The Exterminating Angel (1962)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SEKUMPULAN manusia tiba di tempat acara perjamuan makan malam dua kali. Mereka menaiki tangga dan berjalan melewati sebuah pintu besar, kemudian mereka — kumpulan manusia tadi — melakukan adegan yang sama namun yang kedua ini ditampilkan dari sudut kamera yang lebih tinggi. Saya menekan tombol backward di VLC media player untuk mengulangi rangkaian adegan pembuka itu sebanyak tiga kali sebelum akhirnya paham bahwa itu adalah lelucon yang memang disengaja, bukan kesalahan atau kerusakan pada file film yang saya unduh. Setelahnya, saya mulai mengetahui dan mengerti lelucon utama dari film The Exterminating Angel ini: kumpulan manusia itu tidak ingin atau tidak bisa meninggalkan tempat jamuan makan malam — karena penyebab/alasan misterius yang absurd namun sederhana: karena mereka memang tidak bisa! — meski acara makan malam itu telah usai. Dan saya pun tersenyum puas penuh kemenangan sembari memuji: “Luis Buñuel bangsat!

Film garapan Buñuel ini adalah komedi-hitam mengerikan, sebuah pandangan sinis terhadap sifat alamiah manusia yang memberi kesan bahwa kita — para manusia — merupakan makhluk biadab yang menyimpan berbagai macam rahasia mengerikan yang tidak bisa dijelaskan dengan katakata. Pilih orang-orang paling baik menurutmu, kumpulkan jadi satu dan kurung mereka dalam satu ruangan selama beberapa hari, dan kamu bakal melihat mereka mulai saling menyalahkan satu sama lain dan melakukan sesuatu yang mengerikan terhadap sesama layaknya sekumpulan hewan buas yang selama ini kamu anggap sebagai makhluk biadab.

Buñuel memulai film ini dengan lelucon dan isyarat kecil yang menggelisahkan. Juru masak dan para pelayan mendadak memakai mantel mereka dan pergi meninggalkan tempat makan malam ketika para tamu jamuan makan malam — kumpulan manusia borjuis — itu baru saja tiba di tempat. Nyonya yang menjadi tuan rumah marah dan kesal; dia berencana untuk memberikan acara hiburan selepas jamuan makan malam yang melibatkan atraksi dari beruang dan dua ekor domba. Acara hiburan selepas jamuan makan malam itu terpaksa harus dibatalkan karena para pelayannya mendadak pergi meninggalkan rumah tanpa alasan yang jelas. Ini adalah setup cerita khas Luis Buñuel di mana sentuhan manis surealistik disajikan begitu saja tanpa komentar atau penjelasan apa-apa.

Jamuan makan malam tetap dilakukan dan berjalan dengan normal. Orang-orang yang mengikuti jamuan makan malam itu saling bergosip tentang satu sama lain, tatapan dan ekspresi wajah mereka terhadap satu sama lain dipenuhi dengan keserakahan, nafsu, dan iri hati. Selesai makan, mereka berjalan menuju ruang tamu, sementara layar menampilkan sekilas sebuah tas perempuan yang berisi penuh dengan cakar dan bulu ayam. Lalu seorang dokter mendiagnosis bahwa salah satu tamu perempuan bakal mengalami kebotakan dalam waktu seminggu. Namun poin utama dari acara kumpulkumpul borjuis di ruang tamu selepas jamuan makan malam itu masih kelihatan wajar dan normal: minuman disajikan, piano dimainkan, dan semua orang tampak elegan dalam balutan gaun mahal.

Kemudian, dalam serangkaian pengembangan plot cerita yang begitu syahdu, menjadi semakin jelas bahwa tidak ada seorang pun yang bisa pergi meninggalkan ruang tamu itu. Ketika piano telah selesai dimainkan, para tamu itu bersiap-siap ingin pulang. Mereka berjalan menuju pintu dan tidak ada yang mencoba untuk menghentikan mereka. Namun mereka tidak bisa pergi meninggalkan ruang tamu itu untuk pulang ke rumahnya masingmasing. Mereka tidak pernah mengatakan alasan di balik itu semua; ada penyesalan dan penerimaan yang tidak terucapkan dari situasi tersebut ketika mereka akhirnya merebahkan diri senyaman mungkin di sofa dan karpet ruang tamu itu. Ini adalah setup yang sederhana, licik, dan brilian untuk sebuah film komedi-hitam mengerikan. Atmosfer filmnya tenang dan menghanyutkan. Dan ketika para tamu itu memutuskan untuk menginap, mantra Buñuel telah sepenuhnya menyihir dan memerangkap saya dalam semesta surealistik film ini agar tetap duduk anteng di depan layar laptop untuk menonton film ini sampai kelar, untuk kemudian dibiarkan melongo terpesona ketika semuanya benarbenar telah berakhir.

