The Age of Adaline (2015)

Poster film. (gambar: "Rotten Tomatoes")
Poster film. (gambar: “Rotten Tomatoes”)

TIDAK banyak film yang mampu mengubah kesan awal yang biasabiasa saja menjadi pengalaman menonton yang memberikan rasa takjub, puas, dan kagum ketika kredit akhir film mulai muncul di layar. The Age of Adaline termasuk dalam salah satu dari sedikit film yang mampu melakukannya. Blake Lively berperan sebagai Adaline Bowman, seorang perempuan yang bertemu dan kehilangan suaminya selama proyek pembangunan Golden Gate Bridge pada tahun 1930an, kemudian secara ajaib berhasil selamat dari sebuah kecelakaan mobil yang membikinnya tetap awet muda dan hidup “selamanya” — tampilan fisiknya berhenti di usia 27 tahun. Adaline tidak bakal mati karena penyebab alamiah (sakit atau menua) seperti yang biasanya dialami oleh manusia pada umumnya, namun dia masih bisa mati karena dibunuh. Hal ini menyebabkan hubungan Adaline dan putrinya (Flemming Prescott [Ellen Burstyn]) yang sudah tua tampak seperti cerita dalam dongeng atau salah satu aspek dalam film horor. (Ini semacam film vampir tanpa elemen atau adegan mengisap darah.) Adaline menjalani kehidupan abadinya dengan selalu melarikan diri dari segala bentuk keterikatan. Setiap kali ada orang lain yang mencoba menjalin relasi dengan Adaline, lantas kemudian menyadari keanehan bahwa Adaline tidak menua, pada saat itu pula Adaline memutuskan untuk pergi meninggalkan semuanya dan memulai hidup yang baru dengan identitas baru.

Deskripsi di atas lebih menarik ketimbang adegan yang ditampilkan di layar, setidaknya pada paruh-pertama filmnya. Ditulis oleh Salvador Paskowitz dan J. Mills Goodloe, dan disutradari oleh Lee Toland Krieger, film ini dimulai dengan indah namun kurang dramatis. Voiceover yang membacakan narasi cerita dihadirkan dalam porsi yang pas sesuai kebutuhan, meski gambar yang ditampilkan di layar masih terkesan lebih literer daripada sinematik. Pemeran karakter utama tidak menambahkan percikan apa pun. Lively terlihat begitu tenang dengan segala kecantikan luar-dalamnya, namun naskah film ini memperlakukan karakter yang dia perankan layaknya patung tanpa kehidupan interior yang menarik untuk dilihat, dan Lively tidak melakukan apa-apa yang spesial untuk mengubah impresi tersebut. Akting Lively tidak sepenuhnya buruk, namun tidak bisa dikatakan istimewa: berada dalam level biasabiasa saja, namun masih terlihat kompeten. (Ada beberapa momen film ini yang mirip dengan Amélie [2000] dan A Very Long Engagement [2004], namun Lively bukanlah Audrey Tautou yang mampu menampilkan kinerja brilian meski plot cerita memperlakukan dengan begitu buruk karakter yang diperankannya.)

Michiel Huisman juga memberikan kinerja yang biasabiasa saja dalam memerankan Ellis Jones, seorang lelaki yang mampu meluluhkan dan memenangkan jantung Adaline dalam beberapa dekade dengan sebuah lelucon ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan sorehari di sebuah taman. Ellis adalah karakter lelaki lugu-konvensional abad masa kini: pribadi atraktif dengan tatapan mata yang lembut, potongan kumis dan janggut yang rapi, serta tubuh atletis. Ellis ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Adaline, namun Adaline (yang telah mengganti namanya menjadi Jenny Larson) tidak bisa menemukan keberanian untuk mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa keinginan Ellis itu tidak bisa terjadi. Ellis tampan dan menyenangkan, Jenny/Adaline cantik dan lembut, namun mereka berdua tidak bisa menua bersama untuk berbahagia selamanya. Ini adalah dilema yang menyedihkan, namun tanpa ketegangan atau konflik yang cukup berarti di dalamnya.

