bahwa setelah menonton film animasi gerak henti ini, kamu bakal diliputi dengan perasaan yang bergairah dan pengalaman mengesankan, bahwa kamu bakal bersyukur karena telah menonton sesuatu yang unik selama 90 menit. Sudah terlalu banyak film yang berbicara dengan elemen cerita yang membosankan, dan Anomalisa bisa menjadi ramuan yang mujarab untuk menjernihkan pikiranmu.

(Namun setelah ini, kamu mungkin bakal merasa sangat aneh ketika berada di sebuah kamar hotel sendirian.Ting-a-ling!)

Itu sudah. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s