Buñuel adalah sutradara yang paling individual dan paling ikonoklastik, orang Spanyol yang hanyut ke dalam orbit surealisme di Paris, yang selama beberapa tahun sempat bekerja di Hollywood, yang sebagian karya sinematik terbesarnya diproduksi ketika berumur 60 sampai 77 tahun. Film pertama Buñuel, Un Chien Andalou (1929), hasil kolaborasi dengan Salvador Dalí, menyebabkan kegemparan saat diputar pertama kali. (Dalam buku autobiografinya yang berjudul My Last Sigh, Buñuel menulis bahwa dia memenuhi saku bajunya dengan batu saat pemutaran perdana filmnya itu agar dia bisa membela diri dengan “melempar batubatu tersebut jika para penonton tibatiba menyerangnya”.) Film itu berisikan salah satu gambar yang paling terkenal dalam sejarah sinematik dunia: segumpal awan yang melintasi bulan dipadu-padankan dengan pisau cukur mengiris bola mata.

Setelah film pertama itu, Buñuel kembali bikin gempar dengan film L’Age d’Or (1930) dan dokumenter berjudul Land Without Bread (1933) yang menceritakan daerah termiskin dan terkumuh di Spanyol dengan gamblang. Setelah itu Buñuel tidak menyutradarai film apa pun sampai akhir ‘40an ketika dia mengasingkan diri di Meksiko. Dalam masa pengasingan itu, Buñuel membikin proyek film komersial dan personal di mana sebagian besar dari proyek tersebut menampilkan obsesi terbesarnya. Buñuel memusuhi Spanyol era Jenderal Francisco Franco; dia adalah seorang anti-fasis, anti-klerikal, anti-borjuis, nihilis, dan ateis. Buñuel juga merupakan lelaki nakal yang memiliki kecenderungan fetisisme terhadap kaki manusia. Buñuel meyakini bahwa lebih dari separuh manusia yang hidup di dunia ini adalah munafik — terutama para pemuka agama dan orang-orang dari kelas borjuis.

Ketika merilis The Exterminating Angel pada tahun 1962, karier Buñuel di dunia perfilman sedang menanjak. Sebelumnya, Buñuel telah lebih dulu meraih kesuksesan internasional melalui Viridiana (1961) yang berhasil memenangkan banyak penghargaan di berbagai ajang festival film dunia dan ini juga menandai kepulangannya ke kampung halaman di Spanyol setelah puluhan tahun mengasingkan diri di Meksiko. Namun salah satu adegan — simulasi (atau dalam konteks Buñuel: guyonan satire) lukisan The Last Supper-nya Leonardo da Vinci — dalam Viridiana dianggap sebagai hinaan yang keterlaluan oleh Pemerintahan Spanyol, dan Buñuel akhirnya kembali ke Meksiko untuk membikin The Exterminating Angel ini.

Saya beranggapan bahwa orang-orang dalam jamuan makan malam di film ini merepresentasikan kelas penguasa di Spanyol era Jenderal Franco. Setelah mengatur meja perjamuan untuk diri mereka sendiri dengan mengalahkan kelas pekerja dalam Perang Saudara Spanyol, kelas penguasa Spanyol berpesta hanya untuk menemukan fakta bahwa hal itu tidak pernah berakhir: mereka terjebak dalam kebuntuan borjuis mereka sendiri. Kemarahan dan kebencian yang terus meningkat karena merasa dikucilkan oleh dunia membikin kelas penguasa Spanyol bertindak semakin kejam; lambat-laun, tendensi sikap buruk mereka mulai terungkap.