Kemudian Harrison Ford dan Kathy Baker ditampilkan sebagai orangtua Ellis (William dan Kathy Jones yang telah kawin selama 40 tahun) ke dalam plot cerita. Pada titik ini, The Age of Adaline akhirnya berjalan dengan tone yang tepat dan menjadi lebih enak untuk ditonton. Konflik yang diciptakan pun terasa lebih nyata dan mengundang simpati. William terkejut dan terpukau oleh kemiripan fisik yang dimiliki Jenny dengan mantan kekasihnya bernama Adaline, perempuan yang sangat dicintainya dan sempat memiliki hubungan singkat namun intens dengannya pada tahun ‘60an. Jenny yang juga terkejut dan tampak kebingungan akhirnya beralasan bahwa Adaline adalah ibu kandungnya yang meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Alih-alih mencairkan suasana canggung, kebohongan Jenny itu malah membikin William depresi dan tenggelam dalam nostalgia romantisme masa lalu yang merisaukan batin Kathy. Sebuah ikatan perkawinan (dan keluarga) yang tampak stabil, bahagia, dan baikbaik saja tibatiba goyah karena William kembali mengingat-ingat dan memutar kembali kenangan cinta masa lalunya kepada seorang perempuan yang (secara teori) telah meniada puluhan tahun silam, yang coba direlakan dengan sekeras-kerasnya upaya oleh William. Ford dengan segala pengalaman akting yang dimilikinya mampu memberikan kinerja memuaskan dan efektif dalam memerankan karakter William yang menyimpan misteri kenangan masa yang telah lalu dan kerinduan yang begitu besar kepada Adaline. Apa yang dialami William adalah sebuah tragedi.

Twist plot di second act itu memicu emosi yang sederhana namun menggugah, dan Krieger menyajikannya dengan percaya diri, menguraikan kesulitan dan permasalahan dari empat karakter utamanya dengan rasa simpati yang mendalam dan kecerdasan, tidak ada rasa segan dan malu untuk menampilkan melodrama yang memilukan jantung, serta tidak terjebak dalam sentimentalitas yang berlebihan di setiap adegan dan baris dialognya. Hal ini membikin Lively dan Huisman menjadi lebih hidup (dan khusus Lively, duh gusti, dia terlihat lebih manis dan meluluhkan segalanya — apa-apa yang ada di sekitarnya menjadi semakin cantik ketika dia tampil di layar); saya mulai bisa menikmati dan menghargai kinerja akting mereka berdua, serta mulai bisa melihat kedalaman karakter mereka yang sempat tidak kentara sebelumnya. Setengah jam terakhir dari film ini berisikan simfoni perasaan kasih sayang yang murni, menyatu bersama kombinasi elegan dari teknik pengambilan gambar long shot dan close-up untuk menguatkan plot cerita.

Sayangnya, film ini diakhiri dengan third act biasabiasa saja dan konklusi yang terlampau moralistis, mengurangi apa-apa yang syahdu sebelumnya. Hal itu membikin film ini tampak seperti glorifikasi berlebihan dari manifesto perihal pentingnya komitmen ketika mimpi besar tentang cinta telah hilang, kembali ditemukan, dan pada akhirnya berhasil didefinisikan ulang.

