The Shallows (2016)

Poster film. (gambar: IMDb)
Poster film. (gambar: IMDb)

SUDAH cukup banyak cerita tentang serangan hiu yang hadir di layar sinema setelah Jaws (1975) bikinan Steven Spielberg yang terkenal itu dan, layaknya psang-surut gelombang air di lautan, ada beberapa film yang bisa dibilang cukup bagus dalam upayanya untuk setidaknya menyamai level teror ketegangan dari Jaws, sementara sebagian lainnya menjadi tontonan yang terlampau menggelikan dan membosankan. Tidak semua film yang menjual adegan hiu ngamuk di tengah lautan bisa memberikan ketegangan dan pengalaman menonton yang memuaskan seperti Jaws. Jaume Collet-Serra sepenuhnya paham tentang hal itu, bahwa dia tidak bakal pernah bisa membikin karya sinematik ajaib seperti garapan Spielberg empat dekade silam — bisa dibilang bahwa itu merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan, paling tidak dalam waktu dekat ini. Namun dengan bantuan teknik sinematografi yang brilian, naskah film yang efisien, musik score yang mengagumkan, serta seorang aktris yang mampu memberikan kinerja akting yang begitu meyakinkan, tulus, dan menarik, Collet-Serra telah berhasil menyajikan film tentang serangan hiu terbaik kedua yang pernah saya tonton setelah Jaws. The Shallows merupakan sebuah survival-thriller sederhana yang luar biasa mengesankan dalam menawarkan ketegangan, gairah, penyelesaian masalah/konflik, serta karakter yang mampu memenangkan simpati dan empati saya sepenuhnya.

Nancy Adams (diperankan oleh si cantik Blake Lively) adalah seorang perempuan muda yang berhenti dari sekolah kedokteran dan mencoba menghilangkan tekanan hidup serta kekecewaannya terhadap banalitas dunia hari ini dengan berlibur ke Meksiko. Destinasi liburan Nancy adalah sebuah pantai terpencil yang namanya dirahasiakan dan merupakan tempat yang pernah dikunjungi (dan menjadi favorit) ibunya saat hamil, dan setelah ibunya mati karena kanker maka datang berlibur ke pantai itu merupakan satu-satunya hal yang masuk akal bagi Nancy untuk melepas penat dan beban. Hanya ada dua remaja lokal (José Manuel Trujillo Salas dan Angelo José Lozano Corzo) sedang berselancar di pantai itu dan setelah mengobrol dengan adik (Chloe Adams [Sedona Legge]) dan ayahnya (Mr. Adams [Brett Cullen]) via aplikasi FaceTime di iPhone-nya, Nancy pun mulai berselancar menikmati ombak.

Setelahnya, dua remaja peselancar lokal itu pergi pulang namun Nancy ternyata tidak benarbenar sendirian di pantai itu…

…seekor hiu tibatiba menyerang dan berhasil menggigit pahanya dan meninggalkan Nancy terdampar di atas gugusan batu yang lumayan besar, ratusan kilometer dari tepi pantai. Dengan hiu yang masih siaga berputar-putar mengelilingi gugusan batu itu dan hanya beberapa jam saja menjelang air pasang, Nancy harus bisa berpikir dan bertindak ekstracepat jika dia ingin tetap hidup. Situasinya benarbenar menakutkan, menyeramkan, dan menegangkan.

Setup dari naskah yang ditulis oleh Anthony Jaswinski sesederhana itu dan, dengan durasi 86 menit, mampu menyajikan ketegangan serta aksi yang cukup konsisten. Hanya ada sedikit informasi/cerita latar belakang di first act untuk mengenalkan karakter Nancy — yang sebagian besar disajikan melalui kumpulan foto di iPhone miliknya dan serangkaian dialog dalam adegan ketika Nancy mengobrol dengan adik dan ayahnya via FaceTime — namun hal itu terasa pas dan tidak dilebih-lebihkan, sementara tema dan ide mendasar film ini dikembangkan dengan cara yang sederhana dan menggugah selera yang membikin saya betah berada di depan layar mengikuti plot cerita sampai detik akhir film. Nancy mulai tidak peduli dan mempersetankan ilmu kedokteran setelah kematian ibunya karena penyakit kanker. (Apa gunanya berjuang sekuat-kuatnya upaya untuk merawat/mengobati orang-orang, toh pada akhirnya mereka semua juga bakal mati?) Namun ketika dihadapkan dengan malapetaka yang bisa mengakhiri hidupnya, Nancy menyadari bahwa menyerah bukanlah sebuah pilihan yang cerdas: dia harus terus berjuang mati-matian agar bisa bertahan hidup.