Buñuel sejatinya tidak pernah menampilkan simbolisme sikap politiknya secara terang-terangan. The Exterminating Angel disajikan sebagai sebuah komedi deadpan tentang situasi absurd dan abnormal yang dialami oleh tuan rumah dan para tamu dalam sebuah jamuan makan malam. Detik berganti menit, menit berakumulasi menjadi jam yang memanjang berganti hari, dan dilema mereka berlangsung pada kualitas ritualistik — situasi absurd dan abnormal itu kelihatan seperti sebuah kondisi yang wajarwajar saja. Mereka berjalan menuju pintu ruang tamu yang sepenuhnya terbuka, namun ada semacam palang pembatas tidak terlihat yang membikin mereka tidak bisa melewati pintu ruang tamu. Salah satu tamu bertanya kepada tamu yang lain: “Bukankah ini bakal menjadi lelucon yang menyenangkan jika aku mengendap-endap dan mendorongmu keluar?” Yang kemudian dijawab: “Coba saja, dan aku bakal langsung membunuhmu!” Para tentara yang berjaga di luar diperintahkan untuk memasuki rumah, namun mereka tidak bisa melakukannya. Seorang anak kecil mulanya berjalan dengan berani menuju rumah, melewati pintu gerbang, namun kemudian lari terbirit-birit keluar tanpa sebab yang jelas. Apa-apa yang merintangi tuan rumah dan para tamu ternyata juga menghalangi para tentara dan anak kecil itu. Di sini Buñuel berhasil membangun sebuah situasi di mana logika akal sehat tidak diizinkan untuk beroperasi atau berfungsi dengan baik dan benar: yang di dalam tidak bisa pergi keluar, yang di luar tidak bisa masuk ke dalam; sesederhana itu.

Situasi semakin memburuk. Minuman dan makanan sudah habis. Para tamu mengambil kapak dan mulai menghancurkan dinding agar bisa membuka pipa air untuk membantu menghilangkan dehidrasi. Sepasang kekasih bunuh diri; mayat mereka berdua diletakkan begitu saja di dalam sebuah lemari. Seorang tamu perempuan mencoba melakukan praktik sihir untuk membebaskan mereka … dan gagal. Seekor domba yang tibatiba masuk ke ruang tamu ditangkap, dibunuh, dan kemudian dipanggang di atas nyala api yang terbuat dari perabotan kayu di ruang tamu itu untuk kemudian disantap bersama-sama. Peradaban borjuis yang penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan etiket baik yang mereka banggakan itu perlahan mulai kolaps.

Pada akhirnya, para tamu bisa membebaskan diri dari situasi aneh tersebut dan pulang ke rumahnya masingmasing. Itu pun karena Buñuel memiliki konklusi yang lebih mengerikan, lebih ironis, dan lebih absurd lagi ketimbang membiarkan karakter-karakternya mati membusuk di ruang tamu. Untuk menunjukkan rasa syukur karena bisa terbebas dari jamuan makan malam sebelumnya, para tamu menghadiri upacara seremonial Te Deum di gereja. Ketika seremonial itu selesai, anggota jemaat gereja yang hadir dan para pendeta di sana merasa terjebak tidak bisa keluar dari gereja. Sementara di luar gereja terjadi kerusuhan dan pasukan militer mencoba meredamnya dengan menembaki para perusuh dengan brutal. Adalah hal yang siasia dan mustahil untuk mencoba mengartikan film ini.

Buñuel termasuk dalam jajaran sutradara besar yang terobsesi untuk mendekonstruksi tematema yang menghantuinya, mengubahnya menjadi ide atau gagasan menarik yang kemudian dieksekusi dengan brilian. Hanya ada sedikit persamaan teknik atau gaya sinematik untuk menghubungkan Lars von Trier, Alfred Hitchcock, Werner Herzog, Rainer Werner Fassbinder, Ingmar Bergman, atau Buñuel, kecuali untuk benang merah ini: mereka memiliki beberapa luka atau trauma yang didapat dari kejadian di masa lalu, dan mereka bekerja dengan tulus dan tekun di sepanjang karier mereka untuk menyembuhkannya atau merayakannya. Buñuel lahir pada tahun 1900, dan seluruh karya sinematik yang telah dibikinnya mencerminkan situasi dan kondisi yang terjadi pada masamasa itu; dia memiliki karier luar biasa dalam sejarah sinematik dunia. Filmfilm yang digarap oleh Buñuel dalam rentang periode ‘40-‘50an saat mengasingkan diri di Meksiko — Los Olvidados (1950), misalnya, dan Él (1953), dan The Criminal Life of Archibaldo de la Cruz (1955) — menjadi rujukan dan inspirasi para sineas film modern. Viridiana adalah comeback internasional Buñuel, kemudian dia merilis The Exterminating Angel dan sempat berpikiran untuk pensiun dari dunia perfilman — namun nyatanya ini malah menjadi awal dari kesuksesan kariernya yang sempat tertunda sebagai sutradara. Film bikinan Buñuel yang paling terkenal, Belle de Jour (1967), memenangkan Pasinetti Award for Best Film dan Golden Lion di Venice Film Festival: dibintangi oleh Catherine Deneuve yang berperan sebagai seorang ibu rumah tangga dari kalangan terhormat di Kota Paris yang terpesona dengan sebuah rumah bordil terkenal dan akhirnya bekerja sebagai pelacur di tempat itu.