(Ketika sedang berbicara berdua saja di luar rumah, William melihat bekas luka di tangan kiri Jenny. William ingat bahwa tangan kiri Adaline pernah terluka ketika mereka berdua sedang mendaki gunung beberapa dekade silam dan William sendiri yang menjahit luka Adaline hingga meninggalkan bekas yang sama persis letak dan bentuknya dengan milik Jenny. William pun yakin seyakin-yakinnya bahwa Jenny adalah Adaline, dan meminta Jenny untuk mengakuinya. Jenny — dengan perasaan campur-aduk — mengakui fakta tersebut serta mengatakan bahwa dia tidak menemukan penjelasan ilmiah terkait kondisinya yang tidak bisa menua dan telah berupaya sekuat tenaga untuk menjadi “manusia normal”. William memohon, demi perasaan Ellis, agar Jenny tidak pergi melarikan diri namun Jenny mengatakan bahwa dia tidak tahu bagaimana caranya untuk tetap tinggal karena kondisi fisiknya yang tidak bisa menua. Jenny pun mulai merapikan barangbarang miliknya, menulis sebuah catatan pendek untuk Ellis, lantas kemudian pergi meninggalkan kediaman Jones. Setelah mandi, Ellis menemukan catatan pendek itu dan meminta penjelasan kepada William yang menolak untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Jenny memikirkan apa-apa yang telah terlewat dalam hidupnya. Pada dasarnya, manusia butuh untuk mencintai dan dicintai — pepatah orang bijak berkata seperti itu; Jenny pernah melanggar sumpahnya dua kali untuk tidak jatuh cinta dan tidak terlibat intim dengan orang lain: pertama ketika dia jatuh ke pelukan William dan yang kedua ketika dia luluh dalam dekapan Ellis. Gusar, gundah-gulana, galau, suasana hati dan pikiran Jenny mendadak berubah. Jenny menghentikan laju mobilnya dan menelepon Flemming untuk mengatakan bahwa dia lelah terus-menerus menyangkal dan melarikan diri dari cinta. Jenny merasa bahwa selama ini dia memang hidup, namun sebenarnya dia tidak memiliki kehidupan yang layak untuk dihidupi. Ketika sedang memutar mobil untuk kembali ke kediaman Jones, sebuah truk derek menabrak-lari mobilnya. Kedinginan dan tidak berdaya, Jenny/Adaline mati untuk kedua kalinya. Mobil ambulans tiba di tempat kecelakaan dan denyut jantung Adaline berhasil dihidupkan kembali dengan bantuan defibrilator. Ketika terbangun di rumah sakit dengan Ellis berada di samping tempat tidurnya, Adaline mengakui bahwa dia sangat mencintai Ellis — vice versa. Adaline kemudian mengatakan bahwa dia sebenarnya telah berusia 107 tahun dan mulai menceritakan segalanya kepada Ellis. Setahun kemudian, ketika bersiap pergi ke pesta perayaan Malam Tahun Baru bersama Ellis, Adaline menyadari ada yang aneh di cermin yang merefleksikan bayangannya: uban pertamanya tumbuh setelah bertahun-tahun yang menjadi bukti bahwa dia pada akhirnya mulai menua dan menjadi “manusia normal”.)

Meski begitu, setelah menuntaskan durasi 112 menit The Age of Adaline, saya merasakan takjub, puas, dan kagum, sembari menggumam “wow!”. Saya belum pernah menonton sebuah film yang secara perlahan dan khidmat berubah dari kurang menarik pada sequence awalnya menjadi begitu menggairahkan pada momen yang tepat dan terasa pas. Kenapa film ini bisa seperti itu? Entahlah. Mungkin karena kehadiran Ford dan Baker di layar mampu memberikan varian dan kedalaman emosi yang nyata dan membantu second act dari plot cerita menemukan tone yang tepat. Atau Lively yang akhirnya berhasil memamerkan pesona kelembutan dan kecantikannya dengan cara yang paling jahanam untuk memenangkan simpati saya. Atau mungkin ini adalah permasalahan klise dari film dengan biaya produksi cukup besar yang berambisi menyajikan kisah manis yang begitu menyentuh dan menampilkan rangkaian gambar indah ke layar sinema namun gagal menyadari bahwa separuh bagiannya tidak mampu memenuhi ambisi tersebut. Ah tapi peduli setan: ini adalah sebuah film yang cukup kuat untuk meremukkan jantung, sebelum akhirnya mengecup dan memeluk dengan tulus untuk menguatkan serpihan jantungmu!

Dan Adaline Bowman merupakan gambaran bagaimana kita — saya dan kamu, puan betina, serta manusia pengecut lainnya — biasanya merespons persoalan rumit yang hadir di depan kita: alih-alih menghadapi dan menuntaskannya untuk kemudian menempatkannya ke dalam kotak bernama “Kenangan”, kita malah melarikan diri dengan segenap kepengecutan yang dimiliki menuju “Kepalsuan”.

Takdir hanyalah apa-apa yang kita tulis dan perangi sendiri. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s