Film ini memberikan informasi yang cukup detail tentang kondisi Nancy sehingga saya yakin bisa membantunya untuk mengisi formulir pendaftaran di rumah sakit, dan ketika Nancy mencoba untuk mengobati lukanya dengan mengandalkan peralatan seadanya dan insting serta pengetahuan yang diperolehnya di sekolah kedokteran adalah adegan yang membikin sekujur tubuh saya ngilu dan jantung saya sepertinya berpindah tempat untuk beberapa saat. Saya juga menjadi akrab dengan suasana pantai eksotis yang terpencil di Meksiko itu dan mampu mencatat beberapa poin utama yang cukup menarik: tepi pantai, pelampung, gugusan batunya, bangkai busuk ikan paus yang mengambang beberapa kilometer dari tempat Nancy terdampar. Sementara itu, hiu ganas cum laknat itu bukanlah satu-satunya bahaya yang sedang mengancam Nancy: di dalam kedalaman laut itu juga berisi berbagai macam tanaman dan hewan lainnya yang juga berpotensi membikin Nancy mati.

Ada beberapa karakter/pemeran pembantu yang dimasukkan ke dalam plot cerita yang kebanyakan berakhir sebagai santapan hiu, karena The Shallows sejatinya adalah one woman (or one shark) show, dan Lively mampu menampilkan kinerja yang luar biasa memukau dalam memerankan Nancy yang berhasil membikin saya bersimpati dengan segala macam upayanya untuk bertahan hidup melawan hiu ganas di tengah laut sendirian. Lively melakoni sendiri — tidak menggunakan pemeran pengganti — sebagian besar adegan berselancar di film ini; dia berucap sumpah-serapah, berteriak, menangis, menyelam ke kedalaman laut, berenang dengan cepat, merayap, berlari, menjerit. Seperti Tom Hanks dalam film Cast Away (2000), Lively juga memiliki kawan-bukan-manusia yang menemaninya ketika terdampar di atas gugusan batu: seekor burung camar (“seagull”) yang dia beri nama Steven. Dan terkutuklah mereka yang tidak bersimpati dan mengkhawatirkan keselamatan burung camar itu ketika menonton film ini.

Film ini terasa begitu emosional di mana Lively berhasil meyakinkan saya untuk selalu peduli terhadap Nancy dan terus berharap agar dia tidak berakhir menjadi makanan penutup untuk seekor hiu ganas. Momen ketika Nancy merekam video perpisahan untuk keluarganya menggunakan kamera GoPro merupakan adegan menyayat jantung yang memang harus ada di film macam ini, namun itu bukanlah rangkaian adegan fatalisme menyemenye sok dramatis yang pasrah menerima nasib apa adanya, melainkan sebuah pesan perpisahan yang dipenuhi dengan tekad, keberanian, dan harapan untuk terus bertahan dan mengafirmasi hidup seutuhnya — amor fati: yang tragis dan yang manis!

Iya, Lively menghabiskan sebagian besar film ini dengan hanya mengenakan bikini berwarna oranye (atau kuning; entahlah, saya buta warna parsial) yang terlihat membiaskan cahaya bulan saat rangkaian adegan pada malamhari, dan kamera sangat mencintainya dengan merekam cukup banyak gambar pinggul, pantat, paha, dan belahan dada seksinya untuk memikat remaja ingusan di luar sana, namun teknik pengambilan gambar dan pergerakan kameranya tidak pernah terkesan ingin menampilkan sesuatu yang cabul di layar, melainkan sebuah estetika dari fisik atletis seorang Blake Lively. Ada beberapa adegan ketegangan a la film kelas B di sini, dan ketika Nancy pada akhirnya memutuskan untuk berperang melawan hiu laknat itu, saya dengan tulus berkeinginan untuk membantu dan menyelamatkannya, kemudian memeluknya untuk memberikan kenyamanan, kehangatan, dan rasa aman.

Karya sinematik garapan Collet-Serra sebelum film ini adalah tiga thriller dengan berbagai kompleksitas dan kualitas yang semuanya dibintangi oleh Liam Neeson (Unknown [2011], Non-Stop [2014], dan Run All Night [2015]), dan pengalaman itu membikinnya mampu untuk menciptakan ketegangan dari rangkaian adegan aksi serta terampil dalam menyajikan cerita sederhana menjadi sesuatu yang menarik secara visual. Collet-Serra beberapa kali memadukan tampilan ponsel-cerdas Nancy ke layar tanpa terasa mengganggu keindahan panorama alam yang ada di sekitar Nancy, dan dia berhasil menciptakan ketegangan konflik yang luar biasa fantastis dengan pace yang syahdu dan momentum dari keberadaan atau ancaman hiu ganas. Campuran keindahan sinematografi dari Flavio Labiano dan musik score mengagumkan dari Marco Beltrami semakin melengkapi pengalaman menggairahkan ketika menonton film ini.

The Shallows adalah film menegangkan dan menggairahkan, brutal dan menyenangkan, sederhana dan emosional, yang mengadu seorang perempuan tangguh-sekeras-karang dengan hiu ganas cum laknat di sebuah pantai eksotis terpencil. Setelah menonton film ini, kamu bakal yakin seyakin-yakinnya bahwa berenang merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Dan celakalah saya: lhawong mengambang di air saja saya tidak bisa, apalagi berenang. Duh gusti kanjeng ratu!

Dan, oh, apakah saya sudah menyebutkan bahwa ini adalah film terbaik dari Steven Seagull sejak Under Siege (1992)? []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s