Dalam acara penyerahan hadiah di Venice Film Festival itu Buñuel kembali menyampaikan keinginannya untuk pensiun dari dunia perfilman. Tiga tahun setelahnya, pada 1970, Buñuel merilis Tristana yang juga dibintangi oleh Deneuve: sebuah kisah romansa tidak wajar antara jomblo tua dan seorang perempuan yatim piatu yang diadopsinya untuk kemudian dianiaya sebelum akhirnya perempuan itu pergi meninggalkannya. Setelah kakinya diamputasi, sang perempuan kembali kepada pak tua itu untuk mendapatkan tunjangan hidup dan melakukan balas dendam.

Kemudian Buñuel merilis tiga film (yang semuanya menjadi favorit saya) di mana kecerdasan dan bakatnya mengalir dalam arus pembebasan yang menggabungkan satire nakal dan keriangan perayaan obsesi. The Discreet Charm of the Bourgeoisie (1972), yang memenangkan penghargaan Academy Award for Best Foreign Language Film di ajang 45th Academy Awards, merupakan kebalikan dari The Exterminating Angel:  orang-orang hanya bisa merencanakan jamuan makan malam tanpa bisa merealisasikannya. Lalu Buñuel merilis The Phantom of Liberty (1974), sebuah film gaya-bebas yang dimulai dengan satu kelompok karakter, lantas disusul oleh kelompok karakter lain, lalu diikuti oleh kelompok karakter lain lagi, dengan rangkaian plot yang surealis dan ambigu, dan terus berlanjut seperti itu selama 104 menit sampai filmnya berakhir dalam klimaks yang lebih absurd. Tiga tahun kemudian, Buñuel merilis karya sinematik terakhirnya yang berjudul That Obscure Object of Desire (1977) tentang seorang lelaki tua yang hanya mencintai satu perempuan dan percaya bahwa hanya perempuan yang dicintainya itulah yang bisa memuaskan segala hasratnya; dan di sini Buñuel memberikan sentuhan nakalnya dengan menggunakan dua aktris yang berbeda untuk memerankan satu karakter perempuan secara bergantian cuma karena dia pikir itu adalah lelucon yang menarik dan gagasan yang lucu.

The Exterminating Angel dibuka dengan sebuah pernyataan: “Penjelasan terbaik dari film ini adalah bahwa, dari sudut pandang akal sehat, tidak ada penjelasan apa-apa di dalam film ini.” Dan ketika film ini sepenuhnya berakhir, saya seolah-olah mendengar Buñuel berbisik di telinga kiri saya: “Mereka yang menginginkan sebuah penjelasan, atau mencari suatu alasan tertentu, telah salah sedari awal ketika memilih film ini untuk ditonton.” Saya tersenyum tipis mengamininya.

Buñuel mati dengan tenang di sebuah rumah sakit di Mexico City, Meksiko, pada 29 Juli 1983, meninggalkan kenang-kenangan terakhir berupa buku autobiografi yang indah di mana dia menulis hal paling buruk tentang kematian adalah bahwa dia “tidak akan bisa membaca koran yang terbit esok hari”. Buñuel telah menciptakan suatu hal yang istimewa di sepanjang hidupnya, sebuah semesta surealistik yang khas dirinya; dan saya sangat bersyukur atas setiap menit yang saya habiskan untuk menonton karya sinematik bikinan seorang Luis Buñuel. Terimakasih, maestro!

Saya kemudian memasang Present Tense-nya Radiohead dan Doing the Right Thing-nya Daughter di playlist, menekan tombol repeat, memasang earphone, menyulut rokokputih terakhir malam ini, menyeruput sisa kopihitam tadi sore, dan bersiap tidur dengan perasaan bahagia. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s